Mungkin ucapan Nabi 14 abad yang lalu sedang terbukti. Umat Islam telah
mencapai suatu keadaan dimana jumlahnya sangat banyak namun mereka bagaikan
buih di tepi laut. Hanya muncul menyertai ombak untuk menunjukkan bahwa ombak
itu kuat lalu hilang tak berbekas. Umat islam mengagumkan secara kuantitas
namun tergagap-gagap ketika diminta membuktikan kualitasnya. Umat islam
memenuhi permukaan bumi ini dengan terus beranak-pinak di atasnya tanpa mampu
banyak memberi kontribusi berarti untuk menyumbang pada lingkungan dan
kemanusiaan.
Umat islam kini seakan menjadi suku primitive sebuah kawasan yang
terisolasi dari dunia luar. Satu-satunya komunikasi yang terjadi dengan dunia
modern adalah ketika masyarakat dunia modern meneliti islam dan ummatnya
sebagai bahan kajian ilmiah. Persis seperti Reporter National Geographic
Channel yang datang mengunjungi komunitas suku primitive tertentu di pelosok
afrika hanya untuk mempelajarinya. Bedanya, suku primitive tak pernah
terfikirkan untuk menghina mereka yang datang untuk observasi namun umat islam
tak pernah berhenti mengatai mereka adalah kaum kafir yang coba menghancurkan
islam dengan propaganda-propaganda terstruktur dan ummat islam yang tak
sependapat dengan mindstrem ini dianggap antek kaum kafir tersebut.
Sambil mengutuk, mereka tenggelam dalam nostalgia kejayaan masa lalu pada
zaman keemasan islam dimana posisi kaum “kafir” tak jauh berbeda dengan posisi
umat islam saat ini. Dekadensi sustainable terus menggempur islam tanpa kompromi.
Dunia islam yang menjadi corong peradaban tertinggi dunia di abad pertengahan
kini terpuruk lesu seakan tanpa jiwa progresif, ia kehilangan hasrat
hidupnya.
Stagnasi
mengakar dan anti restorasi
Keadaan krisis mutidimensi ini sudah seperti lingkaran setan yang umat
islam hampir tak mungkin untuk keluar darinya. Bahkan kini, stereotype umat
islam di mata dunia cenderung negative. Keadaan ini tentunya akumulasi dari
buah pilihan-pilihan umat islam sendiri. Pilihan umat islam memaknai
kebertuhanannya, pilihan umat islam menyikapi ilmu pengetahuan, menyikapi
perkembangan social politik dunia, pilihan umat islam memandang keislamannya.
Naasnya, banyak dari umat islam yang memandang ini semata-mata akibat dari
runtuhnya kekhalifahan Turki Ottoman dalam perang dunia I tahun 1928, lalu
melimpahkan solusi semua hal dalam satu rumusan sederhana: serahkan semuanya
pada syaria’at. Bahkan syari’at islam tak dibiarkannya untuk berkembang bersama
denyut nadi peradaban manusia. Satu bentuk kemalasan berfikir dengan menyerahkan
semua masalah kepada “Hukum Tuhan”.
Entah sudah berapa abad di pesantren-pesantren membicarakan toharoh
dengan satu pendapat yang sama, satu cara yang sama, dan satu kegagalan yang
sama. Atau, berapa ribu kali di majelis-majelis ta’lim muncul pertanyaan
tentang haram atau halalnya suatu hal. Juga berapa banyak malam-malam yang
dihabiskan hanya untuk konvoi keliling kota dengan sarung, peci dan jaket yang
khas hanya untuk menghadiri suatu pengajian yang materinya dengan mudah bisa
ditebak, bahkan dengan lengkap, materi pengajian tersebut sudah tersedia di
buku-buku ceramah murahan di inggir-pinggir jalan. Bahkan tak jarang, forum
pengajiannya itu ditunggangi untuk kepentingan politik tertentu. Entah harus
berapa abad lagi umat menghabiskan waktunya dengan cara yang tak berbeda, dari
generasi ke generasi. Jika keledai tak mungkin jatuh di satu lubang dua kali,
maka entah sudah ribuan kali umat islam jatuh tersungkur di lubang yang
samasekali sama.
Stagnasi. Satu kata yang saya rasa cukup lengkap untuk menggambarkan
wajah islam sekarang. Akibat sudah terbiasa melarikan masalah pada nostalgia
masa lalu yang indah di zaman Rasul, umat islam kini tak mengerti bagaimana
menyikapi pembaruan. Saya cenderung sepakat dengan Ulil Abshar yang menempatkan
islam sebagai organism progresif, bukan berhala suci yang diturunkan Tuhan,
paket lengkap dengan pilihan sederhana: take
it, or leave it! Islam bukan sebuah monument mati yang dipahat pada abad ke
– 7 Masehi lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan
sejarah.
Seperti Jepang yang maju bertumpu pada Restorasi Meiji, islam juga akan
maju dengan restorasi-restorasi tauhidnya. Sudah saatnya umat islam bangkit
dari kebekuan. Sudah saatnya umat islam tak canggung menangani restorasinya
sendiri. Sudah saatnya untuk ikut berkiprah di panggung kemajuan dunia, bukan
hanya lari dari kenyataan dan bahagia dengan ahirat sebagai gantinya.
Agar islam
tak ditinggalkan
![]() |
| Ibnu Rusyd (Averroes) yang orang Eropa sulit menerima bahwa dia seorang Muslim |
Saya sangat optimis memandangi peningkatan yang signifikan dan dramatis
pada grafik partisipasi umat islam untuk kemajuan peradaban dunia. Di abad
pertengahan, ada Ibnu Rusyd (Averroes) yang menjadi satu-satunya jembatan
penghubung peradaban eropa dengan fondasi kemajuannya: filsafat yunani kuno.
Kita juga punya Al Kindi, Al Farabi, Al Jabbar, Avvicena, Ibnu ‘Arabi, Ibnu
Khaldun dan ratusan nama lain yang menjadi innovator-innovator handal penopang
utama kemajuan peradaban dunia saat itu. Setelah lama tak terlihat, kini kita
mulai optimis melihat progresifitas kemajuan islam di amerika, afganistan,
turki, india, mesir dan aljazair. Saya optimistis menyaksikan bagaimana Arabic
Spring mengetarkan sendi-sendi dunia. Saya merinding menyaksikan islam sedang
bermetamorfosis dengan begitu dramatis.
Ironisnya, di sekitar kemajuan yang mulai menerbitkan remah-remah cahaya
harapan, masih banyak umat islam yang lebih nyaman berada dalam kegelapan. Di
tengah pesatnya perkembangan, mereka memilih teralienasi dengan menutup diri
sambil sesekali mengutuk-ngutuk sana-sini.
Sepuluh tahun yang lalu, teatnya pada tanggal 18 November 2002, Kompas
pernah menerbitkan satu artikel dari Ulil Abshar Abdalla yang segera saja
menjadi kontroversi besar di kalangan umat islam Indonesia. Dalam artikel
tersebut, beliau mengajukan beberapa poin solusi agar umat islam kembali mendapatkan
fitrahnya. Agar islam tak menjadi fosil purba dan dimuseumkan, ada beberapa
solusi yang harus dijalankan terlebih dahulu.
Pertama, restorasi
penafsiran islam. Islam butuh penafsiran yang non literal, substalsial,
kontekstual dan seirama dengan denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan
akan terus berubah. Islam harus dinamis dan menjadi progresif.
Kedua,
rekonstruksi keberislaman. Islam butuh penafsiran yang mampu membedakan mana
unsur-unsur budaya setempat dan mana nilai fundamental islam dalam kehidupan
keberagamaan kita.
Ketiga, integrasi
umat manusia. Umat islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat”
yang terpisah dari golongan lain. Seluruh umat manusia adalah keluarga
universal yang disatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Tidak ada muslim dan
kafir dalam kemanusiaan.
Keempat,
restrukturisasi sosial. Kita butuh struktur social yang jelas memisahkan mana
kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Jika legitimasi politik sudah cukup
untuk berkuasa, apalagi kalau ditambah legitimasi agama, kekuasaannya akan
mutlak tak tersentuh kritik. Seorang
filsuf politik pernah berkata the power attend to corrupt, absolutely power
attend to corrupt absolutely.
Kembali
menggapai fitrah
Inilah saatnya bagi kita untuk kembali mempertanyakan konsep keberislaman
kita. Inilah saatnya bagi kita untuk ikut pasang dan surut bersama zaman,
menjadi ujung tombang kemajuan peradaban manusia demi terwujudnya “Kerajaan
Tuhan” di bumi kita tercinta ini.
Wallahua’lam.[bali]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar