
Jika sebuah materi mengalami penurunan yang signifikan dan sustainable, maka cara terbaik untuk membuatnya naik adalah dibenturkan sekeras-kerasnya ke bidang datar agar memantul dengan kekuatan penuh ke atas.
(Anonym)
Hukum Fisika Bicara
Begitulah kiranya fisika memberitahu kita tentang bagaimana caranya mengembalikan performa sesuatu yang sedang menukik tajam dan tenggelam menikmati tukikan performanya. Tentunya, hal semacam ini akan berakibat sangat signifikan. Selain memenuhi target utama, menaikkan performa, hal ini juga akan menghadirkan berbagai macam efek samping yang tak bisa begitu saja diabaikan. Setidaknya, jika materi tersebut memang rapuh dan memiliki daya elastisitas tak cukup, bukan kenaikan performa yang didapat, justru materi itu akan hancur menemui ketiadaannya.
Untuk itu, perlakuan semacam ini sangat berisiko dan akan menimbulkan efek samping yang kompleks. Namun, perlakuan ini adalah satu-satunya cara untuk bisa meningkatkan performa materi secara signifikan dengan waktu yang relative singkat dan usaha yang tak begitu berat. Titik pokoknya adalah adanya keberanian menanggung risiko terburuk. Itu saja.
Fakta Aktual
Saat sekarang ini, kehidupan manusia sangat kental dengan budaya-budaya hedonis dan pragmatis. Tak hanya di bidang akademik, hal itu juga berdampak negative terhadap eksistensi aktivitas organisasi-organisasi kemahasiswaan. Mindstream yang terbangun begitu kuat bahwa hidup itu sangat sederhana, kamu cukup memikirkan bagaimana kamu bisa bahagia. Padahal, sudah jelas bahwa sebagai kaum elit bangsa, mahasiswa memikul tanggung jawab penuh sebagai garda depan pembangunan bangsa. Sederhananya, kehidupan akademik menjadi wajib dikuasai dengan tingkat penguasaan sedalam-dalamnya serta tingkat pengembangan seluas-luasnya. Namun, harus kita sadari bahwa keahlian akademik saja sama sekali tak cukup untuk memenuhi kriteria pokok seorang “pembangun bangsa”. Keahlian akademik akan lengkap jika diselaraskan dengan keahlian dan pengalaman dalam begorganisasi, karena selain harus memiliki kualitas diri yang tangguh, seorang pembangun juga dituntut untuk bisa bekerjasama dengan para pembangun lainnya dalam mewujudkan mimpinya: kemakmuran bangsa.
Fakta tersebut dalam pengaruhnya terhadap kehidupan organisasi. Selain berpengaruh besar dalam hal kuantitas yang semakin menurun, fakta ini juga mempengaruhi kualitas mereka yang tetap setia berorganisasi.
Fisika, Fakta dan Aku
Organisasi yang disebut-sebut di awal tak terkecuali adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Organisasi yang didirikan pada 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane dan kawan-kawan di STI Jogjakarta ini berkembang pesat dari masa ke masa. Organisasi ini berdiri sebagai respon sosial mahasiswa islam terhadap dinamika politik negeri ini. Selain sebagai cerminan kristalisasi tekad para pendirinya yang merasa perlu mengorganisasikan mahasiswa islam dalam suatu wadah yang professional, hmi juga lahir sebagai bentuk nyata kecintaan para pendirinya kepada bangsanya yang kala itu masih sangat rentan dan rapuh kedaulatannya.
Dalam perkembangan selanjuutnya, ahirnya HMI berhasil menjadi organisasi besar dan eksis hingga sekarang. Termasuk di Universitas Negeri Jakarta dan ahirnya saya bergabung di dalamnya. Dengan kesatuan visi yang mendalam, ahirnya penulis melebur bersama HMI dalam hal mengabdi pada Kebenaran Mutlak.
Setelah meleburkan diri bersama, tentunya mata penulis bukan mata penulis yang sama seperti yang sebelum melebur. Dalam memandang segala sesuatu, penulis mendapatkan pengaruh “pandangan HMI” yang terasa begitu determinan dan dominative. Termasuk dalam memandang HMI itu sendiri. Keadaan HMI saat ini sangat jauh dari pernyataan Jendral Besar Soedirman bahwa HMI selain Himpunan Mahasiswa Islam juga merupakan Harapan Masyarakat Indonesia. Jika melihat kenyataannya sekarang (terutama di lingkungan UNJ dan cabang Jakarta Raya), pernyataan Sang Jendral akan terasa utopis dan sangat mengada-ada.
Menyadari drinya berada di dalam lingkaran ke-jumud-an tersebut, penulis memikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan jiwa HMI yang tentu saja pernyataan Sang Jendral bukan tak berdasar. Dalam kontemplasinya, penulis memikirkan berbagai alternative solusi dan ahirnya melihat hukum fisika yang dikemukakan di muka. Lalu, mulailah hari-hari penulis untuk memikirkan dan merencanakan Hidden Agenda tersebut dengan perencanaan yang elit dan sangat sistematis. Rencana besar itu adalah menggagal-totalkan sesuatu yang sangat fundamental di HMI: Basic Training. Dan untuk menggagalkan sebuah training, yang paling sederhana adalah meniadakan peserta. Sederhana, namun mematikan!.
Dalam realisasinya, rencana besar ini tentunya akan memakan banyak korban. Namun bagi penulis, inilah jalan terbaik untuk mengembalikan performa HMI sebagaimana mengembalikan performa suatu materi yang menurun secara sistenatis. Sederhananya, rencana ini akan menjadi Shock Theraphy yang sangat berharga bagi kader HMI, mulai dari tingkatan kepanitiaan LK itu sendiri, pengurus Komisariat. Pengurus Koordinator Komisariat, hingga pada tingkatan Cabang. Dengan Shock Theraphy ini, diharapkan mereka akan membuka mata dan menyadari bahwa tradisi yang terbangun di lingkungan HMI Cabang ini sangat jauh dari ideal dan mulai merenungkan jalan keluarnya.
Sejak memutuskan untuk merealisasikan gagasan ini, penulis betul-betul menyadari bahwa akan banyak orang yang kecewa dan kecewa itu pahit. Namun, bagi penulis, ini adalah satu-satunya solusi untuk keluar dari lingkaran setan ini. Untuk pihak-pihak yang akan dikorbankan, penulis sangat memohon maaf yang sedalam-dalamnya namun pengorbananmu akan berbuah manis kawan!.
Ahirnya, kesendirian adalah hal yang fundamental dalam misi rahasia ini. Cukup ada di kepala penulis dan cukup penulis yang mengetahui betapa mengecewakan itu jauh lebih pahit dari kecewa itu sendiri.
Walaupun berat dan pahit, namun sekali layar terkembang, surut kita berpantang.
YAKUSA!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar