
Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini pun tak cukup untuk membelinya.
Dewi ‘Dee’ Lestari (Penulis: Perahu Kertas)
Itulah ungakapan yang dicetuskan Dewi ketika Keenan, tokoh utamanya dalam novel Perahu Kertas, mengalami krisis kepercayaan. Saat itu, dunia seakan mengatakan tidak dan hanya menyisakan negasi kehidupan baginya. Yang terlihat hanya pahit, gelap, getir, perih dan duka nestapa baginya karena kehilangan kepercayaan akan hal yang paling dipercayainya secara spontan.
Sebagai kader muslim, tentunya kita sadar sepenuhnya kita telah menetapkan dalam hati bahwa kita meyakini sedalam-dalamnya keberadaan Allah sebagai Rabb dan kebenaran bahwa Muhammad sebagai Rasul-Nya yang memberitakan berita tentang makna hidup kita yang sebenar-benarnya dan bagaimana kita harus menjalaninya. Makna kesadaran ini untuk meyakini tentunya sangat fundamental, meresap dalam setiap aspek kehidupan dan menjadi patokan utama kehidupan yang multidimensi. Kesadaran inilah yang menjadi identitas kita dalam menghadapi tantangan zaman ini. Kesadaran bahwa kita adalah mahluk dengan kebutuhan utama yakni: kepercayaan.[1]
Sebagaimana Arnold Toynbee mencium kekurangan yang begitu tajam dari modernitas barat, begitu juga yang terjadi pada Cak Nur. Dengan lihai, beliau menyatakan bahwa jika memang manusia tak bahagia dengan materialism dari modernitas, maka mungkin itu bukan habitat mereka. Maka dari itu, mengarungi zaman modern tentunya harus tetap dalam habitat kita, manusia, yang memiliki kebutuhan utama: bahagia, dan kebahagiaan sejati hanya akan didapat dari kepercayaan yang mendalam.
Menurut Cak Nur, repretsentasi Tuhan yang pasti kasar dan palsu itulah sumber politeisme. Sebab mendasari setiap tuntutan kepada konsep ketuhanan yang bisa merepresentasi Tuhan adalah ketidaksabaran orang akan kenisbian diri dan kemampuannya. Dengan kata lain, tuntutan untuk merepresentasikan Tuhan timbul hanya karena orang memahami Tuhan sebagai nisbi, tanpa disadari.
Berdasarkan itu, maka iman tidak akan hilang oleh modernitas. Malah iman yang benar, yang bebas dan murni dari setiap bentuk representasi, seperti dicerminkan dalam ikonoklastik-anti gambar representasi objek-objek suci seperti Tuhan, malaikat, nabi dll-dalam agama Islam dan Yahudi, akan lebih mendapat dukungan manusia modern. Sebab dengan iman yang murni ia tetap memiliki pegangan hidup, dan bersama dengan itu sekaligus membebaskan diri dari belenggu takhayyul dan supersitisi. Dan jika dalam Kitab Suci seruan iman kepada manusia selalu disertai anjuran, dorongan, atau perintah menggunakan akal, maka sebenarnya modernitas akan dapat menjadi batu sandungan penguji kebenaran seruan suci tersebut. Dan jika kita mampu mengungkapkan dengan nalar makna meluas dan mendalam simpul-simpul nilai keagamaan seperti iman, islam, ihsan, tauhid, ikhlas, tawakkal, inabah, syukur, tasbih, tahmid, dll, maka mungkin kita akan banyak menemukan jawaban alami (fitri) untuk berbagai berbagai persoalan hidup kita, khususnya kehidupan modern yang cenderung individualistis dan atomis (depersonalized) ini.[2]
Seperti yang diungkapkan Cak Nur dalam Latar belakang Perumusan NDP HMI[3] mengungkapkan bahwa nilai-nilai memang tak dapat dirubah (e.g. tauhid), namun pengungkapan dan tekanan pada implikasinya akan dan harus terus berubah sepanjang zaman. Karena tauhidpun sepanjang sejarah wujudnya sama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi, tekanan implikasinya itu berubah-ubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar