
Lahirnya kepribadian juga merupakan ciri utama dari senyawanya zaman dan manusianya (Ir.H. Van Kollewijn)
Globalisasi: sebuah transformasi multidimensi.
Globalisasi. Jika ditilik secara gramatikal, kata ini memang merupakan pendatang baru dalam perbendaharaan bahasa dunia.Sejak kemunculannya, kata globalisasi langsung saja mendapatkan perhatian besar dari masyarakat dunia, masyarakat global.Dalam dunia sekarang ini, kita hidup ditengah masyarakat yang semakin menyatu.Kata globalisasi tak sekedar isapan jempol belaka.Sejak kemunculannya pada dekade 1990an, kata globalisasi semakin terasa efeknya dalam kehidupan kita. Dipicu dari begitu mudahnya akses akan informasi, batas-batas negara terasa semakin menipis, Anthony Giddens menyebutnya dengan memudarnya sekat-sekat peradaban. Tak berlebihan memang karena bagaimanapun, sedikit demi sedikit penghuni bumi akan membentuk sebuah kesatuan dalam bingkai masyarakat dunia. Kesatuan yang saling bergantung satu sama lainnya. Sebuah kesatuan lingkungan dan kesatuan kemasyarakatan hingga segi kehidupan yang paling personal sekalipun.
Buktinya, mari kita lihat saja ketika amerika dilanda krisis moneter tahun1997, berbagai negara di penjuru duniapun turut tergoncang perekonomiannya, terutama negara kita: indonesia. Hingga pada masa itu, indonesia dilanda krisis yang betul-betul krisis . Keadaan krisis ekonomi yang berdampak pada semua dimensi kehidupan turut pula mengguncang dimensi politik yang puncaknya meletus pada tahun 1998 sebagai suatu revolusi perpolitikan indonesia.Bisa dikatakan bahwa globalisasi merombak kehidupan bermasyarakat hingga sisi-sisi pendalaman zaman.
Sebetulnya, benih-benih globalisasi sudah muncul sejak kemunculan peradaban itu sendiri.Terjalin hubungan saling pengaruh-mempengaruhi antar peradaban-peradaban tersebut.kita bisa lihat bagaimana umat islam awal meminta bantuan kaum theis di Yastrib dengan melintasi batas-batas kenegaraan. Hal inilah yang menyemai benih-benih peradaban islam yang kemudian turut serta mewarnai dunia.
Atau kita lihat bagaimana pergolakan politik di timur tengah ahirnya menghempaskan islam ke daratan nusantara kita ini. Bertolak dari hegemoni Dinasti Umayyah yang berhasil menggulingkan Khalifah Ali bin Abi Thalib pemahaman keislaman mulai terurai menjadi beberapa aliran besar. Determinasi kaum pengikut bani Umayyah terhadap bani ‘Alawiyyin demakin terasa dalam setiap sector kehidupan ummat.Hal ini kemudian menerbitkan ide untuk menemukan kehidupan yang lebih baik bagi kaum ‘Alawiyyin dengan berlayar dan mengembara. Inilah asal mula tumbuhnya benihislam di bumi nusantara yang hingga saat ini menjadi Negara dengan penduduk beragama islam terbanyak di dunia[1]. Hal ini membuktikan bahwa kejadian di suatu tempat begitu besar pengaruhnya terhadap tempat lain.
Hal ini juga akan terasa kebenarannya ketika kita sadari bahwa kemenangan islam atas kota Konstantinopel yang kemudian menimbulkan hubungan negative antara timur tengah dengan barat sebagai perantara hubungan barat dengan asia timur kemudian menyebabkan dilakukannya penjelajahan-penjelajahan oleh bangsa-bangsa barat. Penjelajahan-penjalahan inilah yang kemudian membawa Amerigo Vespucci menginjakkan kaki orang eropa pertama di tanah Dunia baru: Amerika. Penjelajahan ini pula yang menyebabkan bangsa kita terkungkung selama hampir empat abad dibawah kaki kolonisasi belanda.
Apalagi kalau kita lihat bagaimana penterjemahan buku-buku Yunani kuno ke dalam bahasa Arab menerbitkan kemajuan pesat di tubuh peradaban islam. Juga bagaimana kemajuan peradaban islam ahirnya mengahiri, secara tak langsung, The Dark Age yang menyembunyikan bangsa eropa dibawah doktrin-doktri gereja. Semua itu terjadi karena satu hal, globalisasi.
Dalam perkembangan mutakhirnya, globalisasi semakin bersenyawa dengan kehidupan kita, manusia sebagai mahluk sosial yang selalu akan berinteraksi satu sama lainnya. Seperti kata Anthony Giddens bahwa sekat-sekat peradaban mulai memudar dan merangkak menuju kesatuan sebagai satu masyarakat, masyarakat dunia.
Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal. Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung di semua aspek kehidupan.Cakupan saling ketergantungan ini benar-benar mengglobal.[2] Selanjutnya, Sztompka menyatakan bahwa:
Kedalaman perubahan yang terjadi hanya dapat dipahami lebih baik jika kita membandingkan dua kasus yang berbeda: sejarah masa lalu dengan sejarah masa kini. Masyarakat masa lalu mencerminkan unit-unit sosial yang terisolasi, pluralistis, diversifikasi Negara-bangsa. Terdapat system ekonomi autarki yang berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dan berbagai jenis kultur pribumi yang melestarikan identitas khas mereka sendiri sering tak saling dapat memahami dan tak dapat dibandingkan.[3]
Hal ini memberitahu kita secara jelas bahwa terajadi transformasi multidimensi dalam globalisai. Dengan menimbulkan pola hubungan baru dalam bermasyarakat, globalisasi juga menuntut akan kemampuan-kemampuan baru yang sesuai untuk diterapkan dalam berkehidupan di era ini. seperti yang dikemukakan sztompka, selalu akan ada mekanisme mempertahankan identitas diri dalam pergulatannya dengan proses globalisasi.
Ada tiga analisis klasik mengenai kemunculan globalisasi, yaitu teori imperialisme, teori ketergantungan dan teori system dunia.Teori imperialisme (Oleh J.A. Hobson – 1902, Bukharin – 1929, dan Lennin 1939) mengasumsi bahwa globalisasi adalah eksponen dari tahap akhir evolusi kapitalisme.Ketika produksi melimpah dan tingkat keuntungan merosot, kapitalisme harus melakukan tindakan bertahan.Pernjajahan adalah solusi sebagai strategi kapitalisme untuk mempertahankan diri dari kehancuran yang segera terjadi. Penjajahan menjawab tiga tuntutan ekonomi penting: mendapatkan tenaga kerja murah, mendapatkan bahan mentah murah dan membuka pasar baru untuk produksi yang berlimpah. Menurut teori ini, kapitalisme-lah induk awal dari global.[4]
Teori ketergantungan dikemukakan oleh F. Cordoso dan E. Faletto.Mereka menyatakan bahwa masalah utamanya adalah keterbatasan otonomi teknologi dan perkembangan sector barang modal.Akumulasi, perluasan dan pembentukkan capital local memerlukan dan tergantung pada pelengkap dari luar dirinya.Kapitalis local harus mencemplung kedalam kontak kapitalisme internasional.Hal inilah bibit-bibit globalisasi.[5]
Teori system dunia adalah teori globalisasi yang dikemukakan Immanuel wallerstein[6].Ia membandingkan dengan tiga tahap utama perkembangan sejarah. Pertama adalah sistem mini, unit-unit ekonominya relative kecil, memenuhi kebutuhan sendiri dengan pembagian kerja internal menyeluruh dan dengan kerangka cultural tunggal.Tahap berikutnya adalah tahap kekaisaran dunia, kesatuan ekonominya jauh lenih besar dan menyeluruh, menggabungkan sejumlah besar system mini sebelumnya.Tahap terahir adalah tahap ekonomi dunia yang muncul awal abad 16.Ketika itu, kapitalisme muncul sebagai system ekonomi yang doiminan.Peran pasar sangat determinan menyebabkan terjadinya perdagangan bebas.Demikianlah kapitalisme yang memiliki potensi ekspansi yang sangat besar juga menghasilkan globalisasi sebagai anak kandung.
Dalam hal ini, Cak Nur berpendapat dalam Islam Doktrin dan Peradaban, bahwa:
“Dengan tibanya Zaman Teknik (demikian beliau menyebut zaman modern) itu maka umat manusia tidak lagi dihadapkan kepada persoalan kultural sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dengan yang lain, tetapi terdorong menuju kepada masyarakat jagad (global) yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain.”[7]
Dari manapun datangnya, globalisasi bukan merupakan momok berbahaya yang harus selalu dicegah terjadinya dengan menutup diri dari dunia luar, dengan mengasingkan komunitasnya hingga menjadi benar-benar orisinil namun ditinggalkan zaman seperti kaum baduy di pedalaman banten. Globalisasi adalah masa baru yang harus dijelang dengan gagah berani sebagai manusia islam Indonesia seutuhnya.
Mencari Bentuk Ideal
Berbekal pemahaman bahwa globalisasi merupakan suatu keniscayaan yang harus dinikmati dan diisi sesuai dengan identitas kemanusiaan kita. Diisi dengan semangat islam keindonesiaan. Dalam aktualisasinya, hal ini menemukan sebuah dualisme identitas. Apakah nantinya kita akan terbawa arus dan tanpa sadar telah menjadi salah satu dari mereka, ataukah pilihan kedua, teguh dengan pendirian identitas hingga menjadi masyarakat terisolir dan tertinggal. Pilihan terbaik tentunya pilihan ketiga.Pilihan untuk terus mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan identitas dirinya.
Untuk mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan nilai-nilai identitas diri tentunya jauh lebih sulit dari pilihan pertama ataupun pilihan kedua. Pilihan ketiga ini membutuhkan usaha lebih untuk merumuskan apa identitas kita yang sesungguhnya, sebatas mana kita dapat mengikuti perkembangan zaman, dan bagaimana menemukan titik persesuaian antara identitas kita dengan zaman yang terus berkembang ini.
[1] Adien jauharudin, 2008, Ahlussunnah wal Jama’ah: Manhajul Harokah, Jakarta: Perhimpunan masyarakat Pesantren Indonesia, hlm: iii
[2] Piotr Sztompka, 1993, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada media Group, hlm: 101
[3]Ibid, hal 102.
[4] Ibid, hal: 104
[5] Ibid, hal:105
[6] Ibid, hal: 107
[7] Nurcholish Madjid, 2000, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, hal : 452
Tidak ada komentar:
Posting Komentar