Bung Hatta pernah berpesan dalam pidatonya di Universitas Indonesia tahun 1957:
Kaum intelegensia tidak bisa bersifat pasif, menyerahkan segala-galanya pada mereka yang kebetulan mensusuki jabatan yang memimpin dalam Negara dan masyarakat. Kaum intelegensia adalah bagian daripada rakyat, warga Negara yang sama-sama mempunyai hak dan kewajiban. Dalam Indonesia yang berdemokrasi, ia ikut serta bertanggung jawab tentang perbaikan nasib bangsa. Dan sebagai warga Negara yang terpelajar, yang tahu menimbang baik dan buruk, yang tahu menguji benar dan salah dengan pendapat yang beralasan, tanggugn jawabnya adalah intelektuil dan moril. Intelektuil karena mereka dianggap golongan yang mengetahui, moril karena masalah ini mengenai keselamatan masyarakat sekarang dan kemudian.[1]
Dari pidato beliau, tertanam begitu dalam pesan kepada kaum intelektual bahwa sepahit apapun itu kebenaran, katakanlah dan perjuangkanlah. Karena itu sudah konsekuensi langsung bagi orang yang mengetahui lebih dari sebangsanya.
Dengan daya pengaruh yang lebih, kaum intelektual memanggul beban terberat dalam rangka mewujudkan realisasi tujuan kita berbangsa dan bernegara. Untuk itulah menjadi suatu kewajiban mendasar bagi mereka untuk berembug, berjuang mewujudkannya sebagai masyarakat dan sebagai warga Negara.
Sebagai kader bangsa mereka dibebankan tugas kebangsaan dan tugas kenegaraan, dan sebagai kader umat mereka menanggung tanggung jawab untuk memastikan umat mendapatkan kebutuhannya yang paling mendasar, yaitu: kepercayaan.
Maka dalam hal ini HMI bertindak sebagai civil society yang berorientasi pada perjuangan kepada paradigma modernisasi dan dependensia.[2]Bahwa di satu sisi HMI sebagai organisasi yang berjuang dengan orientasi pada pemberdayaan masyarakat.Di sisi lain HMI dalam indepedensinya adalah organisasi yang berorientasi pada struktur. HMI dengan indepedensinya siap mengawal dan mengkritisi setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah terkait harkat hidup orang banyak.
Sedikit menyederhanakan pembahasan di atas bahwa yang akan berdiri sebagai penakluk zaman ini adalah mereka yang hidup dengan kepribadian kuat, mampu mempertahankan identitas pribadinya di tengah globalisasi dengan tetap menyesuaikannya dengan perkembangan actual. Orang – orang seperti ini akan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kendaraannya dengan tetap teguh memegang kepercayaannya. Selanjutnya, kumpulan masyarakat dengan orang – orang semacam ini akan mewujudkan keadaan sosial yang demokratis, setara, terbuka dan kental dengan semangat kebebasan.
Dan tugas kitalah sebagai insan intelektual untuk mewujudkannya.
GO FREEDOM!!!
[1] Kebebasan Cendekiawan, 1996, Jakarta: Republika, hal: viii
[2] Mansour Fakih, 1996, Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana, hlm 121-136

Tidak ada komentar:
Posting Komentar