Membaca judul artikel ini, mungkin yang pertama
kali muncul adalah tanda tanya. Tanda tanya atas kontradiksi yang dirasa sangat
kental memenuhi judul tersebut. Atau bahkan anggapan miring pada saya “Aaah,
ini mah tulisannya ABG yang masih gandrung anime-anime Jepang ajah..” atau
“Aah, penulisnya belum bisa bedain mana sampah mana emasnya..” atau
komentar-komentar miring lain dengan kerangka berpikir yang sama: ada yang
salah dengan logika berpikir saya dalam artikel ini. Benarkah logika berpikir
artikel ini ngawur? Atau justru jalan pikiran kita yang terlanjur tumpul
karena terlalu banyak mengkonsumsi “sampah” sebagai menu pokok otak kita? Siapa
tahu
Wabah Training Motivasi.
Yah, sebagai Negara berkembang, sangat wajar
jika kita juga mengalami masa dimana training pengembangan diri menjadi trend
pasar. Salah satu yang paling mencolok adalah training motivasi. Sejak
dipopulerkan oleh Om Arie Ginanjar dengan ESQ-Way dan Om Mario Teguh dengan The
Golden Ways, kebutuhan akan training motivasi membludak. Training-training
motivasi khusus ditawarkan ke pasaran dengan berbagai harga dan berbagai
kemasan mulai yang “amatir” yang gratisan hingga kelas “spesialis” yang lebih
mahal dari sepuluh karung beras IR. Belum cukup dengan training independen,
seakan-akan, setiap acara, entah itu pelatihan, company gathering, team
upgrading, setifikasi, pameran, Class Outing, Pesantren Kilat dan segala macam
acara lainnya harus diselipkan didalamnya training motivasi. Saya masih ingat
betul, MPA (Masa Pengenalan Akademik) diisi beberapa termin untuk training
tersebut, lalu beberapa minggu berikutnya, acara PKMJ (Pelatihan Kepemimpinan
Mahasiswa Jurusan) juga menghabiskan beberapa jam untuk termin khusus motivasi,
yang gawat, Alumni Gathering Fakultas pun diisi dengan kegiatan ini:
M-O-T-I-V-A-S-I-!. Seakan-akan hanya training motivasi yang bisa dilakukan
manusia-manusia ini.
Sesuai dengan hukum permintaan, dengan naiknya
kebutuhan yang pasti diikuti naiknya permintaan, maka penawaran akan turun dan
harga naik. Akibatnya, trainer-traner motivasi bisa mendapatkan keuntungan jauh
lebih besar dan profesi ini pun tumbuh menjadi profesi yang cukup prestisius. Efek
dominonya, ribuan motivator lahir dengan berbagai macam make-up, ratusan
buku-buku motivasi diterbitkan dengan serbagai ajian. Dan jadilah Indonesia ini
menjadi pasar training. Menjadi seorang trainer motivasi seakan menjadi matador
di kerajaan spanyol abad pertengahan, melambangkan kecakapan dan puncak daya
tarik. Untuk menjadi nilai jual, motivator-motivator ini mengemas sajiannya
dengan kemasan eksentrik, ada The Seven Awareness, Hisab Power, Empowering
Quotien dan judul-judul lainnya yang tak
kurang bernuansa “Chicken Soup” dari seniornya, The ESQ way. Yang paling arogan
adalah buku karya seorang ilmuwan Australia, The Secret. Hash..!!
Fenomena ini seakan-akan menegaskan bahwa
terputusnya bangsa ini dari pengetahuan akan sejarah bangsanya membuat bangsa
ini menjadi bangsa yang cengeng. Bangsa cengeng yang selalu minta
ditimang-timang kata-kata motivasi basi. Atau bangsa naïf yang hanya melihat
aura positif dari segala hal seakan-akan tak ada kejahatan di dunia?. Entahlah,
bukan domain saya untuk memberikan judgement, sebagai pengamat, hanya bisa
berpendapat.
Training Motivasi Sampah.
Saya sering berandai-andai, jika diadakan suatu
penelitian komprehensif mengenai perubahan yang terjadi dari sebelum dan
sesudah seseorang mengikuti training motivasi. Sebesar apa perubahan
kepribadiannya? Saya kira, jika menggunakan uji standard statistic untuk PTK
(Penelitian Tindakan Kelas), hasilnya tak lebih besar dari 0,1xxx. Kalau tak
percaya, silahkan buktikan, saya bisa bantu.
Saya bisa begitu yakin dengan hal tersebut
karena dua hal. Pertama, sebaik apapun materinya, jika diberikan terlalu
sering, akan kehilangan keampuhannya. Tak usah terlalu sering, seorang
berkepribadian kuat dan berotak cerdas mungkin akan terpukau untuk pertama kali
mengikuti materi, tapi untuk yang berikutnya, system otaknya telah menyusun
semacam “antibody”. Apalagi jika terlalu sering, materi benar-benar akan
menjadi basi dan jangankan diterapkan, menarik hati pun sungguh-sungguh sulit. “24 nasihat menuju puncak sukses”, “13
jurus rahasia menggapai sukses”, “7 keajaiban rizki”, “15 kunci sukses”,
“jangan bersedih” dan jutaan judul membosankan lainnya.
Kedua, apapun yang disampaikan dalam training
motivasi sebetulnya telah jutaan kali disampaikan dalam media lain dalam hidup
kesehatian kita. Sederhanyanya, jika trainer mengatakan “setiap orang bisa
sukses”, so what?? Lalu apah?? Tentang “jangan menyerah” apakah kisah Surabaya
10 November 1945 dan pidato Bung Tomo yang membakar kurang menyengat semangat?
Tentang optimalisasi potensi diri agar membawa manfaat bagi bangsa, bukankah
kisah Minke dalam novel Om Pram yang berjudul “Bumi Manusia” mampu menggetarkan
hati manusia di bumi dalam 32 bahasa bangsa-bangsa dunia? Tentang “si miskin
pun bisa sukses” bukankah pemuda kampung, Ken Arok, yang bergelut hingga
menjadi Raja Singhasari dan menitiskan darahnya melahirkan kerajaan maritime
terbesar sepanjang sejarah manusia, kerajaan Majapahit sarat pelajaran
tersebut?
Aah, kasihan bangsa ini. Beginilah jadinya
manusia jika lupa sejarah bangsanya. Dia terombang-ambing timbul tenggelam di
lautan mengejar pelampung padahal dia punya sayap yang cukup kuat untuk
terbang.
Baiklah, mungkin terlalu tak adil jika saya
bandingkan training-training motivasi sampah itu dengan kisah-kisah maha indah
sejarah bangsa ini. Training-training itu bahkan tak sebanding dengan pelajaran
dari serial popular anime Jepang. Sebagai contoh, kita bedah salah satunya: One
Piece.
Ultimate Motivation dari One Piece.
One Piece adalah satu dari beberapa serial
anime jepang yang menjadi sangat popular di Indonesia. Sebagaimana anime lain,
anak-anak dan ABG adalah targetan pasar utamanya sehingga garapannya tak
terlalu memperhatikan detil-detil keaslian seperti film. One Piece menceritakan
seorang remaja bernama Luffy yang secara tak sengaja memakan buah karet hingga
menjadi manusia karet. Dia memiliki cita-cita ingin menjadi Raja Bajak laut,
dan meluncurlah dia ke lautan untuk memulai langkahnya menggapai cita-cita
dengan mengumpulkan kru bajak lautnya. Dalam petualangannya, dia mendapatkan
teman-teman yang luar biasa, Zoro sang pendekar pedang, Nami sang navigator,
Ussop sang penembak jitu, dan Sanji sang koki. Sebenarnya, masih ada beberapa
temannya, tapi untuk topic “motivasi” cukup mereka yang dibahas.
Luffy.
Semasa kecil, dia hidup di desa pelabuhan yang
biasa menjadi tempat persinggahan kapal. Luffy kecil sangat terobsesi ingin
menjadi seorang bajak laut. Baginya, kehidupan bajak laut yang bebas dengan
potensi petualangan tak terbatas adalah hidup yang ideal. Mimpinya semakin
menggebu ketika bertemu rombongan bajak laut Akagami no Shanks dengan Shanks
sebagai kaptennya. Luffy kecilpun meminta grup tersebut membawanya berpetualang
keliling dunia. Karena terlalu kecil, Shanks menolaknya.
Pada suatu hari, gerombolan perompak gunung
mendatangi bar tempat biasa Shanks nongkrong. Mereka mejelek-jelekan Shanks dan
kelompoknya sebagai pecundang, Luffy yang mendengar pembicaraan mereka tak
terima Shanks, idolanya, dijelek-jelekkan di hadapannya. Luffy menantang
gerombolan perompak gunung. Dengan mudah, Luffy dilumpuhkan dan dibuang ke
lautan. Shanks yang mendengar kejadian itu segera pergi menyelamatkan Luffy.
Ketika menyelamatkan Luffy yang tak bisa berenang karena efek buah iblis hingga
tak bisa menghindar dari serangan monster laut yang siap memakannya Shanks
kehilangan lengan kirinya.
Tibalah waktunya kelompok Akagami no Shanks
meninggalkan pelabuhan itu untuk melanjutkan petualangannya. Saat perpisahan
itulah lufi berkata lantang pada Shanks:
“Aku tak mau ikut denganmu. Aku memutuskan
untuk membentuk kelompok sendiri, mengumpulkan teman-teman sendiri, menjadi
kelompok bajak laut terkuat dan menjadi raja Bajak laut.”
Dan beberapa tahun setelah kejadian tersebut,
pergilah Luffy mengarungi lautan dengan topi jerami kesayangan Shanks yang
harus dikembalikannya setelah menjadi bajak laut yang hebat. Dalam keadaan
apapun, dia terus memelihara impiannya itu. Dan kau tahu, dunia berkonspirasi
untuk mewujudkan impiannya.
So, kawan, mungkin itu sedikit palajaran dari Luffy.
Saya berani jamin, jika kawan menonton serialnya dengan semangat mengambil
pelajaran, maka pelajaran yang kawan dapat akan jauh lebih kaya dari seribu
training motivasi. Saya juga sarankan kepada panitia MPA atau PKMJ, mendingan
nobar anime dari pada diisi training motivasi!. atau, gathering alumni fakultas maupun universitas diisi acara nobar anime saja bareng Pak Dekan dan Pak Rektor, biar mereka tahu seperti apa dunia ini.
Haha, pada ahirnya, tetap harus saya katakan, “HIDUP TAK SEMUDAH YANG DIKATAKAN OM MARIO TEGUH”.
Bon Voyage! [bali]


Well said bro, senang mengetahui saya ngga sendirian jenuh sama kepenatan motivasi ini :)
BalasHapusHaha, It's OK bro, i exactly understand what do you feel about it..
Hapus