Categories

Sabtu, 06 April 2013

Islam dan Pergaulan Internasional.



Konflik Gaza: akar masalah dan akibatnya.
Tentunya, masih sangat segar dalam ingatan kita bagaimana palestina kembali menjadi perhatian dunia. Mayat-mayat kembali berserak tak beraturan di jalan-jalan, di rumah-rumah yang hancur, di masjid-masjid. Entah sudah berapa juta anak harus menjadi yatim-piatu, berapa juta istri harus menjadi janda, menjadi tumbal keserakahan manusia. Kawasan Gaza, yang merupakan “Tanah yang Dijanjikan” bagi tiga agama besar dunia justru menjadi tanah di mana darah ditumpahkan atas nama Tuhan atau hal abstrak lain yang entah apa.
Konflik di kawasan tersebut memang sudah menjadi semacam rutinitas klasik kawasan. Terhitung sejak tahun 1922, terjadi setidaknya 6 kali perang berskala besar dan puluhan kali konfrontasi bersenjata. Muncul pertanyaan, apa mungkin Tuhan tertukar mengatakan “Tanah yang Dihancurkan” dengan “Tanah yang Dijanjikan”?
Sejak kekhalifahan Turki Utsmani yang tergabung dalam Blok Sentral, bersama Kekaisaran Jerman, kalah dalam perang dunia pertama, Kerajaan Inggris menjadi aktor utama mutilasi kekuasaan internal kekhalifahan. Wilayah-wilayah yang dahulunya tunduk di bawah kekuasaan kekhalifahan mulai memisahkan diri, memproklamasikan kedaulatan Negara masing-masing. dengan berbagai pertimbangan, Kerajaan Inggris mendirikan sebuah Negara baru di wilayah Palestina pada tahun 1922 sebagai kampung halaman orang-orang Yahudi, Negara Israel.
Tahun 1923 Mustafa Kemal at-tatruk memproklamasikan berdirinya Republik Turki dari puing reruntuhan kekhalifahan. Dimulailah era baru dunia di mana tak ada kekhalifahan Islam di sana. Sejak saat itu pula, terjadi migrasi besar-besaran orang-orang yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Negara Israel. Hal ini membuat wilayah yang dulu diberikan kerajaan inggris tak cukup menampung warga Yahudi yang kebanyakan berasal dari pengungsian di wilayah Eropa Timur. Mengatasi permasalahan tersebut, pemerintahan Israel memperluas wilayahnya kearah tetangga terlemahnya: Palestina. Sejak itulah konflik berdarah tak pernah lagi lepas dari kawasan itu.
Titik terang pernah begitu menjanjikan pada masa kepemimpinan Yaser Arafat. Namun sepeninggal beliau, politik di Palestina tak lagi kondusif. Kedua partai politik terkuat, Hamas dan Fatah, saling meng-klaim merekalah pemegang mandat rakyat Palestina. Dengan konflik internal yang begitu akut, Palestina semakin sulit melepaskan diri dari lingkaran setan itu. Usaha sistematis untuk mengahiri konflik semakin rumit.
Respon Dunia Islam
Sebagian kaum muslim menganggap akar dari semua permasalahan ini adalah runtuhnya kekhalifahan Islam. Lalu, menurut mereka, solusi untuk mengatasi masalah ini, mau tidak mau, harus mendirikan lagi kekhalifahan Islam. Adanya kekhalifahan Islam yang runtuh tahun 1923 sebagai satu pemerintahan kuat yang menjamin keamanan warga negaranya memang sangat diperlukan, tapi pertanyaan yang muncul berikutnya adalah: apakah Kekhalifahan Turki Utsmani adalah pemerintahan Islam? Lebih jauh lagi, apakah pemerintahan seperti Kekhalifahan Turki Utsmani adalah satu-satunya model pemerintahan yang “Islam”? Atau lebih jauh lagi, apakah hanya pemerintahan Islam yang mampu menjamin keamanan warga negaranya? Saya kira tidak, tidak untuk ketiga pertanyaan tersebut.
Tentu saja, walaupun tak lagi merupakan bagian dari satu kerajaan besar, Kekhalifahan Turki Utsmani, Negara-negara pecahannya tak tinggal diam atas infasi Israel ke wilayah palestina. Bahkan, beberapa kali, Negara besar seperti Yordania dan Mesir pernah menyatakan perang terhadap Israel. Liga Arab juga pernah menyatakan perang terhadap Israel. Perang-perang tersebut memang menjadi tragedy kemanusiaan tersendiri, tapi, anjing menggonggong kafilah berlalu, Israel tetap dengan saintainya mendesak lebih jauh ke wilayah palestina.
Hingga di abad 21 ini, dunia Islam hanya bisa mengirimkan caci-maki, hujat-kutuk tanpa bisa mengahasilkan satu solusi sistematis untuk menanggulangi konflik kawasan ini. Paling jauh, mereka mengirimkan bantuan dana, makanan atau obat-obatan bagi korban pertikaian. Atau bahkan, muslim dunia sudah cukup membantu dengan mendoakan agar yang masih hidup segera mendapatkan kemerdekaannya dan yang sudah meninggal agar diterima di sisi-Nya. Pada akirnya, di tingkatan maksimal, dunia Islam hanya bisa menjadi pemadam kebakaran.
Bisakah Islam berubah?
Mengahdapi kenyataan bahwa sejarah telah membuktikan bahwa dunia Islam yang mayoritas berada di timur tengah, tak mampu mengatasi konflik di ujung hidung sendiri, mengantarkan kita pada pertanyaan: apa yang salah dengan Islam-nya kita? Bukankah berbekalkan Islam manusia-manusia abad pertengahan pernah mendirikan satu imperium yang menjadi pusat kemapanan pencapaian peradaban manusia?
Menurut Luthfi Assyaukanie, seperti banyak agama lain, Islam adalah produk sejarah dan peradaban. Islam diciptakan dan berkembang dalam peristiwa-peristiwa dialektis sejarah manusia. Karena itu, perubahan tidak terelakkan. Lebih jauh, Luthfi menjelaskan dalam Ideologi Islam & Utopia bahwa konsep ijtihad dan mashlahah dalam fiqih merupakan bukti konkrit yang menguatkan argument ini. Baginya, Islam merupakan agama dinamis yang mampu melewati berbagai tantangan sejarah. Islam adalah agama universal yang klaimnya “berlaku untuk segala zaman dan tempat” (salih li kulli zaman wa makan).[1] Dalam ungkapan Ulil Abshar Abdalla, Islam bukanlah patung antik yang dipahat di abad ke 6 masehi dan tak boleh disentuh tangan sejarah.
Berdasarkan argument tersebut, menurut saya, Islam akan benar-benar menjadi rahmatan lil alamin jika bisa mengkontekstualisasikan nilai-nilai keIslaman dengan peradaban modern. Islam harus mampu menjadi semangat pembebasan manusia dari segala belenggu-belenggu penindasan. Muslim dunia harus mampu menjadi individu-individu unggul yang bekerja untuk kemajuan peradaban dan kemaslahatan umat manusia. Dengan kata lain, Islam harus mengabdi pada kepentingan universal manusia.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  
Islam Abad 21
Dalam rangka kontekstualisasi, point-point yang ingin saya sampaikan di sini sekedar permukaan, mungkin bisa di jelaskan dalam tulisan saya berikutnya tentang bagaimana Islam di abad 21.
Seolah telah menjadi konsensus dunia bahwa abad 19 merupakan abad persemaian ideology, abad 20 adalah abad pertarungan nyata ideology dan abad 21 adalah abad integrasi ideology.[2] Di abad ini, perdebatan dunia bukan lagi sekitar sosialis, komunis atau liberalis, tapi keputusan mana yang paling menguntungkan? Maka dari itu, untuk bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam, umat muslim harus bisa menjadi “yang paling menguntungkan” bagi peradaban manusia. Hal itu sekaligus akan menjadi political capital yang efektif bagi diplomasi di pentas dunia.
Membangun political capital yang efektif, berarti kita harus membangun dua hal sekaligus: power & authority.[3] Membangun power, tentu saja membangun kekuatan ekonomi yang akan berujung pada mapannya dua alat diplomasi terkuat : senjata dan roti.[4] Membangun kekuatan ekonomi nantinya akan bermuara pada resource and wealth management yang baik. Sedangkan untuk membangun authority, kita harus membangun nama baik sebagai peradaban yang setia pada kemanusiaan dan mewujudkan perdamaian, kesetaraan, serta kemakmuran dunia.
Dengan ini, Islam sebagai rahmatan lil alamin akan terwujud dengan sempurna, Islam abad 21.[bali]



[1] Luthfi Assyaukanie, Ideologi Islam & Utopia, Jakarta: Freedom Institute. Hal, 31-32
[2] Lebih jelasnya, bisa baca Francis Fukuyama The End of History & The Last Man Standing.
[3] Dino Patti Djalal, Harus Bisa. Jakarta: R&W publishing. Hal 338
[4] Rizal Mallarangeng, Dari Langit. Kalarta: Freedom Institute. Hal 332

Tidak ada komentar:

Posting Komentar