Categories

Selasa, 28 Februari 2012

Di Sekitar Inferioritas Umat Islam


Mungkin ucapan Nabi 14 abad yang lalu sedang terbukti. Umat Islam telah mencapai suatu keadaan dimana jumlahnya sangat banyak namun mereka bagaikan buih di tepi laut. Hanya muncul menyertai ombak untuk menunjukkan bahwa ombak itu kuat lalu hilang tak berbekas. Umat islam mengagumkan secara kuantitas namun tergagap-gagap ketika diminta membuktikan kualitasnya. Umat islam memenuhi permukaan bumi ini dengan terus beranak-pinak di atasnya tanpa mampu banyak memberi kontribusi berarti untuk menyumbang pada lingkungan dan kemanusiaan.

Umat islam kini seakan menjadi suku primitive sebuah kawasan yang terisolasi dari dunia luar. Satu-satunya komunikasi yang terjadi dengan dunia modern adalah ketika masyarakat dunia modern meneliti islam dan ummatnya sebagai bahan kajian ilmiah. Persis seperti Reporter National Geographic Channel yang datang mengunjungi komunitas suku primitive tertentu di pelosok afrika hanya untuk mempelajarinya. Bedanya, suku primitive tak pernah terfikirkan untuk menghina mereka yang datang untuk observasi namun umat islam tak pernah berhenti mengatai mereka adalah kaum kafir yang coba menghancurkan islam dengan propaganda-propaganda terstruktur dan ummat islam yang tak sependapat dengan mindstrem ini dianggap antek kaum kafir tersebut.
Sambil mengutuk, mereka tenggelam dalam nostalgia kejayaan masa lalu pada zaman keemasan islam dimana posisi kaum “kafir” tak jauh berbeda dengan posisi umat islam saat ini. Dekadensi sustainable terus menggempur islam tanpa kompromi. Dunia islam yang menjadi corong peradaban tertinggi dunia di abad pertengahan kini terpuruk lesu seakan tanpa jiwa progresif, ia kehilangan hasrat hidupnya. 

Stagnasi mengakar dan anti restorasi
Keadaan krisis mutidimensi ini sudah seperti lingkaran setan yang umat islam hampir tak mungkin untuk keluar darinya. Bahkan kini, stereotype umat islam di mata dunia cenderung negative. Keadaan ini tentunya akumulasi dari buah pilihan-pilihan umat islam sendiri. Pilihan umat islam memaknai kebertuhanannya, pilihan umat islam menyikapi ilmu pengetahuan, menyikapi perkembangan social politik dunia, pilihan umat islam memandang keislamannya. Naasnya, banyak dari umat islam yang memandang ini semata-mata akibat dari runtuhnya kekhalifahan Turki Ottoman dalam perang dunia I tahun 1928, lalu melimpahkan solusi semua hal dalam satu rumusan sederhana: serahkan semuanya pada syaria’at. Bahkan syari’at islam tak dibiarkannya untuk berkembang bersama denyut nadi peradaban manusia. Satu bentuk kemalasan berfikir dengan menyerahkan semua masalah kepada “Hukum Tuhan”.
Entah sudah berapa abad di pesantren-pesantren membicarakan toharoh dengan satu pendapat yang sama, satu cara yang sama, dan satu kegagalan yang sama. Atau, berapa ribu kali di majelis-majelis ta’lim muncul pertanyaan tentang haram atau halalnya suatu hal. Juga berapa banyak malam-malam yang dihabiskan hanya untuk konvoi keliling kota dengan sarung, peci dan jaket yang khas hanya untuk menghadiri suatu pengajian yang materinya dengan mudah bisa ditebak, bahkan dengan lengkap, materi pengajian tersebut sudah tersedia di buku-buku ceramah murahan di inggir-pinggir jalan. Bahkan tak jarang, forum pengajiannya itu ditunggangi untuk kepentingan politik tertentu. Entah harus berapa abad lagi umat menghabiskan waktunya dengan cara yang tak berbeda, dari generasi ke generasi. Jika keledai tak mungkin jatuh di satu lubang dua kali, maka entah sudah ribuan kali umat islam jatuh tersungkur di lubang yang samasekali sama.
Stagnasi. Satu kata yang saya rasa cukup lengkap untuk menggambarkan wajah islam sekarang. Akibat sudah terbiasa melarikan masalah pada nostalgia masa lalu yang indah di zaman Rasul, umat islam kini tak mengerti bagaimana menyikapi pembaruan. Saya cenderung sepakat dengan Ulil Abshar yang menempatkan islam sebagai organism progresif, bukan berhala suci yang diturunkan Tuhan, paket lengkap dengan pilihan sederhana: take it, or leave it! Islam bukan sebuah monument mati yang dipahat pada abad ke – 7 Masehi lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.
Seperti Jepang yang maju bertumpu pada Restorasi Meiji, islam juga akan maju dengan restorasi-restorasi tauhidnya. Sudah saatnya umat islam bangkit dari kebekuan. Sudah saatnya umat islam tak canggung menangani restorasinya sendiri. Sudah saatnya untuk ikut berkiprah di panggung kemajuan dunia, bukan hanya lari dari kenyataan dan bahagia dengan ahirat sebagai gantinya.

Agar islam tak ditinggalkan
Ibnu Rusyd (Averroes)
yang orang Eropa sulit menerima bahwa dia seorang
Muslim
Saya sangat optimis memandangi peningkatan yang signifikan dan dramatis pada grafik partisipasi umat islam untuk kemajuan peradaban dunia. Di abad pertengahan, ada Ibnu Rusyd (Averroes) yang menjadi satu-satunya jembatan penghubung peradaban eropa dengan fondasi kemajuannya: filsafat yunani kuno. Kita juga punya Al Kindi, Al Farabi, Al Jabbar, Avvicena, Ibnu ‘Arabi, Ibnu Khaldun dan ratusan nama lain yang menjadi innovator-innovator handal penopang utama kemajuan peradaban dunia saat itu. Setelah lama tak terlihat, kini kita mulai optimis melihat progresifitas kemajuan islam di amerika, afganistan, turki, india, mesir dan aljazair. Saya optimistis menyaksikan bagaimana Arabic Spring mengetarkan sendi-sendi dunia. Saya merinding menyaksikan islam sedang bermetamorfosis dengan begitu dramatis.

Ironisnya, di sekitar kemajuan yang mulai menerbitkan remah-remah cahaya harapan, masih banyak umat islam yang lebih nyaman berada dalam kegelapan. Di tengah pesatnya perkembangan, mereka memilih teralienasi dengan menutup diri sambil sesekali mengutuk-ngutuk sana-sini.
Sepuluh tahun yang lalu, teatnya pada tanggal 18 November 2002, Kompas pernah menerbitkan satu artikel dari Ulil Abshar Abdalla yang segera saja menjadi kontroversi besar di kalangan umat islam Indonesia. Dalam artikel tersebut, beliau mengajukan beberapa poin solusi agar umat islam kembali mendapatkan fitrahnya. Agar islam tak menjadi fosil purba dan dimuseumkan, ada beberapa solusi yang harus dijalankan terlebih dahulu.
Pertama, restorasi penafsiran islam. Islam butuh penafsiran yang non literal, substalsial, kontekstual dan seirama dengan denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan akan terus berubah. Islam harus dinamis dan menjadi progresif.
Kedua, rekonstruksi keberislaman. Islam butuh penafsiran yang mampu membedakan mana unsur-unsur budaya setempat dan mana nilai fundamental islam dalam kehidupan keberagamaan kita.
Ketiga, integrasi umat manusia. Umat islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” yang terpisah dari golongan lain. Seluruh umat manusia adalah keluarga universal yang disatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Tidak ada muslim dan kafir dalam kemanusiaan.
Keempat, restrukturisasi sosial. Kita butuh struktur social yang jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Jika legitimasi politik sudah cukup untuk berkuasa, apalagi kalau ditambah legitimasi agama, kekuasaannya akan mutlak tak  tersentuh kritik. Seorang filsuf politik pernah berkata the power attend to corrupt, absolutely power attend to corrupt absolutely.
Kembali menggapai fitrah
Inilah saatnya bagi kita untuk kembali mempertanyakan konsep keberislaman kita. Inilah saatnya bagi kita untuk ikut pasang dan surut bersama zaman, menjadi ujung tombang kemajuan peradaban manusia demi terwujudnya “Kerajaan Tuhan” di bumi kita tercinta ini.
Wallahua’lam.[bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar