Categories

Jumat, 05 April 2013

TOPENG-TOPENG CINTA


Dalam naskah drama yang judulnya Prince of Denmark, lewat tokoh Hamlet, William Shakespeare pernah bilang:
Doubt thou the stars are fire
Doubt the earth doth move
Doubt truth to be a liar
But never doubt I love

Kalimat ini indah banget buat gue. Karena segala penemuan dimulai dari keraguan, kecuali satu hal. Manusia berpaling dari anggapan bahwa bumi adalah pusat tata surya dan matahari , bulan serta benda langit lainnya berputar mengelilingi bumi ke anggapan bahwa bumi hanya sekedar planet biasa yang berputar dalam orbitnya mengelilingi matahari sebagai pusat tatasurya berawal dari keraguan Ptolemaeus yang kemudian dibuktiin secara betahap oleh Copernicus, Galileo dan Kepler.
Fisika modern dibangun di atas keraguan Oom Einstein bahwa asumsi Newton yang bilang kalo zat, gerak, ruang dan waktu bersifat absolute itu kurang tepat, kata dia, keempatnya itu relative. Yang paling gampang deh, tauhid tiga agama samawi, islam, Kristen dan yahudi, dibangun di atas keraguan Ibrahim bahwa patung yang dibikin bapaknya itu Tuhan, bahwa bulan itu Tuhan, bahwa matahari itu Tuhan. Bayangin deh kalo kita ga pernah meragukan sesuatu. Sama kaya monyet yang live happily ever after karena ga pernah meragukan bahwa mereka adalah binatang yang ga perlu berkembang, karena ga pernah meragukan bahwa suatu saat cadangan makanan bakal habis makanya dia ga pernah bertani dan menanam.
Ragu merupakan fitrah manusia, maka ragukanlah segalanya, karena hanya dengan keraguanlah pembaruan bisa muncul, kemajuan bisa didapatkan. Ragukan segalanya, tapi tidak ragukan cinta. Kenapa cinta ga bisa diragukan? Apa istimewanya cinta sampe dia jadi satu-satunya hal yang kebal dari keraguan? Kenapa ga agama aja yang kebal? Kenapa harus cinta?
Karena cinta adalah esensi dasar dari percaya. Cinta itu pilihan eksistensial. Opto ergo sum, aku memilih maka aku ada. Cinta punya matematikanya sendiri, cinta punya statistikanya sendiri, cinta punya bahasanya sendiri, cinta punya logikanya sendiri. Cinta ga butuh alasan. Kalo udah cinta, formulanya bukan “aku cinta kamu karena…bla…bla…bla…” tapi “aku…ba…bi…bu… karena aku cinta”.
Lho, terus kenapa ga percaya (believe) aja yang kebal? Kepercayaan masih menuntut sesuatu yang dipercayanya untuk dapat dipercaya. Kepercayaan bakal luntur seketika ketika yang dipercaya mengecewakan yang mempercayainya itu. Kepercayaan menuntut feedback dari rasa percayanya itu. Maka eksistensi percaya masih layak diragukan.
Cinta itu esensi dasar dari percaya. Cinta ga pernah bermaksud makanya ga nuntut. Mereka yang mencinta karena percaya bahwa cinta itu menjanjikan bahagia harus sering dikecewakan cinta karena mereka masih berpretensi dalam cintanya, mereka menyimpan pamrih dalam mencinta. Mereka mencintai berlandaskan kepercayaan bahwa cinta itu indah dan membahagiakan. Rabi’ah al-Addawiyah pernah berdo’a:
Ya allah, jika aku mencintai-Mu karena takut pada neraka-Mu, maka bakarlah aku di sana selamanya.
Jika aku mencintai-Mu karena mengharap syurga-Mu, maka bakarlah syurga itu untukku.
Ya Allah, cukuplah cintaku padamu yang ada. Tenggelamkanlah aku dalam lautan cinta-Mu.
Memang sedikit manusia yang mampu mencintai sebenar-benar eksistensi cinta itu. Malangnya cinta terlalu sering disederhanakan orang. Tapi memang begitulah cinta maka cinta tak tersentuh keraguan.
Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah sudah benarkah perasaan ini disebut cinta? Dan sudah benarkah kiranya cinta ini disematkan pada-nya? Yah, tinggal pertanyaan itu yang tersisa dari segala masalah percintaan manusia.
Pertama, sudah benarkah perasaan yang berkecamuk dalam batin itu disebut cinta? Ini memang pertanyaan eksistensialis yang sulit dijawab. Karena bagaimanapun, tafsir tentang cinta ada di setiap zaman, ada menyawai susastra, ada memotori penemuan mutakhir santifik, ada menjadi trending topic mereka yang hidup sepenuhnya.
Secara garis besar, tafsir tentang cinta mengerucut menjadi dua aliran besar sepanjang sejarah pengetahuan manusia. Di Sisi Biru ada mereka yang menganggap cinta itu tak lebih dari manifestasi manusia sebagai organisme mekanis yang selalu mengemban misi berkembang biak, melahirkan keturunan yang banyak dan kuat bersaing. Bagi mereka, cinta hanyalah sensasi rasa yang timbul dalam lobus frontal cortex akibat impuls-impuls di daerah tersebut dibanjiri senyawa-senyawa cinta yang diproduksi berlebih karena amigdala terangsang untuk melakukannya. Yah, cinta sekedar sensasi dari endorphin, estrogen, progesterone, dan serotonin.
Di Sisi merah, berdirilah mereka yang menganggap cinta adalah hal yang sangat spiritual. Kehadiran cinta bukan saja dalam misi untuk mengembangbiakkan ketrunan. Cinta merupakan kristalisasi dari segala kesadaran tentang hidup sebagai manusia sepenuhnya. Manusia yang memiliki free will, manusia yang mampu memilih sesuai kehendak kesadaran kemanusiaannya, bukan hanya sebagai mahluk mekanis yang digerakkan oleh gen dan segala kepentingannya. Bagi mereka, cinta merupakan pengalaman ilahiah yang tak terdefinisikan, sepeti saat kita akan mendefinisikan warna tertentu. Apakah bisa kita definisikan warna merah dengan “seberkas sinar yang diterima kornea mata dengan panjang gelombang antara 298 – 309 Hz”? Bagaimanapun kita mendefinisikan warna, dia tetap tak bisa dimengerti kecuali kau melihatnya sendiri, begitu juga cinta. Yang paling penting adalah bahwa sensai senyawa-senyawa tersebut bisa saja muncul walaupun tidak bersamaan dengan munculnya “cinta”.
Yah, penggambaran lebih tentang ini mungkin tak akan menambah pemahaman tentang bagaimana kita tahu suatu rasa itu layak disebut cinta. Baiklah, bagi saya, suatu rasa layak disebut cinta hanya jika dia mendasarkan kebenarannya pada cinta itu sendiri. Bukan pada rupa fisik, perilaku, kondisi eonomi, status social, kepercayaan akan timbulnya “kebahagiaan”, atau hal lain semacamnya. Parameternya sederhana, “yang diinginkan oleh cinta hanyalah mencintai, selebihnya BUKAN”.
Kedua, sudah benarkah kiranya cinta ini disematkan pada-nya? Untuk pertanyaan ini tak akan terlalu sulit jika sudah menyelesaikan pertanyaan pertama. Sebenarnya, hal ini akan sangat tergantung pada kepribadian dan pengetahuan juga kecerdasan pencinta, namun secara filosofis bisa dikayakan “jika masih mempertanyakan hal ini, jelas, itu bukan cinta”.
Di ujung artikel, saya hanya ingin tertawa, menertawakan diri sendiri dan semesta. Cinta seperti itu saya sebut “cinta lembayung senja” karena pencintanya akan tetap tersenyum bagaimana pun dunia jadinya, seperti apa pun derita mengakrabinya. Cinta seperti itu memang bukan konsumsi manusia biasa, tapi sekali datang, akan sulit dia dilawan. Yang ingin saya tekankan adalah, jangan gegabah menyebut “saya jatuh cinta”. Konyol. [bali]

2 komentar:

  1. Mas, tulisanmu bagus. Tapi sayang banget kalo diposting disini dikit banget yang baca. Coba rangkap posting di Kompasiana. Aku juga beralih kesana. dan banyak belajar disana hehehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nduk, masih "i write for myself" nih, hehe

      Hapus