Mudik 2011 ep. 1
Boycott, Senjata Ampuh dari Ideologi Merah.
Ramadhan ini adalah ramadhan ketiga di Asrama Sunan Giri bagi kami warga binaan angkatan Ashabul Jannah. Walaupun baru dua tahun disini, kami masuk Asrama seminggu menjelang Ramadhan sehingga dalam dua tahun lebih beberapa minggu kami sudah harus merasakan ramadhan sebanyak tiga kali.
Keadaan Asrama memang sedang mengalami fase degadrasi kualitas dan kuantitas kader sejak beberapa tahun belakangan. Ini bisa dilihat dari jumlah warganya, jumlah dan kualitas kegiatan yang diadakan serta bargaining position asrama bagi masyarakat luar asrama, baik itu yayasan, masyarakat umum, civitas akademika sekitar asrama maupun pemerintahan. Kedekatan warga asrama dengan pemegang kebijakan tertinggi negeri ini memang terlalu jauh untuk disamakan dengan tiga-empat puluh tahun yang lalu.sepenuhkanya kusadari, hal ini juga dikarenakan penulis sendiri yang tak mampu meresapi sepenuhnya kehidupan secara Sunan Giri.
Di ramadhan kali ini, Asrama menjalaninya dengan serba terbatas dalam suasana kritis dan menyedihkan. Total warga binaan hanya enam dari angkatanku dan empat dari angkatan dibawahku. Keadaan seperti ini memaksa kami, angkatan ashabul jannah, menjadi motor kegiatan seperti saat kita menjalaninya di masa-masa kami. Menjelang ahir ramadhan, seakan tak menghargai kerja keras kami menjalankan kegiatan Ramadhan, pengurus mengeluarkan kebijakan yang sangat memberatkan kami. Angkatan kami dinyatakan baru diperbolehkan pulang setelah sholat Ied dan silaturrahin disini.
Kebijakan macam apa itu? Kami tahu asrama sedang dalam krisis kader. Kami tahu, empat orang warga binaan tak akan mampu menjalankan sisa program kegiatan dengan baik, tapi apakah salah kami jika jumlah warga asrama semakin sedikit? Bukankah secara struktural, AD dan ART menyatakan itu merupakan tanggung jawab pengurus asrama? Kamipun berontak dan menuntut diadakan dialog interaktif antara warga binaan dengan pengurus asrama. Pengurus yang mengajak dialog, atau kami yang akan mengundang pengurus berdialog, itu ancaman kami.
Kami juga mengancam untuk bersama-sama melanggar ketetapan pengurus jika tetap diputuskan sebagaimana disebutkan. Kamipunya people power, dan bisa apa pengurus jika objek peraturan serentak melanggar peraturan?. Berdoa, selain itu, tak ada!. Itulah rumus indah dari boykot sebagaimana diajarkan komunisme.
Ancaman ini berhasil membuat geger forum rapat koordinasi pengurus asrama. Mereka seperti kebakaran jenggot menanggapi ancaman boykot dari warga binaan. Ahirnya diputuskan bahwa angkatan Ashabul Jannah diperbolehkan pulang sejak tanggal 27 Agustus. Nafas lega mengahiri ketegangan itu. Ahirnya, sejarahpun tercetak. Untuk pertamakalinya ketetapan pengurus yang merupakan hukum terkuat dalam keseharian asrama mampu ditekuk tanpa ampun dengan satu senjata: boykot. Senjata ampuh yang bisa diandalkan untuk melawan kesewenang-wenangan. Dimanapun, oleh siapapun.
Diantara Dua Hasrat.
Menjelang hari diperbolehkannya aku pulang, tenteram merasuk hatiku. Tanpa beban, mulai kutata jadwal dan pengharapan selama mudik lebaran tahun ini. Kangen akan segala sesuatu di kampung handai taulanku akan segera terobati. Ahh..., kampungku, betapa ridu aku padamu!.
Masih segar dalam ingatanku bagaimana dulu aku berlarian dijalan-jalannya. Sungai-sungainya, dari yang terkecil (selokan) hingga Sungai pemisah Jawa Tengah dan Jawa Barat pernah menjadi pemandianku, membasahiku dan menenggelamkanku. Aku ingat bagaimana dulu sawah-sawahmu menjadi tempat bermain yang begitu asyik dengan segala tanaman dan hewan-hewan yang ia sediakan. Seakan disediakan khusus hanya untukku seorang.juga perkebunannya, juga lapangan bolanya, juga gang-gang tempatku dulu biasa niongkrong bersosialisasi. Sungguh menjadi keindahan tersendiri dapat mengenangkanmu. Apalagi orang-orangnya yang kesemuanya aku cintai dan mencintaiku, aih, kampungku!.
Seketika, kabar dari Bang Usman menyeretku dalam kebingungan. Ia menawarkan pekerjaan yang memang sedang aku cari-cari untuk mewujudkan salah satu gadget incaranku: Hard Disk Drive Portable. Ahh..., mengapa harus dihadapkan pada dua pilihan yang keduanya sangat kuinginkan.
Dengan pertimbangan matang, kuputuskan mengambil job ini dan menunda kepulangan. Dan jadilah aku Bang Toyib sebagai konsekuensi logisnya. Sulit memang, namun mewujudkan mimpi itu memang pahit dan terjal jalannya.
Buah Manis Kerja Cerdas.
Secara matematis, jika job ini dikerjakan dua orang dengan kapasitas kerja sebagaimana biasanya, maka akan selesai dalam waktu empat atau lima hari. Dan ini berarti aku benar-benar harus mengurungkan niatan untuk pulang kampung. Dengan berat hati namun bahagia, kuterima kontrak mengerjakan job ini lengkap beserta segala konsekuensinya.
Setelah mempelajari deskripsi job, kusadari satu hal bahwa job ini memang membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup panjang jika dilakukan oleh orang dengan kemampuan rata-rata. Namun, dengan kapasitas mengingat yang tinggi serta keterampilan olah data cukup, job ini bisa diselesaikan dua kali lebih cepat. Kuputuskan untuk berusaha keras mengingat model datanya dan berusaha seterampil mungkin mengolah data-data tersebut.
Ditemani berbagai mahluk malam, sambil menikmati suasana hari-hari terahir bulan ramadhan, kukerjakan job ini siang-malam tak kenal istirahat. Dan hasilnya, benar saja, job ini selesai hanya dalam waktu dua hari, dua malam.
Kerja keras yang dilandasi kerja cerdas pasti akan berbuah manis. Job selesai, akupun bisa melaksanakan niatan awalku unutk pulang kampung. Hufth..., mimpi terwujud tanpa mengorbankan hasrat tertinggiku saat ini. Semoga selalu diberi kemudahan meniti jaln ini.[bali]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar