“Pluralitas
OK, pluralism NO!”
Kurang
lebih seperti itulah jargon yang sering dikumandangkan ustadz-ustadz meyoritas
umat muslim Indonesia. Mereka cenderung menerima pluralitas, entah karena
terpaksa atau tidak, sebagai kenyataan yang ada bahwa kita hidup dalam satuan
masyarakat yang berlatarbelakang budaya sangat berragam. Hal ini “dianggap”
menjadi rahmat dari Tuhan agar manusia saling mengenal.
Berbeda
dengan pluralitas, pluralism sang saudara kembar ‘agak’ kurang beruntung. Dia
cenderung di-anaktiri-kan. Pluralisme dianggap konsep ngelantur yang membuka
kemungknan pembenaran bagi Sang Lain, The Others atau Al Akhor. Pluralism
diapandang menyalahi doktrin islam bahwa satu-satunya jalan keselamatan
hanyalah Islam. Untuk itu Pluralisme dikutuk, dihujat, diasingkan, dinajiskan
hingga mendengarnyapun mereka enggan.
Namun,
benarkah pluralism itu bertentangan dengan konsepsi keimanan umat islam? Atukah
hanya reaksi emosional da’i-da’i yang gegabah saja? Lalu, seperti apa sejarah
mencatat kesuksesan islam menyikapi pluralism? Sejauh mana pluralism sejalan
dengan ajaran- ajaran islam? Mari simak argumentasi berikut.
Perfectus
dari Cordova
Abad 9
Masehi adalah puncak kejayaan kekhalifahan Islam di Andalusia. Cordova yang merupakan
ibukota Negara menjadi kota percontohan peradaban dunia. Segala macam ilmu
pengetahuan berkembang pesat di sana. Kemakmuran, perdamaian dan nuansa modern
menjadi deskripsi wajib kota ini. Cordova menjelma menjadi etalase encapaian
tertinggi umat manusia zaman itu. Jika ada Alien yang mengunjungi Bumi dan
ingin mendarat di tempat yang berpenduduk paling maju di dunia, dia pasti akan
turun di Cordova.
Di bawah
pemerintahan kekhalifahan muslim, penduduk Andalusia hidup rukun dan solid.
Perbedaan agama dan latar belakang budaya menjadi perekat kentalnya
persaudaraan antar penduduk. Ummat Yahudi yang menjadi buronan
pemerintah-pemerintah kristian di seantero Eropa mendapat ruang hidup dan
berkembangnya di bawah kekhalifahan. Ummat Yahudi mendapatkan kebangkitan
kembali kebudayaannya di sana. Ummat kristian spanyol-pun hidup makmur di sana.
Mereka merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat modern yang meninggalkan
tetangganya bertahun-tahun cahaya di belakang. Mereka yang kemudian disebut
Mozarabs atau Arabizers.
Di tengah
kerukunan yang intim dan mesra tersebut, seorang biarawan geraja katolik yang
sedang berbelanja didatangi sekelompok orang muslim dan ditanyai: “Apakah Yesus
ataukah Muhammad Nabi terbesar sepanjang sejarah?”. Perfectus yang menyadari ada
unsur jebakan dalam pertanyaan tersebut menjawab dengan sangat hati-hati.
Namun, tiba-tiba dia menhina Muhammad dengan tajam. Dia bilang Muhammad adalah
The Great Pretended yang diramalkan Perjanjian Baru akan mendatangi umat
beriman dengan perkataan yang rasional dan sulap-sulap murahan untuk membuat
kaum beriman menanggalkan keimanan dan kesetiaanya pada Yesus. Untuk itu, dia
dijebloskan ke Gaol.
Qadi Kota
Cordova yang bijak memaklumi tindakan Perfectus karena ada unsur provokasi dari
orang muslim sebelumnya. Di gaol, perfectus kembali menyemburkan
tuduhan-tuduhan keras kepada Sang Nabi hingga untuk itu, Qadi terpaksa menjatuhinya
hukuman mati.
Gelombang
Martir
Eksekusi mati
Perfectus dianggap pantas oleh kaum arabizers untuk menjaga kerukunan social, namun
menuai respon mengerikan dari kaum fundamentalis Kristen. Tindakan Perfectus
dianggap sebagai bukti kuatnya keimanan dan dipuja sebagai martir. Kalangan
minoritas ini pun kemudian menjalankan aksi dukungan dengan memotong anggota
badan di depan umum sebagai lambang pemujaan atas martir. Dalam satu musim
panas tersebut, kekhalifahan Andalusia terpaksa meng-eksekusi 50 martir penikut
Perfectus. Mereka sengaja mendatangi Qadi untuk menghina Nabi hingga untuk itu
mereka harus dibunuh.
Tindakan
ini cukup menggetarkan pemerintahan, namun berlalu begitu saja karena kaum
arabizers dan yahudi mendukung penuh tindakan pemerintah yang mengeksekusi
mereka yang mencoba mengusik kerukunan di Andalusia. Namun para martir ini
memiliki pahlawanya sendiri. Adalah Eulogio dan Paul Alvaro, pendeta katolik
yang meninggikan para martir tersebut sebagai “para prajurit Tuhan”. Mereka
mengumpulakn serta mempropagandakan hasutan-hasutan moral yang kompleks sarat
kebencian terhadap islam. Propaganda keduanya berhasil dan melahirkan new wave,
gelobang baru para martir. New Wave ini lebih terrencana dan massive. Para
martir berasal dari berbagai kalangan. Laki-laki, perempuan, tokoh agama,
pelajar, pengusaha dan anak-anak mendatangi Qadi untuk menunjukkan kesetiaan
mereka pada iman Kristianinya. Bergetarlah pemerintahan Andalusia oleh New wave
ini. Darah tertumpah sia-sia karena tindakan bodoh kaum fundamental.
Rusaknya
Telaga Susu
Hassan al-Banna, Syekh Besar
Ikhwanul Muslimin pernah berkata, bekerjasamalah kalian pada hal-hal yang
disepakati, dan saling bertoleransilah kalian atas hal-hal yang berbeda. Pesan
dalam kalimat tersebut sungguh sangat filosofis dan bijak walaupun tak jarang
disalahartikan oleh kader-kader Ikhwanul Muslimin versi Indonesia. Kehidupan
masyarakat dalam perbedaan keberagamaan yang sukses dibangun dan dinikmati
warga Andalusia harus kotor ternoda darah para martir. Hal setragis ini terjadi
karena segelintir orang anggota masyarakat tak tahu bagaimana menyikapi
perbedaan. Kaum muslim yang menerima adanya perbedaan dalam masyarakat namun
menaruh legitimasi kebenaran hanya mungkin datang dari agamanya tanpa cacat
sedikitpun akan bertindak sama seperti provokasi yang pernah dilakukan terhadap
Perfectus. Apalagi kaum martir dan para pahlawannya. Mengambil peran sebagai
kaum minoritas yang kalah bersaing, mereka selalu memandang islam dengan
skeptisme berlebih akan adanya berbagai macam konspirasi penghancuran, tak beda
dengan mayoritas muslim saat ini memandang Dunia Barat. Kekanak-kanakan dan
membimbing pada kehancuran.
Menerima
pluralitas sebagai kenyataan pahit namun aleri pada faham untuk mempertahankan
pluralitas sebagaimana adanya hanyalah pseudotolerance,
toleransi seakan-akan. Tanpa pengakuan bahwa terbuka juga kemungkinan kebenaran
datang dari Sang Lain, toleransi semacam ini sangat rentan. Dengan sedikit saja
gesekan, gelombang martir bisa Perfectus bisa saja terjadi kapanpun.
Kerukunan
dan kemesraan dalam masyarakat plural tak mungkin bisa diwujudkan tanpa usaha
sistematis yang dilandasi pemahaman filosofis dan komprehensif untuk
melestarikan pluralitas nilai dalam masyarakat tersebut. Sederhananya,
pluralitas yang kental dalam bingkai rahmatan lil alamin tanpa pluralism adalah
utopia belaka. Atau mungkin juga pemahaman semacam ini lahir dari kebodohan dan
stigma negative yang telah mengakar.
Dengan
tegas, Qur’an mengatakan bahwa dunia diciptakan berbeda agar kita bisa saling
mengenal, saling mempelajari, saling mengasihi dan saling memahami. Perbedaan
adalah rahmat, maka faham untuk mempertahankan rahmat tersebut apapun yang
terjadi adalah salah satu amal saleh. Maka pluralism adalah amal saleh yang
dicintai Tuhan.
Wallahua’lam[bali]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar