Categories

Kamis, 29 September 2011

Memaknai Hidup Sebagai Muslim

Oleh: Najib Yusuf (Warga asrama, Mahasiswa Bimbingan & Konseling UHAMKA)
Sebagai seorang muslim, maka jelaslah bagi kita bahwa tuntunan hidup kita adalah Al-Qur’an dan Assunah. Dalam hidupnya, seorang muslim menempatkan kedua panutan ini sebagai Manual Book yang memandu hidupnya. Pandangan hidupnya selalu didasari oleh Al-Qur’an dan Assunah.
Bagi seorang muslim, allah SWT menciptakan manusia bukan sekedar keisengan belaka. Dia menciptakan manusia dengan misi utama yang menggelayut di punggungnya. Seperti pada firman Allah berikut ini:


[51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Dalam ayat tersebut dijelaskan dengan begitu terang bahwa tujuan allah mencipta manusia adalah untuk menyembah kepada-Nya. Selain ayat tersebut, ayat alquran yang menerangkan tentang tujuan penciptaan manusia juga ada di surat Al-Baqarah.

[2:30]Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Dalam ayat ini dijelaskan tentang tujuan lain penciptaan manusia. Ayat ini menegaskan bahwa selain dipenuhi tugas untuk selalu menjalin hubungan transcendental vertical dengan Tuhannya, manusia juga memiliki kewajiban untuki memimpin jagat raya ini. Dengan ayat ini, maka jelaslah bahwa sebagai manusia, kita diharuskan memimpin semesta alam dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah SWT. Kedua pekerjaan ini tidak dilakukan terpisah, melainkan senantiasa menyatu dalam satu entitas yang tak terpisahkan.
Mengenai Kepemimpinan
Sudah merupakan tugas seorang pemimpin untuk mengarahkan yang dipimpinnya ke arah yang dikehendakinya. Dalam konteks kepemimpinan manusia atas alam semesta, berarti jelas bahwa manusia memegang kendali penuh atas pengendalian ke arah mana semesta raya ini akan bergerak. Apakah bergerak mendekat ke arah pelestarian, atau malah akan merapat menuju kehancuran, apakah benar wewenang kepemimpinan ini digunakan manusia untuk menunaikan tugas pertamanya, yaitu mengabdi kepada Allah? . Itu mutlak menjadi tugas dan tanggung jawab manusia sebagai yang diserahi kepemimpinan atas alam ini.
Untuk bisa menjalankan tugas kepemimpinannya secara baik dan benar, selain memahami betul tugas dan tujuan kepemimpinannya, hal fundamental berikutnya yang harus diketahui seorang pemimpin adalah memahami apa yang dipimpinnya. Dengan demikian, berarti misi fundamental seorang muslim dalam rangka menunaikan tugas ilahiahnya adalah mengenal alam raya dengan segala sifat dan mekanismenya.
Menguasai ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu manusia menjadi wajib bagi seorang muslim yang bertaqwa. Sudah sepantasnya jika seharusnya, kita-lah sebagai manusia yang faham tugas ilahiahnya menjadi orang yang paling memahami tentang alam raya ini. Seharusnya, jika ada seseorang yang paling ahli di bidang fisika nuklir, maka bisa dipastikan bahwa dia adalah seorang muslim. Begitu juga dengan orang yang paling ahli di bidang mikrobiologi, energy terbarukan, fisika partikel, kimia analitik, farmakologi, geografi, neuroscience, elektrikal instalasi, mekanika materi dan jutaan cabang ilmu yang mempelajari manusia dan dunianya. Mutlak bagi seorang muslim untuk selalu berusaha menunaikan tugas mulianya itu, menjadi yang paling memahami alam.
Berbicara tentang kepemimpinan, tentunya kita juga akan membicarakan pengaruh. Seseorang bisa disebut pemimpin suatu kaum jika memang seseorang tersebut menjadi yang paling berpengaruh terhadap yang kaumnya tersebut.
Sebagai seorang muslim yang sadar sepenuhnya akan tugas kepemimpinannya, seharusnya, kita-lah yang memegang puncak pengaruh terhadap dunia. Pengaruh terjadi karena adanya ketergantungan pihak yang terpengaruh terhadap yang mepengaruhi. Sebagaimana rakyat memiliki ketergantungan terhadap kebijakan rajanya. Di kancah dunia pun, tak begitu jauh berbeda. Barangsiapa yang lebih banyak orang bergantung kepadanya, maka ia lah yang paling besar mempengaruhi umat manusia dan ia lah yang memimpin dunia.
Kenyataan tentang seberapa besar ketergantungan orang lain kepada kita hanya berbanding senilai dengan seberapa besar kita bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, sudah selayaknya demi menunaikan tugas ilahiah, memimpin dunia, manusia-manusia muslim yang sadar akan tugasnya ini menjadi orang yang p[aling berpengaruh kepada dunia dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi dunia terlebih dahulu.
Bertolak dari sini, mari kita memulai introspeksi tiada ahir ini. Sudah layakkah kita beristirahat sementara tugas fundamental diciptakannya kita belum terlaksana?. Mari kita mulai pembaharuan ini dari dalam diri kita. Menguasai dunia dengan menjadi orang yangb paling mengenalnya dan memimpin dunia dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya.[bali]

2 komentar:

  1. selamat mas, anda orang yang saya tunggu!
    dari awal saya nge-blog, belum pernah ada yang mengkritik tulisan saya, sekarang bahagianya saya mendapatkan kesempatan bersua denganmu mas, adapun tanggapan saya atas tulisan mas, nanti saya tuangkan dalam tulisan pula, makasih banyak ya mas..., hehehe...

    BalasHapus
  2. Mas, jawaban saya bisa dibaca di sini...
    http://isikepalahambali.blogspot.com/2012/02/gen-maha-kuasa-dan-terlaknat.html

    BalasHapus