Rasa yang Asing
Yah, hari kamis sore, selepas kuliah kuputuskan bertolak meninggalkan Jakarta dan segala hiruk-pikuknya menuju Cirebon, menjenguk Kaka Ipar yang tepat baru seminggu melahirkan serta Sang Cahaya Harapan, Kemenakan Pertamaku, Sang Pembangun Kemaslahatan (begitu kusebut dia) tepat di hari ke-tujuhnya menghirup udara dunia. Kabar kehadirannya ke dunia 168 jam yang lalu menjadi nafas baru bagiku. Dia, bekal baru bagiku mengarungi hidup, sumber inspirasi baru saat sumber inspirasi lainnya menjauhiku, penyambung nafas ketika mulai sesak dan hampir putus, pemenuh dahaga jiwa penangkal petaka. Dia, yang senyumnya akan menjadi penghancur segala gundah, wajahnya yang akan mengubur semua resah, tawanya yang akan membawaku ke dunia indah, satu dunia yang hanya ada cerita tentang tawa.