Categories

Senin, 21 November 2011

BROKENHEART!!!.


Seperti yang kita semua tahu, setelah menekuk Vietnam dua gol tanpa balas di perempat final (19/11), Skuad Garuda Muda berhak melaju ke final menghadapi Malaysia yang lebih dulu memenangkan duel melawan Kamboja untuk mendapatkan tiket yang sama. Jadilah Indonesia harus menghadapi Malaysia untuk kedua kalinya dalam turnamen SEA GAMES XXVI ini demi mendapatkan gelar juara di cabang olahraga paling favorit di dunia itu.
Pertemuan kedua negara memang terkenal sengit dan berdeterminasi tinggi. Mulai dari tensi para pemain di lapangan hijau, pelatih di sisi lapangan, pejabat-pejabat pemangku kepentingan hingga antusiasme supporter seakan ingin menegaskan persaingan terbuka negara yang sering terlibat konflik tersebut. Gesekan-gesekan dua negara se-rumpun ini dalam berbagai media seperti kasus klaim kebudayaan, saling caci di dunia maya, diskriminasi sosial kewarganegaraan hingga konflik perbatasan seakan tertumpah bermuara dalam pentas sepakbola. Bahkan mungkin kemenangan di laga ini jauh lebih prestisius daripada gelar juara umum SEA GAMES XXVI.
Dengan determinasi tinggi semacam itu, laga ini menjadi terlalu menarik untuk hanya disaksikan lewat layar televisi. Puluhan ribu supporter fanatik Indonesiapun membanjiri antrean loket penjualan tiket Gelora Bung Karno demi menyaksikan laga bergengsi ini. Jadilah kawasan stadion berkapasitas 80 ribu orang ini menjadi lautan manusia sejak minggu pagi.
The choicess.
Sebagai salah satu supporter fanatik Tim Nasional Indonesia, penulis pun merencanakan untuk menonton laga ini secara langsung. Rencana-rencana disusun demi merealisasikan proyek ini. Mulai dari penggalangan dana hingga rencana teknis pembelian tiket segera tersusun rapi. Diputuskan bahwa tiket akan dibeli hari senin pagi.
Setelah semua perencanaan matang, satu kerikil kecil menghalangi penulis untuk bahagia. Kerikil itu berupa ingatan. Ingatan bahwa senin sore adalah saatnya untuk evaluasi OAB KPM yang disitu peran penulis tak bisa digantikan. Evalusi ini penting karena di sinilah penulis bersama team acara akan mempertanggungjawabkan dari menit ke menit perjalanan acara mulai persiapan, pelaksanaan, penutupan, pasca, hingga evaluasi ini. Inilah ajang koreksi untuk berbenah menjadi lebih baik pada kesempatan selanjutnya. Yah, karena ingatan yang satu ini, hanya satu hal yang bisa penulis lakukan: galau!.
Sebetulnya, bukan perkara susah hingga harus ditentukan lewat Istikhoroh untuk memilih apakah akan mendahulukan rapat atau meninggalkannya untuk menyaksikan laga pamungkas ini. Tak butuh pertimbangan panjang untuk tahu bahwa rapat adalah kewajiban yang bagaimanapun sudah menjadi keharusan mendasar bagi penulis untuk mengikutinya. Apalagi mengingat kawan-kawan satu team di acara, Broy, Tatik dan yang utama, Tiia, penulis tak mungkin meninggalkan mereka hanya karena mendahulukan kesengan pribadi. Namun, laga ini merupakan laga nasional terpenting yang sangat prestisius. Mungkin, inilah momentum paling tepat bagi kebangkitan multidimensi bangsa ini. Mungkin inilah ahir inferioritas bangsa ini diantara bangsa-bangsa ASEAN lainnya. Mungkin inilah mentari yang mengahiri rundungan gelap malam yang begitu lama menyelimuti bangsa ini. Mungkin, inilah awal melonjaknya performa bangsa yang sangat penulis ini.
Okeh, keduanya penting dan tak mungkin dilewatkan begitu saja. Tanpa istikhoroh, penulis memutuskan untuk berusaha mengikuti keduanya. Toh rapat evaluasi kan dimulai jam 5 sore, masih bisa mengejar untuk ke Gelora Bung Karno menyaksikan laga final ini secara langsung.
The struggle.
Rencana awalpun dijalankan. Pagi-pagi penulis berangkat dengan Padal Andesia menuju Gelora Bung Karno untuk berburu tiket masuk pertandingan ini. Luapan rasa optimis membuncah memenui dinding hati bahwa semua yang telah direncanakan secara sistematis akan berlangsung sebagimana mestinya.
Sampai di loket penjualan tiket, tantangan pertama muncul. Hari masih begitu pagi saat itu, jam belum genap menunjuk angka sembilan, matahari masih hangat, namun suasana di areal loket penjualan tiket begitu kontras dengan kesan pagi yang ditimbulkan alam. Ribuan orang sudah berdesakan membentuk antrean sepanjang sekitar setengah kilometer. Dalam riuh calon penonton ini, terdengar berbagai keluan yang mereka teriakkan seperti “kami sudah dua hari mengantre!” atau “kami membayar ko, ga gratis!” bahkan, ada yang “panitia SEA GAMES makan gaji buta!” atau berbagai cacian atau keluhan lain yang tak kalah pedasnya. Tak heran mereka begitu emosi, dengan antrean sebegitu panjang dan padatnya, loket penjualan tiket ternyata sama sekali belum dibuka! Gila! Walaupun harus berdiri di urutan paling belakang, penulis ikut juga mengantre, mungkin sebagai pengantre ke sekian ribunya di pagi ini.
Sekitar pukul sepuluh, barulah loket pembelian karcis dibuka. Rasa lega merembes menghadirkan sensasi segar yang begitu sejuk. Dengan dibukanya loket, setidaknya ada sedikit harapan untuk segera mengahiri segala penderitaan ini. Lain di fikiran, lain juga di kenyataan. Pembukaan loket ternyata memberikan efek kejut kepada para pengantre. Pengantre yang mulai frustasi mulai saling mendorong. Ditengeh himpitan ribuan orang yang frustasi, penulis mengalami perjuangannya. Aksi saling mendorong menjadi hal berkepanjangan dalam antrean padat ribuan manusia ini. sedikit saja gerakan mendorong ke kanan, akan berimbas besar pada orang-orang yang berada di sisi paling kanan, selanjutnya mereka balas mendorong ke sisi kiri dengan lebih kuat. Akibatnya, gelombang saling mendorong pun menjadi efek domino berkepanjangan. Teriakan-teriakan kering untuk meredakan tensi saling dorong di kerumunan pengantre menguap begitu saja dibakar terik yang mulai terasa menyengat. Keringat membanjir dan bercampur-baur, segala macam bebauan menyatu, apatisme sosial menjadi fenomena wajar.
Gelombang-gelombang desakan, suara-suara bising, teriakan-teriakan kering dan hiruk-pikuk bebauan serta menipisnya oksigen di sekitar padatan manusia ini menjadi latar perjuangan penulis demi mendapatkan tiket. Apalagi mengingat panasnya terik saat itu dan keadaan penulis yang sedang berpuasa, suasana itu sungguh tak layak dikatakan manusiawi. Andes sudah menyerah tak sanggup melanjutkan, dan penulis masih bertahan. Demi indonesia, demi arogansi manusia tak berguna!.
Sekitar pukul sebelas waktu setempat, penulis sudah berada beberapa meter saja dari loket. Dipisahkan padatan manusia yang sudah tersentuh daya frustasinya dan dalam kondisi semacam ini, apapun bisa saja terjadi. Tragisnya, penjaga loket meninggalkan markasnya. Ruang penjualan loket kosong! Pengantre panik, satuan brimob meninggalkan lokasi, penulis kecut. Ribuan pengantre tiket dibiarkan begitu saja bergelut di depan loket tanpa mekanisme penjualan tiket, tragis!
Bertahan dalam kondisi semacam ini sepuluh menit saja membutuhkan daya tahan hidup di atas rata-rata. Berbagai macam penderitaan kondisional ditambah ketidakjelasan struktural menjadikan antrean ini sebagai ajang ekspresi kekesalan supporter fanatik ini kepada berbagai lembaga pemangku kepentinga. PSSI, Kemenpora, panitia SEA GAMES dan presiden serta anggota DPR adalah piak yang paling sering dijadikan sasaran kemarahan massa. Ketidakteraturan kondisi, emosionalitas massa, buruknya manajemen, ruwetnya birokrasi, satu komposisi yang benar-benar: Indonesia!.
The loose.
Dalam puncak frustasi, saat jaru jam baru beberapa puluh menit berlalu dari angka dua belas, Andes melambaikan tangan mengajak meninggalkan area antrean. Hufth…, mungkin sampai di sini saja perjuangan penulis harus diahiri. Sebenarnya, penulis masih cukup kuat melanjutkan perjuangan ini, tapi, mempertimbangkan rapat evaluasi yang akan digelar sore nanti, rasanya, tak begitu bermasalah jika penulis menonton pertandingan ini hanya dari layar TV. Selain menanggapi ajakan Andes, Tiia dan evaluasi adalah motif utama penulis meninggalkan barisan pengantre. Terngiang bayang-bayang rasa bersalah meninggalkan kuliah demi ini, namun ahirnya inipun harus direlakan. Keputusan itu cepat saja diambil dan kami pulang tanpa dendam, menerima kekalahan. Transjakarta kami tumpangi dalam keadaan basah kuyup oleh balutan keringat yang masih juga deras mengucur. Aku kalah.
Seturunya penulis dari transjakarta, Andes mengabarkan petir kekalahan kedua. Tiia mengabarkan bahwa rapat diundur untuk hari rabu besok. Kata Tiia, “selamat ya kalian…, keajaiban ahirnya datang juga!!! ☺ rapat diundur rabu besok.” My God!!! Penulis merunduk dalam kekesalan. Entah rasa apa ini, yang pasti, ini sakit! Mungkin, ini yang biasa orang sebut patah hati. Ya, patah hati atas kekalahan keduaku hari ini. seperti sengatan es pada gigi sensitif. Tiba-tiba, tak terduga, halus, tapi mematikan!.
Epilog.
Setelah sedikit mereda, panulis mendapat kabar bahwa loket yang kami tinggalkan tadi pagi, dibakar orang sesaat setelah kami tinggalkan. Jujur, kabar ini sedikit melegakan hati penulis. Pelajaran berharga untuk mafia distributor komoditas (dalam kasus ini, monopoli tiket) di seantero indonesia. Terang saja pengantre terbawa emosi. Buruknya manajemen yang berjalan tanpa perbaikan dari pertandingan ke pertandingan membuat emosi para pengantre memuncak. Sungguh, jika penulis ada di lokasi saat itu, penulispun akan berpartisipasi dalam aksi pembakaran tersebut dan menyuarakan pendapat penulis kepada dunia.

Ahirnya, kekalahan Skuad Garuda Muda di tangan Malaysia dalam adu punalti, menutup ari ini dengan begitu elegan. Lengkap sudah patah hati penulis. Sakit! [bali]

1 komentar:

  1. yang sabar ya kak..
    ibukota memang lebih kejam dari ibu tiri.
    tenang, pasti ada hikmah dibalik kisah ini. ;D

    padahal aku kan menuruti keinginan kakak. muheahehueahe ;D

    BalasHapus