Dongeng-dongeng Kebebasan
Sebagai pendahuluan, saya ingin memperkenalkan
empat tokoh yang beberapa tahun ini curhat pada saya tentang kabarnya dan kabar
masyarakatnya. Keempatnya sudah menjalin korespondensi intens dengan saya dan selalu
berharap saya mampu menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam konteks
masyarakat mereka di zaman mereka waktu itu. Keempatnya adalah Ummu Kaltsum al
– Yahya (Umu), Hidetoshi Mitsumoto (Umo), Luna Maria Lovegood (Una) dan Kartono
Tjokrosuryo (Uyo), berikut kisahnya:
Umu
adalah seorang wanita muda penuh talenta. Postur tinggi dan badan tegap padat
atletis mendukung gerak lincahnya dalam beraktifitas. Dilahirkan dalam keluarga
aristocrat kerajaan Saudi Arabia, Umu mendapatkan kesempatan lebih untuk
menyerap ilmu sebanyak mungkin sejak usia belia. Jadilah Umu, wanita 32 tahun pemipin
satu perusahaan pengeboran minyak yang mahir bermain anggar, hobi naik gunung,
sangat membenci penindasan dan memusuhi pembodohan namun mencintai masyarakat
dan tanah kelahirannya lebih dari ia mencintai dirinya.
Beberapa kali Umu mendapat peringatan
keras dari pemerintah setempat atas pekerjaanya sebagai wanita yang memimpin
perusahaan. Peringatan ini datang berdasarkan pengaduan kepada pihak berwajib
mengenai kelakuan-kelakuan Umu yang dianggap melewati batas-batas kewanitaan,
menyepelekan ajaran islam, merendahkan martabat lelaki dan berbagai macam
tuduhan senada. Sementara atas aktivitasnya di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat
dan Blogging internet, hanya kedekatan keluarganya dengan Rezim Bani Saud yang
melindunginya dari jangkauan ‘penegak hukum’. Dan terror di luar hukum
merupakan keseharian yang tak bisa dilepaskan dari segala aktivitasnya. Kalau
sekedar ban mobil selalu bocor atau surat-surat kaleng ancaman, sudah biasa
baginya.
Dalam salah satu suratnya, Umu pernah
menuliskan:
“Kau tahu Bali, kadang aku
berpikir untuk pergi meninggalkan masyarakat jahiliyah ini dan hijrah ke Amerika, Jerman, China atau Indonesia
sebagaimana dulu Kakek Moyangku hijrah dari Makkah untuk membangun peradaban
Madinah di Yatsrib. Aku sudah muak dengan bebalnya masyarakatku. Aku muak akan
kebodohan mereka, dengan keserakahan mereka, ke-jumud-an mereka dan keangkuhan mereka. Mereka mengaku pewaris sah
ajaran Kakek Moyangku, Muhammad, tapi mengapa yang dirasakan justru mereka
adalah penentang utama ajaran beliau? Bukankan ajaran beliau adalah ajaran
pembebasan manusia dari segala macam taghut?
Tapi mereka justru membangun taghut-taghut baru sambil terus menyembah taghut
lama dalam berbagai macam dan bentuknya. Bukankah ajaran yang takboleh
dikontekstualisasikan dengan zaman adalah taghut yang menentang kesempurnaan
ilahiah? Bukankah klaim kesempurnaan atas penafsiran satu suara adalah taghut
jenis lainnya? Sekarang aku faham dalamnya makna kalimat Syeikh Muhammad Abduh
yang mengatakan ‘aku melihat islam di Paris walaupun tak melihat muslim di
sana. Tapi aku tak melihat islam di Cairo walaupun di sini penuh dengan umat
muslim’. Aku juga merasakannya kini di masyarakatku, tapi malangnya aku, aku
tak bisa merasakan bagaimana ‘Paris’ dalam kalimat sang Syeikh.”
Umo,
kapten pasukan perang Dai Nippon yang memimpin salah satu regu penaklukan
daratan China tahun 1930an. Dididik secara samurai, Umo tumbuh sebagai pemuda
tangkas dan cerdas. Dalam jiwanya, selalu berkobar nilai-nilai spirit Hagakure.
Hidup baginya adalah pengabdian kepada kaisar demi mewujudkan dunia yang penuh
harmoni kedamaian di bawah satu atap pemerintahan: Asia Timur Raya.
Berbekal ketangkasan perang dan
kecerdasannya memimpin pasukan, setiap operasi yang dipimpinnya selalu
berhasil. Rekor pembunuhan Rurourin Kenshin dalam perang-perang demi restorasi
Meiji mungkin satu-satunya rekor pembunuhan yang dilakukan Umo. Boleh
dikatakan, Umo adalah Battousai edisi
abad 20. Seperti juga Kenshin yang akirnya bersumpah untuk berhenti membuhuh, Umo
mengalami kegalaua-kegalauan mendalam tentang dirinya, kepribadiannya dan apa
yang dia lakukan. Medan peperangan yang memaksanya untuk selalu membunuh atau
akan dibunuh membuatnya mempertanyakan kembali mimpi-mimpi harmoni kedamaian
yang ia perjuangkan.
Dalam salah satu suratnya, Umo pernah
menuliskan:
“setiap
aku membunuh dalam medan pertempuran, tak pernah sedikitpun aku kasihan.
Membunuh di medan tempur terasa seperti ibadah bagiku Bali, seperti rasanya
sholat bagimu. Sholat adalah yang harus kaulakukan untuk mencapai utopiamu
tentang surga kan, begitulah membunuh bagiku. Membunuh adalah harga yang harus
kubayar demi utopiaku tentang kebebasan manusia dan kedamaian abadi di bawah
satu kekaisaran. Tapi jika aku duduk di medan pertempuran yang masih hangat
baru saja kami menangkan, aroma mayat-mayat segar membuatku kembali berpikir.
Apa mungkin kebebasan harus diwudkan dengan pembunuhan dan penindasan?
Mungkinkah kedamaian hanya bisa diwujudkan dengan peperangan? Orang-orang yang
kubunuh adalah mereka yang juga memperjuangkan kebebasannya, kemerdekaannya,
keadilannya? Ada apa denganku? Atas dasar apa aku diperbolehkan mendefinisikan
keadilan baginya? Atas dasar apa kekaisaran berhak mendefinisikan keadilan bagi
Asia Timur Raya?”
Una,
supermodel 21 tahun yang sudah berlangganan muncul sebagai sampul majalah
Vogue, ayahnya petinggi Microsoft Inc. ibunya mantan atlet tennis Amerika.
Hidupnya adalah penjelmaan nyata ‘American Dream’. Sejak lulus dari departemen
akuntansi Harvard, dia menekuni sepenuhnya dunia model dan mereguk nikmatnya
hidup di atap dunia.
Keberadaanya di puncak dunia menikmati
segala macam kebebasan membuatnya focus pada dirinya semata. Sebagai tipe wanita
petarung, Una akan melakukan apapun ketika kebebasannya terusik. Tapi dengan
segala pencapaian sukses, perlindungan orang tua, kecerdasan pribadi dan
ketangkasannya ber-karate, tak ada yang berani mengusiknya. Maka sahlah Una
sebagai wanita yang menggenggam dunia veserta isinya.
Dalam salah satu suratnya, Una pernah
menuliskan:
“manusia
itu rapuh, bodoh dan naïf Bali. Apa kamu tahu, sebetulnya apa yang mereka kejar
Bali? Uang yang banyak kah? Kenikmatan seksual yang tak terbatas kah? Popularitas
kah? Pengaruh kah? Pengetahuan kah? Kejayaan kah? Bulshit!!! Kau tahu aku punya
semua itu, tapi aku kosong Bali, aku kosong! Aku muak dengan muka-muka mereka
yang tamak akan kekayaan. Setiap hari bergulat dengan manusia lainnya untuk
mengejar kekayaan itu. Aku muak dengan mereka budak-budak seksualitas! Mereka yang
selalu menatapku penuh birahi untuk menelanjangi dan menyetubuhi seperti anjing
liar melihat daging segar. Dalam kemampuanku melakukan segalanya, aku
kehilangan petunjuk tentang apa yang sebenarnya kuinginkan. Dalam kebebasanku,
aku tak bermakna.”
Uyo
adalah satu dari hanya beberapa kaum pribumi Jawa yang pernah
menempuh
pendidikan formal hingga lulus E.L.S dan dilanjutkan hingga lulus H.B.S lalu
melanjutkan studinya ke S.T.O.V.I.A. di awal abad 20. Gerak perkembangan zaman
waktu itu memaksanya bukan hanya menjadi penikmat kemegahan dunia yang
memperlakukannya begitu special dari manusia Jawa sezamannya. Dalam
perkembangan intelektualitasnya, Uyo harus ‘diracuni’ oleh ingar bingar seruan
tentang humanism, kemerdekaan, pemerintahan swadaya,
kebebasan menentukan nasib, dan hak untuk hidup sama rata. Dalam
kegelisahannya, dia dihadapkan dengan kenyataan-kenyataan pahit penindasan,
kebodohan, keserakahan dan kekerdilan manusia-manusia sezamannya.
Atas kesadaran penuhnya tentang
kemanusiaan yang mulai lantang diperjuangkan, ia mulai berusaha meretas jalan
pencerahan. Dengan kemampuannya mengagitasi, mengorganisasi, mempropaganda,
berdiplomasi, berorasi dan mrmbaca semangat zaman, Uyo berikhtiar menjadi mata
yang dengannya bangsanya melihat, telinga yang dengannya bangsanya mendengar.
Dalam salah satu suratnya, Uyo pernah
menuliskan:
“Aku
anak pejabat terpandang. Segala sandang, pangan, papan, jabatan, perempuan
bahkan jabatan pun tak akan kekurangan. Aku tahu betul rasanya kebebasan.
Kebebasan memerintah, kebebasan menentukan pilihan, kebebasan mereguk
kenikmatan dan kebebasan lainnya. Bagiku, mungkin bagimu juga Bali, kebebasan
itu nyata. Aku menikmatinya dalam setiap tarikan nafasku, aku memakainya dalam
setiap aktifitasku, aku menggUnakannya dalam setiap pergerakanku. Tapi,
cukupkah itu bagimu? Bahagiakah kamu dengan semuanya itu? Bagiku tidak! Selama
masih ada yang tertindas, tidak bebas mengejar kebahagiaanya, selama itu juga
aku akan terus bergerak, berjuang. Manusia bebas bukan hanya yang tak mau
kebebasannya diganggu, tetapi juga terganggu jika ada kebebasan lain yang
terciderai. Kebebasan sejati adalah perjuanganmu untuk mewujudkannya, bukan
keserakahanmu menikmatinya.”
Keempatnya merupakan kisah nyata yang mewakili
manusia-manusia penggelisah tentang dia dan masyarakatnya. Umu adalah kisah
anak manusia yang tercerahkan, meresapi makna transendensi kebebasan namun
ditentang masyarakatnya karena dia hidup dalam masyarakat yang tertutup dari
kemungkinan-kemungkinan baru, Umu menyebutnya “Masyarakat Jahiliyah”. Umo
adalah peimpi kebebasan universal yang sedang berjuang mewujudkan mimpi-mimpi
kebebasan itu sebagai cita-cita bersama Kekaisaran. Namun dalam perjuangannya
yang harus membunuh, menyiksa, menindas dan menganiaya, Umo kembali
mempertanyakan tafsirnya akan kebebasan yang selama ini di yakini.
Una adalah persona
perfectio yang diimpikan hampir semua manusia di dunia. Denia telah
mewajibkannya untuk berbas melakukan apapun sesuka hatinya, dan dia
melakukannya. Tapi dalam geraknya menikmati kebebasan, Una tak kunjung merasa
bahagia. Seakan ada yang berlubang dalam hatinya. Dia merasa kosong. Dan Uyo
adalah penggelisah yang sudah final mengenai konsep-konsep kebebasan, diberikan
kesempatan oleh dunia untuk menikmati kebebasannya, namun memilih terjun ke
bawah, memperjuangkan kebebasan masyarakatnya, bangsanya.
Analisis lebih lanjut akan dijelaskan dalam
“Risalah Kebebasan II”. [bali]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar