Judul asli draft tulisan ini adalah “Teologi Islam, Teologi Pembebasan”. Terlepas dari pemaknaan kata Teologi Pembebasan yang dalam kancah pemikiran dunia sering dimaknai pergerakan “kiri”, teologi pembebasan dalam konteks ini dimaksudkan untuk menggambarkan bagamana konsepsi teologi yang diajarkan Muhammad begitu dalam dan akurat, meruntuhkan segala macam bentuk penyelewengan teologis, menisbatkan inti dari ide dasar teologi itu sendiri. Konsepsi teologi yang diajarkannya, dan diajarkan Nabi-nabi sebelumnya, adalah yang kemudian kita kenal dengan Tauhid.
Dari judul asli yang demikian indah dibaca, kemudian diganti menjadi judul yang sekarang dikarenakan dua hal, yaitu:
- Wacana Liberalisme masih menjadi momok yang menakutkan di kalangan pemikir-pemikir Indonesia. Pencitrannya perlu digencarkan agar membiasakan tradisi pemikiran intelektual Indonesia dengan Liberalisme.
- Untuk menegaskan pesan utama tulisan ini bahwa bertauhid dalam islam, berarti berliberal dalam kehidupan.
Dengan perimbangan diatas, maka berikut ini penulis suguhkan pandangan penulis tentang teologi islam dan korelasinya dengan ide liberalisme.
Tauhid, posisi vital dalam peradaban Islam
Berbicara tentang definisi agama, tentunya akan sangat banyak pengertian yang disuguhkan para pemikir. Hal ini wajar karena memang agama merupakan perwujudan bentuk aplikasi dari spiritualitas yang tentu saja bersifat sangat personal. Diluar fakta terjadinya beragam sengketa pendatap dalam memahami agama, dapat kita ambil garis besar bahwa suatu faham bisa dikategorikan sebuah agama ketika dia memiliki tiga unsur utama, yaitu: penyembah, yang disembah dan prosesi penyembahan yang ketiganya termanifestasi dalam ajaran hidup penganutnya. Tiga unsur ini pula lah yang kemudian membolehkan kita menyebut islam sebagai agama.
Dalam islam, ketiga unsur penyusun tersebut disatukan dalam satu konsep hubungan. Konsep hubungan ini mengatur bagaimana seorang penyembah memposisikan yang disembahnya, kamudian dari konsep penyembahan itu muncullah hukum-hukum turunan yang diterjemahkan kedalam prosesi penyembahan. Konsepsi inilah yang disebut dengan tauhid. Walaupun ada prosesi khusus sebagai media penyembahan, namun islam tak melepaskan kehidupan nyata dengan prosesi penyembahan. Islam tak mengenal pemisahan antara berhubungan transcendental vertical manusia kepada Tuhan dengan hubungan horizontal dengan segala yang ada di dunia ini. Segala gerak langkah kehidupan seorang muslim, adalah prosesi penyembahan kepada Tuhannya walaupun itu diterjemahkan dalam praktek hubungan horizontal terhadap sesama ciptaan Tuhan. Semangat tauhid menjadi motor utama penggerak kehidupan ber-islam. Murtadha Muntahhari mengungkapkannya dengan pernyataan bahwa pandangan dunia tauhid berarti alam semesta ini unipolar dan uniaxial. Pandangan dunia tauhid berarti bahwa hakikat alam semesta ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Seperti Toshio Kuroda dalam bukunya Islam Jiten menyatakan bahwa islam adalah norma kehidupan yang sempurna yang dapat mengadaptasi dengan setiap bangsa dan setiap waktu. Firman Allah adalah abadi dan universal, yang mencakup seluruh aktivitas dari seluruh suasana kemanusiaan tanpa perbedaan apakah aktivitas mental ataukah aktivitas duniawi. Keesaan Tuhan berarti juga keesaan kehidupan, yakni tak ada pemisahan spiritualitas dan jasmaniah, antara keduniawian dan keagamaan. Dengan memahami seluruh aspek kehidupan diatur oleh satu hukum, dan tujuan seluruh muslim bersatu dalam kehendak Allah. Dengan begini, maka jelaslah bagi kita bahwa peranan tauhid dalam peradaban islam adalah sebagai motor utama. Pandangan tauhid adalah konsepsi superior yang determinan terhadap cara seorang muslim memandang segala sesuatu.
Hukum Relavitas Tauhid
“Aku belum tahu apakah islam itu sebenarnya. Aku baru tahu islam menurut HAMKA. Islam menurut Natsir. Islam menurut Abduh. Islam menurut ulama-ulama kuno. Islam menurut Djohan. Islam menurut Subki. Islam menurut yang lain-lain dan terus terang, aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu. Belum kutemukan yang kucari, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi dari Qur’an dan sunnah? Akan kucoba, tapi orang-orang lainpun akan beranggapan bahwa yang didapat adalah islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kufahami itu adalah Islam menurut Allah, Aku harus yakin itu.”
Catatan Harian Ahmad Wahib
28 Maret 1969
Inilah sebuah gambaran sederhana uang memberitahu kita satu fakta universal dan sangat substansial bahwa islam itu sangat majemuk dan memang harus majemuk sampai kapanpun. Tentunya, kita semua tahu bahwa dasar islam adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan dan yang berasal dari tuhan haruslah mutlak. Namun jangan pernah lupakan pula bahwa untuk menunaikan yang mutlak itu dalam kenyataan hidup butuh penafsiran dari yang akan menerapkannya itu. Hal ini juga dilakukan Nabi Muhammad ketika beliau memimpin ummat dengan Wahyu sebagai tuntunannya dan hadis-hadis beliaulah tafsir beliau akan wahyu tersebut. Kalau boleh jujur, sebetulnya manifestasi lafadz-lafadz Qur'an dalam bahasa Arabpun merupakan penerjemahan linguistik wahyu Allah ke dalam relitas sosio-antropologis penerima wahyu tersebut, Muhammad.
Selepas wafatnya Sang Nabi, persoalan tafsir ini rupanya menjadi permasalahan pokok di kalangan ummat muslim. Sudah merupakan rahasia umum jika dalam kehidupan islam pasca nabi sering terjadi perselisihan pendapat di kalangan sahabat. Di masa sahabat, perbedaan pendapat seruncing apapun bukanlah merupakan suatu permasalahan. Karena para sahabat begitu mafhum bahwa penafsiran itu sangat, bahkan harus relative. Adapun perbedaan pendapat yang kemudian menggoreskan konflik, itu adalah ketika perbedaan pendapat syar’iyyah diangkat ke atas panggung politik. Jika sudah menyentuh dimensi yang satu ini, jangankan antara sahabat nabi, bahkan Ali sang kemenakan dan menantu Nabi pun terlibat perang melawan Siti Aisyah, mertuanya sendiri (perang jamal), istri Nabi. Lalu, apakah kita hendak menganggap bahwa mereka kurang faham ajaran yang dibawa Nabi??
Perbedaan pendapat ini kemudian berkembang pesat di generasi islam berikutnya, berikutnya, berikutnya hingga sekarang. Namun naasnya, mayoritas generasi islam berikutnya memahami bahwa perbedaan penafsiran adalah sesuatu yang membuat muslim bukan “kita” lagi, tetapi “kalian” dan “kami”. Konflik yang dahulu hanya terjadi atas dasar kepentingan politik yang memang belum sehat terbangun di masa nabi diterjemahkan menjadi: beda keyakinan, beda jalan, beda tujuan, kamu ke neraka dan aku ke surga. Konyolnya, mereka beranggapan bahwa islam ya sebagaimana yang aku fahami, diluar itu, bukan!. Dengan pola fikir demikianlah kemudian mereka mendapatkan pembenaran syar’iyyah umtuk memerangi mereka yang tak sependapat (e.g. kasus berkepanjangan sunni x syiah). Konflik konyol yang sebetulnya tak perlu terjadi.
Dalam hal penafsiran, tentunya kita harus menempatkan semua manusia sebagaimana manusia yang manusiawi. Sebagai basyar, manusia adalah mahluk biologis yang butuh akan asupan energy, pemenuhan gizi baik, butuh akan pelampiasan hasrat-hasrat biologisnya. Sebagai nas, manusia adalah makhluk yang tak akan pernah bisa lepas dari kegiatan pengaruh-mempengaruhi antara dirinya sebagai individu dengan kondisi lingkungan sosialpolitiknya. Keduanya akan sangat fundamental perannya ketika manusia sebagai insan terus berproses menuju kebaikan. Dalam berproses, setiap individu akan berbeda perjalanan dan hasilnya. Akan sangat arogan dan sarkastik tanpa dasar, ketika kita beranggapan bahwa penafsiran seorang manusia (yang tak lepas dari tiga kualitas kemanusiaannya) bisa dijadikan dasar hukum untuk menyalahkan penafsiran manusia lainnya yang sama-sama berproses menuju kebaikan. Apalagi dengan yakin menyatakan arogansinya dalam kalimat: kamu kafir, kamu keluar dari islam. Na’udzubillah!.
Berlandaskan nilai liberal, Menjadi Rahmatan lil ‘Alamin
Islam diturunkan ke muka bumi untuk menyempurnakan tingka-polah manusia, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Islam menjanjikan kejayaan kepada penguasa, sambil menyemai kemakmuran ditengah mereka yang jelata. Islam menyuguhkan tantangan bagi yang cerdas berilmu, sambil menjadi penerang bagi yang bodoh tak tahu-menahu. Islam menjanjikan bahagia kepada mereka yang kaya dengan menyambung nyawa mereka yang tak punya. Islam menjunjung tinggi kerja keras, namun tak melupakan kehendak Sang Atas. Islam, menyediakan kebahagiaan hakiki yang abadi dalam kehidupan dan kematian.
Identitas islam seperti yang diugapkan diatas, adalah identitas yang hampir tak menuai kontriversi. Semua muslim akan sepakat jika dikatakan bahwa islam adalah rohmatan lil alamin, namun akan banyak pendapat jika ditanya, bagaimana hingga islam bisa menjadi rahmatan lil alamin?. Hal ini wajar saja terjadi, bahkan harus terjadi, karena ini merupakan interpretasi yang subjektif, tergantung perjalanan moral, spiritual interpretator yang merupakan cerminan keadaan sosial budaya di masyarakatnya.
Sebagai muslim, wajib hukumnya bagi kita untuk menuhankan Sang Esa, Tuhan yang Cum Universum, Omnipotent, Maha Kuasa, Ad Dhohir, Al Bathin, Allah Yang Maha Misteri. Bagi seorang muslim sejati, konsepsi ketuhanan adalah proses tiada ahir karena akan menjadi terbataslah Tuhan jika proses itu berhenti (dianggap telah sempurna) sementara kesempurnaan hanyalah milik-Nya sedangkan manusia itu nisbi. Dalam hal ini Wahib berpendapat “Yang paling dekat untuk mengerti Yang Mutlak (tuhan) itu adalah puncak dari kenisbian akal. Karena itu, pertinggilah terus puncak dari akal yang nisbi itu. Kejar dan kejar terus puncak kenisbian itu. Hanya dengan demikian kita akan semakin dekat pada kemutlakan Dia Yang Maha Mutlak”.
Setelah kita semua faham bahwa konsepsi bertauhid adalah proses tiada ujung yang dinamis dan akan mati membusuk jika berhenti berproses, maka hal berikutnya yang harus kita fahami bersama adalah bahwa proses itu berbeda satu sama lainnya antar manusia. Mereka yang konsisten menempuh jalan tauhid menjalani proses yang sama dalam dimensi yang berbeda-beda. Ghazali contohnya, bertolak dari filsafat, beliau menemukan “Tuhan” dengan tasawwuf. Berbeda halnya dengan Ibnu Rusyd yang menemukannya dalam berfilsafat, atau Ibnu Sina dalam Ilmu Pengobatan, Rasyid Ridha dalam logikanya, juga akan berbeda dengan Al-Biruni dalam ilmu Tekniknya, Umar bin Abdul Aziz dan Harun Arrasyid dalam berpolitik, Jalaludin el Rumi dalam sastra.
Perbedaan itu juga mencolok terlihat dalam potret kecil islam di Indonesia. Masa Islam awal, bisa kita lihat bagaimana Syekh Siti Jenar “menyatu” dengan Tuhannya dalam tasawwuf, Sunan Kalijaga dalam Wayang, Sunan Bonang dalam Gamelan dan syair, dan sekarang, kita bisa lihat bagimana Ulil Abshar berislam dengan ide Islam Liberalnya, Gus Dur dengan pluralismenya, Din syamsudin dengan Islam yang Berkarya, Ismail Yusanto (HTI) dengan khilafahnya, PKS yang hadir sebagai Muslim Negarawan, Habib Riziq dengan Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Yusuf Mansyur dengan Islam Berzakat dan lain sebagainya. Gerakan – gerakan semacam ini sangat prinsipil perbedaanya. Namun apakah kita harus membenarkan yang satu lalu menyalahkan yang lainnya??? Saya rasa tidak. Inilah interpretasi, inilah sisi kenisbian kemanusiaannya membuat mereka menerjemahkan islam dengan berbagai wajah, namun inilah islam dan sampai kapanpun harus seperti ini.
Selama orientasi proses itu murni kepada kebaikan dan kesempurnaan tauhid, maka apapun interpretasi mereka mengenai islam, itulah islam sesungguhnya. Tak ada monopoli tafsir karena ilham (baca:wahyu) diturunkan kepada mereka yang Allah pilih, bukan pilihan manusia. Sudah waktunya memang bagi kita sebagai muslim Indonesia untuk mengabdikan diri hanyut dalam proses dengan orientasi tersebut sambil membebaskan muslim lain menempuh proses lain dengan orientasi yang sama. Selama tak mengganggu “sang lain” dalam dimensi perbuatan, maka apapun yang kamu lakukan adalah benar.[bali]

sampai saat saya mengkomentari ini, saya masih menunggu seseorang membenarkan tulisan saya jika ada yang salah..., maukah kamu jadi yang pertama?
BalasHapus