Categories

Kamis, 29 September 2011

Lemak di Dunia Kita (baca: Remaja Kolot, piss…^_^)


Mendengar kata lemak, hal pertama yang muncul di benak sebagian besar orang adalah seorang gemuk yang obesitas. Bahkan, jika yang mendengar adalah seorang gadis ababil (ABG labil) yang gak laku-laku alias ngejomblo karena ga ada yang mau (hehehe…, katanya seh belon ada yang cocok), doi pasti langsung teriak: “lemak??? AAAAWW TIDAK!!!”. Begitulah kira-kira ekspresi awal sang ababil. Dalam dunia mereka, dan dunia kebanyakan kita tentunya, lemak memang menjelma menjadi momok menakutkan bahkan jauh lebih menakutkan dari jerawat. Wajar memang, karena bagi manusia seusia kita, problem bagaimana menarik perhatian lawan jenis adalah hal yang sangat fundamental. Namun, apakah itu layak untuk terus dilakukan???, mari kita lihat jawabannya di uraian berikutnya.
Membicarakan lemak, hal pertama yang harus kita lakukan adalah rubah mindset. Mindset kita tentang lemak yang tak berdasar, mengkonstruksi fikiran kita bahwa lemak adalah timbunan di lapisan kulit. Memang benar, tapi itu hanya sebagian kecil dari senyawa ini. Harus kita akui bahwa lemak juga dibutuhkan bagi kelancaran metabolism tubuh kita. Jadi, pandangan kita tentang lemak haruslah diperlebar menjadi: lemak adalah senyawa lipid yang berbentuk cair di suhu ruang. Nah, dengan pemahaman yang baru ini kita baru bisa melihat lemak sebagai kawan kita.
Lemak dalam Makanan
Seperti protein, karbohidrat, vitamin dan senyawa lain yang dibutuhkan tubuh kita, lemak juga masuk menunaikan tugasnya di tubuh sebagai makanan dan minuman. Karena itu, hampir semua makanan dan minuman yang kita jumpai mengandung lemak (di air mineral??? Jangan ngarep!). Makanan berlemak biasanya tak hanya dikonsumsi karena dibutuhkan tubuh, tapi lebih sering karena rasanya yang tak tergantikan. Sebut saja daging, ikan, udang, goreng-gorengan, keju, cokelat, susu, cake, eskrim dan ratusan makanan-minuman lezat lainnya adalah penyuplai lemak tinggi. Karena itulah kita sering mengalami penyakit karena kebanyakan lemak.
Lemak, Sang Penenang Jiwa
Selain rasanya yang tak tergantikan, ternyata penelitian terbaru menyatakan bahwa mengkonsumsi makanan berlemak berpengaruh positif terhadap ketenangan jiwa.
"Makanan berlemak tampaknya dapat membuat kita mengurangi emosi sedih, bahkan meski kita tidak menyadari sedang makan lemak. Lemak yang dimasukkan ke dalam perut dapat menyebabkan perubahan emosional dan fisik." jelas psikiater Dr. Lukas Van Oudenhove, seperti dilansir HealthDay.
Fakta ini menjelaskan kenapa kebanyakan dari kita (masih inget kan cara ngebaca “kita”) cenderung banyak mengkonsumsi cokelat atau eskrim jika dalam suasana hati yang sedang bergejolak.
“Gue selalu makan eskrim banyak-banyak kalo lagi broken heart. Rasanya, gimannaaa, gitu. Masalah gue jadi kaya ga kerasa lagi. Sumpah!” Komentar Eva (Mahasiswa UNJ) ketika ditanya mengenai hal demikian.
Walaupun mungkin memang begitu, bukankah itu hanya reaksi dari rasanya yang nikmat saja? Atau mungkin, itu hanya sugesti dari kesukaan dia kepada eskrim saja?
"Para peneliti sebelumnya telah menangani pertanyaan-pertanyaan ini dengan berfokus pada bagaimana bau, rasa dan tampilan makanan mempengaruhi emosi," kata Dr. Van Oudenhove.
Menurutnya penelitian ini adalah yang pertama. Peneliti melewati stimulasi sensorik dengan menyuntikkan asam lemak langsung ke perut, tanpa diketahui oleh subjek apakah mereka mendapatkan lemak atau salin (gile, niat banget neh ilmuan).
Untuk melakukan penelitian ini, peneliti merekrut 12 orang yang non-obese (tidak gemuk). Relawan sehat kemudian akan menerima asam lemak atau larutan garam melalui tabung makan (yang pasti, Pretty Asmara bukan salah satu relawannya, kayaknya dosen lu juga bukan dah! Songong lu!)
Dengan menggunakan functional MRI (fMRI), peneliti juga mengamati gelombang otak pada relawan seperti saat merasa sedih atau didengarkan musik netral, serta diamati pula ekspresi wajahnya saat sedih dan saat mendengarkan musik.
"Untuk membuat relawan sedih, kita menggunakan musik dan film yang dapat membuat mereka mengernyit (sedih), yang membuat suasana hati turun 2,5 poin dari 10. Tetapi asam lemak dapat membantu mengurangi penurunan poin sebesar 1 poin," jelas Dr. Van Oudenhove.
Menurut Dr. Van Oudenhove, di dalam otak sendiri peneliti menemukan kesedihan yang diinduksi dapat menyebabkan perubahan sekitar 3 sampai 4 persen.
"Cukup banyak, namun tingkat perubahan menyusut menjadi kurang dari 1 persen setelah subjek mendapat dosis asam lemak, setidaknya di sebagian besar wilayah otak yang dianalisis," tutur Dr. Van Oudenhove.
Dari fakta ini, kita ketahui bahwa terbukti secara klinis makanan berlemak memang berpengaruh positif terhadap ketenangan jiwa. So, mari makan makanan berlemak, hidup lemak!!! (ga gitu juga kaleee, kolesterol tinggi tau rasa lu!)[bali]
Sumber: detikhealth.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar