Categories

Rabu, 27 Juli 2011

Gede Mountain Field Trip



Bertolak, sejenak melepas hidup untuk “hidup”
Keberhasilan atas terlaksananya Gede Hiking 2011 bukanlah hadiah cuma-cuma yang didapat begitu saja. Untuk merealisasikannya, butuh lebih dari sekedar want ataupun need, namun harus dimotori desire yang dalam dan battle mentality yang tak sembarang orang punya. Tak berlebihan kiranya jika dikatakan demikian. Bagaimana tidak, seseorang harus meninggalkan dunianya sejenak, melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan yang dirinya sendiri telah menjadi bagian dari ikatan itu, menanggalkan kehidupan sebenarnya hanya untuk menyatukan diri, panas-perih menari bersama alam. Alam pegunungan, yang berjalan dengan hukumnya sendiri.
Selain harus meninggalkan sejenak urusan “duniawi”, seseorang juga harus mempersiapkan segala yang sebenarnya sangat merepotkan. Mulai dari berkorban materi unutk mempersiapkan logistik yang tidak murah, mengumpulkan peralatan dan perlengkapan yang hanya orang tertentu yang punya, mempersiapkan fisik dan mental menghadapi tantangan yang belum terukur ke”ganas”annya, hingga harus melalui proses administratif khas Indonesia yang (kita semua tahu) sama sekali tak sederhana. Tantangan-tantangan otomatis ini diperberat juga oleh keberadaan pihak-pihak yang kurang berkenan hati atas terselenggaranya program ini. Paduan serasi tantangan berat dan usaha mereka yang tak senang, lengkap sudah penderitaannya. Diatas semua itu, kami tetap rela menempuh jalan terjal untuk melaksanakan program ini. Itu semua karena bagi kami, inilah hidup, inilah tauhid. Mengorientasikan hidup kita bulat-bulat dalam misi mengabdikan diri kepada Yang Maha Pengasih dan terjun berproses mencari kebenaran mutlak menuju Yang Maha Misteri. Inilah hidup yang tak sekedar hidup.
Seleksi tahap awalpun ahirnya dilalui dengan indah menyisakan 8 peserta yang tak bergeming dari pendiriannya untuk menaklukan Puncak Gede. Bertolak dari Camp Asmaragiri, rombongan petualang ini diantarkan oleh dua kawan yang setia membantu ekspedisi kami hingga di garis start Jalur Pendakian Gunung Putri. Setelah menyelesaikan proses administrasi, Camp pun mulai didirikan di titik air pukul 01.47 WIB. Inilah ciuman awal sang alam, sambutan dinginnya yang membekukan tulang, mengilukan sendi dan menggeletarkan setiap tubuh memberitahu kami bahwa masih banyak tantangan lain di luar sana yang menanti untuk kami taklukkan. Kuat-kuatlah kawan!.

Jejak Terjal Sang Petualang
Fajar pertama di pelukan alam adalah fajar yang berat. Ditengah kungkungan dingin yang telah menyatu membeku bersama syaraf-syaraf tubuh, berbaring menyelimuti diri adalah sesuatu yang jauh lebih asyik dari apapun saat itu. Namun kami sadar, bukan untuk hal kecil seperti inilah kami berkeras hati. Dalam kesadaran, kami pun bangkit berdiri memulai hari ini.
Setelah berhasil menikmati dinginnya sentuhan air wudhu dengan susah payah, kami mulai hari ini dengan menyungkur sujud, mengakui kekecilan diri dan tenggelam dalam kekaguman akan kebesaran-Nya, Sang Yang Maha Indah, Yang maha Mengindahkan. Sebuah sensasi yang tak akan pernah dirasakan mereka yang tak pernah tahu betapa keindahan itu memabukkan.
Merapikan Camp dan membersihkan areal sekitar camp adalah awalan yang baik. Sepaket Sun Rise cantik hadir mengintip menemani kami dengan semburat mega merahnya. Selesai berkemas dan operasi bersih, seluruh anggota rombongan berkumpul untuk sedikit orientasi medan dan memanjatkan doa. Betapa beruntungnya mereka yang dapat menyentuh ketenangan dalam berdoa. Ditambah sepotong roti lapis, seremoni ini menjadi modal kami menjajaki petualangan pertama ini. Dengan mengumpulkan tangan kanan di tengah barisan melingkar, REM PAKEM Sunan Giri…, HUH!!! Dan perjalana pun dimulai.  Jungle, We are coming!!!
Perjalanan pertama merupakan sebuah perjalanan berat dan panjang. Tujuan awal kita adalah Alun-alun Timur, Surya Kencana di ketinggian sekitar 2.700 mdpl. Menempuh rute pendakian Gunung Putri, ada empat pos utama yang harus dilewati sebelum mencapai tujuan. Kondisi medan dari awal perjalanan hingga ke pos pertama adalah jalan setapak yang nampaknya sudah didesain untuk perjalanan. Sebuah jalan hutan dengan kontur berundak dan nampak sering diinjak kaki-kaki para pendaki. Diversitas hayati sepanjang perjalanan ini tergolong sangat tinggi. Berbagai spesies tumbuhan berbagai ukuran masih sering dijumpai. Ketinggian rata-rata pohon utama di kawasan ini sekitar 30 – 60 meter. Dengan sudut kemiringan rata-rata 45o, trek pertama adalah sambutan yang cukup melelahkan, menguras tenaga namun memaksa diri mengagumi-Nya.
Menjelang pos empat adalah ujian terberat sepanjang pendakian. Tenaga yang masih terkandung dalam tubuh tinggallah sisa-sisa saja. Walaupun sempat menghentikan perjalanan berkali-kali untuk beristirahat sejenak, namun tubuh rasanya tak mampu berbohong mengikuti semangat yang masih membara. Lelah dan letih menjadi rasa yang paling dominan kala itu. Ransel-ransel terasa empat-lima kali lipat lebih berat dari berat sebenarnya. Gaya gravitasi bumi menguat, memaksa kami terus-terusan  ingin mencium bumi. Dan banjir keringat adalah bukti otentik bahwa kalori kami sudah terlalu banyak digunakan. Dalam kondisi semacam ini, medan yang harus ditempuh adalah jalan hutan dengan sudut kemiringan sekitar 50o – 60o, paduan sempurna antara terjal, lembab dan licin.
Kawasan ini sudah menunjukkan perubahan penghuni. Pohon-pohon tinggi-besar sudah digantikan pohon-pohon sedang berketinggian antara 10 – 30 meter dan diameter sekitar 3 – 20 cm saja, dengan tubuh penuh lumut dan banyak berakar gantung. Hal ini jelas memberitahu kita bahwa ini adalah kawasan dataran tinggi. Daun-daunnya yang kecil mengisahkan betapa mudahnya mendapatkan oksigen di disini, sedang lumutnya bercerita bagaimana hujan gunung membasahinya sepanjang tahun. Altimeter memang menunjuk angka 2600mdpl.
Di ambang putus asa, terdengar riuh rendah suara cengkerama manusia. Ini memberitahu kami bahwa alun – alun Timur, Surya Kencana, berada tepat dibalik rerimbunan terahir. Anggota rombongan pun menggunakan sedikit energi yang tersisa untuk menyeret tubuhnya melewati  rerimbunan terahir. Dan benar saja, kita sampai!!!!

Surya Kencana, Surga Bunga Abadi: Edelweiss
Memasuki kawasan Surya Kencana yang terang dan berangin segar, hanya butuh beberapa detik untuk mengembalikan tenaga kami ke titik penuh. Hirupan nafas pertama, panjang mencoba menangkap setiap unsur penyusun udara segar atmosfer Surya Kencana. Aliran udara itu masuk dalam sedalam paru-paru mampu menahannya, mengelun mengembungkan paru-paru, mengganti setiap karbon dioksida dalam tubuh dengan oksigen segar, darah kami memerah lagi, dan sensasi kesegarannya mengalir langsung dan cepat memecah gumpalan-gumpalan kelelahan dalam setiap ujung syaraf gerak. Perlahan tapi pasti, udara segar itu mulai beraksi memberikan sensasi segar luar biasa dan keluar bersama hembusan segala susah payah yang hancur lebur digerus suka cita keberhasilan. Hufth… J, manisnya keberhasilan memang hanya mampu dinikmati mereka yang berani berjuang untuk satu tujuan.
Surya kencana sendiri adalah sebuah lembah di ketinggian 2700mdpl yang diapit puncak Gede dan pucak Gumuruh. Tempat landai seluas sekitar 3km2 ini hampir sepenuhnya berlantaikan batu yang hampir menjadi tanah. Karena luasnya, kawasan ini berangin kencang dan menjadi tempat peristirahatan sempurna bagi para pendaki. Selain dengan suasana “kahyangan” akibat ketinggiannya, mata pengunjung juga akan senantiasa dimanjakan oleh rimbun pepohonan Anaphalis Javanica atau yang lebih dikenal dengan nama Edelweiss.
Anaphalis Javanica tumbuh subur di padang savanna ini hingga bisa dikatakan bahwa lembah Surya Kencana adalah savanna taman edelweiss. Pepohonan edelweiss penuh menghiasi setiap jengkal lembah savanna ini, membuatnya cantik, sedap dipandang dan menghadiahkan sebutan mulia “Surga Edelweiss” bagi Surya Kencana. Seperti sebutannya “edel” dan “weiss” bahasa jerman yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “mulia” dan “putih”, edelweiss memang terlihat mulia dengan nuansa putihnya yang khas. Bunga itu menjadi mahkota setiap gunung tinggi di tanah nusantara. Bertengger anggun di atas puncaknya, mengundang mereka yang memuja keindahan memandangnya dan tenggelam dalam kenikmatannya. Mari mendirikan Camp di surga ini kawan!.
Setelah kecewa mendapati puncak Gede yang gelap berkabut dan memaksa kami pulang ke Camp tanpa secuilpun kenangan tentang Sunset Gede. Dalam hati menyesali kawah sulfur yang terus mengepulkan asap tebal hingga menutup langit, menyelimuti pandangan setiap makhluk yang melihat dengan mata. Namun, masih ada besok yang pasti jauh lebih cerah. Tahu cuaca buruk, kami segera pulang ke Camp sebelum terguyur hujan.
Malam di puncak gunung adalah prosesi menyatunya surga dan neraka menjadi satu entitas yang menggelikan. Padang Edelweiss temaram dalam sayup-sayup efek api unggun dari tenda-tenda pendaki yang tersebar tak beraturan di padang ini. Langit hitam pekat, tampak lebih hitam dari malam yang paling kelam sekalipun. Dalam kehitamannya yang kelam, langit malam ini cantik berhiaskan tabur bintang menyusun gugusnya.  Jika malam Lailatul Qadar adalah malam yang paling syahdu bagi semesta, maka dipastikan bahwa malam ini  hanyalah satu tingkat di bawahnya dalam hal kesyahduan. Udara tak henti mengalir lembut merekatkan setiap pendaki kepada selimutnya, membuah setiap sesuatu malas beraktifitas berlebihan dan memilih termenung menikmati suguhan malam Surya Kencana. Yang tak dapat dipisahkan dari kesyahduan malam Surya Kencana adalah suhu udaranya yang hampir mencapai titik beku. Dahsyatnya temperature ini dirasa menyayat kulit para pendaki yang punya sedikit masalah dengan dingin. Inilah potret paduan sempurna antara kenikmatan dan penderitaan. Bahwa kenikmatan didapatkan dengan kegiatan tak memandang sisi deritanya dan penderitaan adalah sebaliknya. Keduanya adalah satu entitas yang saling mendatangkan, saling meniadakan dan saling menyatu dalam satu kesatuan.

Menginjak Puncak, Memandang Dunia
Karena dingin yang memang begitu mencekat, memeluk kami dalam kebekuan, rencana untuk kembali ke puncak pukul tiga dini hari terpaksa harus diundur. Akibatnya, menikmati Sunrise-pun menjadi acara tambahan di Surya Kencana sebelum bergegas melanjutkan perjalanan ke puncak Gede dan turun ke cibodas. Walaupun tak di puncak, acara tambahan ini cukup menghibur. Menyaksikan bagaimana sang Surya membangunkan Edelweiss dan menyapunya dengan kehangatan, membedaskannya dari dekap kebekuan adalah pengalaman yang cukup berharga. Indah, indah, indah dan indah!!!
Bertolak ke pucak, semangat masih berkobar mengatasi kenyataan bahwa tak akan bertemu sunrise di atas. Dan terbukti, tanpa harus menyaksikan insiden munculnya matahari dari puncak, pemandangan di ujung tertinggi sebuah gunung selalu menghadirkan tontonan eksotis. Dengan jurang ke arah kawah khas puncak Gede, tebing-tebing batunya tampak kokoh menyangga puncak, disuguhkan dengan langit biru cerah berpoles sedikit awan cirrus dan gradient cumulus di sisi-sisi bawahnya, merupakan komponen sempurna sebuah pertunjukan atas gunung. Selain pemandangan tersebut, yang khas Gede adalah viewpoint sempurna untuk menatap tetangganya, Gunung pangrango. Gunung yang nampak perkasa, terpaku dalam ke pusat bumi tepat di sebelah barat laut Gunung Gede.
Sebagai pendaki, kami tentunya paham betul bagaimana besarnya hasrat untuk terus berteriak jika berada di atas gunung. Ada yang meneriakkan nama-nama seseorang yang spesial di hatinya, meneriakkan puja-pujinya kehadirat Sang Pencipta, ada yang berteriak menyatakan perasaannya kepada seseorang walaupun dapat dipastikan orang yang dimaksud tak akan mendengarnya. Mungkin, itulah cara mereka menikmati keindahan ketinggian. Namun bagiku, aku suka tempat-tempat tinggi karena di ketinggian, segala yang nampak rumit akan terlihat sederhana dan: indah![bali]

Senin, 25 Juli 2011

Liberalisme, Phobia dan Realita Sejarah Indonesia.


Membicarakan liberalisme di Indonesia memang tergolong kegiatan yang dianggap tabu dan ngawur. Apalagi jika mengaitkannya dengan agama, wacana ini masih menuai skeptisme berlebihan dari kalangan kaum beragama walaupun belakangan berkembang ke arah positif. Skeptisme semacam itu memang harus ada sebagai tanda bahwa kaum beragama di Indonesia yang mayoritas memang tradisionalis dan revival-dogmatis masih memegang teguh konsep keberagamaannya sebagai formula kebenaran. Namun, jika skeptisme ini telah mencapai puncaknya, kemudian mencari pelampiasan akan ketakberdayaan intelektual menghadapi hegemoni intelektual pemikir liberal dengan menempuh jalan kekerasan, ini sudah mulai tak sehat.
Tentunya, masih segar dalam ingatan kita peristiwa pengiriman Bom Buku ke markas JIL di Utan Kayu. JIL atau Ulil Abshar Abdala sebagai “mascot”-nya yang, walaupun tak sepenuhnya benar, menjadi Trade Mark pejuang liberalisme beragama mendapat serangan fisik dari mereka yang kurang sepaham dengan ide-ide liberalisme. Peristiwa ini merupakan bukti bahwa telah terjadi reorientasi perjuangan melawan pemikiran liberal. Tak berdaya di medan intelektual, mereka mengalihkannya ke medan fisik, karena itu memang domain mereka. Yang seperti ini yang tidak sehat.
Walaupun kalangan JIL “bersyahadat liberal” secara kaaffah, namun sebenarnya mereka menyimpan Mission of Secret dalam pergerakannya. Seperti pernyataan langsung salah satu Syech Agung kalangan Islam liberal, Luthfie Assyaukanie, kepada penulis bahwa sebetulnya mereka (baca: JIL) sepenuhnya sadar akan menempuh jalan terjal penuh onak dan duri dalam khazanah pemikiran islam di Indonesia. Selain untuk mendobrak kebekuan pemikiran islam, mereka sengaja mengambil jalan frontal untuk menjadi  fektor penyeimbang peradaban islam Indonesia. Sebagaimana gaya dan materi dalam fisika, materi yang ditarik kearah kanan hanya akan diam di tempat jika ada gaya sama besar yang menariknya ke arah berlawanan. Menurut Luthfie, Founding Father JIL mengorbankan segalanya untuk mengambil fungsi “gaya sama besar” tersebut hingga yang akan berkembang pesat adalah ide islam moderat, di tengah-tengah.
Akar Phobia Liberalisme.
Di Indonesia liberalisme memang sesuatu yang “mengerikan” baik di kalangan intelektual, terlebih lagi di kalangan awam. Skeptisme semacam ini terasa sangan determinan dalam setiap periode sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Tentunya kita faham, bagaimana dulu isu nekolim (neo kolonialisme) sangat kuat menghantui pemikiran bangsa dari berbagai generasi di masa ahir pemerintahan presiden Soekarno. Atau bagaimana pergerakan pemikiran bangsa menolak keras NeoLib (Neo Liberalisme) di masa sekarang. Bukti lebih jelas akan kita lihat dalam fatwa MUI yang menyatakan Kapitalisme, Sekulerisme dan Liberalismee adalah haram.
Seberapapun tak berdasar dan emosional-nya pandangan-pandangan anti liberalisme, fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar bangsa kita menderita phobia pada liberalisme. Selayaknya phobia-phobia yang lain, phobia ini juga merupakan ketakutan berlebihan yang tak memiliki dasar filosofis kuat dan hanya berpijak pada skeptisme emosional.
Walaupun ide-ide liberalisme modern dicetuskan filsuf islam kelahiran Cordoba, Ibnu Rushd (1126 – 1198) yang terkenal sebagai Averroes sang maestro Aristotelian di kalangan intelektual eropa, namun ide liberalisme tumbuh subur di barat dan membesare menjadi motor penggerak Renaissance eropa, sebagai pembebas eropa dari The Dark Age. Dari keadaan ini, kebanyakan orang memandang liberalisme adalah murni produk barat, bahkan ada yang beranggapan ide liberalisme dengaja ditumbuh-kembangkan di kalangan umat islam oleh kaum zionis dan antek-anteknya untuk menghancurkan islam itu sendiri. Dari pandangan ini, kemudian timbul persepsi bahwa barat adalah liberalisme, liberalisme adalah barat.
Indonesia terbentuk dari berbagai macam bangsa yang kemudian meleburkan diri, mengesampingkan segala identitas dan bersama menjunjung perasaan pemersatu, senasib-sepenanggungan dalam satu identitas kebangsaan, bangsa Hindia, bangsa Indonesia. Identitas pemersatu itu tumbuh riuh rendah selama sekitar 350 tahun di bawah kaki penindasan colonial Belanda. Pengalaman bangsa tersebut berkesan dalam dan menjadi memori bersama tantang kebencian akan penjajah (baca: barat) dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Ahirnya, sebuah bangsa terlahir ke dunia diatas tumpukan memori getir masa colonial.
Sentiment inilah yang menjelaskan seberapapun liberalnya founding father bangsa ini seperti Hatta, Sjahrir, Soekarno, bahkan M. Roem dalam pemikiran social kebudayaan, namun mereka tetap sosialis dalam hal ekonomi. Karena bangsa ini dibangun diatas semangat pembebasan, semangat mengangkat derajat bangsa secara komunal. Pemikiran ekonomi jenis ini sangat relevan dalam keadaan bangsa yang baru saja lahir, namun sungguh disayangkan jika kenyataanya, pemikiran tersebut tetap dipertahankan si tengah keadaan yang sudah tak menghendakinya. Penerus-penerus para Founding Father bangsa kita tak menyadari bahwa pendahulunya hanya membangun landasan yang harus diteruskan pembangunannya kea rah penyempurnaan.
Kemesraan Sejarah Indonesia dan Liberalisme.
“Indonesia harus berterimakasih pada liberalisme. Tak akan pernah dilahirkan ke dunia ini sebuah bangsa berdaulat bernama Indonesia jika tak ada liberalisme”. Begitu pernyataan Luthfie Assyaukanie tentang hubungan Indonesia dan sejarah kolonialisme.
Memang terdengar angkuh, klaim yang terlalu besar dan sangat mengada-ada. Bagaimana tidak, liberalisme lahir di barat sebagai motor renaissance barat, lalu dimulailah zaman IPTEK, dari sinilah kemudian lahir Revolusi Industri sebagai eksponen awal renaissance. Revolusi industry tak begitu saja lahir ke dunia. Kelahirannya ternyata membawa dampak signifikan dalam kehidupan manusia berbagai bidang, terutama social-ekonomi. Terjadi pemisahan antara pekerja dan pemilik modal. Walaupun melahirkan komunisme, namun kapitalisme jauh lebih hegemonic. Kapitalisme yang berkembang pesat, juga membutuhkan “asupan gizi” yang lebih banyak dan lebih banyak. Ketika produksi melimpah dan tingkat keuntungan merosot, kapitalisme harus melakukan tindakan bertahan. Penjajahan adalah solusi sebagai strategi kapitalisme untuk mempertahankan diri dari kehancuran yang segera terjadi. Penjajahan menjawab tiga tuntutan ekonomi penting: mendapatkan tenaga kerja murah, mendapatkan bahan mentah murah dan membuka pasar baru untuk produksi yang berlimpah. Akibatnya, berlomba-lombalah bangsa-bangsa barat untuk menumpuk daerah jajahan, diantara koebannya, adalah penjajahan Indonesia oleh Belanda.
Dalam sejarah colonial, tak semua orang belanda sepakat akan kolonialisasi. Namun, kebutuhan ekonomi dan determinasi politik membuat mereka membutakan diri dari ketiaksetujuan nurani mereka akan praktek kolonialisasi. Mereka yang komitmen penuh terhadap bisikan nurani, memperjuangkan kebenarannya dalam segala bidang dengan segala usaha yang mungkin dilakukan. Orang-orang inilah yang kemudia tergabung dalam Partai Liberal Belanda.
Ketika menjelang ujung abad 19 Partai Liberal Belanda memenagkan suara terbanyak di parlemen, dimulailah realisasi tuntutan kaum liberal, yaitu pelaksanaan Polithiek Ethiek. Sebuah strategi politik yang menekankan pembangunan Irigasi, Transmigrasi, dan Edukasi di daerah-daerah jajahannya. Memang tak sepenuhnya liberal, masih ada unsur-unsur kepentingan belanda di sana, dan tak seluruhnya dapat terlaksana dengan baik, namun dari sinilah titik tolak kebangkitan rakyat Hindia.
Pelaksanaan Polithiek Ethiek, terutama hal Edukasi, adalah tonggak awal bangkitnya kaum pribumi dari keadaan tertindas. Dari sinilah kamudian lahir tokoh-tokoh pergerakan nasional. Dibangunnya sekolahan-sekolahan probumi dan dibukanya sekolah belanda untuk kalangan bangsawan pribumi melahirkan orang-orang “tercerahkan” akan nasib bangsanya, lalu orang-orang inilah yang kemudian membentuk Epistemic Community pergerakan nasional. Inilah akar-akar sebenarnya kesatuan bangsa Indonesia dan kemerdekaannya sebagai Negara berdaulat.
Kesimpulannya, benar kata Luthfie, kita sebagai bangsa Indonesia (entah setuju atu tidak dengan ide liberalisme) harus berterima kasih sebesar-besarnya kepada liberalisme atas kebebasan yang kita nikmati sekarang ini. [bali]