Tulus. Ikhlas. Tanpa pretensi
Bening, seperti udara pagi di gunung
Menenangkan dia yang haus, memuaskan dia yang gelisah
Halus berarak membasahi yang kering, menumbuhkan yang
hidup
Bergerak penuh arti, berjuang tanpa maksud
Hilang dalam kepastian
Jika ada kata paling mewah dalam dunia linguistik manusia, itulah kata tulus. Sebagai
kata, mungkin tak asing dalam kehidupan harian kita, tapi benarkah makna yang
diwakilkan kata tulus sudah meresapi kehidupan kita? Aku tak tahu.
Jika kamu
pernah mencintai seseorang yang menurutmu “tulus dari lubuk hati”, apakah cinta
tulusmu itu akan tetap bertahan jika yang kamu cintai memilih cinta lain dan
meninggalkanmu begitu saja? Atau kamu memutuskan untuk menyumbangkan sebagian
hartamu untuk kepentingan kemanusiaan. Akankah kemuliaan hatimu itu bertahan
jika melihat ternyata orang yang keu kasihi atas nama kemanusiaan itu justru
menyakiti kemanusiaan itu sendiri? Atau, kamu yang berazzam menghambakan
cintamu kepada Allah, akankah kaupertahankan cintamu itu jika Allah tak
memberimu kepastian Dia akan selalu setia dan tersedia, atau jika walaupun kau
mencintai-Nya, Dia tak akan memberikan surga untukmu, tapi malah memberimu
neraka sebagai gantinya?
Latihan
Kader Da’wah ASG
Mengikuti
Latihan Kader Da’wah yang diadakan oleh direktur asrama di pelosok bogor
memberiku beberapa kesadaran kecil. Secara umum, poin postif yang paling
menonjol adalah bagimana terus meningkatkan kemampuan diri dengan berbagaimacam
bekal keahlian. Selain itu, semuanya tak jauh berbeda dengan training standard.
Di tengah
pelatihan pembicaraan seorang pemateri menyentil kesadaran saya. Dia tak pernah
berhenti menceritakan keindahan syurga dengan bahasa yang dimanipulasi
sedemikian rupa hingga jauh lebih menarik dari rayuan wanita malam manapu,
serta membicarakan siksaan-siksaan pedih dalam neraka dengan gesture yang jauh
lebih menyeramkan dari kepala sipir penjara Guantanamo sekalipun. Luar biasa.
Pembicaraan
mengenai syurga dan neraka tersebut menghempas kesadaran saya bahwa hampir
semua kebaikan yang didoktrinkan ustad-ustad dilandasi motivasi mengharapkan
syurga dan menghindari neraka. Bahkan ketika saya tanya apa makna ketulusan
kalau semua amaliah ditujukan untuk itu, sang ustad berkilah bahwa ini semua
berbeda konteks.
Sebelum
menyatakan bahwa keihlasan dan mengharap surga itu berbeda konteks, sang ustad
menyatakan terlebih dulu bahwa dalam Qur’an, ada dua orang mulia yang disanjung
Allah dengan Uswatun Hasanah, contoh yang baik. Dialah Muhammad dan Ibrahim.
Dan menurut Sang Ustad, mereka berdua yang megajarkan agar kita berdo’a supaya
dijauhkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam syurga dan bergelimang
dalam nikmatnya.
Bagi saya,
inilah buah pemahaman tekstualitas islam. Saya sangat menghormati kedua Nabi tersebut.
Ibrahim, Sang peletak fondasi monotheisme dan Muhammad, penyempurna konsep
tauhid. Terlalu gegabah kalau memandang fakta bahwa mereka pernah berdo’a untuk
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surge dengan memandang bahwa
kebertuhanan mereka tak berbeda dengan ustad-ustad tersebut. Pola keberagamaan
transaksional yang memposisikan hamba akan mendapatkan balasan yang setimpal
atas apa yang dilakukannya di dunia. Muhammad dan Ibrahim tidak berdagang
dengan Tuhan seperti yang dilakukan ustad-ustad dan mayoritas umat islam.
Sajak indah
Rabia’ah al-Addawiyah
![]() |
| Ilustrasi wajah Rabi'ah al-Adawiyah |
Seorang
sufi wanita yang namanya dijadikan nama adik pertamaku, yang hidup pada masa
awal kejayaan islam di Persia. Rabia’ah al-Addawiyah yang terkenal akan
cintanya yang tiada tara kepada Tuhannya pernah berdo’a:
“Ya Allah, jika aku mencintai-Mu karena aku takut pada
neraka-Mu, maka bakarlah aku di sana selamanya. Dan jika sedikit saja ada rasa
cintaku pada-Mu karena aku mengharap syurga-Mu, maka bakarlah syurga itu
untukku. Tuhanku, tenggelamkan aku dalam lautan cinta-Mu! Tetapi,
jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, Janganlah Engkau
enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku”
Ketulusan
memang mewah. tak semua manusia mampu menancapkan rasa itu sebagai asas
pergerakannya. Tentu saja aku tak seangkuh itu utnuk memaknai ketulusan. Tapi,
aku hanya ingin agar dunia menikmati kemaslahatan yang fair, tidak lebih.
Keinginan ini yang melandasi setiap gerak-langkahku. Ini keinginan tanpa
pretense, semoga ini yang disebut tulus.[bali]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar