Categories

Senin, 08 April 2013

RISALAH KEBEBASAN I


Dongeng-dongeng Kebebasan
Sebagai pendahuluan, saya ingin memperkenalkan empat tokoh yang beberapa tahun ini curhat pada saya tentang kabarnya dan kabar masyarakatnya. Keempatnya sudah menjalin korespondensi intens dengan saya dan selalu berharap saya mampu menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam konteks masyarakat mereka di zaman mereka waktu itu. Keempatnya adalah Ummu Kaltsum al – Yahya (Umu), Hidetoshi Mitsumoto (Umo), Luna Maria Lovegood (Una) dan Kartono Tjokrosuryo (Uyo), berikut kisahnya:

Umu adalah seorang wanita muda penuh talenta. Postur tinggi dan badan tegap padat atletis mendukung gerak lincahnya dalam beraktifitas. Dilahirkan dalam keluarga aristocrat kerajaan Saudi Arabia, Umu mendapatkan kesempatan lebih untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin sejak usia belia. Jadilah Umu, wanita 32 tahun pemipin satu perusahaan pengeboran minyak yang mahir bermain anggar, hobi naik gunung, sangat membenci penindasan dan memusuhi pembodohan namun mencintai masyarakat dan tanah kelahirannya lebih dari ia mencintai dirinya.
Beberapa kali Umu mendapat peringatan keras dari pemerintah setempat atas pekerjaanya sebagai wanita yang memimpin perusahaan. Peringatan ini datang berdasarkan pengaduan kepada pihak berwajib mengenai kelakuan-kelakuan Umu yang dianggap melewati batas-batas kewanitaan, menyepelekan ajaran islam, merendahkan martabat lelaki dan berbagai macam tuduhan senada. Sementara atas aktivitasnya di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat dan Blogging internet, hanya kedekatan keluarganya dengan Rezim Bani Saud yang melindunginya dari jangkauan ‘penegak hukum’. Dan terror di luar hukum merupakan keseharian yang tak bisa dilepaskan dari segala aktivitasnya. Kalau sekedar ban mobil selalu bocor atau surat-surat kaleng ancaman, sudah biasa baginya.
Dalam salah satu suratnya, Umu pernah menuliskan:
“Kau tahu Bali, kadang aku berpikir untuk pergi meninggalkan masyarakat jahiliyah ini dan hijrah ke Amerika, Jerman, China atau Indonesia sebagaimana dulu Kakek Moyangku hijrah dari Makkah untuk membangun peradaban Madinah di Yatsrib. Aku sudah muak dengan bebalnya masyarakatku. Aku muak akan kebodohan mereka, dengan keserakahan mereka, ke-jumud-an mereka dan keangkuhan mereka. Mereka mengaku pewaris sah ajaran Kakek Moyangku, Muhammad, tapi mengapa yang dirasakan justru mereka adalah penentang utama ajaran beliau? Bukankan ajaran beliau adalah ajaran pembebasan manusia dari segala macam taghut? Tapi mereka justru membangun taghut-taghut baru sambil terus menyembah taghut lama dalam berbagai macam dan bentuknya. Bukankah ajaran yang takboleh dikontekstualisasikan dengan zaman adalah taghut yang menentang kesempurnaan ilahiah? Bukankah klaim kesempurnaan atas penafsiran satu suara adalah taghut jenis lainnya? Sekarang aku faham dalamnya makna kalimat Syeikh Muhammad Abduh yang mengatakan ‘aku melihat islam di Paris walaupun tak melihat muslim di sana. Tapi aku tak melihat islam di Cairo walaupun di sini penuh dengan umat muslim’. Aku juga merasakannya kini di masyarakatku, tapi malangnya aku, aku tak bisa merasakan bagaimana ‘Paris’ dalam kalimat sang Syeikh.”

Umo, kapten pasukan perang Dai Nippon yang memimpin salah satu regu penaklukan daratan China tahun 1930an. Dididik secara samurai, Umo tumbuh sebagai pemuda tangkas dan cerdas. Dalam jiwanya, selalu berkobar nilai-nilai spirit Hagakure. Hidup baginya adalah pengabdian kepada kaisar demi mewujudkan dunia yang penuh harmoni kedamaian di bawah satu atap pemerintahan: Asia Timur Raya.
Berbekal ketangkasan perang dan kecerdasannya memimpin pasukan, setiap operasi yang dipimpinnya selalu berhasil. Rekor pembunuhan Rurourin Kenshin dalam perang-perang demi restorasi Meiji mungkin satu-satunya rekor pembunuhan yang dilakukan Umo. Boleh dikatakan, Umo adalah Battousai edisi abad 20. Seperti juga Kenshin yang akirnya bersumpah untuk berhenti membuhuh, Umo mengalami kegalaua-kegalauan mendalam tentang dirinya, kepribadiannya dan apa yang dia lakukan. Medan peperangan yang memaksanya untuk selalu membunuh atau akan dibunuh membuatnya mempertanyakan kembali mimpi-mimpi harmoni kedamaian yang ia perjuangkan.
Dalam salah satu suratnya, Umo pernah menuliskan:
“setiap aku membunuh dalam medan pertempuran, tak pernah sedikitpun aku kasihan. Membunuh di medan tempur terasa seperti ibadah bagiku Bali, seperti rasanya sholat bagimu. Sholat adalah yang harus kaulakukan untuk mencapai utopiamu tentang surga kan, begitulah membunuh bagiku. Membunuh adalah harga yang harus kubayar demi utopiaku tentang kebebasan manusia dan kedamaian abadi di bawah satu kekaisaran. Tapi jika aku duduk di medan pertempuran yang masih hangat baru saja kami menangkan, aroma mayat-mayat segar membuatku kembali berpikir. Apa mungkin kebebasan harus diwudkan dengan pembunuhan dan penindasan? Mungkinkah kedamaian hanya bisa diwujudkan dengan peperangan? Orang-orang yang kubunuh adalah mereka yang juga memperjuangkan kebebasannya, kemerdekaannya, keadilannya? Ada apa denganku? Atas dasar apa aku diperbolehkan mendefinisikan keadilan baginya? Atas dasar apa kekaisaran berhak mendefinisikan keadilan bagi Asia Timur Raya?”

Una, supermodel 21 tahun yang sudah berlangganan muncul sebagai sampul majalah Vogue, ayahnya petinggi Microsoft Inc. ibunya mantan atlet tennis Amerika. Hidupnya adalah penjelmaan nyata ‘American Dream’. Sejak lulus dari departemen akuntansi Harvard, dia menekuni sepenuhnya dunia model dan mereguk nikmatnya hidup di atap dunia.
Keberadaanya di puncak dunia menikmati segala macam kebebasan membuatnya focus pada dirinya semata. Sebagai tipe wanita petarung, Una akan melakukan apapun ketika kebebasannya terusik. Tapi dengan segala pencapaian sukses, perlindungan orang tua, kecerdasan pribadi dan ketangkasannya ber-karate, tak ada yang berani mengusiknya. Maka sahlah Una sebagai wanita yang menggenggam dunia veserta isinya.
Dalam salah satu suratnya, Una pernah menuliskan:
“manusia itu rapuh, bodoh dan naïf Bali. Apa kamu tahu, sebetulnya apa yang mereka kejar Bali? Uang yang banyak kah? Kenikmatan seksual yang tak terbatas kah? Popularitas kah? Pengaruh kah? Pengetahuan kah? Kejayaan kah? Bulshit!!! Kau tahu aku punya semua itu, tapi aku kosong Bali, aku kosong! Aku muak dengan muka-muka mereka yang tamak akan kekayaan. Setiap hari bergulat dengan manusia lainnya untuk mengejar kekayaan itu. Aku muak dengan mereka budak-budak seksualitas! Mereka yang selalu menatapku penuh birahi untuk menelanjangi dan menyetubuhi seperti anjing liar melihat daging segar. Dalam kemampuanku melakukan segalanya, aku kehilangan petunjuk tentang apa yang sebenarnya kuinginkan. Dalam kebebasanku, aku tak bermakna.”
Uyo adalah satu dari hanya beberapa kaum pribumi Jawa yang pernah
menempuh pendidikan formal hingga lulus E.L.S dan dilanjutkan hingga lulus H.B.S lalu melanjutkan studinya ke S.T.O.V.I.A. di awal abad 20. Gerak perkembangan zaman waktu itu memaksanya bukan hanya menjadi penikmat kemegahan dunia yang memperlakukannya begitu special dari manusia Jawa sezamannya. Dalam perkembangan intelektualitasnya, Uyo harus ‘diracuni’ oleh ingar bingar seruan tentang humanism, kemerdekaan, pemerintahan swadaya, kebebasan menentukan nasib, dan hak untuk hidup sama rata. Dalam kegelisahannya, dia dihadapkan dengan kenyataan-kenyataan pahit penindasan, kebodohan, keserakahan dan kekerdilan manusia-manusia sezamannya.
Atas kesadaran penuhnya tentang kemanusiaan yang mulai lantang diperjuangkan, ia mulai berusaha meretas jalan pencerahan. Dengan kemampuannya mengagitasi, mengorganisasi, mempropaganda, berdiplomasi, berorasi dan mrmbaca semangat zaman, Uyo berikhtiar menjadi mata yang dengannya bangsanya melihat, telinga yang dengannya bangsanya mendengar.
Dalam salah satu suratnya, Uyo pernah menuliskan:
“Aku anak pejabat terpandang. Segala sandang, pangan, papan, jabatan, perempuan bahkan jabatan pun tak akan kekurangan. Aku tahu betul rasanya kebebasan. Kebebasan memerintah, kebebasan menentukan pilihan, kebebasan mereguk kenikmatan dan kebebasan lainnya. Bagiku, mungkin bagimu juga Bali, kebebasan itu nyata. Aku menikmatinya dalam setiap tarikan nafasku, aku memakainya dalam setiap aktifitasku, aku menggUnakannya dalam setiap pergerakanku. Tapi, cukupkah itu bagimu? Bahagiakah kamu dengan semuanya itu? Bagiku tidak! Selama masih ada yang tertindas, tidak bebas mengejar kebahagiaanya, selama itu juga aku akan terus bergerak, berjuang. Manusia bebas bukan hanya yang tak mau kebebasannya diganggu, tetapi juga terganggu jika ada kebebasan lain yang terciderai. Kebebasan sejati adalah perjuanganmu untuk mewujudkannya, bukan keserakahanmu menikmatinya.”
Keempatnya merupakan kisah nyata yang mewakili manusia-manusia penggelisah tentang dia dan masyarakatnya. Umu adalah kisah anak manusia yang tercerahkan, meresapi makna transendensi kebebasan namun ditentang masyarakatnya karena dia hidup dalam masyarakat yang tertutup dari kemungkinan-kemungkinan baru, Umu menyebutnya “Masyarakat Jahiliyah”. Umo adalah peimpi kebebasan universal yang sedang berjuang mewujudkan mimpi-mimpi kebebasan itu sebagai cita-cita bersama Kekaisaran. Namun dalam perjuangannya yang harus membunuh, menyiksa, menindas dan menganiaya, Umo kembali mempertanyakan tafsirnya akan kebebasan yang selama ini di yakini.
Una adalah persona perfectio yang diimpikan hampir semua manusia di dunia. Denia telah mewajibkannya untuk berbas melakukan apapun sesuka hatinya, dan dia melakukannya. Tapi dalam geraknya menikmati kebebasan, Una tak kunjung merasa bahagia. Seakan ada yang berlubang dalam hatinya. Dia merasa kosong. Dan Uyo adalah penggelisah yang sudah final mengenai konsep-konsep kebebasan, diberikan kesempatan oleh dunia untuk menikmati kebebasannya, namun memilih terjun ke bawah, memperjuangkan kebebasan masyarakatnya, bangsanya.
Analisis lebih lanjut akan dijelaskan dalam “Risalah Kebebasan II”. [bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar