Categories

Selasa, 28 Februari 2012

Makna Beningnya Ketulusan



Tulus. Ikhlas. Tanpa pretensi
Bening, seperti udara pagi di gunung
Menenangkan dia yang haus, memuaskan dia yang gelisah
Halus berarak membasahi yang kering, menumbuhkan yang hidup
Bergerak penuh arti, berjuang tanpa maksud
Hilang dalam kepastian


Jika ada kata paling mewah dalam dunia linguistik manusia, itulah kata tulus. Sebagai kata, mungkin tak asing dalam kehidupan harian kita, tapi benarkah makna yang diwakilkan kata tulus sudah meresapi kehidupan kita? Aku tak tahu.
Jika kamu pernah mencintai seseorang yang menurutmu “tulus dari lubuk hati”, apakah cinta tulusmu itu akan tetap bertahan jika yang kamu cintai memilih cinta lain dan meninggalkanmu begitu saja? Atau kamu memutuskan untuk menyumbangkan sebagian hartamu untuk kepentingan kemanusiaan. Akankah kemuliaan hatimu itu bertahan jika melihat ternyata orang yang keu kasihi atas nama kemanusiaan itu justru menyakiti kemanusiaan itu sendiri? Atau, kamu yang berazzam menghambakan cintamu kepada Allah, akankah kaupertahankan cintamu itu jika Allah tak memberimu kepastian Dia akan selalu setia dan tersedia, atau jika walaupun kau mencintai-Nya, Dia tak akan memberikan surga untukmu, tapi malah memberimu neraka sebagai gantinya?
Latihan Kader Da’wah ASG
Mengikuti Latihan Kader Da’wah yang diadakan oleh direktur asrama di pelosok bogor memberiku beberapa kesadaran kecil. Secara umum, poin postif yang paling menonjol adalah bagimana terus meningkatkan kemampuan diri dengan berbagaimacam bekal keahlian. Selain itu, semuanya tak jauh berbeda dengan training standard.
Di tengah pelatihan pembicaraan seorang pemateri menyentil kesadaran saya. Dia tak pernah berhenti menceritakan keindahan syurga dengan bahasa yang dimanipulasi sedemikian rupa hingga jauh lebih menarik dari rayuan wanita malam manapu, serta membicarakan siksaan-siksaan pedih dalam neraka dengan gesture yang jauh lebih menyeramkan dari kepala sipir penjara Guantanamo sekalipun. Luar biasa.
Pembicaraan mengenai syurga dan neraka tersebut menghempas kesadaran saya bahwa hampir semua kebaikan yang didoktrinkan ustad-ustad dilandasi motivasi mengharapkan syurga dan menghindari neraka. Bahkan ketika saya tanya apa makna ketulusan kalau semua amaliah ditujukan untuk itu, sang ustad berkilah bahwa ini semua berbeda konteks.
Sebelum menyatakan bahwa keihlasan dan mengharap surga itu berbeda konteks, sang ustad menyatakan terlebih dulu bahwa dalam Qur’an, ada dua orang mulia yang disanjung Allah dengan Uswatun Hasanah, contoh yang baik. Dialah Muhammad dan Ibrahim. Dan menurut Sang Ustad, mereka berdua yang megajarkan agar kita berdo’a supaya dijauhkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam syurga dan bergelimang dalam nikmatnya.
Bagi saya, inilah buah pemahaman tekstualitas islam. Saya sangat menghormati kedua Nabi tersebut. Ibrahim, Sang peletak fondasi monotheisme dan Muhammad, penyempurna konsep tauhid. Terlalu gegabah kalau memandang fakta bahwa mereka pernah berdo’a untuk dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surge dengan memandang bahwa kebertuhanan mereka tak berbeda dengan ustad-ustad tersebut. Pola keberagamaan transaksional yang memposisikan hamba akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang dilakukannya di dunia. Muhammad dan Ibrahim tidak berdagang dengan Tuhan seperti yang dilakukan ustad-ustad dan mayoritas umat islam.

Sajak indah Rabia’ah al-Addawiyah
Ilustrasi wajah Rabi'ah al-Adawiyah

Seorang sufi wanita yang namanya dijadikan nama adik pertamaku, yang hidup pada masa awal kejayaan islam di Persia. Rabia’ah al-Addawiyah yang terkenal akan cintanya yang tiada tara kepada Tuhannya pernah berdo’a:
“Ya Allah, jika aku mencintai-Mu karena aku takut pada neraka-Mu, maka bakarlah aku di sana selamanya. Dan jika sedikit saja ada rasa cintaku pada-Mu karena aku mengharap syurga-Mu, maka bakarlah syurga itu untukku. Tuhanku, tenggelamkan aku dalam lautan cinta-Mu! Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku
Ketulusan memang mewah. tak semua manusia mampu menancapkan rasa itu sebagai asas pergerakannya. Tentu saja aku tak seangkuh itu utnuk memaknai ketulusan. Tapi, aku hanya ingin agar dunia menikmati kemaslahatan yang fair, tidak lebih. Keinginan ini yang melandasi setiap gerak-langkahku. Ini keinginan tanpa pretense, semoga ini yang disebut tulus.[bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar