Categories

Senin, 08 April 2013

MASYARAKAT BADUY & PESAN TENTANG PERADABAN


On The Long Road to Baduy
Pukul 20.30 sebuah APV silver keluar dari pintu tol Balaraja. Bergerak tergesa namun enggan, seakan menggambarkan keletihan dan kebosanan yang tercium kuat dihembuskan bersama aroma tubuh dua belas manusia Jakarta yang dipaksakan untuk berdesakan masuk memenuhinya. Setelah jalan terjal ala Balaraja yang menjadi jalur transportasi utama industry berat mulai berganti jalanan provinsi, penumpang sudah hampir seluruhnya pulas tertidur melepas canda-canda yang dipaksakan demi hindari mati bosan dan kepanasan sejak berangkat. Memang panas, pengap dan membosanakan!. Tapi semuanya sama sekali tak menghalangi saya menimati perjalanan ini. Sendiri terjaga bercengkrama dengan malam dihadap kaca. Sambil menyadari malam mulai memperhatikan saya berbeda, perlahan saya juga sadar, kami semakin jauh dari peradaban, perumahan digantikan semak lebat rerumputan. APV silver melaju semakin ragu, semakin enggan dan membosankan.




Memasuki terminal Ciboleger, tengah malam sudah lama permisi. Manusia-manusia yang hampir mati di dalam mobil melompat keluar tergesa mengejar hawa hidup yang merayu manja dari sela-sela jendela. Ah, betapa leganya udara malam di kampung yang jauh dari kota dihirup setelah berjam-jam dibekuk mobil pengap yang kebingungan tersesat menyusur jaring-jaring jalanan Provinsi Banten mencari terminal ini, terminal terdekat menuju Kampung Baduy.
Sampai di terminal ini berarti satu perjalanan panjang telah berahir dan satu perjalanan panjang lainnya menanti besok pagi. Demi mempersiapkan diri menjalani tantangan besok, rombongan beristirahat, menginap di saung yang mungkin disediakan khusus bagi pendatang. Beristirahat di saung yang tepat berada di perbatasan desa dan kawasan baduy, tubuhku mendapat alasan lain untuk tidak lekas tidur. Kontras budaya warga desa dan masyarakat baduy begitu kuat terasa. Di sebelah barat perbatasan, lampu-lampu ramai gemerlapan, sayup-sayup siaran radio ujung malam masih terdengar samar, dan berdiri sebuah masjid di sana, inilah kawasan warga Desa. Di sebelah timurnya, rumah-rumah tradisional yang materialnya hampir seratus persen dari kayu berbaris rapi tanpa berkas-berkas sinar lampu atau sayup-sayup siaran radio ujung malam. Temaram lampu minyak sederhana dan derik jangkrik atau dengkur satwa malam lainnya menghantar mereka tidur di sana, kawasan masyarakat Baduy. Jauh lepas tengah malam, ngantuk mulai memaksaku merebah roboh, aku tertidur.
Pagi adalah keindahan lain dari alam pedesaan. Aura segar tanpa polusi udara, polusi suara, polusi visual dan jutaan jenis polusi lainnya yang akrab dengan pagi di kota. Dalam dekapan pagi juga rombongan bergegas berat berkemas bersama bersiap berangkat. Barisan disiapkan, kawanan pun memulai perjalanan! Gerak!

Kerajaan Budaya Baduy
Sekitar lima jam berjalan kaki menyusuri setapak menanjak sambil sesekali berhenti sekedar menarik nafas dalam-dalam atau mengumpulkan sisa-sisa tenaga sambil melayangkan pandang menikmati sajian alam. Dalam lima jam perjalanan tersebut, sedikitnya ada tiga hal mewakili tiga periode perjalanan yang saya rasa penting untuk disampaikan di sini. Pertama tentang transformasi kebudayaan masyarakat yang sangat signifikan. Periode ini adalah periode sejak beberapa langkah dari saung tempat kami menginap hingga kami melewati rumah terakhir dari pemukiman baduy pertama yang kami temui. Dalam periode ini, kami berkesempatan untuk mengenal lebih dalam hidup kesehariam warga dan corak-corak kebudayaanya. Mulai dari pakaian mereka yang tak lebih dari kain sederhana yang dijahit sendiri,rymah-rumah yang dibangun tanpa paku-semen-bata atau barang ‘modern’ lainya, sampai permainan anak-anak yang begitu dekat dengan tanah, air, hewan dan tetumbuhan. Yang menarik, mereka melakukannya bukan karena belum tersentuh peradaban modern, tetapi semata-mata karena mereka memang memilihnya.
Periode kedua adalah periode rentang jarak dan medan geografis. Periode inilah yang paling berat jika kawan melakukan perjalanan menuju kampung Baduy. Mungkin sengaja memilih kawasan yang terlindung oleh medan geografis yang berat dan jarak yang relative jauh agar tak terlalu sering bersentuhan dengan dunia luar. Dalam periode ini, kawanan harus beristirahat beberapa kali untuk sekedar minum dan makan makanan penunjang. Di luar medan yang hampir selalu menanjak, periode ini juga menyediakan sensai ‘liar’ yang berkesan. Sungai-sungai jernih yang penuh bebatuan besar, dinding-dinding tebing berlumut, pohon-pohon entah berumur beeapa ratus tahun dan beberapa satwa liar juga disajikan alam dalam peride ini. Mereka seakan selalu berteriak lantang memberi peringatan keras: berani kalian rusak ekosistem kami, bersiaplah tersesat di sini selamanya!

Di periode ketiga, kawanan sudah bisa bernafas lega. Kompleks penyimpanan padi masyarakat baduy mulai ditemukan beberapa, pertanda pemukimannya sudah tak terlalu jauh lagi. Dan begitulah peride ini berakir singkat saja, kawanan sudah mulai memasuki perkampungan Baduy. Tatapan keheranan selalu menjadi sambutan pertama setiap orang sana yang kami lewati, berikutnya, senyum berbalas senyum. Yang paling wah dari periode ini adalah kawan bisa menyaksikan dua bocah kecil beradu golok sambil tertawa jenaka seperti kita dulu bermain pedang-pedangan! And welcome to Baduy Cultural Kingdom!
Perkampungan ini bernama Kampung Cibeo. Kampung terbesar dari dua kampung Baduy Dalam lainnya. Dalam area Kampung Cibeo ini bermukim sekitar seratus dua puluh keluarga yang mendiami sekitar sembilan puluh rumah tinggal ala masyarakat Baduy dalam. Saat kawanan kami datang, kampung ini sedikit lengang karena mayoritas warga kampung memang sedang bertani di ladang-ladang mereka. Sigap, kawanan segera menuju pendopo perkampungan untuk bertemu kepala kampung dan memohon ijin tinggal serta meminta arahan beliau selama kami bermukim di sini.

Tiba di pendopo kampung, kami langsung disambut beberapa lelaki Baduy yang memang sedang giliran berjaga. Hasil diskusi pendek kami dengan mereka, kami “dititipkan” di rumah Kang Darsa, anak sulung kepala kampung. Kami dipersilahkan untuk beristirahat sejenak dan baru pergi menemui kepala kampung setelah matahari terbenam. Jadilah kami menghadap kepala kampung malam itu.
Malam itu gelap karena ternyata segala penerangan selain api ‘diharamkan’ di sana. Tapi syukurlah, bulan sedang purnama dan langit sedang serah tak berawan. Malam jadi meriah oleh bintang-bintang. Tanpa sedikitpun cahaya lampu, keindahan langit purnama bertabur bintang mencapai titik terindahnya. Kunang-kunang terbang bebas kesana-kemari mengajak menari ikuti irama alam yang rhytm-nya dipimpin jangkrik serta nyanyian hewan nocturnal lainnya.
Anatomi dan Analisa
Setelah seharian berinteraksi bagai menjadi anggota keluarga Kang Darsa, beberapa kali ngobrol dengan beberapa tetangga dan hampir semalaman didongengi Jaro Sang Kepala Kampung, berikut adalah hasil-hasil pengamatan saya, saya sajikan dengan anatomi sederhana dan dilengkapi analisa pendek agar membantu memudahkan kawan memahami masyarakat Baduy.
Sejarah --> masyarakat Baduy menamakan dirinya sebagai masyarakat sunda yang konsisten menjaga nilai-nilai warisan nenek moyang mereka. Klaimnya, mereka adalah keturunan langsung dari manusia pertama yang ada di bumi, Adam, dan menjadi induk langsung dari semua manusia di tanah sunda. Berdasarkan hal ini, mereka merasa berkewajiban terus menekuni disiplin-disiplin untuk melestarikan segala sesuatu yang diwariskan langsung oleh nenek moyang mereka sambil membendung segala hal yang datang belakangan, termasuk kemajuan teknologi. Menurut saya, masyarakat baduy adalah komunitas yang baru muncul sejak penaklukan daerah Banten dan sekitarnya oleh kerajaan-kerajaan hindu (Taruma Negara, Galuh Pakuan & Padjadjaran). Dengan penetrasi kerajaan-kerajaan baru ini, kaum elit yang sebelumnya berpengaruh mulai tersingkirkan. Semakin tersingkirkan dan kebudayaannya terwarnai, orang-orang yang terpojokkan itu mengasingkan diri ke hutan-hutan yang jauh dari peradaban. Dalam pengasingan itu, mereka membangun doktrin untuk menutup diri dari segala sesuatu yang datang belakangan dalam segala macam hal dan bentuknya. Setelah daerah banten dikuasai kerajaan Demak pada abak 15 Masehi, komunitas ini mulai membuka diri untuk sedikit berdialog karena berharap telah ada dalam situasi yang berbeda. Tuntutan kebutuhan hidup juga memaksa mereka untuk sedikit membuka diri dari dunia luar. Akirnya, terjadi dialog antar dua kebudayaan dan titik-titik divergensi bisa diakuisisi sebagai kebenaran bersama. Inilah kenapa mereka bisa mengenal Adam dan konsep surga.
Mitologi --> mereka menyebut agama mereka adalah Sunda Wiwitan. Seperti dikemukakan di awal, bagi mereka Adam adalah seorang manusia yang diturunkan Tuhan di bumi jawa lalu melahirkan mereka dan mereka melahirkan seluruh manusia yang ada di bumi. Menurut mereka, mereka adalah keturunan yang tak pernah berpindah tempat serta selalu taat dengan apa yang diajarkan mula-mula oleh Adam. Orang-orang islam, hindu atau siapapun lainnya yang datang belakangan adalah keturunan mereka yang telah jauh dari apa-apa yang dulu diajarkan adam. Yang unik, bagi mereka orang-orang eropa bukanlah manusia seperti mereka melainkan semacam mahluk ghaib jelmaan siluman paling keji dari neraka. Disiplin mereka mengikuti ‘Ajaran Adam’ mengharamkan mereka menggunakan segala macam produk peradaban. Jika mereka melakukan perjalanan jauh, memakai kendaraan termasuk sesuatu yang diharamkan. Beberapa kali, sekelompok lelaki Baduy pergi ke Jakarta atau sekitarnya untuk sekedar melakukan perjalanan atau sambil berdagang dengan jalan kaki.
Anggota Masyarakat Baduy
 sedang melakukan perjalanan menuju Jakarta
Kemasyarakatan --> dalam struktur masyarakat Baduy lelaki dan perempuan mempunyai tugas dengan porsi yang tak jauh berbeda namun dengan komposisi yang sangat tidak sama. Misalkan, keduanya sama-sama berkewajiban mengolah ladang keluarga serta sama-sama berkewajiban memasak atau menyediakan makanan keluarga namun keduanya memiliki spesialisasi masing-masing. hanya lelaki-lah yang berkewajiban membawa golok kemana pun dia pergi, hanya lelaki-lah yang berkewajiban bermusyawarah menyelesaikan permasalahan kampung dan hanya lelaki-lah yang berkewajiban memiliki keahlian berburu & berkelahi. Juga, hanya lelaki-lah yang diperbolehkan sesekali pergi meninggalkan kampung.
Ekonomi --> masyarakat Baduy memiliki tradisi kekeluargaan yang kental, mungkin teoritisi Ekonomi Pancasila harus melakukan studi banding ke sana untuk mempelajari bagaimana masyarakat Baduy mempraktikkan system tersebut. Satuan terkecil masyarakat Baduy bukanlah individu, melainkan keluarga. Pembagian jatah tanah garapan, kewajiban pastisipasi kegiatan kampung, dan pengelolaan somber daya dilakukan berdasarkan satuan ini. Setiap keluarga sekecil apapun, sudah harus memiliki pengelolaan sumber daya yang mandirim lepas dari keluarga induknya. Walaupun mungkin masih tinggal dalam satu rumah, keluarga baru dan keluarga induk sudah dibedakan sejak peralatan masak, bahan-bahan makanan dan tempat masak. Sambil terus bekerja mengolah lading, keluarga baru ini akan terus tinggal di rumah keluarga induk sampai saatnya mereka mampu membangun rumah sendiri. Pembangunan rumah, batas-batas perburuan, batas-batas perdagangan dan disiplin aturan dianggap sebagai common responsibilities. Perburuan dibatasi dengan kebutuhan minimal, perdagangan dibatasi untu memastikan tak terjadi ketimpangan ekonomi, pembangunan rumah juga dibatasi dan dilakukan bergotong-royong untuk menjaga kohesifitas komunitas, pelanggaran disiplin adat akan dimusyawarahkan bersama oleh Jaro dan penduduk lainnya.
Dalam pengamatan ini, saya terkesima betapa masyarakat Baduy memiliki prasyarat yang lebih dari cukup untuk disebut masyarakat egaliter, demokratis, spiritual dan kekeluargaan partisipatoris. Peradaban mereka mungkin memang terbelakang karena mereka tak memilih mengintegrasikan diri bersama perkembangan kemajuan dunia, namun secara kebudayaan, adakah satu mistar universal untuk mengukur strata-nya? Saya rasa tidak. [bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar