Seperti telah banyak disinggung dimuka bahwa pilihan yang ditawarkan penulis adalah pilihan ketiga.Pilihan yang menghadirkan jalan terjal untuk ditempuh.Namun, pilihan inilah yang memang harus ditempuh.Karena, disinilah kita menghadapi terhimpitnya modernisasi dengan westernisasi yang menjadi salah satu sumber kesulitan bangsa-bangsa bukan barat. Sebab, meskipun menurut watak dan dinamikanya sendiri modernitas adalah budaya dunia, namun pada berbagai kenyataan periferalnya ia banyak membawa serat berbagai sisa limpahan (carry over) budaya barat. Itu menegaskan betapa dalam fakta tentang modernitas yang given sekarang ini terdapat unsur-unsur budaya dimana ia dilahirrkan pertama kali, yaitu barat. Lengkap dengan pengalaman dunia barat itu terhadap, misalnya, lingkungan agama dan budaya Kristen.[1]
Pendapat Cak Nur disini menyiratkan peesan bahwa bagaimanapun globalisasi harus dijelang dan dihadapi dengan kesiapan ekstra, namun mempertahankan identitas adalah hal penting lain yang harus diperjuangkan. Dengan begitu, kita tetap menjadi kita, bukan orang lain bahkan andai bumi melebur dalam satu kerajaan sekalipun.
Lebih lanjut menjelaskan tentang pentingnya identitas dalam menghadapi globalisasi, beliau menuliskan:
“Betapapun ia pada dasarnya merupakan hal yang alami belaka, namun materialism modernitas (dalam konteks ini: globalisasi, pen) dan kecenderungan serta perjuangan manusia untuk meningkatkan taraf hidup duniawinya harus diusahakan untuk terarah, terkendali dan malah mungkin terbatasi.”[2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar