Kuasa Gen.
Kehidupan ini lahir, tumbuh, berkembang, memuncak lalu meredup dan mati. Begitu juga dengan manusia. Dia terlahir, tumbuh, berkembang, memerintah alam dan mati. Segala pencapaian peradaban manusia adalah akumulasi darisegala yang dilakukan seluruh manusia ketika berada dalam fase “memerintah alam” sebelum dia mati. Dalam fase itu, manusia bebas mempersepsikan alam sesuai pemahamannya. Borobudur dibangun oleh tiga generasi pemerintahan Wangsa Syailendra, ajaran Budha lahir ketika Sidharta Gautama mulai mempertanyakan esensi kehidupan, Islam lahir setelah Muhammad merefleksikan kehidupan dan mencari tatanan masyarakat ideal, konsepsi dasar fisika-pun lahir ketika Isaac Newton menggugat sebab dari segala kejadian, begitu juga dengan jutaan ide yang mampu merubah dunia. Semuanya merupakan akumulasi pencapaian manusia ketiaka berada dalam fase “memerintah alam”
Manusia menemukan konsepsi spiritual ketika berangkat mencari kedamaian sejati, manusia menemukan konsepsi ilmu pengetahuan ketika berangkat mencari kepastian alam. Bahkan yang paling ilmiah terkadang sangat spiritualistis dan yang sangat spiritualistis terkadang begitu ilmiah. Keduanya berpilin menciptakan peradaban manusia.
Baik itu spiritualitas ataupun hasrat ilmiah sama-sama berpusat pada satu entitas kecil yang tak nampak: otak. Kepedulian, keingintahuan, kesakitan, ketenangan, kepuasan, kasih, sayang, bahkan cinta adalah reaksi otak akan input informasi dari indra manusia dan palung-palung memori yang tersimpan terlebih dahulu di otak. Semua rasa itu, bahkan seluruh jenis rasa yang pernah maupun belum dirasakan manusia, hanyalah reaksi neurocelluler yang ditimbulkan senyawa-senyawa otak akibat kedua input informasi itu. Dan celakanya, semua rasa itu adalah penggerak utama dan satu-satunya segala perkembangan manusia.
Respon negative otak kita merupakan alarm peringatan bahwa informasi yang masuk berpotensi menjadi ancaman bagi kehidupan kita, begitu juga dengan respon positifnya. Bukan kebetulan kalau otak memberikan reaksi kepuasan setelah kita makan, minum, bersetubuh, menyayangi anak, membantu sesama dan kegiatan lain yang menunjang keberlangsungan kehidupan manusia, menunjang keberhasilan gen untuk berkembangbiak dan mencari inang yang lebih kuat. Juga bukan kebetulan kalau terluka, dihianati, ditinggalkan, ditolak, diasingkan, ditindas dan kegiatan lain yang mengancam keberlangsungan hidup kita, mengancam keberhasilan gen untuk berkembangbiak dan mendapatkan inang yang lebih kuat, terasa sakit, otak berreaksi negative. Darisinilah segalanya bermula. Segala upaya pencarian kebahagiaan dan segala upaya penghindaran kesakitan itu.
Secara sederhana, jika seorang ayah dan ibu begitu mencintai anaknya hingga ke sumsum tulangnya, tapi kebanyakan anak tak begitu dahsyat cintanya kepada oranguanya, itu wajar. Orangtua menyayangi anak-anaknya begitugila karena untuk itulah dia hidup, untuk mengembangbiakkan gen-gennya sebanyak-banyaknya, lalu memastikan mereka dapat survive menghadapi dunia yang kejam. Sedangkan seorang anak? Pendorongnya untuk berkasih-sayang dengan orangtuanya hanyalah meori-memori masa lalu yang terkristal dalam seonggok rasa terimakasih dalam otaknya serta secuil alturisme yang juga dalam otaknya. Tak ada kepentingan lain.
Atau, lebih sederhananya, saat anda melihat dan tertarik kepada lawan jenis anda. Gen-gen anda menginginkan agar anda tertarik kepada mereka yang memiliki gen unggulan serta mampu melahirkan gen-gen yang lebih unggul lalu mampu bersama-sama membesarkannya. Inilah mengapa anda akan cenderung menghindari calon pasangan yang kurang tampan, kurang cantik, kurang sexy, kurang subur, kurang cerdas, kurang kuat, kurang memahami anda, dan segala kekurangan lainnya. Ini juga yang mendorong anda mencari kualitas-kualitas yang diinginkan gen anda dengan ciri-ciri kesuburan, ketampanan, kecantikan, ke-sexy-an, kemapanan, kekuatan, keterampilan, kecerdasan, kesetiaan dan kualitas-kualitas lain yang mencolok.
Gen jugalah yang memaksa anda termuntah-muntah belajar di universitas hanya agar dapat hidup berkecukupan dan melakukan segala upaya tak ringan lainnya dengan motivasi yang sama. Gen tidak mengizinkan anda berdiam diri tanpa perkembangan. Dari itu, segala pencapaian ini hanyalah buah perintah Gen yang maha kuasa.
Maka peradaban hanya simulacrum.
Yah, kodifikasi segala mekanisme alam dalam rumus-rumus yang mampu diterjemahkan otakkita, lalu penggunaannya sesuai kebutuhan kita yang mewujud telepon, motor, mobil, energy, dan lain-lain, pembangunan monument-monumen bersejarah mulai dari piramida, candi-candi, kuil-kuil, menara-menara, gelanggang dan gedung-gedung hanyalah pemenuh hasrat yang terinstal kuat dalam otak, hasrat hasil terjemahan kepentingan gen.
Segala ide-ide spiritual, positivism, sosialisme, kapitalisme, individualism, liberalism, materialism bahkan nihilism itu sendiri adalah produk jadi dari otak yang sama, hasil terjemahan kepentingan gen.
Sudah waktunya kita sadar saat ini, peradaban manusia hanyalah simulacrum. Yang nyata adalah kepentingan gen, yang abadi adalah rantai-rantai makanan itu, yang konstan adalah reaksi da transformasi tersebut, yang selalu ekuilibrium adalah ekosistem. Sekali lagi kupertegas: maka peradaban hanyalah sebuah simulacrum.
Paradoks Genetik.
Abad 18, di daratan eropa dikenal paham darwinisme social. Saat itu, teori evolusi tentang persaingan, adaptasi, seleksi alam, dan prinsip survival of the fittest sedang populer-populernya di kalangan intelektual eropa. Dalam kehidupan social politik, penemuan biologis ini menjadi landasan sebuah pemahaman bahwa sebagai spesies, manusiapun memiliki hukum yang sama: persaingan, adaptasi, seleksi alam dan prinsip survival of the fittest.
![]() |
| Add caption |
Pemahaman ini menjadi landasan epistemologis yang sah bagi orang-orang eropa untuk memandang rendah mereka yang kurang berhasil beradaptasi. Inilah lem perekat kerikil-kerikil fondasi kapitalisme murni. Selain menguatkan kapitalisme yang kemudian melahirkan komunisme sebagai anak haramnya, pemahaman ini juga kokoh memperkuat fondasi epistemologis gerakan colonial dan gerakan fasis Mussolini dan Hitler pada abad berikutnya.
Hitler memandang bahwa ras jerman, Arya, merupakan ras unggulan yang harusnya memerintah dunia, ras yahudi merupakan ancaman pesaing terbesar dan ras-ras selebihnya ditakdirkan untuk menjadi bangsa pelayan yang harus dieksploitas demi melayani ras tuannya. Di bawan bendera Nazi, Hitlerpun menerjemahkan survival of the fittest dengan perang dunia ke II, perang terbesar sepanjang sejarah dunia serta genocide terakbar terhadap bangsa yahudi.
Tak hanya Hilter di Jerman, Mussolini di Italia dan Hirohito di Jepang, pemahaman terhadap kenyataan genetic memang selalu memiliki dua sisi yang kedua sisinya dinyatakan benar secara epistemologi. Paradoks.
Sisi pertama adalah seperti yang dipraktikkan Hitler dkk. Meninggikan spesies terntentu yang superior di atas spesies lainnya yang inferior lalu menghancurkan apapun yang berpotensi mengancam superioritasnya. Tak hanya hitler, secara sadar ataupun tidak, secara alami, kitapun sering melakukannya.
Sisi kedua adalah memandang bahwa lebih dan kurang adalah rectoverso yang akan cacat ketika salah satunya tidak ada. Sisi ini adalah harmoni. Sadar akan kekuasaan mutlak Gen, namun menghargai consciousness dan awareness kita akan itu dengan tidak berperilaku semata-mata sebagai inang tempat gen membiak. Inilah lompatan kuantum.
Lompatan kuantum.
Ide dasar lari lompatan kuantum adalah kepercayaan bahwa ada tujuan lebih besar dari segala kenyataan.
Sebagaimana ekosistem alam. Okeh, kita percaya bahwa Gen mengendalikan kita dengan segala digdayaannya mengarungi seleksi dunia dengan adaptasi (evolusi dan koevolusi), kemampuan merubah konteks hidup untuk menyesuaikan dengan perkembangan habitat. Tapi, pernahkan terlintas pertanyaan tentang untuk apa mahluk hidup berevolusi hingga melahirkan cyanobacteria yang memenuhi biosfer dengan oksigen, polutan mematikan mahluk hidup saat itu? Atau setelah kehidupan dengan oksigen, mengapa evolusi kembali melahirkan mahluk perusak? Manusia. Mungkin Dia akan berkata: Aku lebih tahu apa yang kalian tidak tahu. Tapi saya hidup dengan persepsi saya sendiri, saya lebih suka menjawabnya dengan: ada tugas yang harus dikerjakan spesies mahluk hidup daripada sekedar menjadi inang tempat Gen laknat membiak. Total existence, human being totally!.
Inilah lompatan kuantum yang hanya bisa dilakukan manusia yang sadar dan berkesadaran. Walaupun segala gerak langkah dan sensasi hidup kita mutlak dikendalikan Gen, mutasi dan adaptasi gen berkat evolusi dan koevolusi yangpanjang dan tak mudah telah berhasil pada mahluk cerdas yang bahkan bisa mempelajari Gen itu sendiri, bahkan merekayasanya. Bahkan Gen ingin ada titik dimana dia dipikirkan, diamati, dipelajari dan direkayasa. Ini bukan tanpa maksud. Dia, entitas tanpa sekat dan batas, di luar segala macam dimensi, Dia yang ada sebelum waktu dan hadir sebelum ruang itu kembali berkata: Aku lebih tahu dari segala yang kamu tahu. Ah, entitas itu memang ADA.[bali]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar