Alhamdulillah, rasa senang tak tertangguhkan lagi mengiringi syukur beribu syukur yang membuncah dalam hati. Seumur hidup, inilah yang pertama kalinya aku melakukan penelitian “serius”. Bayangkan, judulnya saja sudah menggetarkan siapapun yang mendengarnya “Uji Kualitas Air Laut dan Sumber Daya Perikanan di Kawasan Muara Angke”. Betapa tak menjadi suatu kebangggaan dapat turut serta dalam penelitian ini?! Bagiku, inilah saatnya aku menutup mata, menghela nafas dan berteriak: Eureka!
Sebagaimana yang kufahami, bahwa hidup sebagai manusia adalah hidup yang melulu tentang penelitian. Setiap gerak langkahnya adalah penelitiannya. Penelitian ada dalam kehidupan manusia bahkan di kehidupannya yang paling primitive sekalipun. Untuk mengetahui bahwa rasa cabe itu pedas dan rasa garam itu asin, sedangkan gula itu manis, dilakukanlah penelitian manusia dalam bentuknya yang paling sederhana. Penelitian seorang manusia dimulai sejak otaknya bekerja hingga nanti pada ahirnya otak itu harus berhenti bekerja, maka ia akan mewariskan hasil-hasil fundamental dari penelitiannya dalam bentuk informasi-informasi genetic yang terkodifikasi dalam DNA. Bahkan untuk menemukan konsep tauhid, Nabi Ibrahim melakukan penelitian. Dimulai dari mengumpulkan informasi, lalu menyusun hipotesis, melakukan eksperimen, dan ditariklah kesimpulan. Proses ini terus beliau lakukan terhadap bintang, bulan, matahari dan lainnya, hingga beliau tersadar bahwa tiada Tuhan selain Dia yang menciptakan semesta raya ini.
Keterlibatanku dalam penelitian ini, memaksaku berurusan dengan pihak-pihak terkait. Beberapa kali kami mengunjungi LSM lingkungan, WALHI Jakarta, beberapa dosen di MLH Pascasarjana UNJ pun tak luput dari kunjungan, tak lupa pula tempat-tempat seperti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, BPLHD Jakarta dan BPM – PHPK DKI. Dalam pengembaraan ilmiah inilah aku bertemu beliau, wanita-wanita super.
Wanita, oh wanita.
Jika ditanya, apa makhluk terindah yang pernah Tuhan ciptakan? Maka jawaban saya sungguh bukanlah gunung, pantai, hutan, danau, tebing, sungai, salju, hewan-hewan ataupun tumbuh-tumbuhan. Memang kesemunanya itu begitu indah dan memiliki titik keindahan tersendiri hingga terlalu bodoh kita jika tak merawatnya dan memastikan semuanya berjalan dalam keseimbangannya. Namun begitu, bagiku, yang terindah diantara yang indah adalah satu: wanita. Keindahannya menyilaukan dua dimensi mata, mata biologi dan mata hati. Dia indah dan memperindah yang lainnya. Dialah mahakarya Sang Maha Indah.
Mungkin memang sudah naluri kelaki-lakianku untuk mengagumi wanita sedemikian hingga. Namun memang hanya wanitalah yang mampu membawa keindahan dan menebarkannya di setiap sendi kehidupan, membangkitkan insprirasi. Wanita bagiku adalah sumber kehidupan. Sebagai anak yang dihidupkan oleh hangatnya sentuhan seorang ibu, maka ialah wanita pertama yang paling sedap dipandang senyumnya, paling lembut disentuh tangannya, dan paling menyakitkan kesedihannya. Dengan begitu, tumbuh dewasalah aku sebagai seorang pencinta wanita.
Penelitian terindah dalam hidupku.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, betapa besar makna penelitian ini bagiku, di sela-sela kesibukannya, penelitian ini justru menjadi begitu indah. Dalam beraktivitas bergulat menekuni penelitian ini, aku mendapatkan kesempatan untuk dipertemukan dengan kehidupan mahluk pujaanku, wanita. Berikut beberapa wanita tersebut dan mengapa mereka begitu bermakna bagiku.
Ibu Tuti, Kepala Lab. BPLHD Jakarta.
jika kamu mencari sosok seorang ibu yang kuat dan tak sedikitpun takut menantang badai kehidupan, namun lembut dan teduh mengayomi, maka beliau inilah orang yang tepat. Ibu Tuti, kepala laboratorium BPLHD Jakarta.
Pertemuan pertamaku dengan beliau berahir tragis. Aku yang memang tak begitu dalam pemahamannya mengenai penelitian ini terkapar tak berdaya menghadapi pisau analisisnya. Argumentasinya yang singkat namun substansial menunjukkan tingkat kepakaran beliau tentang masalah lingkungan. Akupun berahir sebagai pecundang bodoh yang telah berani berteriak di depan Sang maestro. Namun kesantunan sikapnya serta perangainya yang begitu bersahaja, membuatku menyadari bahwa beliau bukanlah wanita sembarang wanita. Beliau, seorang baik hati yang menjunjung tinggi sikap profesionalisme.
Sikapnya setelah aku menyerah, mengaku kalah, semakin meyakinkanku bahwa dibalik topeng besinya yang gantang, tersimpan wajah teduh penuh kasih sayang. Beliaulah wanita super yang pertama, Si Teduh Bertopeng Besi.
Ibu Dini, Manager Umum BPM – PHPK DKI.
Berbeda 180o dengan Ibu Tuti, Ibu Dini adalah sosok lemah lembut yang selalu memancarkan sinar kasihnya ke segala arah. Wajahnya asri seperti sebongkah teratai yang mekar di musim semi. Tutur katanya begitu rapi tertata sarat norma dan makna cerminan perangai halus yang mengabdikan diri untuk Dharma, menebar kasih ke seluruh penjuru dunia. Garis-garis mukanya masih lugas mengesankan betapa ia cantik saat masih muda. Inilah kecantikan phylogynik yang bahkan jika pemiliknya adalah seorang iblispun, masih layak disebut cantik.
Gayanya yang simple dan trendi, mengesankan bahwa ia seorang wanita modern dengan sudut pandang postmodern. Layaklah kiranya aku menyebutnya, Kartini Hari Ini. Ah, wanita setulus itu, jikapun di buruk rupa, aku akan tetap menyebutnya cantik. Inilah wanita super kedua, Dewi Kuan Im.
Ibu Devi, Manager Teknis BPM – PHPK DKI.
Perangainya mengingatkanku kepada ibuku sendiri. Sederhana, santun dan bersahaja, namun juga kritis investigative menelisik lorong-lorong gelap dalam hati lawan bicaranya. Cara berkerudungnya tak beda jauh dengan ibu-ibu pengajian di desaku, asal nempel di tenpatnya, ada rambut yang sedikit terlihat beliau tak ambil pusing. Jika berdialog mengenai hal-hal keilmuan, beliau akan mengeluarkan semua jurus yang dikuasainya, kalaupun kita tak dapat meladeninya, maka beliau akan ajarkan saat itu juga. Aku ingat betul bagaimana beliau menyimak pembicaraanku dengan mata polos menatapku hangat dengan kacamata hampir jatuh. Aiih…., serasa ibu kandungku saja ibu ini.
Menjabat Direktur Teknis di BPM – PHPK DKI, beliau mengepalai sebuah laboratorium pemerintah yang cukup lengkap dan tersertifikasi standard mutu internasional. Namun begitu, itu semua tak membuatnya arogan dalam diskusi, beliau menghargai betul akan perbedaan pandangan dengan siapapun namun pelan-pelan membuat yang berbeda pandangan mengakui kekeliruan pandangannya. Maka inilah wanita super ketiga, Sang Induk Ayam.
Maryam Jameelah, Ketua Tim Riset.
Sebagai ketua tim, memang sudah sepantasnya ia menjadi orang yang paling faham mengenai riset ini. Ya, ia memang melakukan tugas itu dengan sempurna. Bagiku, ketika aku dibantai oleh Si Teduh Bertopeng Besi dan Sang Induk Ayam, maka dialah dewa penyelamatku. Seorang wanita kecil, lemah, imut, namun berjiwa besar dan memiliki daya juang diatas rata-rata. Hari-hariku bersamanya menimbulkan kesadaran kecil dalam hatiku, wanita kecil sekuat ini…, suatu saat harus ada yang mengetahui kisahmu dan akulah yang akan menuliskannya. Itu tekadku sebagai tanda terimakasih atas hari-hari indah bersamanya. Maka inilah wanita super ke empat, Aceh!.
Syukurku tiada terperi karena telah diberikan kesempatan untuk menikmati lautan gelombang inspirasi dari wanita-wanita super ini. Wanita terindah adalah mereka yang berani menjadi pelaku hidup, tak sekedar meringkuk sebagai pelengkap kehidupan, apa lagi menjadi beban kehidupan. Maka hiduplah kau wanita! Karena kehidupan menunggu untuk kau lahirkan![bali]

penelitian ini menjadi pengalaman yg tak terlupakan buat kitaa kak. :)
BalasHapusseneng bgt bisa ikut dalam tim. ;D
oiya.. itu knp spanduk KPM isinya foto2 kakak semua yaa?? gak rela. hahaha :D
hehehe, ketum KPM terpesona kali ama gue???
BalasHapusyoyoi lah, kan karena penelitian itu juga gua bisa deket ama tia, hehehe
saya sepakat, untuk keTIDAKRELAan @Thya..
BalasHapuskita buktiin ya, foto gue yang di spanduki KPM bakal jadi daya tarik tersendiri buat MaBa..., terutama kaum hawa, hehehe :P
BalasHapus