On The Long Road to Baduy
Pukul 20.30 sebuah APV silver keluar dari pintu tol
Balaraja. Bergerak tergesa namun enggan, seakan menggambarkan keletihan dan
kebosanan yang tercium kuat dihembuskan bersama aroma tubuh dua belas manusia
Jakarta yang dipaksakan untuk berdesakan masuk memenuhinya. Setelah jalan
terjal ala Balaraja yang menjadi jalur transportasi utama industry berat mulai
berganti jalanan provinsi, penumpang sudah hampir seluruhnya pulas tertidur melepas
canda-canda yang dipaksakan demi hindari mati bosan dan kepanasan sejak
berangkat. Memang panas, pengap dan membosanakan!. Tapi semuanya sama sekali
tak menghalangi saya menimati perjalanan ini. Sendiri terjaga bercengkrama
dengan malam dihadap kaca. Sambil menyadari malam mulai memperhatikan saya
berbeda, perlahan saya juga sadar, kami semakin jauh dari peradaban, perumahan
digantikan semak lebat rerumputan. APV silver melaju semakin ragu, semakin
enggan dan membosankan.
Memasuki terminal Ciboleger, tengah malam sudah lama
permisi. Manusia-manusia yang hampir mati di dalam mobil melompat keluar
tergesa mengejar hawa hidup yang merayu manja dari sela-sela jendela. Ah,
betapa leganya udara malam di kampung yang jauh dari kota dihirup setelah
berjam-jam dibekuk mobil pengap yang kebingungan tersesat menyusur jaring-jaring
jalanan Provinsi Banten mencari terminal ini, terminal terdekat menuju Kampung
Baduy.
Sampai di terminal ini berarti satu perjalanan panjang
telah berahir dan satu perjalanan panjang lainnya menanti besok pagi. Demi
mempersiapkan diri menjalani tantangan besok, rombongan beristirahat, menginap
di saung yang mungkin disediakan khusus bagi pendatang. Beristirahat di saung
yang tepat berada di perbatasan desa dan kawasan baduy, tubuhku mendapat alasan
lain untuk tidak lekas tidur. Kontras budaya warga desa dan masyarakat baduy
begitu kuat terasa. Di sebelah barat perbatasan, lampu-lampu ramai gemerlapan,
sayup-sayup siaran radio ujung malam masih terdengar samar, dan berdiri sebuah
masjid di sana, inilah kawasan warga Desa. Di sebelah timurnya, rumah-rumah
tradisional yang materialnya hampir seratus persen dari kayu berbaris rapi
tanpa berkas-berkas sinar lampu atau sayup-sayup siaran radio ujung malam.
Temaram lampu minyak sederhana dan derik jangkrik atau dengkur satwa malam
lainnya menghantar mereka tidur di sana, kawasan masyarakat Baduy. Jauh lepas
tengah malam, ngantuk mulai memaksaku merebah roboh, aku tertidur.
Pagi adalah keindahan lain dari alam pedesaan. Aura segar
tanpa polusi udara, polusi suara, polusi visual dan jutaan jenis polusi lainnya
yang akrab dengan pagi di kota. Dalam dekapan pagi juga rombongan bergegas
berat berkemas bersama bersiap berangkat. Barisan disiapkan, kawanan pun
memulai perjalanan! Gerak!
Kerajaan Budaya Baduy
Sekitar lima jam berjalan kaki menyusuri setapak menanjak
sambil sesekali berhenti sekedar menarik nafas dalam-dalam atau mengumpulkan
sisa-sisa tenaga sambil melayangkan pandang menikmati sajian alam. Dalam lima
jam perjalanan tersebut, sedikitnya ada tiga hal mewakili tiga periode
perjalanan yang saya rasa penting untuk disampaikan di sini. Pertama tentang transformasi kebudayaan
masyarakat yang sangat signifikan. Periode ini adalah periode sejak beberapa
langkah dari saung tempat kami menginap hingga kami melewati rumah terakhir
dari pemukiman baduy pertama yang kami temui. Dalam periode ini, kami
berkesempatan untuk mengenal lebih dalam hidup kesehariam warga dan corak-corak
kebudayaanya. Mulai dari pakaian mereka yang tak lebih dari kain sederhana yang
dijahit sendiri,rymah-rumah yang dibangun tanpa paku-semen-bata atau barang
‘modern’ lainya, sampai permainan anak-anak yang begitu dekat dengan tanah,
air, hewan dan tetumbuhan. Yang menarik, mereka melakukannya bukan karena belum
tersentuh peradaban modern, tetapi semata-mata karena mereka memang memilihnya.
Periode kedua
adalah periode rentang jarak dan medan geografis. Periode inilah yang paling
berat jika kawan melakukan perjalanan menuju kampung Baduy. Mungkin sengaja memilih
kawasan yang terlindung oleh medan geografis yang berat dan jarak yang relative
jauh agar tak terlalu sering bersentuhan dengan dunia luar. Dalam periode ini,
kawanan harus beristirahat beberapa kali untuk sekedar minum dan makan makanan
penunjang. Di luar medan yang hampir selalu menanjak, periode ini juga
menyediakan sensai ‘liar’ yang berkesan. Sungai-sungai jernih yang penuh
bebatuan besar, dinding-dinding tebing berlumut, pohon-pohon entah berumur
beeapa ratus tahun dan beberapa satwa liar juga disajikan alam dalam peride
ini. Mereka seakan selalu berteriak lantang memberi peringatan keras: berani kalian rusak ekosistem kami,
bersiaplah tersesat di sini selamanya!
Di periode ketiga,
kawanan sudah bisa bernafas lega. Kompleks penyimpanan padi masyarakat baduy
mulai ditemukan beberapa, pertanda pemukimannya sudah tak terlalu jauh lagi.
Dan begitulah peride ini berakir singkat saja, kawanan sudah mulai memasuki
perkampungan Baduy. Tatapan keheranan selalu menjadi sambutan pertama setiap
orang sana yang kami lewati, berikutnya, senyum berbalas senyum. Yang paling
wah dari periode ini adalah kawan bisa menyaksikan dua bocah kecil beradu golok
sambil tertawa jenaka seperti kita dulu bermain pedang-pedangan! And welcome to
Baduy Cultural Kingdom!
Perkampungan ini bernama Kampung Cibeo. Kampung terbesar
dari dua kampung Baduy Dalam lainnya. Dalam area Kampung Cibeo ini bermukim
sekitar seratus dua puluh keluarga yang mendiami sekitar sembilan puluh rumah
tinggal ala masyarakat Baduy dalam. Saat kawanan kami datang, kampung ini
sedikit lengang karena mayoritas warga kampung memang sedang bertani di
ladang-ladang mereka. Sigap, kawanan segera menuju pendopo perkampungan untuk
bertemu kepala kampung dan memohon ijin tinggal serta meminta arahan beliau
selama kami bermukim di sini.
Tiba di pendopo kampung, kami langsung disambut beberapa
lelaki Baduy yang memang sedang giliran berjaga. Hasil diskusi pendek kami
dengan mereka, kami “dititipkan” di rumah Kang Darsa, anak sulung kepala
kampung. Kami dipersilahkan untuk beristirahat sejenak dan baru pergi menemui
kepala kampung setelah matahari terbenam. Jadilah kami menghadap kepala kampung
malam itu.
Malam itu gelap karena ternyata segala penerangan selain
api ‘diharamkan’ di sana. Tapi syukurlah, bulan sedang purnama dan langit
sedang serah tak berawan. Malam jadi meriah oleh bintang-bintang. Tanpa
sedikitpun cahaya lampu, keindahan langit purnama bertabur bintang mencapai
titik terindahnya. Kunang-kunang terbang bebas kesana-kemari mengajak menari
ikuti irama alam yang rhytm-nya dipimpin jangkrik serta nyanyian hewan
nocturnal lainnya.
Anatomi dan Analisa
Setelah seharian berinteraksi bagai menjadi anggota
keluarga Kang Darsa, beberapa kali ngobrol dengan beberapa tetangga dan hampir
semalaman didongengi Jaro Sang Kepala Kampung, berikut adalah hasil-hasil
pengamatan saya, saya sajikan dengan anatomi sederhana dan dilengkapi analisa
pendek agar membantu memudahkan kawan memahami masyarakat Baduy.
Sejarah --> masyarakat
Baduy menamakan dirinya sebagai masyarakat sunda yang konsisten menjaga
nilai-nilai warisan nenek moyang mereka. Klaimnya, mereka adalah keturunan
langsung dari manusia pertama yang ada di bumi, Adam, dan menjadi induk
langsung dari semua manusia di tanah sunda. Berdasarkan hal ini, mereka merasa
berkewajiban terus menekuni disiplin-disiplin untuk melestarikan segala sesuatu
yang diwariskan langsung oleh nenek moyang mereka sambil membendung segala hal
yang datang belakangan, termasuk kemajuan teknologi. Menurut saya, masyarakat
baduy adalah komunitas yang baru muncul sejak penaklukan daerah Banten dan
sekitarnya oleh kerajaan-kerajaan hindu (Taruma Negara, Galuh Pakuan &
Padjadjaran). Dengan penetrasi kerajaan-kerajaan baru ini, kaum elit yang
sebelumnya berpengaruh mulai tersingkirkan. Semakin tersingkirkan dan
kebudayaannya terwarnai, orang-orang yang terpojokkan itu mengasingkan diri ke
hutan-hutan yang jauh dari peradaban. Dalam pengasingan itu, mereka membangun
doktrin untuk menutup diri dari segala sesuatu yang datang belakangan dalam
segala macam hal dan bentuknya. Setelah daerah banten dikuasai kerajaan Demak
pada abak 15 Masehi, komunitas ini mulai membuka diri untuk sedikit berdialog
karena berharap telah ada dalam situasi yang berbeda. Tuntutan kebutuhan hidup
juga memaksa mereka untuk sedikit membuka diri dari dunia luar. Akirnya,
terjadi dialog antar dua kebudayaan dan titik-titik divergensi bisa diakuisisi
sebagai kebenaran bersama. Inilah kenapa mereka bisa mengenal Adam dan konsep surga.
Mitologi --> mereka
menyebut agama mereka adalah Sunda Wiwitan. Seperti dikemukakan di awal, bagi
mereka Adam adalah seorang manusia yang diturunkan Tuhan di bumi jawa lalu
melahirkan mereka dan mereka melahirkan seluruh manusia yang ada di bumi.
Menurut mereka, mereka adalah keturunan yang tak pernah berpindah tempat serta
selalu taat dengan apa yang diajarkan mula-mula oleh Adam. Orang-orang islam,
hindu atau siapapun lainnya yang datang belakangan adalah keturunan mereka yang
telah jauh dari apa-apa yang dulu diajarkan adam. Yang unik, bagi mereka orang-orang
eropa bukanlah manusia seperti mereka melainkan semacam mahluk ghaib jelmaan
siluman paling keji dari neraka. Disiplin mereka mengikuti ‘Ajaran Adam’
mengharamkan mereka menggunakan segala macam produk peradaban. Jika mereka
melakukan perjalanan jauh, memakai kendaraan termasuk sesuatu yang diharamkan.
Beberapa kali, sekelompok lelaki Baduy pergi ke Jakarta atau sekitarnya untuk
sekedar melakukan perjalanan atau sambil berdagang dengan jalan kaki.
![]() |
Anggota Masyarakat Baduy
sedang melakukan perjalanan menuju Jakarta
|
Kemasyarakatan --> dalam
struktur masyarakat Baduy lelaki dan perempuan mempunyai tugas dengan porsi
yang tak jauh berbeda namun dengan komposisi yang sangat tidak sama. Misalkan,
keduanya sama-sama berkewajiban mengolah ladang keluarga serta sama-sama
berkewajiban memasak atau menyediakan makanan keluarga namun keduanya memiliki
spesialisasi masing-masing. hanya lelaki-lah yang berkewajiban membawa golok
kemana pun dia pergi, hanya lelaki-lah yang berkewajiban bermusyawarah
menyelesaikan permasalahan kampung dan hanya lelaki-lah yang berkewajiban
memiliki keahlian berburu & berkelahi. Juga, hanya lelaki-lah yang
diperbolehkan sesekali pergi meninggalkan kampung.
Ekonomi --> masyarakat
Baduy memiliki tradisi kekeluargaan yang kental, mungkin teoritisi Ekonomi
Pancasila harus melakukan studi banding ke sana untuk mempelajari bagaimana
masyarakat Baduy mempraktikkan system tersebut. Satuan terkecil masyarakat
Baduy bukanlah individu, melainkan keluarga. Pembagian jatah tanah garapan,
kewajiban pastisipasi kegiatan kampung, dan pengelolaan somber daya dilakukan berdasarkan
satuan ini. Setiap keluarga sekecil apapun, sudah harus memiliki pengelolaan
sumber daya yang mandirim lepas dari keluarga induknya. Walaupun mungkin masih
tinggal dalam satu rumah, keluarga baru dan keluarga induk sudah dibedakan
sejak peralatan masak, bahan-bahan makanan dan tempat masak. Sambil terus
bekerja mengolah lading, keluarga baru ini akan terus tinggal di rumah keluarga
induk sampai saatnya mereka mampu membangun rumah sendiri. Pembangunan rumah,
batas-batas perburuan, batas-batas perdagangan dan disiplin aturan dianggap
sebagai common responsibilities.
Perburuan dibatasi dengan kebutuhan minimal, perdagangan dibatasi untu
memastikan tak terjadi ketimpangan ekonomi, pembangunan rumah juga dibatasi dan
dilakukan bergotong-royong untuk menjaga kohesifitas komunitas, pelanggaran
disiplin adat akan dimusyawarahkan bersama oleh Jaro dan penduduk lainnya.
Dalam pengamatan ini, saya terkesima betapa masyarakat
Baduy memiliki prasyarat yang lebih dari cukup untuk disebut masyarakat
egaliter, demokratis, spiritual dan kekeluargaan partisipatoris. Peradaban
mereka mungkin memang terbelakang karena mereka tak memilih mengintegrasikan
diri bersama perkembangan kemajuan dunia, namun secara kebudayaan, adakah satu
mistar universal untuk mengukur strata-nya? Saya rasa tidak. [bali]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar