Sejak manusia
mengenal matematika, dunia mereka tak pernah lagi sama. Dari masa ke masa
aktivitasnya sama: mencari pola segala sesuatu, lalu memproyeksikan
konsekuensi-konsekuensinya. Kemampuan menangkap pola membuat manusia mampu memahami
cara kerja lingkungan hidupnya, kemampuan memproyeksikan konsekuensi lanjutan
dari pola yang dipahami membuat manusia mampu mengantisipasi bahkan memanipulasi
lingkungannya. Seiring dengan semakin banyaknya informasi yang dikumpulkan dan
dikomunikasikan dalam komunitas, manusia mulai membangun peradaban di muka
bumi. Cara pikir matematis seperti ini adalah kemampuan nalar dasar manusia.
Tentu saja, kemampuan ini hadir jauh sebelum istilah “matematika” diciptakan.
Kerja-kerja
matematika ternyata banyak memudahkan hidup manusia. setelah manusia mampu
membedakan satu hal dari hal lainnya, dengan matematika mereka kini mulai bisa menghitung
berapa jumlahnya, berapa nilainya dan apa saja jenisnya. Matematika juga
membuat manusia memahami bahwa bentuk paling tak beraturan sekalipun tersusun
oleh bangun-bangun dasar yang sama: persegi, segi tiga dan lingkaran dengan
berbagai varian dan kombinasinya. Juga, manusia memahami ada
perubahan-perubahan yang terus terjadi mengikuti pola-pola tertentu seperti
pola perubahan musim mengikuti pola gerak semu matahari atau bagaimana pola
pasang-surut air mengikuti pola perubahan bulan dan sebagainya dan sebagainya.
Manusia mulai menyederhanakan dunia dalam konsep, pola dan rumus.
Setiap
peradaban besar dibangun diatas fondasi matematis yang kuat. Piramida di Mesir
merupakan salah satu contoh kemajuan pemahaman dan penerapan matematika dalam
kehidupan masyarakatnya. Tak mungkin manusia bisa membangun struktur organisasi
serumit “negara” atau “kerajaan” kalau tidak memiliki dasar matematis yang
kuat. Kebutuhan mendirikan organisasi pemerintahan merupakan konsekuensi
logis-matematis dari deduksi penyelesaian sengketa-sengketa sosial dalam
komunitas manusia. Tak mungkin manusia bisa membangun sistem irigasi yang baik
tanpa didasari pemahaman matematis yang mendalam. Matematika adalah cara kerja
otak untuk memahami kenyataan. Seperti ujaran Descartes, with me everything
turns into mathematic! Bagi mereka yang paham matematika, segala hal tampak matematis.
Interntional Congress of Mathematicians
Setiap
kebudayaan memiliki ahli-ahli matematika, setiap bangsa memiliki ahli-ahli
matematika, setiap zaman memiliki ahli-ahli matematika. Demi percepaan kemajuan
peradaban umat manusia, ahli-ahli matematika ini harus saling terhubung, saling
berkomunikasi, saling berbagi masalah dan solusi. Dan mereka, para ahli
matematika itu tentu saja menyadarinya. Vitalnya pembentukan sebuah pertemuan
para ahli matematika dari seluruh dunia adalah mathematically important!
Chicago, tahun
1893 sedang sibuk mempersiapkan peringatan 400 tahun “penemuan” Christopher
Columbus atas Dunia Baru itu, benua Amerika. Serangkaian kongres ilmu
pengetahuan dan filsafat internasional dijadwalkan untuk digelar. Salah satunya
adalah yang digelar dengan sebutan “World Congress” of Mathematicians and
Astronomers. Kongres ini diisi serangkaian kuliah perkembangan matematika
mutakhir waktu itu serta tentu saja, pembicaraan menganai bagaimana mempererat
kerjasama antar ahli-ahli matematika dari seluruh belahan dunia.
Kongres berikutya
digelar di Zurich, Switzerland pada tahun 1897. Dengan semangat untuk berkomunikasi
dan berkolaborasi dengan rekan satu keahlian, ahli matematika dari seluruh
penjuru dunia berkumpul di sana pada Agustus tahun itu. Tepat seperti yang
diucapkan Adolf Hurwitz dalam sambutannya "It’s true that the great conception of science
generally develop and mature in the silent study of the scholars. No science, unless perhaps
philosophy, has such a brooding and solitary character as mathematics. But
nevertheless there lives in the breast of the mathematician the necessity for communication,
for conversation with colleagues." Di kongres inilah disepakati bahwa
World Congress Chicago merupakan International Congress of Mathematicians yang
pertama. Kongres ini juga menyepakati akan menerbitkan buletin berkala yang
memuat kerja-kerja matematika mutakhir untuk menstimulasi kemajuan matematika
dunia. Verbus unitis! Sei usere losung. Dan sejak itu, International Congress
of Mathematicians digelar berpindah tempat secara berkala empat tahun sekali.
Pada perkembangan berikutnya,
kongres ini juga memberikan berbagai penghargaan bagi mereka yang memiliki
kontribusi besar pada kemajuan pemahaman matematika. Salah satu yang paling
prestisius adalah International Medal for Outstanding Discoveries in
Mathematics atau biasa disebut Fields Medal.
Penghargaan yang pertama kali diberikan di Oslo pada 1936 ini memiliki syarat
lain selain pencapaian matematis, yaitu penerima harus berumur maksimal 40
tahun terhitung sejak 1 Januari tahun kongres. Penerima penghargaan ini
diumumkan di hari pertama kongres. Dalam dunia matematika, prestige penghargaan
ini bahkan lebih tinggi dari Nobel Prize. Penghargaan ini adalah pencapian
terbesar matematikawan muda dunia.
Tahun ini, seoul mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah International
Congress of Mathematicians. Tercatat, ini adalah kali ke empat ICM digelar di
Asia. Sebelumnya, Kyoto menjadi tuan rumah pada ICM 1990, Beijing pada 2002 dan
Hyderabad pada 2010. ICM kali ini digelar sejak 13 hingga 21 Agustus ini
mengambil "Dreams
and Hopes for Late Starters" sebagai tema
Seoul ICM 2014. Penerima Fields Medal dalam kongres tahun ini pun banyak
mengundang perhatian dunia. Bagaimana tidak? Tiga diantaranya berasal dari “dunia
ketiga” atau dalam bahasa comitee disebut “late starters”. Pertama kali warga
Amerika Latin menjadi penerima medal dan untuk pertama kali sepanjang sejarah
hadiah ini diberikan kepada seorang perempuan!
Adalah Artur Avila dari Brazil,
Manjul Bhargava warga Kanada-Amerika keturunan India, Martin Hairer dari
Austria dan yang paling mengundang perhatian adalah Maryam Mirzakhani dari Iran
yang dianugerahi International Medal for Outstanding Discoveries in
Mathematics atau Fields Medal pada
pembukaan Seoul ICM 2014.
Artur Avila adalah orang Amerika Latin pertama yang menerima anugerah
ini. Artur dianugerahi Fields Medal karena kontribusi besarnya menjelaskan
soal dynamic system, interval exchange transformation, weak mixing dan
sebagainya. Artur memenangkan International Mathematical Olympiade pada tahun
1995 lalu melanjutkan studi di Instituto Nacional de Matemática Pura e Aplicada
hingga mendapatkan Ph. D pada umur 21. Pria yang lebih suka beraktivitas dengan
berjalan kaki ini juga pernah menerima berbagai penghargaan bergengsi
matematika. Berbeda dengan Artur, Manjul Bhargava mendapatkan Fields Medal "for
developing powerful new methods in the geometry of numbers, which he applied to
count rings of small rank and to bound the average rank of elliptic curves."
Lelaki yang akrab dengan Hukum Gauss ini menjabat R. Brandon Fradd Professor of
Mathematics di Princeton
University, New Jersey. Sedangkan Martin Hairer adalah Regius Professor of
Mathematic di University of Warwick, Austria. Tentu saja, ketiganya telah banyak
berkontribusi pada kemajuan pemahaman matematika umat manusia dan banyak
menerima penghargaan-penghargaan bergengsi di bidangnya. Tentang Maryam
Mirzakhani? Tentu saja butuh sub bab khusus untuk membahas ahli matematika
cantik asal Iran ini!
![]() |
| Maryam Mirzakhani muda dalam suatu perkuliahan di tehran |
The Lady of Math: Maryam Mirzakhani
Bagaimanapun, Maryam
Mirzakhani memang spesial dan sejatinya butuh pembahasan khusus. Bagaimana tidak?
Dia adalah orang Iran pertama penerima penghargaan ini, dia adalah Muslim
pertama penerima penghargaan ini dan yang paling spektakuler, dia adalah wanita
pertama penerima penghargaan ini. Bayangkan, wanita, muslin dan berasal dari
timur-tengah. Tiga predikat identik inferior dalam dunia sains melekat
sekaligus padanya tapi itu tak menghalanginya untuk bersinar! Dengan elegant,
dia membantu umat manusia memahami persoalan-persoalan pelik dalam matematika
mutakhir. Rasanya, tak berlebihan jika saya menyebutnya The Lady of Math. Bahkan,
jika kita ada di zaman pra-modern, mungkin dia akan disebut The Goddess of
Math.
Mirzakhani
lahir pada Mei 1977 dalam sebuah keluarga yang hangat di Tehran beberapa tahun
sebelum Perang Teluk meletus. Selepas sekolah dasar, Perang telah usai dan Iran
Tehran menjadi lingkungan yang lebih kondusif bagi pendidikannya. Dia pun
menyadarinya. “I was very lucky in many ways. The war ended when I finished
elementary school; I couldn't have had the great opportunities that I had if I
had been born 10 years earlier.” Katanya saat diwawancara Clay
Mathematics Institute. “I think I was the lucky generation, I was a
teenager when things got more stable.” Katanya dalam kesempatan yang
lain.
Mirzakhani melanjutkan
sekolahnya di sekolah binaan Iran’s National Organization for Development of
Exceptional Talents, yaitu Farzanegan Middle School for Girls di Tehran. Lokasi
sekolahnya yang dekat dengan berbagai toko buku membuat Mir muda sangat gemar
membaca. Ia banyak menghabiskan waktu di toko-toko buku tersebut bersama
teman-temannya, terutama sahabatnya yang kemudian menjadi Mathematics Professor
di Washington University, Roya Bahesti. Mir muda tak pernah membayangkan
dirinya akan mendalami matematika. Ia lebih suka menjadi penulis. Ia banyak
membaca karya-karya tentang Marie Currie, Hellen Keller juga berbagai novel dan
bahan bacaan lainnya. Hingga tahun-tahun terakirnya di SMA dimana dia dan
sahabatnya Roya Bahesti dipilih dan akirnya memenangkan Olimpiade Matematika
Nasional. Sejak itu, matematika menyajikan tantangan yang selalu menarik dan
menyenangkan untuk dipecahkan. “It is fun – it’s like solving a puzzle or
connecting the dots in a detective case,” katanya. Menurutnya,
penelitian matematika itu tak jauh berbeda dengan menulis novel, “There are
different characters, and you are getting to know them better,” katanya.
“Things evolve, and then you look back at a character, and it’s completely
different from your first impression.”
Mirzakhani
mendapatkan Ph. D nya dari Harvard University dalam bimbingan Curtis McMullen
dengan tesis yang berjudul “Simple geodesics and the Weil-Petersson of Moduli
spaces of bordered Riemann surfaces.”. Muslimah asal Iran ini diangkat menjadi
Full Professor of Mathematic di Stanford University sejak 2008. Sebelum Fields
Medal, dia pernah juga dianugerahi berbagai penghargaan matematika bergengsi. Salah
satunya Blumenthal Award for the Advancement of Research in Pure Mathematics tahun
2009 dan Satter Prize of the American Mathematical Society tahun 2013.
Sebagaimana
hampir semua siswa di dunia, Mirzakhani pernah frustrasi kepada matematika.
Katanya, “I don't think that everyone should become a mathematician,
but I do believe that many students don't give mathematics a real chance. I did
poorly in math for a couple of years in middle school; I was just not
interested in thinking about it. I can see that without being excited
mathematics can look pointless and cold.”. lalu dia memberikan kesempatan pada
matematika untuk menunjukkan dirinya. Hasilnya, “The more I spent time on
mathematics, the more excited I became. The beauty of mathematics only shows itself to more patient followers.” Jadilah ia, legenda matematika!
Seorang muslimah Iran yang menjadi salah satu garda depan umat manusia dalam
memecahkan masalah-masalah matematis. [bali]
Rujukan:
Rujukan:
www.mathunion.com
www.icm2014.com
www.theguardian.com
www.tnnegypt.com
www.en.wikipedia.com
www.muslim-science.com
www.maths.ox.ac.uk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar