Rasa yang Asing
Yah, hari kamis sore, selepas kuliah kuputuskan bertolak meninggalkan Jakarta dan segala hiruk-pikuknya menuju Cirebon, menjenguk Kaka Ipar yang tepat baru seminggu melahirkan serta Sang Cahaya Harapan, Kemenakan Pertamaku, Sang Pembangun Kemaslahatan (begitu kusebut dia) tepat di hari ke-tujuhnya menghirup udara dunia. Kabar kehadirannya ke dunia 168 jam yang lalu menjadi nafas baru bagiku. Dia, bekal baru bagiku mengarungi hidup, sumber inspirasi baru saat sumber inspirasi lainnya menjauhiku, penyambung nafas ketika mulai sesak dan hampir putus, pemenuh dahaga jiwa penangkal petaka. Dia, yang senyumnya akan menjadi penghancur segala gundah, wajahnya yang akan mengubur semua resah, tawanya yang akan membawaku ke dunia indah, satu dunia yang hanya ada cerita tentang tawa.
Dia, seorang yang mampu memberi makna pada yang biasa tersingkirkan, seorang yang mampu memberi ruang bagi yang biasa terpinggirkan, seorang yang mau menjadi kawan bagi yang biasa sendirian. Dia, bahkan lebih bermakna dari segala yang ditimbulkannya pada hati dan segala rasa itu sendiri.
Betapa indah rasanya tahu akan ada yang selalu menunggu dikunjungi dan dibawakan hadiah. Menuggu di balik jendela kaca dan menghambur berlari keluar saat kita mulai dilihatnya dengan tawa kegiranagan atas kunjungan Om-nya. Atau, ketika kita mulai mengajarinya tentang hidup dan pemaknaannya. Atu saat ia akan mulai tumbuh dewasa dan minta diajarkan cara memikat wanita. Ah, hanya indah yang ada.
Benar, bayangan-bayangan semacam itulah yang menemani perjalananku, menyihir kereta ekonomi ala Indonesia menjadi Kencana kerajaan-kerajaan Eropa klasik abad pertengahan ditarik di taman-taman tulip sambil menatap Danau di kaki Alpen. Namun, rasa ini asing bagiku. Seakan ada yang mencegahku untuk bahagia. Aku tak ambil pusing, namun, rasa ini tetap asing!.
Shock!
Sampai di Wanantara, kabar yang kudengar begitu saja menyambar telingaku. Kaka Iparku memberitkan SI Kecil menyandang kelainan jantung dan sejak melahirkannya, Diapun belum menyentuhnya karena Si Kecil segera menjalani perawatan khusus dan hingga saat itu belum boleh keluar ruang ICU. Dikabarkan, si kecil menyandang Tetralogi Fallot. Kelainan jantung terbanyak kedua yang diderita kelahiran hidup. Tetralogi Fallot sendiri pada dasarnya dikarenakan kebocoran selaput antara Ventrikel kanan dengan Ventrikel kiri. Akibatnya, aliran darah yang harusnya dialirkan ventrikel kanan ke paru-paru terus bercampur dengan darah dari ventrikel kiri, karena kebocoran tersebut mengakibatkan daya pompa ventrikel kanan melemah, akibatnya darah dari ventrikel kanan lebih banyak mengalir ke ventrikel kiri daripada ke paru-paru. Suplai oksigen ke seluruh tubuhpun menipis, bahkan tak ada. Ah, lubang sekecil itu mampu membuat paru-paru sesehat miliknya tak berfungsi apa-apa.
Seluruh kegiatan tubuh manusia membutuhkan oksigen sebagai bahan bakar. Mulai dari kegiatan sel, jaringan dan organ. Pertumbuhan dan perkembanganpun akan terhambat jika suplay oksigen ke seluruh tubuh terhambat. Otak bisa kehilangan fungsi utamanya, jaringan saraf melambat, perkembangan anakpun terbelakang mulai intelegensi, spiritual serta emosionalnya. Pada kasus yang parah seperti yang diderita Si Kecil, gejala yang nampak, langsung terlihat secara biologis. Pernafasan bayi yang berat dan dalam serta tubuh bayi membiru saat beraktifitas (makan n menangis).
Runtuh semua bangunan istana itu. Tanah-tanah lapang yang tadinya untuk aku berkejaran dengannnya meleleh menjadi lautan magma mendidih, tulip-tulip itu sama baunya dengan Raflesia Arnoldi. Aku sendiri di kerajaan hayal ini, aku menjerit, meringkuk dalam bayangan kesendirian itu. Aku tahu bahwa hampir dipastikan penderita tetralogi fallot tak akan berumur panjang, satu-satunya jalan yang mungkin, menurut pendapatku, adalah bedah jantung dua tahap. Tapi ini Indonesia, kesehatan adalah komoditas yang dimonopoli mereka yang mengerti. Semua pun tahu betapa busuknya monopoli mengendalikan harga.
Bagaimana tidak, tak pernah selama hidupku kecewa semacam ini. Riwayat urusanku dengan rumah sakit pun hanya sebatas jumpa pulang. Tiba-tiba, mendapati Dia yang kehadirannya begitu memberi arti menjadi suram, berbayang kematian di tengah segala upaya medis yang dilakukan. Siapapun tak akan kuat hati menyaksikan anak sekecil itu harus disumbatkan berbagai macam infuse ke urat nadi dan mendapat suplay makanan hanya dari selang-selang plastic. Bahkan bernafaspun dia harus menghirupnya dari tabung oksigen. Ah, anak sekecil itu, dunia sudah begitu kejam padamu nak. Namun, segera kutata kembali pendalamanku. Hambali, tak runtuh semudah itu!. Itu janjiku dulu pada ayahku, untuk berani menghadapi hal yang paling ditakuti sekalipun. Aku tersenyum.
Perang Puputan dan Benteng Toh Pati
Awal abad 20, wilayah nusantara (Hindia Belanda) hampir meliputi seluruh daratan dan lautannya. Sebagian besar patuh tunduk di bawah kaki pemerintahan Kerajaan Belanda, ada yang masih berdaulat sebagai kerajaan, namun tetap, mereka telah menyatakan berlindung dibawah naungan Kerajaan Belanda. Kerajaan-kerajaan kecil yang menolak tunduk dibombardir. Ditindas seperti di daratan Bugis, diadu domba seperti di Kalimantan dan Celebes bagian utara, dan digempur, diperangi, dimusnahkan seperti di Aceh.
Perang pemerintahan Belanda dengan Aceh adalah perang terlama dan perang paling mahal sepanjang sejarah colonial. Tiga abad, bayangngkan, bagaimana orang-orang aceh mampu bertahan terhadap serangan Kolonial selama tiga abad!. Sebuah rekor cemerlang sepanjang masa, perang antara manusia modern dengan segala teknologinya dengan mereka yang belum tersentuh kuman Modern. Tak lain adalah berkat jasa Snouck Hurgronje, sosiolog yang bekerja Kepada Pemerintahan Belanda saat itu dan Jendral Van Heutz, prajurit cerdas yang tau memanfaatkan pengetahuan tentang musuh untuk menyusun strategi penaklukkannya, Panglima tertinggi militer Hindia Belanda.
Dengan jasa besarnya menundukkan Aceh untuk Hindia Belanda, Dia diangkat menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda tahun 1904, perwakilan Sri Ratu Belanda untuk Hindia. Dengan diangkatnya Van Heutz, jadilah Hindia Belanda memiliki seorang Gubernur Jendral dengan tekad membara untuk mengutuhkan wilayah Hindia Belanda. Pengutuhan wilayah Hindia berarti penaklukan kerajaan-kerajaan di sekitar hindia, tak terkecuali Bali.
Dengan segala konspirasi, politik Devide et Impera dan kesalahan orang-orang Bali yang tidak bersiap-siap, Belanda mendapatkan alasan untuk menggempur Bali. Tiga kapal perang dikerahkan untuk membasmi bangsa yang igih ini. Perang pun dimulain, meriam dan senapan melawan keris dan tombak.
Menghadapi perang, Raja Klungkung (kerajaan terbesar Bali) I Dewa Agung Djambe menyerukan Perang Puputan, perang sampai orang terahir. Semua orang bali keluar rumah, turun ke medan perang melawan dengan segala sampai ahir menimpa segala. Orang Bali turun ke medan perang laki-laki , perempuan, yang mengandung, yang menggendong anaknya, anak-anak kecil, yang jompo, mereka berpakaian putih-putih. Pilihan mereka hanya satu, mati sebagai perwira membela Negara. Hidup sebagai penghianat sama sekali bukanlah pilihan bagi mereka.
Tak mengejutkan jika semua mereka tumpas. Darah satria membasahi daratan bali, bali banjir darah orang-orangnya. Mereka yang hidup melarikan diri membentuk benteng pertahanan arah denpasar ke Klungkung, mereka namakan benteng itu Gelaran Toh Pati, Benteng Taruhan Nyawa. Mereka tahu akan ketidakmungkinan kemenangan mereka atas Belanda. Namun mereka mempersembahkan apa yang tersisa untuk membela kebenaran yang mereka yakini, kebenara bahwa negeri mereka tak harus tunduk diperintah Belanda. Jadilah Gelaran Toh Pati menjadi ajang pertempuran inspiratif. Mati, tak berarti apa-apa jika harus ditukar dengan Arti.
Itu jugalah yang kulakukan. Dengan keluarga, kuserukan perang puputan dengan SI Kecil sebagai Gelaran Toh Pati. Perang dengan segala keterbatasan. Perang dengan pemahaman menyeluruh bahwa pada ahirnya kita akan kalah. Perang perwira, optimis menantang kepastian walaupun kami tahu ahirnya akan tenggelam dalam kenyataan.
Dan di hari kematian Si Kecil, Nyai Ontosoroh berbisik ketika aku melenguh pelah “kita kalah Ma…” dijawabnya “Tak ada yang kalah nak, kita sudah melawan”. dan kulepas kepergiannya dengan tekad mengutuk kehidupan. Tenang-tenaglah kau disana nak, dengan ini Om-mu berjanji bahwa dunia akan membaca kisahmu dan Om-mu ini yang akan menuliskannya.
Sebuah Kutukan
Dia Yang menghidupkan hanya untuk mematikannya
Dia Yang mempertemukan hanya untuk memisahkannya
Dia Yang memulai hanya untuk mengahirinya
Menyedihkan, Dia membuat manusia bahagia hanya untuk siap menanggung derita
Dia membuat manusia terbunuh dengan atau tanpa melawan
Dia Yang menggariskan segala
Aku tahu, hidup itu hanya untuk mati ahirnya
Aku faham hidup itu begitu sederhananya, hanya pemaknaannya yang rumit
Betapa aku mengerti Kau hadirkan dia hanya untuk mengambilnya kembali
Namun kenapa kini aku tak rela, yang membuat berat hati manusia hanyalah makna.
Mungkinkah ini yang disebut makna?
Maka beruntunglah segala kehidupan yang tak bermakna
Jika memang sebegitu, kukutuk segala kehidupan itu untuk memiliki makna!
Ini kutukanku, kutukan untuk bermakna atas segala yang hidup! Agar tiada lagi kehidupan tersia-sia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar