Categories

Senin, 27 Juni 2011

Balada Islam dan Indonesia



Jika kita ingin membicarakan tentang islam secara keseluruhan, maka wajib bagi kita untuk membicarakan indonesia. Sebaliknya, ketika kita berbicara tentang indonesia, tak bisa dianggap lengkap kalau belum membahas islam. Karena bagaimanapun, indonesia telah menjadi bagian tersendiri dari islam dan islampun telah sedikit banyak menurunkan nilai – nilai genetiknya terhadap indonesia. Keduanya bagai dua sisi mata uang. Berbeda, namun tak terpisahkan. Karena bahkan sebelum indonesia lahirpun islam telah lama tumbuh dan berkembang di tanah kelahiran indonesia: Nusantara.
Dengan berbagai interaksi sosialnya, islam di indonesia telah membentuk kekhasan tersendiri. Dia tumbuh dan berkembang mencari format ideal islam di tanah nusantara. Mulai dari berbagai kerajaan islam yang pernah lahir dan besar di tanah ini, hingga ide – ide islamisasi negara indonesia. Dengan mengesampingkan berbagai perbedaan versi penerapan hukum islam di indonesia, ada satu kesamaan mutlak dalam setiap pergerakan keislaman, yaitu: mereka menyuarakan suara rakyat. Mereka mengusung semangat perbaikan tiada ahir. Mereka tak kenal kompromi soal prinsip.
Jika kita runut sejarah, banyak sekali kiranya basis – basis perjuangan keislaman orang Indonesia. Dengan dimotori pergerakan umat Islam inilah kemudian seluruh bangsa yang kemudian menyebut dirinya Indonesia ini bergerak melawan kaum kolonialis. Dengan begitu Islam, sejak kelahirannya di Nusantara, telah menginspirasi Nusantara. Inspirasi tentang perjuangan, inspirasi tentang perlawanan, inspirasi tentang perbaikan, inspirasi tentang kemandirian dan ahirnya inspirasi tentang Islam itu sendiri.
Itu semua bisa terjadi karena islam memiliki basis – basis pergerakan keislaman yang teguh memelihara idealisme di bawah segala macam tantangannya. Bisa kita lihat bagaimana dulu umat islam indonesia membentuk Serekat Islam. Dengan Serekat Islam umat berbicara tentang kepentingan Agama. Dengan Serekat Islam umat berbicara tentang keadilan. Dengan Serekat Islam umat berbicara tentang persatuan dan kesatuan. Dengan Serekat Islam umat berbicara tentang kemandirian. Dan dengan Serekat Islam umat berbicara tentang Islam itu sendiri.
Fenomena tersebut juga akan kita dapatkan dari Muhammadiyah. Bisa kita lihat bagaimana dulu umat Islam Indonesia membentuk Muhammadiyah. Dengan Muhammadiyah umat berbicara tentang Pemurnian ajaran. Dengan Muhammadiyah umat berbicara tentang kesetaraan. Dengan Muhammadiyah umat berbicara tentang pembaruan. Dengan Muhammadiyah umat berbicara tentang pendidikan. Dengan Muhammadiyah umat berbicara tentang amal bakti. Dan dengan Muhammadiyah umat berbicara tentang Islam itu sendiri dan pemurniannya.
Tak beda dengan apa yang ada pada Nahdatul Ulama. Bisa kita lihat bagaimana dulu umat Islam Indonesia membentuk Nahdatul Ulama. Dengan Nahdatul Ulama umat berbicara tentang toleransi. Dengan Nahdatul Ulama umat berbicara tentang pentingnya pembinaan umat. Dengan Nahdatul Ulama umat berbicara tentang pentingnya menuruti pemimpin. Dengan Nahdatul Ulama umat berbicara tentang kebudayaan. Dengan Nahdatul Ulama umat berbicara tentang pendidikan dan pembangunan berbasis pendekatan psikologis, sosiologis dan antropologis. Dengan Nahdatul Ulama umat berbicara tentang Islam itu sendiri dan identitas Rohmatan Lil ‘Alamin-nya.
Itulah sedikit gambaran bagaimana dulu Umat Islam mapu mewadahkan diri untuk membuka jalan perjuangan. Mari sedikit kita intip realitasnya “wadah – wadah” itu saat ini. Mari kita lihat bagaimana mereka diam di tengah kebingungan umat, saat pemerintah mandul dalam menghasilkan kemaslahatan. Mereka tak berkutik melawan arus kapitalisme. Mereka hanyut tertelan arus hegemoni Kekuasaan. Mereka tak lagi berani memperjuangkan kepentingan umat. Ahirnya, timbul satu pertanyaan: Apa memang ini suara Umat Islam saat ini, ataukah mereka saja yang sudah tak mampu meneriakkannya?.
Sebuah drama sejarah, bagaimanapun ia telah usang, adalah pijakan bertindak yang paling jujur. Dari masa lampaulah kita bergerak sekarang untuk meniti masa depan. Dalam semangat perbaikan, mari kita bergerak!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar