Categories

Selasa, 28 Februari 2012

Menyikapi Pluralitas dengan Pluralism


“Pluralitas OK, pluralism NO!”
Kurang lebih seperti itulah jargon yang sering dikumandangkan ustadz-ustadz meyoritas umat muslim Indonesia. Mereka cenderung menerima pluralitas, entah karena terpaksa atau tidak, sebagai kenyataan yang ada bahwa kita hidup dalam satuan masyarakat yang berlatarbelakang budaya sangat berragam. Hal ini “dianggap” menjadi rahmat dari Tuhan agar manusia saling mengenal.
Berbeda dengan pluralitas, pluralism sang saudara kembar ‘agak’ kurang beruntung. Dia cenderung di-anaktiri-kan. Pluralisme dianggap konsep ngelantur yang membuka kemungknan pembenaran bagi Sang Lain, The Others atau Al Akhor. Pluralism diapandang menyalahi doktrin islam bahwa satu-satunya jalan keselamatan hanyalah Islam. Untuk itu Pluralisme dikutuk, dihujat, diasingkan, dinajiskan hingga mendengarnyapun mereka enggan.

Namun, benarkah pluralism itu bertentangan dengan konsepsi keimanan umat islam? Atukah hanya reaksi emosional da’i-da’i yang gegabah saja? Lalu, seperti apa sejarah mencatat kesuksesan islam menyikapi pluralism? Sejauh mana pluralism sejalan dengan ajaran- ajaran islam? Mari simak argumentasi berikut.
Perfectus dari Cordova
Abad 9 Masehi adalah puncak kejayaan kekhalifahan Islam di Andalusia. Cordova yang merupakan ibukota Negara menjadi kota percontohan peradaban dunia. Segala macam ilmu pengetahuan berkembang pesat di sana. Kemakmuran, perdamaian dan nuansa modern menjadi deskripsi wajib kota ini. Cordova menjelma menjadi etalase encapaian tertinggi umat manusia zaman itu. Jika ada Alien yang mengunjungi Bumi dan ingin mendarat di tempat yang berpenduduk paling maju di dunia, dia pasti akan turun di Cordova.
Di bawah pemerintahan kekhalifahan muslim, penduduk Andalusia hidup rukun dan solid. Perbedaan agama dan latar belakang budaya menjadi perekat kentalnya persaudaraan antar penduduk. Ummat Yahudi yang menjadi buronan pemerintah-pemerintah kristian di seantero Eropa mendapat ruang hidup dan berkembangnya di bawah kekhalifahan. Ummat Yahudi mendapatkan kebangkitan kembali kebudayaannya di sana. Ummat kristian spanyol-pun hidup makmur di sana. Mereka merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat modern yang meninggalkan tetangganya bertahun-tahun cahaya di belakang. Mereka yang kemudian disebut Mozarabs atau Arabizers.

Di tengah kerukunan yang intim dan mesra tersebut, seorang biarawan geraja katolik yang sedang berbelanja didatangi sekelompok orang muslim dan ditanyai: “Apakah Yesus ataukah Muhammad Nabi terbesar sepanjang sejarah?”. Perfectus yang menyadari ada unsur jebakan dalam pertanyaan tersebut menjawab dengan sangat hati-hati. Namun, tiba-tiba dia menhina Muhammad dengan tajam. Dia bilang Muhammad adalah The Great Pretended yang diramalkan Perjanjian Baru akan mendatangi umat beriman dengan perkataan yang rasional dan sulap-sulap murahan untuk membuat kaum beriman menanggalkan keimanan dan kesetiaanya pada Yesus. Untuk itu, dia dijebloskan ke Gaol.
Qadi Kota Cordova yang bijak memaklumi tindakan Perfectus karena ada unsur provokasi dari orang muslim sebelumnya. Di gaol, perfectus kembali menyemburkan tuduhan-tuduhan keras kepada Sang Nabi hingga untuk itu, Qadi terpaksa menjatuhinya hukuman mati.
Gelombang Martir
Eksekusi mati Perfectus dianggap pantas oleh kaum arabizers untuk menjaga kerukunan social, namun menuai respon mengerikan dari kaum fundamentalis Kristen. Tindakan Perfectus dianggap sebagai bukti kuatnya keimanan dan dipuja sebagai martir. Kalangan minoritas ini pun kemudian menjalankan aksi dukungan dengan memotong anggota badan di depan umum sebagai lambang pemujaan atas martir. Dalam satu musim panas tersebut, kekhalifahan Andalusia terpaksa meng-eksekusi 50 martir penikut Perfectus. Mereka sengaja mendatangi Qadi untuk menghina Nabi hingga untuk itu mereka harus dibunuh.
Tindakan ini cukup menggetarkan pemerintahan, namun berlalu begitu saja karena kaum arabizers dan yahudi mendukung penuh tindakan pemerintah yang mengeksekusi mereka yang mencoba mengusik kerukunan di Andalusia. Namun para martir ini memiliki pahlawanya sendiri. Adalah Eulogio dan Paul Alvaro, pendeta katolik yang meninggikan para martir tersebut sebagai “para prajurit Tuhan”. Mereka mengumpulakn serta mempropagandakan hasutan-hasutan moral yang kompleks sarat kebencian terhadap islam. Propaganda keduanya berhasil dan melahirkan new wave, gelobang baru para martir. New Wave ini lebih terrencana dan massive. Para martir berasal dari berbagai kalangan. Laki-laki, perempuan, tokoh agama, pelajar, pengusaha dan anak-anak mendatangi Qadi untuk menunjukkan kesetiaan mereka pada iman Kristianinya. Bergetarlah pemerintahan Andalusia oleh New wave ini. Darah tertumpah sia-sia karena tindakan bodoh kaum fundamental.
Rusaknya Telaga Susu
Hassan al-Banna, Syekh Besar Ikhwanul Muslimin pernah berkata, bekerjasamalah kalian pada hal-hal yang disepakati, dan saling bertoleransilah kalian atas hal-hal yang berbeda. Pesan dalam kalimat tersebut sungguh sangat filosofis dan bijak walaupun tak jarang disalahartikan oleh kader-kader Ikhwanul Muslimin versi Indonesia. Kehidupan masyarakat dalam perbedaan keberagamaan yang sukses dibangun dan dinikmati warga Andalusia harus kotor ternoda darah para martir. Hal setragis ini terjadi karena segelintir orang anggota masyarakat tak tahu bagaimana menyikapi perbedaan. Kaum muslim yang menerima adanya perbedaan dalam masyarakat namun menaruh legitimasi kebenaran hanya mungkin datang dari agamanya tanpa cacat sedikitpun akan bertindak sama seperti provokasi yang pernah dilakukan terhadap Perfectus. Apalagi kaum martir dan para pahlawannya. Mengambil peran sebagai kaum minoritas yang kalah bersaing, mereka selalu memandang islam dengan skeptisme berlebih akan adanya berbagai macam konspirasi penghancuran, tak beda dengan mayoritas muslim saat ini memandang Dunia Barat. Kekanak-kanakan dan membimbing pada kehancuran.
Menerima pluralitas sebagai kenyataan pahit namun aleri pada faham untuk mempertahankan pluralitas sebagaimana adanya hanyalah pseudotolerance, toleransi seakan-akan. Tanpa pengakuan bahwa terbuka juga kemungkinan kebenaran datang dari Sang Lain, toleransi semacam ini sangat rentan. Dengan sedikit saja gesekan, gelombang martir bisa Perfectus bisa saja terjadi kapanpun.
Kerukunan dan kemesraan dalam masyarakat plural tak mungkin bisa diwujudkan tanpa usaha sistematis yang dilandasi pemahaman filosofis dan komprehensif untuk melestarikan pluralitas nilai dalam masyarakat tersebut. Sederhananya, pluralitas yang kental dalam bingkai rahmatan lil alamin tanpa pluralism adalah utopia belaka. Atau mungkin juga pemahaman semacam ini lahir dari kebodohan dan stigma negative yang telah mengakar.
Dengan tegas, Qur’an mengatakan bahwa dunia diciptakan berbeda agar kita bisa saling mengenal, saling mempelajari, saling mengasihi dan saling memahami. Perbedaan adalah rahmat, maka faham untuk mempertahankan rahmat tersebut apapun yang terjadi adalah salah satu amal saleh. Maka pluralism adalah amal saleh yang dicintai Tuhan.
Wallahua’lam[bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar