Categories

Jumat, 05 April 2013

KARTUN ONE PIECE & MOTIVASI SAMPAH



Membaca judul artikel ini, mungkin yang pertama kali muncul adalah tanda tanya. Tanda tanya atas kontradiksi yang dirasa sangat kental memenuhi judul tersebut. Atau bahkan anggapan miring pada saya “Aaah, ini mah tulisannya ABG yang masih gandrung anime-anime Jepang ajah..” atau “Aah, penulisnya belum bisa bedain mana sampah mana emasnya..” atau komentar-komentar miring lain dengan kerangka berpikir yang sama: ada yang salah dengan logika berpikir saya dalam artikel ini. Benarkah logika berpikir artikel ini ngawur? Atau justru jalan pikiran kita yang terlanjur tumpul karena terlalu banyak mengkonsumsi “sampah” sebagai menu pokok otak kita? Siapa tahu
Wabah Training Motivasi.
Yah, sebagai Negara berkembang, sangat wajar jika kita juga mengalami masa dimana training pengembangan diri menjadi trend pasar. Salah satu yang paling mencolok adalah training motivasi. Sejak dipopulerkan oleh Om Arie Ginanjar dengan ESQ-Way dan Om Mario Teguh dengan The Golden Ways, kebutuhan akan training motivasi membludak. Training-training motivasi khusus ditawarkan ke pasaran dengan berbagai harga dan berbagai kemasan mulai yang “amatir” yang gratisan hingga kelas “spesialis” yang lebih mahal dari sepuluh karung beras IR. Belum cukup dengan training independen, seakan-akan, setiap acara, entah itu pelatihan, company gathering, team upgrading, setifikasi, pameran, Class Outing, Pesantren Kilat dan segala macam acara lainnya harus diselipkan didalamnya training motivasi. Saya masih ingat betul, MPA (Masa Pengenalan Akademik) diisi beberapa termin untuk training tersebut, lalu beberapa minggu berikutnya, acara PKMJ (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan) juga menghabiskan beberapa jam untuk termin khusus motivasi, yang gawat, Alumni Gathering Fakultas pun diisi dengan kegiatan ini: M-O-T-I-V-A-S-I-!. Seakan-akan hanya training motivasi yang bisa dilakukan manusia-manusia ini.

Sesuai dengan hukum permintaan, dengan naiknya kebutuhan yang pasti diikuti naiknya permintaan, maka penawaran akan turun dan harga naik. Akibatnya, trainer-traner motivasi bisa mendapatkan keuntungan jauh lebih besar dan profesi ini pun tumbuh menjadi profesi yang cukup prestisius. Efek dominonya, ribuan motivator lahir dengan berbagai macam make-up, ratusan buku-buku motivasi diterbitkan dengan serbagai ajian. Dan jadilah Indonesia ini menjadi pasar training. Menjadi seorang trainer motivasi seakan menjadi matador di kerajaan spanyol abad pertengahan, melambangkan kecakapan dan puncak daya tarik. Untuk menjadi nilai jual, motivator-motivator ini mengemas sajiannya dengan kemasan eksentrik, ada The Seven Awareness, Hisab Power, Empowering Quotien  dan judul-judul lainnya yang tak kurang bernuansa “Chicken Soup” dari seniornya, The ESQ way. Yang paling arogan adalah buku karya seorang ilmuwan Australia, The Secret. Hash..!!
Fenomena ini seakan-akan menegaskan bahwa terputusnya bangsa ini dari pengetahuan akan sejarah bangsanya membuat bangsa ini menjadi bangsa yang cengeng. Bangsa cengeng yang selalu minta ditimang-timang kata-kata motivasi basi. Atau bangsa naïf yang hanya melihat aura positif dari segala hal seakan-akan tak ada kejahatan di dunia?. Entahlah, bukan domain saya untuk memberikan judgement, sebagai pengamat, hanya bisa berpendapat.
Training Motivasi Sampah.
Saya sering berandai-andai, jika diadakan suatu penelitian komprehensif mengenai perubahan yang terjadi dari sebelum dan sesudah seseorang mengikuti training motivasi. Sebesar apa perubahan kepribadiannya? Saya kira, jika menggunakan uji standard statistic untuk PTK (Penelitian Tindakan Kelas), hasilnya tak lebih besar dari 0,1xxx. Kalau tak percaya, silahkan buktikan, saya bisa bantu.
Saya bisa begitu yakin dengan hal tersebut karena dua hal. Pertama, sebaik apapun materinya, jika diberikan terlalu sering, akan kehilangan keampuhannya. Tak usah terlalu sering, seorang berkepribadian kuat dan berotak cerdas mungkin akan terpukau untuk pertama kali mengikuti materi, tapi untuk yang berikutnya, system otaknya telah menyusun semacam “antibody”. Apalagi jika terlalu sering, materi benar-benar akan menjadi basi dan jangankan diterapkan, menarik hati pun sungguh-sungguh  sulit. “24 nasihat menuju puncak sukses”, “13 jurus rahasia menggapai sukses”, “7 keajaiban rizki”, “15 kunci sukses”, “jangan bersedih” dan jutaan judul membosankan lainnya.
Kedua, apapun yang disampaikan dalam training motivasi sebetulnya telah jutaan kali disampaikan dalam media lain dalam hidup kesehatian kita. Sederhanyanya, jika trainer mengatakan “setiap orang bisa sukses”, so what?? Lalu apah?? Tentang “jangan menyerah” apakah kisah Surabaya 10 November 1945 dan pidato Bung Tomo yang membakar kurang menyengat semangat? Tentang optimalisasi potensi diri agar membawa manfaat bagi bangsa, bukankah kisah Minke dalam novel Om Pram yang berjudul “Bumi Manusia” mampu menggetarkan hati manusia di bumi dalam 32 bahasa bangsa-bangsa dunia? Tentang “si miskin pun bisa sukses” bukankah pemuda kampung, Ken Arok, yang bergelut hingga menjadi Raja Singhasari dan menitiskan darahnya melahirkan kerajaan maritime terbesar sepanjang sejarah manusia, kerajaan Majapahit sarat pelajaran tersebut?
Aah, kasihan bangsa ini. Beginilah jadinya manusia jika lupa sejarah bangsanya. Dia terombang-ambing timbul tenggelam di lautan mengejar pelampung padahal dia punya sayap yang cukup kuat untuk terbang.
Baiklah, mungkin terlalu tak adil jika saya bandingkan training-training motivasi sampah itu dengan kisah-kisah maha indah sejarah bangsa ini. Training-training itu bahkan tak sebanding dengan pelajaran dari serial popular anime Jepang. Sebagai contoh, kita bedah salah satunya: One Piece.
Ultimate Motivation dari One Piece.
One Piece adalah satu dari beberapa serial anime jepang yang menjadi sangat popular di Indonesia. Sebagaimana anime lain, anak-anak dan ABG adalah targetan pasar utamanya sehingga garapannya tak terlalu memperhatikan detil-detil keaslian seperti film. One Piece menceritakan seorang remaja bernama Luffy yang secara tak sengaja memakan buah karet hingga menjadi manusia karet. Dia memiliki cita-cita ingin menjadi Raja Bajak laut, dan meluncurlah dia ke lautan untuk memulai langkahnya menggapai cita-cita dengan mengumpulkan kru bajak lautnya. Dalam petualangannya, dia mendapatkan teman-teman yang luar biasa, Zoro sang pendekar pedang, Nami sang navigator, Ussop sang penembak jitu, dan Sanji sang koki. Sebenarnya, masih ada beberapa temannya, tapi untuk topic “motivasi” cukup mereka yang dibahas.
Luffy.
Semasa kecil, dia hidup di desa pelabuhan yang biasa menjadi tempat persinggahan kapal. Luffy kecil sangat terobsesi ingin menjadi seorang bajak laut. Baginya, kehidupan bajak laut yang bebas dengan potensi petualangan tak terbatas adalah hidup yang ideal. Mimpinya semakin menggebu ketika bertemu rombongan bajak laut Akagami no Shanks dengan Shanks sebagai kaptennya. Luffy kecilpun meminta grup tersebut membawanya berpetualang keliling dunia. Karena terlalu kecil, Shanks menolaknya.

Pada suatu hari, gerombolan perompak gunung mendatangi bar tempat biasa Shanks nongkrong. Mereka mejelek-jelekan Shanks dan kelompoknya sebagai pecundang, Luffy yang mendengar pembicaraan mereka tak terima Shanks, idolanya, dijelek-jelekkan di hadapannya. Luffy menantang gerombolan perompak gunung. Dengan mudah, Luffy dilumpuhkan dan dibuang ke lautan. Shanks yang mendengar kejadian itu segera pergi menyelamatkan Luffy. Ketika menyelamatkan Luffy yang tak bisa berenang karena efek buah iblis hingga tak bisa menghindar dari serangan monster laut yang siap memakannya Shanks kehilangan lengan kirinya.
Tibalah waktunya kelompok Akagami no Shanks meninggalkan pelabuhan itu untuk melanjutkan petualangannya. Saat perpisahan itulah lufi berkata lantang pada Shanks:
“Aku tak mau ikut denganmu. Aku memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri, mengumpulkan teman-teman sendiri, menjadi kelompok bajak laut terkuat dan menjadi raja Bajak laut.”
Dan beberapa tahun setelah kejadian tersebut, pergilah Luffy mengarungi lautan dengan topi jerami kesayangan Shanks yang harus dikembalikannya setelah menjadi bajak laut yang hebat. Dalam keadaan apapun, dia terus memelihara impiannya itu. Dan kau tahu, dunia berkonspirasi untuk mewujudkan impiannya.
So, kawan, mungkin itu sedikit palajaran dari Luffy. Saya berani jamin, jika kawan menonton serialnya dengan semangat mengambil pelajaran, maka pelajaran yang kawan dapat akan jauh lebih kaya dari seribu training motivasi. Saya juga sarankan kepada panitia MPA atau PKMJ, mendingan nobar anime dari pada diisi training motivasi!. atau, gathering alumni fakultas maupun universitas diisi acara nobar anime saja bareng Pak Dekan dan Pak Rektor, biar mereka tahu seperti apa dunia ini.
Haha, pada ahirnya, tetap harus saya katakan, “HIDUP TAK SEMUDAH YANG DIKATAKAN OM MARIO TEGUH”. Bon Voyage! [bali]

2 komentar:

  1. Well said bro, senang mengetahui saya ngga sendirian jenuh sama kepenatan motivasi ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, It's OK bro, i exactly understand what do you feel about it..

      Hapus