Categories

Senin, 27 Juni 2011

Menangkap Dinamika Zaman



Tidak ada pengganti bagi pengetahuan yang akurat. Jadi, ketahuilah dirimu sendiri, ketahuilah bisnismu, dan ketahuilah orang-orangmu.
Lee Lacoca (mantan CEO Chrysler)
Menurut Karl Mannheim[1] pengetahuan sebagai produk pemikiran seorang atau sekelompok orang dapat diteliti secara ilmiah dengan menggambarkan relasi antara pengetahuan dan kondisi sosial yang ada.Teori ini merupakan teori yang dapat diinveriskan. Dengan kata lain, kita juga bisa mengetahui keadaan sosial suatu zaman dengan merelasikannya dengan buah-buah pikiran tokoh zamannya.
Hal ini mutlak berlaku karena bagaimanapun, setiap pemikir dan pelaku kehidupan adalah anak kandung zamannya.Konstruksi sosial dan konsumsi intelektualnyalah yang ahirnya membentuk bangunan pemikirannya.Seperti kata Marx tentang teori materialism sejarahnya bahwa keadaan sosial seseoranglah yang menentukan identitas dirinya.[2]
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa keadaan suatu zaman bagaikan dua sisi mata uang dengan produk-produk intelektual para pemikirnya serta kejadian-kejadian besar yang terjadi pada zaman tersebut.Untuk itu, sebelum kita berbicara tentang zaman kita, alangkah baiknya jika memulainya dengan merujuk pada pandangan-pandangan terkemuka para intelektual yang dikemukakan pada zaman kita ini.selain merujuk pada pandangan-pandangan intelektual yang tentu saja berada dalam tataran ide, kita juga perlu memandang zaman melalui peristiwa-peristiwa besar yang terjadi secara actual, obyektif dan komprehensif.
a. Dari Google dampai WikiLeaks.
Jika kita membicarakan mesin pencari yang satu ini, tentunya akan sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Situs ini adalah mesin pencari data otomatis di internet. Hamper semua manusia di dunia yang menggunakan internet pernah memakai jasanya. Peranannya begitu terasa dalam berbagai segi kehidupan.Tak terkecuali dalam dunia akademis.
Dalam dunia intelektual, situs ini memiliki andil besar dalam pembangunan dunia secara keseluruhan.Data-data penopang pembangunan tersedia disana, walaupun tak lengkap, namun cukup membantu.Mari kita lihat bagaimana dulu Negara-negara colonial bisa begitu lama menekan pribumi jajahannya. Pribumi sami’na wa ato’na kepada para penjajah karena penjajah berkuasa memerintahkan meriam, senapan dan bom untuk membunuh. Sesuatu yang mustahil dan di luar adat manusia bagi pribumi.
Fenomena ini terjadi karena begitu terbatasnya akses pribumi akan informasi dan ilmu pengetahuan mutakhir. Mari bayangkan jika dulu, saat akan menyerang Batavia, Sultan Agung sudah bisa menggunakan internet dengan Google-nya. Bahkan jika seluruh Netherland datang ke Indonesia-pun, tak akan menyebabkan kerusakan berarti bagi kekokohan nusantara.
Setelah google, satu hal fenomenal lagi disuguhkan dunia maya ke dunia nyata.Tentunya kita masih ingat bagaimana kawat-kawat diplomatik Amerika disadap William Assange lewat WikiLeaks-nya untuk kemudian dibocorkan satu-persatu kepada dunia.Hal yang sangat revolusioner. Dalam skala besar, bahkan hal ini akan dapat menimbulkan berbagai macam perubahan revolusioner dinamika perpolitikan dunia. WikiLeaks memberitahu kita bahwa keterbukaan selalu lebih baik.
Tanggapan dari berbagai kalangan-pun otomatis mengalir, membanjir. Bahkan seorang politikus partai demokratik Norwegia, Snorre Valen, mencalonkan Julian Assange sebagai kandidat penerima nobel perdamaian. Valen menganggap kontribusi WikiLeaks sangat besar bagi perdamaian dunia, khususnya dalam kebebasan menyampaikan pendapat.“Dengan mengungkap informasi tentang korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan perang, WikiLeaks adalah pejuang alami untuk Nobel perdamaian”.[3]
Fenomena internet ini semakin menegaskan bahwa di era informasi seperti sekarang, bahkan tembok adalah mata-mata. Mata-mata yang memberitahukan keadaan kita kepada dunia, juga memberitahukan keadaan dunia kepada kita.
b. Dunia dalam Ekonomi.
Senin, 13 juni 2011, harian seputer Indonesia memuat artikel yang cukup mengejutkan di halaman pertama “Asia Jadi Pusat Dunia Baru”.Cukup menantang dan menggelitik memang. Karena bagaimanapun, asia adalah dunia ke-tiga yang baru beberapa decade saja menemukan identitasnya kembali.
Memang banyak kalangan meyakini bahwa asia akan menjadi pusat ekonomi dunia dalam beberapa waktu ke depan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat serta ketersediaan sumber daya membuat asia semakin berperan penting dalam tataran global. Dalamlaporan berjudul “Asia 2050: Realizing The Asia Century” yang terbit bulan lalu, Asian Development Bank memprediksi asia akan menyumbang 51% produksi global pada 2050.
Dalam World Economic Forum East Asia yang digelar tanggal 12 – 13 juni di Jakarta, Presiden Yudhoyono mengungkapkan kepercayaannya bahwa sekarang adalah masa bagi asia untuk menjadi pusat new globalism. Namun, untuk mencapai hal itu, negar-negara asia harus melakukan sejumlah langkah. Pertama, asia harus menjadi solusi untuk menyelesaikan Global Unbalaces. Kedua, asia harus mampu mengantisipasi dan menyelesaikan tekanan yang terus meningkat, terutama menyangklut ketersediaan komositas pangan, energy serta air. Ketiga, asia harus melakukan semua upaya untuk menjadi pusat inovasi global. Keempat, asia perlu menempatkan generasi muda sebagai sumber daya manusia yang sedang tumbuh dan memegang kunci di masa depan. Kelima, asia harus melestarikan serta membangun keberagaman, sebuah nilai yang menjadi kekayaan asia.[4]
Fakta-fakta diatas menunjukkan kepada kita satu hal mendasar. Yaitu bahwa sudah bukan masanya lagi suatu bangsa ataupun suatu kawasan menguasai bangsa atau kawasan lain. Siapapun yang mampu menundukkan ilmu pengetahuan dengan inovasi, teknologi dan kretifitas, dialah pemenangnya.
c. Timur Tengah Bergetar.
Belakangan, akrab di telinga kita bahwa di sebuah kawasan sekitar mediterania, laut merah dan laut tengah sedang terjadi regangan kehidupan yang lain. Timur Tengah bergetar.
Setelah presiden Tunisia Zine el-Abidine ben Ali ahirnya jatuh di tangan Revolusi Melati yang mengatasnamakan rakyat, giliran Mubarrak harus merelakan kursi pemerintahan Mesir dibawah Revolusi Tweeps. Kekuasaan dictator bersenjatakan Tank dan pesawat tempur tak berdaya dihadapkan dengan hasrat kuat untuk menemukan kebebasan dan kesetaraan.Berikutnya, giliran Libya, Oman, Suriah, Yaman dan negeri-negeri sejenis mendapat luapan hasrat rakyat untuk bebas dari segala macam ketertutupan.[5]
Selama ini, kawasan Timur Tengah dikenal sebagai kawasan paling sulit ditembus demokrasi. Dua gelombang besar demokrasi (decade 1940an – pasca Perang Dunia II dan 1990an pasca berahirnya perang dingin) tak meninggalkan bekas berarti di dawasan ini. Kawasan Timur Tengah tetap menjadi kawasan yang kental akan nuansa dominasi satu kaum akan kaum lainnya. Nuansa kediktaturan berdalih agama.
Kini, berangkat dari keterbukaan informasi yang tak terkendali, kalangan intelektual timur tengah mulai bergerak mengatasi kegerahan yang telah mengendap-menahun. Mereka bangkit dari tidur panjang dan mulai menuntut keadilan, kesetaraan dan kebebasan. Dan ahirnya, akses akan informasi merombak seluruh tatanan masyarakat.

[1] Karl Mannheim, 1936, Ideology and Utopia: An Introduction to the Sociology of Knowledge, New York:Harvest Book, hlm 265
[2] Lebih jelasnya, lihat: Peta Pemikiran Karl Marx, Yogyakarta: LKIS.
[3] Tempo, 13 Februari 2011, hal 96
[4]Seputar Indonesia, 13 juni 2011.
[5] Tempo, 13 februari 2011, hal.99

Tidak ada komentar:

Posting Komentar