
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, zaman adalah jangka waktu yg panjang atau pendek yg menandai sesuatu; masa. Seperti yang telah kita ketahui bahwa si abad 21 ini, zaman kita, adalah zaman globalisasi. Zaman dimana proses transformasi terjadi dalam setiap aspek kehidupan menuju kesatuan sebagai masyarakat dunia. Proses transformasi ini tak gratis tentunya. Banyak konsekuensi negative yang akan dihadapi sebaga baying-bayang dari tujuannya.
Seperti kata Scztompka, memahami transformasi tak akan lengkap jika tidak membandingkan sejarah masa kini dengan sejarah masa lalu. Apa yang ada sekarang ini akan biasa saja dan di-lumrah-kan. Untuk itulah kita memerlukan mengomparasikan keadaan-keadaan terkini dengan keadaan zaman-zaman sebelumnya.Dalam bahasa R.A. Kartini, kita harus membandingkan antar “regangan kehidupan” yang terjadi dari masa ke masa.[1]
Secara garis besar, panulis mengelompokkan regangan-regangan kehidupan dalam sebuah periosiasi.Periodisasi ini dibuat untuk menyederhanakan gagasan utama sebuah zaman.Periodisasi ini disandarkan pada pernyataan Ibnu Khaldundalam Mukaddimah-nya bahwa dalam suatu peradaban ada empat fase.Yaitu, fase pembangun, fase pengisi, fase penikmat dan fase penghancur.
Pada dasarnya, bukan ingin memposisikan semangat zaman sebagai sesuatu yang hidup dan mati.Namun semata-mata ingin menggunakan pisau analisis Ibnu Rusyd untuk menjaring arah utama (Main Stream) suatu zaman untuk kemudian diletakkan dalam periodisasi-periodisasi semangat zaman.
Dengan pisau analisa ini, kita akan melihat sejarah dunia sesuai isu-isu sentral dunia. Sebuah zaman akan diperiodesasi berdasarkan pada empat fase itu. Mulai dari proses kemunculannya, proses pengisiannya, masa setelah masa kejayaan dan ahirnya, masa dimana dunia mulai menginduk pada arah yang lain, yang lebih maju dan meninggalkan zaman itu dalam indah kenangan.
Periodisasi ini akan dimulai dari zaman paling awal yang mampu terrekam sejarah manusia. Dengan berbagai pertimbangan,
a) Zaman Pra Sejarah.
Setiap peradaban yang mengenal tulisan, pernah tak mengenalnya.Artinya, masa awal geliat kehidupan manusia adalah kehidupan tanpa tulisan. Tulisan memang tak menjadi sesuatu yang penting bagi manusia saat itu karena tak ada satupun dari mereka yang berfikir bahwa setiap peradaban harus dituliskan. Bahkan untuk mempertahankan eksistensi hidup merekapun mereka harus bertarung menantang maut itu sendiri.
Adanya saman ini diketahui dari peninggalan-peninggalan pra sejarah. Peninggalan-peninggalan berupa artefak-artefak dan fosil-fosil menggambarkan dengan begitu kuat apa saja yang terjadi di zaman ini. fosil dan artefak ini ditemukan di hamper semua belahan dunia. Hingga dapat dipastikan bahwa zaman ini pernah merata di seluruh permukaan dunia.
Dari fosil yang ditemukan dapat kita ketahui bahwa peranan kekuatan fisik sangat vital dalam menopang kehidupannya.Dari artefak yang ditinggalkan, kita tahu bahwa di zaman ini, kehidupan manusia sangat monoton, sebatas berburu dan meramu.Walau begitu, di zaman ini kehidupan manusia sangat spiritual.Mereka sangat mengagungkan kekuatan supranatural yang jauh lebih kuasa disbanding kekuatannya.
b) Zaman Monarki.
Zaman monarki adalah evlusi kemasyarakatan tahap selanjutnya. Manusia-manusia pra sejarah mulai memikirkan bahwa kehidupan individual seperti yang mereka jalani tidaklah ideal dan sangat rentan akan kepunahan. Dari kesadaran inilah kemudian mereka sepakat membentuk satuan kelompok-kelompok atau satuan masyarakat dengan nilai-nilai yang dijunjung bersama yang mengikat mereka dan memposisikan lembaga tertentu sebagai pengatur kehidupan mereka.
Pada masa-masa ini, kehidupan manusia sudah begitu kompleks.Hubungan internasional baik yang positif maupun yang negative mulai terjadi.Semua hubungan internasional mengatasnamakan kerajaan. Zaman ini memandang bahwa adanya segelintir orang yang dilahirkan lengkap dengan status “pemerintah” dan sebagian yang lain lengkap dengan status “yang harus diperintah”. Dalam bahasa yang lebih jelas, ada yang dilahirkan dengan “otoritas menindas” dan ada yang dilahirkan dengan “nasib
c) Zaman Agama.
Zaman agama ditandai kemunculannya ketika peran agama dalam kehidupan manusia mulai mendominasi.Dominasi agama terjadi di setiap sector kehidupan. Kehidupan ekonomi, kehidupan politik, kehidupan sosial semuanya berlandaskan pada satu hal ini: Agama.
Di zaman ini, agama adalah factor penentu posisi sosial, antara kawan atau lawan. Ketika kita sama, seiapapun kamu, kita adalah saudara. Juga ketika kita berbeda, siapapun kamu, kita berbeda dan akan terus tersekat batas sebelum kau jadi salah satu dari kami. Factor agama adalah factor yang paling determinan dalah segala sendi kehidupan manusia.
Zaman ini meninggalkan ambiguitas tersendiri yang hingga saat ini madih menjadi misteri besar yang menunggu untuk dipecahkan.Di satu sisi, zaman inilah yang mengajarkan untuk hidup damai, saling menghormati, dan menjanjikan kebahagiaan abadi. Namun disisi lain, zaman ini adalah zaman yang paling banyak melahirkan peperangan. Entah terjadi penyimpangan pemaknaan ataupun tidak, yang pasti adalah bahwa agama menjadi alas an utama bagi seorang pembunuh untuk membunuh.
Zaman ini mulai menemui titik nadirnya sejak terbitnya zaman aufklarung (renaissance atau enlightment). Dimotori ilmu pengetahuan yang ternyata banyak bertentangan dengan paradigma agama akan berbagai hal, masa ini menjadi regangan kehidupan yang baru.
d) Zaman Kolonisasi.
Seperti telah dijelaskan pada pendahuluan bahwa zaman kolonisasi lahir akibat terputusnya jalur pedagangan di timur tengah serta keserakahan kapitalisme.Sejak ditemukannya mesin yang bisa meerintah mendung menggerakkan besi untuk bekerja mengabdi pada manusia, mulai bermitosislah pekerjaan dengan modal.
Saat produksi melimpah dan tingkat keuntungan merosot, kapitalisme membutuhkan pasar baru untuk produknya.Inilah hal utama yang menerbitkan kolonisasi.Dimana dengan modal sekecil-kecilnya, bisa menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya persis seperti yang dikatakan Adam Smith.
Memasuki zaman ini, factor agama tak lagi se-determinan seperi zaman sebelumnya.Di zaman ini, yang menentukan benar atau salah adalah modal dan keuntungan sebagai anak kandungnya.Tak ada pertemanan abadi dan permusuhan abadi.Selama bisa melindungi modal dan menghasilkan keuntungan, kita kawan.Jika tidak, mohon maaf.Posisi agama hanyalah sebagai kembang tidur.
Di zaman ini, manusia ditempatkan pada posisi yang sangat tak manusiawi.Kemakmuran tak terdistribusi secara baik dan menghasilkan kesenjangan sosial yang begitu kentara.Jurang pemisah pemilik modal dengan pekerja sangatlah jauh untuk bisa disebut setara.Apalagi antara penjajah dengan jajahannya, bagaikan anak tuhan dengan hambanya.
e) Zaman Kesetaraan.
Zaman kesetaraan lahir sebagai kritik tajam bagi zaman-zaman sebelumnya.Zaman ini adalah zaman dimana manusia ditempatkan sebagaimana seharusnya mereka ditempatkan, dan dipandang sebagaimana mereka harusnya dipandang. Manusia adalah mahluk yang sangat saling berdbeda satu sama lainnya namun sama dalam hal menginginkan kebahagiaan.
Ide-ide kesetaraan sebetulnya sudah muncul sejak adanya penindasan itu sendiri sebagai bayangannya.Terhitung sekitar 4500 tahun yang lalu, bangsa medopotamia telah mencatatkannya dalam sebuah prasasti.[2]Seiring semakin absolutnya hegemoni ide-ide diskriminasi, baik yang bermotif kerajaan maupun yang bermotif agama, ide mengenai kesetaraan semakin terpuruk bahkan nyaris hilang dari catatan sejarah ditelan mentah-mentah keserakahan.
Ide kedetaraan mulai menemukan bentuknya kembali pasca revolusi perancis.Revolusi perancis hadir dengan cita-cita luhur, memperjuangkan ide-ide kesetaraan.[3] Dengan semboyan yang tak asing bagi kita, “ Kebebasan, Kesetaraan, & Persaudaraan”, revolusi perancis segera saja menjadi percikan api yang membakar semangat umat manusia untuk menjelang kebebasannya sendiri dengan kesetaraan yang menyeluruh.
Efeknya, terjangkit penyekit “Semangat Totalitas” di kalangan terpelajar di dunia ke-tiga. Dari sinilah kemudian peta perpolitikan dunia berubah drastis.Negara-negara colonial tak lagi bisa menunggangi Negara inangnya. Negara jajahan menuntut kebebasannya dan meneriakkan prinsip kesetaraan kepada dunia.
Prinsip kesetaraan begitu kuat terasa dalam kehidupan saat ini.namun, tak sedikit orang yang baginya kesetaraan dan kebebasan hanyalah sebuah mimpi. Untuk itu, regangan kehidupan selanjutnya adalah bagaimana membuat dunia dikuasai kebebasan dan kesetaraan agar manusia mutlak menjadi manusia seutuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar