Sejak manusia
mengenal matematika, dunia mereka tak pernah lagi sama. Dari masa ke masa
aktivitasnya sama: mencari pola segala sesuatu, lalu memproyeksikan
konsekuensi-konsekuensinya. Kemampuan menangkap pola membuat manusia mampu memahami
cara kerja lingkungan hidupnya, kemampuan memproyeksikan konsekuensi lanjutan
dari pola yang dipahami membuat manusia mampu mengantisipasi bahkan memanipulasi
lingkungannya. Seiring dengan semakin banyaknya informasi yang dikumpulkan dan
dikomunikasikan dalam komunitas, manusia mulai membangun peradaban di muka
bumi. Cara pikir matematis seperti ini adalah kemampuan nalar dasar manusia.
Tentu saja, kemampuan ini hadir jauh sebelum istilah “matematika” diciptakan.
Kerja-kerja
matematika ternyata banyak memudahkan hidup manusia. setelah manusia mampu
membedakan satu hal dari hal lainnya, dengan matematika mereka kini mulai bisa menghitung
berapa jumlahnya, berapa nilainya dan apa saja jenisnya. Matematika juga
membuat manusia memahami bahwa bentuk paling tak beraturan sekalipun tersusun
oleh bangun-bangun dasar yang sama: persegi, segi tiga dan lingkaran dengan
berbagai varian dan kombinasinya. Juga, manusia memahami ada
perubahan-perubahan yang terus terjadi mengikuti pola-pola tertentu seperti
pola perubahan musim mengikuti pola gerak semu matahari atau bagaimana pola
pasang-surut air mengikuti pola perubahan bulan dan sebagainya dan sebagainya.
Manusia mulai menyederhanakan dunia dalam konsep, pola dan rumus.