
Setelah sekitar tiga abad bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara ini berada dibawah satu kuasa administrative yang begitu dominan, ahirnya Pax Nierlandica antar bangsa-bangsa tersebutpun muncul. Pax Nierlandica tersebut tumbuh subur mengakar dalam kehidupan bangsa-bangsa terssebut hingga mengkristal menjadi suatu identitas pemersatu. Dan dibawah otoritas suprematis Negara Hindia Belanda inilah kemudian mengendapkan identitas kebangsaan sebagai bangsa yang satu dengan sebutan Indonesia.
Kesadaran nasional membuncah ke segala penjuru setelah dikampanyekan pertamakali oleh seorang pensiunan dokter Gubermen Belanda, dr. Soetomo dan meletuskan puncaknya pada Sumpah Pemuda 1928. Dari sinilah kemudia kesadaran identitas penduduk nusantara sebagai suatu bangsa mulai tertanam dalam dan memotori pergerakan nasional era selanjutnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, pergerakan kaum elitis bangsa yang baru lahir ini semakin terarah. Pemikiran mereka terarah pada satu hipotesis bahwa untuk menjamin kepentingan bangsa dapat terpenuhi, dibutuhkan kekuatan politik yang hanya mungkin didapatkan dari sebuah Negara. Maka, mereka pun mendirikan Negara.
Tujuan bangsa kita bernegara sudah secara gamblang diterangkan dalam pembukaan UUD 1945. Tujuan itu terpatri abadi salam kalimat “membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban umum.[1]
Dengan begitu, jelaslah bagi kita bangsa Indonesia bahwa tujuan kita menyatu sebagai bangsa adalah agar kita bisa menghimpun kekuatan majemuk menjadi satu kesatuan yang saling mendukung demi agenda bersama: mendapatkan kebahagiaan bersama. Juga jelaslah bagi kita, tujuan kita mengorganisasikan diri dalam sebuah Negara adalah untuk memastikan tujuan bangsa kita dapat diwujudkan.
mamang jauh dari kenyataan, namun inilah tugas kita. sebagai insan indonesia yang masih memiliki cita-cita luhur, di pundak kitalah bangsa ini meletakkan harapannya.
[1] Pembukaan UUD 1945.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar