Categories

Selasa, 28 Februari 2012

Meeting Prof. R. William Liddle, Ph. D.


My Metromini-distance Heaven
Selama hidup di Jakarta, banyak sekali tempat-tempat favoritku. Kebanyakan adalah situs-situs bersejarah panjang, berdimensi luas dan memiliki ke-khas-annya sendiri. Salah satunya adalah Freedom Institute Public Library.
Perpustakaan tak terlalu besar yang terletak persis di samping Wisma Proklamasi, kompleks tugu proklamasi, Jakarta Pusat. Sebuah perpustakaan umum dengan koleksi terlengkap seputar liberalitas politik dan ekonomi di Jakarta. Perpustakaan ini juga tergolong lengkap untuk ilmu-ilmu social lainnya. Dengan fasilitas wi-fi dan smoking dan eating room, sempurnalah perpustakaan ini disebut surga. Apalagi ditambah kawasannya yang tertata rapi dengan konsep minimalis dilengkapi taman asri yang hijau, dipastikan semua penggila ilmu akan menyukainya.

Letaknya yang bisa dijangkau dengan sekali saja naik Metromini dari tempat tinggalku, membuatku menyebutnya My Metromini distance Heaven. Karena letaknya juga, aku sering mengikuti berbagai program yang diadakan freedom institute. Mulai dari konser music jazz, kine-klub, science klub, diskusi bedah buku, training berjangka hingga dskusi-diskusi tematik. Seperti tanggal 27 februari lalu, aku mengikuti diskusi bedah buku bertajuk “Why Georgia has succed?”. Tak tanggung-tanggung, panitia penyelenggara mendatangkan Larissa Burakova, penulis buku tersebut, seorang aktivis pada lembaga think tank di Rusia, Institute of Economic Study Rusia yang menganalisis kesuksesan reformasi di Georgia, Negara bekas pecahan USSR (Uni Soviet Social Republic) ini. Selain itu, panitia juga mendatangkan Danang Widoyoko, Koordinator ICW sebagai panelis Larissa.
Bersama Larisa Burakova
Larissa Burakova 
Larissa, seorang gadis Rusia sejati dengan keteguhan dan keanggunan khas sovietnya menjadi primadona dalam forum itu. Dengan begitu mengesankan, dia ceritakan keadaan krisis di Georgia pasca runtuhnya Soviet. Kemudian, dia jabarkan bagaimana Georgia bertransformasi menjadi Negara kecil dengan Gross Development Product di atas rata-rata dunia.
Kemajuan Georgia ini dikatakan karena reformasi politik dan kebijakan ekonominya. Georgia membuka diri pada pasar bebas pada tahun 2005 dengan langkah yang tak sederhana. Georgia memprioritaskan tiga pilar reformasinya yaitu: liberalisasi, privatisasi dan debirokratisasi. Tiga pilar ini yang kemudian diterjemahkan dalam kebijakan politik ekonominya.
Langkah pertama adalah menyederhanakan aturan dan pajak bisnis, penyederhanaan siklus distribusi barang dari produsen ke konsumen, semua hal didasarkan pada kesepakatan yang jelas dan mengikat, dan berbagai kebijakan lainnya.
Hasilnya, bahkan presiden Barrack Obama memuji keberhasilan Georgia bertransformasi ketika dia berkunjung ke sana. Katanya, “we appreciate the model of democracy and transparency that they’ve been setting not just for their own country but also for their region as a whole”. Sekarang, kata Larissa, Georgia did, others can follow.
Mas Danang yang menjadi panelis cenderung membicarakan mengenai penegakan aturan dan kerentanan penyelewengan kekuasaan yang seakan telah menjadi budaya asli Indonesia.
Di kesempatan bertanya, saya menanyakan bagaimana kontekstualisasi liberalisasi, privatisasi dan debirokratisasi di Indonesia. Negeri ini memiliki jauh lebih banyak sumber daya alam yang menggiurkan kekuatan-kekuatan asing untuk ikut menikmatinya, negeri ini juga tersusun dari jutaan manusia yang tak semuanya sepakat dengan ide pasar bebas. Ide tersebut bahkan terdengar minoritas di Indonesia. Saya mengutip kesimpulan Professor in Political Science dari Ohio State University, R. William Liddle bahwa demokrasi dan kapitalisme pasar berseteru terus sambil saling merubah sifatnya masing-masing. Orang yang tersisih secara persaingan dalam kapitalisme pasar bisa dengan mudah mengubah regulasi dengan jalan yang disediakan demokrasi.
Dengan bangga kuformulakan argument tersebut kepada forum karena mengutip pendapat seorang professor kenamaan dari Amerika Serikat itu.
Professor Emiritus in Political Science
Ohio State University, Columbus, United States of America
 R. William Liddle

The Surprise of Pak Bill
Yang tak disangka adalah bahwa seisi forum justru menertawakanku saat kukatakan dengan penuh kebanggaan nama Sang Professor. Aku canggung dan bingung, mengapa mereka tertawa? Adakah yang salah dalam diriku? Tanyaku lenyap ketika Mas Luthfi, moderator, malu-malu menunjuk seorang bule tua berkacamata di pojok ruangan sambil berkata, “itu Pak Bill, Prof. R. William Liddle yang tadi kaukutip pendapatnya itu”. Hahaha, tawa hadirinpun meledak, semakin menenggelamkanku dalam kecanggungan ini. Pak Bill pun ikut tertawa sambil bertepuk tangan, negapresiasi mungkin.
Selepas itu, tanggapan pembicara atas pertanyaan saya serasa tak penting lagi. Bahkan pesona wanita soviet yang cerdas sekelas Larissa Burakova tak mampu menolongku dari demam nervous yang sangat ini. Satu-satunya focus pikiranku saat itu adalah bagaimana nanti saya bisa berbincan dengan Pak Bill Sang Professor.
Setelah acara selesai, langsung saja kudatangi Pak Bill. Segera kujabat tangannya dengan sungguh-sungguh dan meminta maaf lalu berbincang-bincang pendek sebagai basa-basi. Semuanya dalam bahasa inggris. Aku menyatakan kekagumanku pada beliau. aku ceritakan bagaimana ide-ide dalam setiap tulisannya ikut menrekonstruksi pemikiran politikku, kadang memperkuat landasannya, kadang merekonsiliasinya. Semuanya dalam bahasa Inggrisku yang semrawut dan terbata-bata setelah susah-payah kususun kalimat-kalimatnya. Dan kerangka tulangku harus rontok untuk yang ke dua kalinya ketika mendengar tanggapannya. Pendek saja beliau menaggapinya, "Terimakasih"" katanya santai sambil tak henti tersenyum. Kami lanjutkan perbincangan yang lebih intens dalam bahasa Indonesia!. Bahasa Indonesia!!! ternyata Dia mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar! lidahnya juga sudah "ter-Indonesia-kan" mungkin. Hahaha, mau kutaro dimana muka sok-Inggrisku ini???
Foto bareng Pak Bill selepas diskusi

Saya maklum bahwa beliau adalah salah satu ahli Indonesia yang dimiliki Amerika, tapi itu tak membuatku mengira dia mampu berbahasa Indonesia sebaik itu. Aku yang setengah mati menata bahasa inggrisku yang kacau hanya untuk bercengkrama dengan beliau, yang ternyata dengan fasih mampu berbahasa Indonesia! Pak Bill, you’re so damn surprise! Great to see you Pak, and see you at the top! Hehe.[bali]  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar