Categories

Rabu, 28 September 2011

Teori Ekonomi Klasik di Bus Kota


Mudik 2011 ep.2
Dua hari menjelang hari H (prediksi), tepatnya tanggal 28 agustus 2011, semua tugas yang menghambatku meninggalkan kota Jakarta, bertolak menuju kampung halaman telah selesai dikerjakan. Nafas legapun sudah boleh dihirup kembali. Dua hari begadang ternyata tak percuma, hasilnya, bisa kuselesaikan semua tugas tanpa harus menikmati getir hidup ala Bang Toyib, tiga kali puasa tiga kali lebaran tak pulang. Dengan hati riang, rasa senag, kutempuh perjalanan mudik menggunakan Bus.
Membayangkan keadaan berkendara di jalanan yang penuh sesak dipadati kendaraan-kendaraan pemudik, alat menghabiskan waktu tanpa merasa bosan dengan tetap menghasilkan manfaat sudah kusiapkan jauh sebelumnya: buku. Dalam perjalanan kali ini, buku yang kusiapkan berjudul “Membela Kapitalisme Global” yang ditulis oleh intelektual muda swedia Johan Norberg, yang konsisten menguak berkah-berkah tersembunyi dari diterapkannya ide-ide liberal dan kapitalisme. Tulisan-tulisannya tentang dua ide dasar itu sangat apa adanya, menyadarkan kita betapa dalam kehidupan kita, kedua nilai dasar ini ternyata tak pernah jauh meliput setiap segi kehidupan. Argumentasinya lengkap, memaksa lawan-lawan pemikirannya harus memutar otak lebih keras untuk sekedar menemaninya berdialektika, apalagi untuk membantah.
Dalam buku itu yang memang pokok bahasannya adalah bidang ekonomi, banyak dituliskan secara tersirat mengenai hukum-hukum ekonomi klasik, khususnya pendapat-pendapat dari Bapak Ekonomi Klasik asal Inggris, Adam Smith. Sepanjang aku membaca, terngiang bisikan Om Smith, prinsip dasar ekonomi adalah bahwa setiap orang menginginkan untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Hal ini menyebabkab mekanisme pasar akan teratur secara sendirinya oleh Tangan Yang Takterlihat, The Invisible Hand. Bisikan-bisikannya begitu nyata dan tervisualisasi dengan baik dalam fikiranku. Aku terus menikmati kehanyutan fikiranku dalam buai kata-kata Om Smith yang semakin lama semakin terasa nyata.
Dalam benakku, tercipta tatanan masyarakat yang tenteram dan bahagia, mereka hidup dibawah naungan The Invisible Hand yang disabdakan Om Smith. Mereka berhubungan sesuai dengan pola hubungan sebagaimana yang mereka kehendaki, mereka bergerak dan berinovasi demi kepentingan pribadi dengan menyediakan secara lebih baik bagi orang-orang apa yang mereka pikir mereka butuhkan. Sebuah satuan masyarakat yang ditata berdasarkan prinsip-prinsip ini, dengan semua anggota masyarakat yang mengerti dan menyepakati penerapan prinsip ini, akan memiliki sebuah tatanan sosial yang begitu rapi, sejahtera, progresif dan inovatif. Ah pikiran..., andaikan kau nyata, aku akan menyebutmu dunia, tapi adanya, kau hanyalah nirwana. Nirwana yang dalam bahasa lain disebut dengan Utopia. Dunia maya yang tak nyata.
Dalam kehanyutanku menikmati lamunan dibawah panduan Om Smith, kericuhan suasana Bus yang baru saja keluar dari tol cikampek menyeretku kembali ke dunia nyata. Hiruk-pikuk kehidupan kembali mengikat diri. Cucuran keringat sudah membasahi sekujur tubuhku dan mulai membuat pakaianku basah. Debu dan asap kendaraan yang menerobos masuk Bus menekan paru-paruku dan tak bisa ditahan lagi, otomatis akupun terbatuk-batuk sesak nafas. Bising padatnya kendaraan menambah ricuh suasana yang sudah terlanjur ricuh dibuat para pengasong menjajakkan barang dagangannya. Ditambah terik matahari dan panas kekangan Bus ekonomi ketika mudik lebaran, suara kering pengamen jalanan menjadi hiburan tersendiri yang tiada duanya di dunia. Komposisi yang menakjubkan!.
Pengasong yang hadir dengan beragam wajah, barang yang ditawarkan dan metode penawarannya menghanyutkanku pada perenungan panjang. Sambil menikmati suasana, para pengasong memaksaku mengakui kebesaran Om Smith dan sekaligus melegitimasi kebenaran pernyataan-pernyataannya tentang hukum ekonomi. Para pengasong mewakili prototype manusia sebagai satuan makhluk, memiliki beberapa sisi yang rasa-rasanya harus ditelisik lebih dalam untuk menemukan hikmah berharga darinya.
Prinsip Permintaan dan Penawaran
Prinsip ini adalah prinsip sederhana yang mempengaruhi harga pasar suatu komoditas. Disaat kebutuhan konsumsi suatu komoditas naik yang mengakibatkan permintaan akan komoditas tersebut ikut naik, maka penawaran yang dilakukan penjual akan menurun. Penurunan penawaran ini hanya dilakukan secara terselubung oleh para pedagang tetap (Konstant Seller) yaitu dengan menaikkan harga komoditas tersebut, namun sering dilakukan secara kasat mata oleh para Direct Seller. Dalam skala besar, sebuah perusahaan produsen suatu komoditas yang tingkat permintaannya sudah besar dipasaran akan mengeluarkan anggaran jauh lebih kecil dibandingkan perusahaan produsen suatu komoditas yang baru keluar produksi dan mulai merambah pasar. Dengan catatan, keduanya memproduksi dalam kualitas dan kuantitas dalam satu kelas.
Prinsip ini secara sederhana jelas terlihat dari atas bangku sebuah Bus ekonomi. Populasi masyarakat dalam bus merupakan prototype pasar dan para pengasong sebagai prototype produsen akan memberitahumu dengan sangat elegan mengenai kebenaran teori penawaran. Mari kita lihat dan amati pergerakan para pengasong.
Secara umum, aku membagi para pengasong ini ke dalam dua kelompok besar berdasarkan jenis komoditas yang ditawarkan dan spesifikasi sifat penawarannya. Pengasong jenis pertama adalah mereka yang menjajakkan barang-barang kebutuhan pokok pasaran penumpang Bus. Mereka adalah para pengasong air mineral, rokok, minuman isotonik, minuman energi, suplemen makanan(kopi, susu, mi instant cup) dan makanan ringan.
Kelompok ini melakukan gerakan penawaran paling minimal, sekedar membuat populasi pasar mengetahui bahwa mereka berkeliaran disekitar para calon pembeli. Mereka memahami bahwa yang didagangkannya adalah barang-barang pokok yang sangat dibutuhkan para penumpang bus, tinggal menunggu saat dan mood yang tepat saja bagi para penumpang untuk membelinya. Mengaitkan hal ini dengan usaha penawaran, seakan mereka memahami betul petuah-petuah Om Smith tentang hukum penawaran dan permintaan.
Kelompok kedua adalah para pengasong komoditas sekunder seperti oleh-oleh, buah-buahan, mainan anak-anak, buku-buku ringan dan kudapan-kudapan ekstra yang tak biasa. Kelompok ini melakukan usaha penawaran lebih dibandingkan kelompok pertama. Seakan memahami bahwa barang yang mereka dagangkan kurang diminati para penumpang secara alami, maka dari itu penumpang butuh diyakinkan bahwa mereka membutuhkannya terlebihdahulu sebelum ahirnya membelinya.
Perbandingan perilaku kedua kelompok tersebut jelas memberitahu kita, entah mereka memahami atau tidak, kebenaran dan universalitas hukum penawaran.
Invisible Hand Sang Pengatur Harga
Dari berbagai macam pengasong dan cara meyakinkan calon pembeli bahwa mereka akan diuntungkan jika melakukan transaksi dengannya, ada satu contoh unik. Ia adalah pengasong buah. Buah-buahan yang diasongkan biasanya standard, apel, kelengkeng, duku, dan salak. Yang unik dari pengasong ini adalah metode meraih keyakinan calon pembeli bahwa mereka akan diuntungkan.
Pada awalnya(kita ambil salak sebagai contoh), pengasong mempresentasikan segala kelebihan buah dagangannya lengkap dengan segala kelebihan-kelebihan buahnya yang cenderung dilebih-lebihkan bahkan dibuat-buat. Setelah yakin penumpang menyimak segala ocehannya, barulah ia mulai menawarkan buahnya dengan harga tertentu. Harga penawaran pertamaadalah penawaran tertinggi yang biasanya tak ada satupun pembeli. Lalu, dengan berbagai dalih, ia naikkan kuantitas barang yang didapat dengan harga sama. Disini mulai ada beberapa yang berminat untuk membeli. Setelah dipastikan tak ada yang membeli lagi, maka pengasong menaikkan lagi kuantitas yang didapat dengan harga sama. Pada level ini biasanya harga dinilai sudah ekstrim murahnya dan banyak yang berminat beli. Hal itu terus dilakukan pengasong sampai barang dagangan habis terjual.
Dalam satu kali penjualan, biasanya terdapat rentang yang cukup jauh antara penjualan pertama dan penjualan terahir. Jika di penjualan pertama dengan uang sepuluh ribu pembeli bisa memiliki lima belas buah salak, maka tak jarang di penjualan penghabisan, pembeli bisa membawa pulang lima puluh buah salak dengan harga yang sama.
Mekanisme ini bergerak berdasarkan prinsip dasar ekonomi. Untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dengan modal sekecil-kecilnya. Prinsip ini bahkan dengan sangat anggun dapat mengatur harga buah salak dalam komunitas kecil, penumpang Bus. Inilah daya magis The Invisible Hand.
Modus Fundamental
Yang tak kalah pentingnya untuk kita cermati adalah proses kemunculan masyarakat yang menjadi pengasong secara besar-besaran. Para pengasong hadir di setiap sendikehidupan urban. Baik itu di atas Bus, di terminal, di tempat wisata dan di berbagai tempat lainnya yang ramai dikunjungi orang. Biasanya, kehadiran mereka dianggap menjadi pengganggu ketertiban, merusak pemandangan, mengesankan kekumuhan dan segudang pandangan miring lainnya tentang mereka. Namun kali ini, mari simak proses kreatif kemunculan mereka.
Zaman dulu, orang yang bepergian akan sangat kerepotan menyiapkan segala tetek-bengek yang dalam benaknya akan dibutuhkan selama bepergian. Karena itu, tak jarang seorang yang berangkat dari kampung ke Jakarta sekedar untuk menghadiri peresmian rumah anaknya membawa hampir seluruh hasil panennya selama setahun. Selain untuk oleh-oleh, bawaan itu juga sebagai pemenuh kebutuhan selama di perjalanan. Kenyataan mengatakan bahwa tak semua orang rela berrepot-repot ria membawa tetek-bengek yang memberatkan diri di perjalanan. Mereka berfikir akan jauh lebih baik jika ada orang yang rela menyediakan segala tetek-bengek itu untuknya selama di perjalanan. Jika ada, ia akan rela menukar tetek-bengek itu dengan segepok rupiah.
Mereka yang tanggap dan jeli melihat situasi, mengendus adanya kesempatan emas disini. Mereka mulai menyediakan berbagai macam tetek-bengek yang mereka fikir akan dibutuhkan oleh orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Mereka yang dalam perjalanan pun bahagia karena ada orang yang mau melayaninya sedemikian rupa. Mereka yang dalam perjalanan akan dengan sukarela membagi rupiahnya kepada mereka yang menyediakan pelayanan. Dalam evolusinya yang  panjang, terbentuklah hubungan dagang seperti yang kita lihat dalam kenyataan sekarang.
Tatanan masyarakat seperti ini adalah tatanan masyarakat yang saling menguntungkan dan bahu-membahu mencapai kehidupan yang lebih baik entah disadari atau tidak. Mereka adalah masyarakat yang ditata berdasarkan kenyataan paling asasi manusia, sehingga menjadikan manusia-manusia bergerak bebas menujua kepentingan priobadi dengan jalan menyediakan secara lebih baik bagi orang-orang apa yang mereka pikir mereka butuhkan.
Meresapi semua kenyataan ini aku tersadar, semua yang kubayangkan dalam bimbingan Om Smith gukanlah utopia semata. Itu adalah harapan yang hanya membutuhkan perjuangan untuk diwujudkan. Kenikmatan yang hanya ada di dunia.[bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar