My Metromini-distance Heaven
Selama hidup
di Jakarta, banyak sekali tempat-tempat favoritku. Kebanyakan adalah
situs-situs bersejarah panjang, berdimensi luas dan memiliki ke-khas-annya
sendiri. Salah satunya adalah Freedom Institute Public Library.
Perpustakaan
tak terlalu besar yang terletak persis di samping Wisma Proklamasi, kompleks
tugu proklamasi, Jakarta Pusat. Sebuah perpustakaan umum dengan koleksi
terlengkap seputar liberalitas politik dan ekonomi di Jakarta. Perpustakaan ini
juga tergolong lengkap untuk ilmu-ilmu social lainnya. Dengan fasilitas wi-fi
dan smoking dan eating room, sempurnalah perpustakaan ini disebut surga. Apalagi
ditambah kawasannya yang tertata rapi dengan konsep minimalis dilengkapi taman
asri yang hijau, dipastikan semua penggila ilmu akan menyukainya.
Letaknya yang
bisa dijangkau dengan sekali saja naik Metromini dari tempat tinggalku,
membuatku menyebutnya My Metromini
distance Heaven. Karena letaknya juga, aku sering mengikuti berbagai
program yang diadakan freedom institute. Mulai dari konser music jazz, kine-klub,
science klub, diskusi bedah buku, training berjangka hingga dskusi-diskusi
tematik. Seperti tanggal 27 februari lalu, aku mengikuti diskusi bedah buku
bertajuk “Why Georgia has succed?”. Tak tanggung-tanggung, panitia
penyelenggara mendatangkan Larissa Burakova, penulis buku tersebut, seorang
aktivis pada lembaga think tank di Rusia, Institute of Economic Study Rusia
yang menganalisis kesuksesan reformasi di Georgia, Negara bekas pecahan USSR
(Uni Soviet Social Republic) ini. Selain itu, panitia juga mendatangkan Danang
Widoyoko, Koordinator ICW sebagai panelis Larissa.
Bersama
Larisa Burakova
| Larissa Burakova |
Kemajuan Georgia
ini dikatakan karena reformasi politik dan kebijakan ekonominya. Georgia membuka
diri pada pasar bebas pada tahun 2005 dengan langkah yang tak sederhana.
Georgia memprioritaskan tiga pilar reformasinya yaitu: liberalisasi, privatisasi
dan debirokratisasi. Tiga pilar ini yang kemudian diterjemahkan dalam kebijakan
politik ekonominya.
Langkah pertama
adalah menyederhanakan aturan dan pajak bisnis, penyederhanaan siklus
distribusi barang dari produsen ke konsumen, semua hal didasarkan pada
kesepakatan yang jelas dan mengikat, dan berbagai kebijakan lainnya.
Hasilnya,
bahkan presiden Barrack Obama memuji keberhasilan Georgia bertransformasi
ketika dia berkunjung ke sana. Katanya, “we appreciate the model of democracy and
transparency that they’ve been setting not just for their own country but also
for their region as a whole”. Sekarang, kata Larissa, Georgia did, others can
follow.
Mas Danang
yang menjadi panelis cenderung membicarakan mengenai penegakan aturan dan
kerentanan penyelewengan kekuasaan yang seakan telah menjadi budaya asli Indonesia.
Di kesempatan
bertanya, saya menanyakan bagaimana kontekstualisasi liberalisasi, privatisasi
dan debirokratisasi di Indonesia. Negeri ini memiliki jauh lebih banyak sumber
daya alam yang menggiurkan kekuatan-kekuatan asing untuk ikut menikmatinya,
negeri ini juga tersusun dari jutaan manusia yang tak semuanya sepakat dengan
ide pasar bebas. Ide tersebut bahkan terdengar minoritas di Indonesia. Saya mengutip
kesimpulan Professor in Political Science dari Ohio State University, R.
William Liddle bahwa demokrasi dan kapitalisme pasar berseteru terus sambil
saling merubah sifatnya masing-masing. Orang yang tersisih secara persaingan
dalam kapitalisme pasar bisa dengan mudah mengubah regulasi dengan jalan yang
disediakan demokrasi.
Dengan bangga
kuformulakan argument tersebut kepada forum karena mengutip pendapat seorang professor
kenamaan dari Amerika Serikat itu.
![]() |
| Professor Emiritus in Political Science Ohio State University, Columbus, United States of America R. William Liddle |
The
Surprise of Pak Bill
Yang tak
disangka adalah bahwa seisi forum justru menertawakanku saat kukatakan dengan
penuh kebanggaan nama Sang Professor. Aku canggung dan bingung, mengapa mereka
tertawa? Adakah yang salah dalam diriku? Tanyaku lenyap ketika Mas Luthfi,
moderator, malu-malu menunjuk seorang bule tua berkacamata di pojok ruangan
sambil berkata, “itu Pak Bill, Prof. R. William Liddle yang tadi kaukutip
pendapatnya itu”. Hahaha, tawa hadirinpun meledak, semakin menenggelamkanku
dalam kecanggungan ini. Pak Bill pun ikut tertawa sambil bertepuk tangan,
negapresiasi mungkin.
Selepas itu,
tanggapan pembicara atas pertanyaan saya serasa tak penting lagi. Bahkan pesona
wanita soviet yang cerdas sekelas Larissa Burakova tak mampu menolongku dari
demam nervous yang sangat ini. Satu-satunya focus pikiranku saat itu adalah
bagaimana nanti saya bisa berbincan dengan Pak Bill Sang Professor.
Setelah acara
selesai, langsung saja kudatangi Pak Bill. Segera kujabat tangannya dengan
sungguh-sungguh dan meminta maaf lalu berbincang-bincang pendek sebagai
basa-basi. Semuanya dalam bahasa inggris. Aku menyatakan kekagumanku pada beliau. aku ceritakan bagaimana ide-ide dalam setiap tulisannya ikut menrekonstruksi pemikiran politikku, kadang memperkuat landasannya, kadang merekonsiliasinya. Semuanya dalam bahasa Inggrisku yang semrawut dan terbata-bata setelah susah-payah kususun kalimat-kalimatnya. Dan kerangka tulangku harus rontok untuk yang ke dua kalinya ketika mendengar tanggapannya. Pendek saja beliau menaggapinya, "Terimakasih"" katanya santai sambil tak henti tersenyum. Kami lanjutkan perbincangan yang lebih intens dalam bahasa Indonesia!. Bahasa Indonesia!!! ternyata Dia mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar! lidahnya juga sudah "ter-Indonesia-kan" mungkin. Hahaha, mau kutaro dimana muka sok-Inggrisku ini???
Saya maklum
bahwa beliau adalah salah satu ahli Indonesia yang dimiliki Amerika, tapi itu
tak membuatku mengira dia mampu berbahasa Indonesia sebaik itu. Aku yang
setengah mati menata bahasa inggrisku yang kacau hanya untuk bercengkrama
dengan beliau, yang ternyata dengan fasih mampu berbahasa Indonesia! Pak Bill, you’re
so damn surprise! Great to see you Pak, and see you at the top! Hehe.[bali]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar