Categories

Senin, 13 Februari 2012

20 Refleksi dan Restorasi

Setelah 20 tahun hidup, tumbuh dan berkembang.


Waktu memang begitu relative. Aku cenderung setuju dengan yang dijelaskan Ruben pada pasangannya, Dhimas, dalam novel Dee yang pertama terbit --> SUPERNOVA: KSATRIA, PUTRI & BINTANG JATUH, waktu memiliki tiga perspektif pemahaman.
Yang pertama, waktu  mekanis. Waktu dalam perspektif ini ditempatkan sebagai besaran tertentu yang dipahami dalam satuan-satuan mekanis. Detik-detik itu, menit yang disusun enam puluh kali detik, jam, hari, minggu, bulan tahun, windu, decade, abad, millennium , semuanya hanya bagian dari sistem kalender yang tak Cuma satu di dunia. Itu semua hanyalah satuan-satuan yang digunakan manusia untuk mencoba memahami waktu.
Perspektif berikutnya adalah waktu relative. Seperti kata Einstein, waktu itu elastis seperti karet yang bisa mengendur dan meregang. Anda merasa waktu ujian fisika yang 90 menit seperti sekejab mata, sementara proses belajarnya yang sama 90 menit terasa seperti satu eon. Atau satu waktu bergerak tampak selambat siput ketika anda menanti buka puasa, sementara waktu tampak melesat lebih cepat dari cahaya saat anda sedang bersama orang yang anda sayangi, kasihi dan cintai. Anda pun ingin waktu membeku saja, membungkus semuanya tetap seperti itu.
Yang ketiga adalah waktu ilusif. Perspektif ini didasarkan pada premis bahwa waktu sesungguhnya tidak ada. Masa lalu, masa kini dan masa depan hanyalah ilusi. Otak kita adalah generator bipolar yang membagi setiap input ke dalam dua jalur. Jalur pertama, diterima cortex untuk diterjemahkan ke dalam siklus atraktor terbatas, atau disederhanakan sedemikian rupa sehingga menjadi informasi yang terkategori entahitu bau, rasa dan sebagainya. Dengan kata lain, cortex mengorganisasikan chaos. Jalur kedua mengirim input ke semacam generator acak. Input di sini bersifat nonspesifik, tidak terstruktur, karena terlalu kompleks, tak ada informasi yang mampu diterjemahkan dari sini.
Waktu adalah hasil terjemahan cortex yang dilakukan di alam bawah sadar karena tak sanggup mengerti chaos yang sebenarnya. Chaos adalah kekekalan, eternality  yang kemudian diterjemahkan cortex menjadi masa lalu, masa kini dan masa depan agar kita tahu bagaimana rasanya tumbuh, berkembang, ber-evolusi. Konsepsi tentang waktu dimunculkan manusia di level pikirannya. Mereka sendirilah yang mengada-adakan linieritas waktu dan setuju untuk mengikutinya. Konsep waktu lahir dari keinginan fundamental manusia untuk punya kendali atas hidup, termasuk mengendalikan dirinya sendiri.
Secara mekanis, memakai metode kalenderisasi berdasarkan pada revolusi bumi mengelilingi matahari, lengkap telah 7.305 hari kulewati dalam jasad seorang anak jawa tulen yang tergagap-gagap mengejar ketertinggalannya dari perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Berbagai macam manusia mulai yang paling bangsat hingga yang serupa malaikat telah kutemui dan kugumuli, bersosialisasi dengan mereka, mencari cinta dari setiap gurat wajahnya, mengais kasih dari setiap lekuk kulitnya dan kukembalikan dalam bentuk senyum menenangkan.
Ribuan tempat telah kusinggahi, jutaan pemandangan sudah kurangkum dalam memori mulai yang paling magis, indah seindah-indahnya hingga yang paling busuk, anyir, menjijikan semenjijikan-menjijikannya pemandangan.
Panjangnya waktu yang kulalui secara mekanis, terasa hanya sekejap mata dalam perspektif relative. Namun yang menyakitkan adalah bahwa perspektif ilusif mengatakan bahwa waktu yang telah kulewati, bahkan semua masa, masa kini dengan segala dinamikanya, masa lalu dengan daya pikat dan identifikasi identitasnya, serta masa depan dengan segala harapan-harapannya hanya ilusi belaka. Yah, hanya ilusi.
Tapi aku yakin seyakin-yakin yang aku pernah yakini, secara relative, jika dihitung dari kesadarannya akan hidup, hidupku jauh lebih lama dari mereka-mereka yang rela menggadaikan hidup demi sejumput karbohidrat, lemak dan protein serta renik-reniknya itu. Bahkan mungkin lebih lama dari semua mahasiswa dan dosen-dosennya(haha, yang ini lebay!). aku punya mesin waktuku sendiri, buku. Buku. Yang menemaniku mengarungi dunia relative ini.
20 butir refleksi.
Aku akan kosongkan kolom ini untuk diriku sendiri dan istriku nanti.
20 butir restorasi.                                               
Juga kukosongkan kolom ini hanya untuk aku dan istriku nanti.
Kado terindah: tiga orang pertama.
Ada sesuatu yang aneh di momen memasuki kepala dua ini. Tiga orang pertama yang mengucapkan selamat  dan kuketahui doanya secara langsung dan nyata adalah mereka yang belakangan menjadi begitu special. Mereka yang mulai membangun ruangan pribadi di fragmen-fragmen memoriku tentang keindahan, cinta dan sayang. Mereka satu identitas dalam tiga eksistensi. Mereka adalah dia. Dia adalah mereka. Yang hadir dengan begitu indah, sederhana dalam ketidakmengertian.
Dia memiliki bahasanya sendiri dalam komunikasi. Dia memiliki caranya sendiri memandang hidup, yang karenanya aku tertarik. Dia yang simple tapi menyimpan makna begitu dalam yang tak mudah disederhanakan. Dia menyimpan misteri dalam kepolosan. Dia paradox tanpa penjelasan.
Mereka, kado istimewa pembuka dimensi duapuluh tahun ke atas. Dia kado terindah yang pernah terbingkis. Dia, hadiah termanis yang pernah kuketahui. Semoga benar-benar dia yang akan membaca 20 butir refleksi dan 20 butir restorasi bersamaku nanti. Bersama anak-anak kami.[bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar