Dalam naskah drama yang
judulnya Prince of Denmark, lewat tokoh Hamlet, William Shakespeare pernah
bilang:
Doubt thou the stars are fire
Doubt the earth doth move
Doubt truth to be a liar
But never doubt I love
Kalimat ini indah
banget buat gue. Karena segala penemuan dimulai dari keraguan, kecuali satu
hal. Manusia berpaling dari anggapan bahwa bumi adalah pusat tata surya dan
matahari , bulan serta benda langit lainnya berputar mengelilingi bumi ke
anggapan bahwa bumi hanya sekedar planet biasa yang berputar dalam orbitnya
mengelilingi matahari sebagai pusat tatasurya berawal dari keraguan Ptolemaeus yang kemudian dibuktiin secara betahap oleh Copernicus,
Galileo dan Kepler.
Fisika modern dibangun
di atas keraguan Oom Einstein bahwa
asumsi Newton yang bilang kalo zat, gerak, ruang dan waktu bersifat absolute
itu kurang tepat, kata dia, keempatnya itu relative. Yang paling gampang deh,
tauhid tiga agama samawi, islam, Kristen dan yahudi, dibangun di atas keraguan Ibrahim bahwa patung yang
dibikin bapaknya itu Tuhan, bahwa bulan itu Tuhan, bahwa matahari itu Tuhan.
Bayangin deh kalo kita ga pernah meragukan sesuatu. Sama kaya monyet yang live happily ever after karena ga pernah
meragukan bahwa mereka adalah binatang yang ga perlu berkembang, karena ga
pernah meragukan bahwa suatu saat cadangan makanan bakal habis makanya dia ga
pernah bertani dan menanam.
Ragu merupakan fitrah
manusia, maka ragukanlah segalanya, karena hanya dengan keraguanlah pembaruan
bisa muncul, kemajuan bisa didapatkan. Ragukan segalanya, tapi tidak ragukan
cinta. Kenapa cinta ga bisa diragukan? Apa istimewanya cinta sampe dia jadi
satu-satunya hal yang kebal dari keraguan? Kenapa ga agama aja yang kebal?
Kenapa harus cinta?
Karena cinta adalah
esensi dasar dari percaya. Cinta itu pilihan eksistensial. Opto ergo sum, aku
memilih maka aku ada. Cinta punya matematikanya sendiri, cinta punya
statistikanya sendiri, cinta punya bahasanya sendiri, cinta punya logikanya
sendiri. Cinta ga butuh alasan. Kalo udah cinta, formulanya bukan “aku cinta
kamu karena…bla…bla…bla…” tapi “aku…ba…bi…bu… karena aku cinta”.
Lho, terus kenapa ga
percaya (believe) aja yang kebal? Kepercayaan masih menuntut sesuatu yang
dipercayanya untuk dapat dipercaya. Kepercayaan bakal luntur seketika ketika
yang dipercaya mengecewakan yang mempercayainya itu. Kepercayaan menuntut feedback dari rasa percayanya itu. Maka
eksistensi percaya masih layak diragukan.
Cinta itu esensi dasar
dari percaya. Cinta ga pernah bermaksud makanya ga nuntut. Mereka yang mencinta
karena percaya bahwa cinta itu menjanjikan bahagia harus sering dikecewakan
cinta karena mereka masih berpretensi dalam cintanya, mereka menyimpan pamrih
dalam mencinta. Mereka mencintai berlandaskan kepercayaan bahwa cinta itu indah dan membahagiakan. Rabi’ah
al-Addawiyah pernah berdo’a:
Ya
allah, jika aku mencintai-Mu karena takut pada neraka-Mu, maka bakarlah aku di
sana selamanya.
Jika
aku mencintai-Mu karena mengharap syurga-Mu, maka bakarlah syurga itu untukku.
Ya
Allah, cukuplah cintaku padamu yang ada. Tenggelamkanlah aku dalam lautan
cinta-Mu.
Memang sedikit manusia
yang mampu mencintai sebenar-benar eksistensi cinta itu. Malangnya cinta
terlalu sering disederhanakan orang. Tapi memang begitulah cinta maka cinta tak
tersentuh keraguan.
Satu-satunya pertanyaan
yang tersisa adalah sudah benarkah perasaan ini disebut cinta? Dan sudah
benarkah kiranya cinta ini disematkan pada-nya? Yah, tinggal pertanyaan itu
yang tersisa dari segala masalah percintaan manusia.
Pertama,
sudah benarkah perasaan yang berkecamuk dalam batin itu disebut cinta? Ini
memang pertanyaan eksistensialis yang sulit dijawab. Karena bagaimanapun, tafsir
tentang cinta ada di setiap zaman, ada menyawai susastra, ada memotori penemuan
mutakhir santifik, ada menjadi trending topic mereka yang hidup sepenuhnya.
Secara garis besar,
tafsir tentang cinta mengerucut menjadi dua aliran besar sepanjang sejarah
pengetahuan manusia. Di Sisi Biru ada mereka yang menganggap cinta itu tak
lebih dari manifestasi manusia sebagai organisme mekanis yang selalu mengemban
misi berkembang biak, melahirkan keturunan yang banyak dan kuat bersaing. Bagi
mereka, cinta hanyalah sensasi rasa yang timbul dalam lobus frontal cortex akibat impuls-impuls di daerah tersebut
dibanjiri senyawa-senyawa cinta yang
diproduksi berlebih karena amigdala terangsang untuk melakukannya. Yah, cinta
sekedar sensasi dari endorphin, estrogen, progesterone, dan serotonin.
Di Sisi merah,
berdirilah mereka yang menganggap cinta adalah hal yang sangat spiritual.
Kehadiran cinta bukan saja dalam misi untuk mengembangbiakkan ketrunan. Cinta
merupakan kristalisasi dari segala kesadaran tentang hidup sebagai manusia
sepenuhnya. Manusia yang memiliki free
will, manusia yang mampu memilih sesuai kehendak kesadaran kemanusiaannya,
bukan hanya sebagai mahluk mekanis yang digerakkan oleh gen dan segala kepentingannya. Bagi mereka, cinta merupakan
pengalaman ilahiah yang tak terdefinisikan, sepeti saat kita akan
mendefinisikan warna tertentu. Apakah bisa kita definisikan warna merah dengan
“seberkas sinar yang diterima kornea mata dengan panjang gelombang antara 298 –
309 Hz”? Bagaimanapun kita mendefinisikan warna, dia tetap tak bisa dimengerti kecuali kau melihatnya sendiri,
begitu juga cinta. Yang paling penting adalah bahwa sensai senyawa-senyawa
tersebut bisa saja muncul walaupun tidak bersamaan dengan munculnya “cinta”.
Yah, penggambaran lebih
tentang ini mungkin tak akan menambah pemahaman tentang bagaimana kita tahu
suatu rasa itu layak disebut cinta. Baiklah, bagi saya, suatu rasa layak
disebut cinta hanya jika dia mendasarkan kebenarannya pada cinta itu sendiri.
Bukan pada rupa fisik, perilaku, kondisi eonomi, status social, kepercayaan
akan timbulnya “kebahagiaan”, atau hal lain semacamnya. Parameternya sederhana,
“yang diinginkan oleh cinta hanyalah
mencintai, selebihnya BUKAN”.
Kedua, sudah
benarkah kiranya cinta ini disematkan pada-nya? Untuk pertanyaan ini tak akan
terlalu sulit jika sudah menyelesaikan pertanyaan pertama. Sebenarnya, hal ini
akan sangat tergantung pada kepribadian dan pengetahuan juga kecerdasan
pencinta, namun secara filosofis bisa dikayakan “jika masih mempertanyakan hal ini, jelas, itu bukan cinta”.
Di ujung artikel, saya
hanya ingin tertawa, menertawakan diri sendiri dan semesta. Cinta seperti itu
saya sebut “cinta lembayung senja”
karena pencintanya akan tetap tersenyum bagaimana pun dunia jadinya, seperti apa pun derita
mengakrabinya. Cinta seperti itu memang bukan konsumsi manusia biasa, tapi
sekali datang, akan sulit dia dilawan. Yang ingin saya tekankan adalah, jangan
gegabah menyebut “saya jatuh cinta”. Konyol. [bali]

Mas, tulisanmu bagus. Tapi sayang banget kalo diposting disini dikit banget yang baca. Coba rangkap posting di Kompasiana. Aku juga beralih kesana. dan banyak belajar disana hehehee
BalasHapusIya nduk, masih "i write for myself" nih, hehe
Hapus