Categories

Jumat, 23 Desember 2011

Subsidi BBM: penyakit mematikan peradaban!


Indonesia dan subsidi BBM-nya.
Indonesia. Negeri ini dibangun di atas puing-puing memori traumatic kolonialisme. Tiga ratus tahun hidup di bawah kaki kekuasaan ekstra-represif pemerintahan kolonial, membuat keterikatan arus bawah semakin solid. Dan lahirlah rasa kesenasib-sepenanggungan antar masyarakat arus bawah kekuasaan itu menjadi satu kesatuan rasa yang kemudian bertransformasi menjadi keinginan bersama menuju merdeka. Kesatuan rasa ini berkembang dan menyelesaikan metamorfosisnya menjadi sebuah bangsa. Untuk menjamin kepentingan bangsa yang dibangun di atas fondasi solidaritas ini, para penggeraknya kemudian memprakarsai dibentuknya sebuah payung pelindung yang bertugas memenuhi kepentingan masyarakat berbangsa tersebut. Payung itulah Negara. Negara yang berkedaulatan rakyat, berorientasi pada kemakmuran bangsa dengan menjunjung tinggi perdamaian. Negara, kekuatan politik untuk menjamin kemerdekaan setiap warga bangsanya dan berkontribusi bagi perdamaian dunia, Negara Indonesia.



Dengan ide dasar itulah Negara Indonesia mengelola kekayaan di detiap jengkal wilayah politiknya untuk memakmurkan setiap kepala warga bangsanya. Setiap yang yang tumbuh di permukaannya, yang hidup di daratan dan lautannya, yang melayang di dirgantaranya serta segala yang terpendam di perut buminya adalah hak kepala-kepala itu dan Negara-lah institusi yang bertanggung-jawab akan hal itu. Hegara yang harus memastikan bahwa kekayaan berlimpah di setiap jengkal tanah dan airnya itu tak membuat kepala-kepala itu menjadi ayam yang mati di lumbung padi. Untuk menjalankan tugasnya itu, Negara membentuk organisasi pengelola yang mengurusi segala tugas-tugas kenegaraan.
Juga dengan berdasarkan pemikiran semacam ini mungkin kebijakan subsidi dijalankan. Harga komoditas vital penopang utama kehidupan ekonomi masyarakat (dianggap) terlalu tinggi dan sama sekali tak terjangkau oleh masyarakat bangsa. Jika untuk mendapatkan komoditas vital penopang utama kehidupan ekonomi ini sulit, maka semua komoditas akan ikut sulit didapatkan. Hasilnya, kelaparan, kekacauan, kejahatan, frustasi dan berbagai implikasi langsung efek dominonya akan bekerja.
Diantara yang disebut komoditas vital itu adalah bahan bakar minyak. Komoditas ini bahkan menyelimuti hampir seluruh komoditas ekonomi di zaman sekarang. Ketika harga BBM naik, harga beras di pasar naik karena ongkos pengirimannya naik, berikutnya, warung nasi menikkan harga perporsi makanannya dan rumah tangga menaikkan anggaran belanjanya, lalu segmen pasar warung nasi mencari pendapatan lebih dengan menaikkan harga/tariff komoditas yang ditawarkannya. Efek ini terus berputar dan berputar. Karena itulah, ketika harga BBM mahal, maka mahal lah semuanya. Dan jika semua hal menjadi mahal, mesyarakat kelas bawah tak lagi akan mampu mengakses komoditas dan kelaparan terjadi. Untuk menghindari itulah BBM disubsidi Negara, bahkan, untuk tahun 2011 Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyatakan Negara telah mengeluarkan dana mencapai 160 trilyun rupiah bahkan mungkin lebih untuk subsidi BBM ini. Angka yang fantastis!.

Tujuan mulia yang semu dan logika berfikir.
Menilik fakta di atas, semakin tegaslah bahwa fondasi pembangunan begeri ini adalah homo homini angelus. Manusia adalah malaikat bagi manusia lainnya. Rasa-rasabya, fondasi ini tak perlu digugat. Tujuan mulia yang bahkan setan sekalipun akan menyepakatinya. Cita-cita luhur yang entah bersembunyi di mana, jarang sekali terlihat jika menyaksikan fonomena social-politik kekinian. Namun, untuk memakmukan suatu bangsa, tujuan mulia tidaklah cukup. Tujuan itu harus diwujudkan dengan strategi cerdas yang realistis, tapi ampuh.
Secara emosional, melihat ke-takmampuan orang-orang sebangsanya untuk bertahan hidup menghadapi kenyataan getir, proteksionisme semacam subsidi adalah pilihan terbaik. Namun, mari kita cermati lebih dalam ide subsidi ini dengan menyimak kisah berikut.
Ibu Ani dan Ibu Mufidah adalah ibu yang rasa cinta dan sayangnya kepada anaknya masing-masing begitu dalam dan tak mungkin tergantikan dengan suatu apapun. Keduanya sama-sama ingin membahagiakan anaknya bagaimanapun caranya dan ingin melihatnya tumbuh besar dan berhasil menjalani kehidupannya. Dengan kadar cinta dan sayang yang sama tak terbatasnya, kedua ibu itu menempuh cara yang berbeda menurut perspektif masing-masing.
Ibu Ani yang begitu sayangnya kepada anaknya siap melindungi anaknya dari segala ancaman yang datang. Ia selalu sediakan sendiri segala yang dibutuhkan anaknya. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi anaknya. Ibu ani selalu siap melayani anaknya. Memasakkan, menyuapi, memakaikan baju, memandikan, mengantar dan menjemputnya sekolah, menyelesaikan PR-nya, hingga menidurkannya dalam dehapan hangat di malam hari. Awal dan ahir hari anaknya selalu diwarnai kecupan kening dan ucapan sayang darinya. Mereka saling menyayangi dan menyatu dalam kehangatan keluarga.
Ibu Mufidah berbeda. Dia ajak anaknya ke sawah sepulang sekolah. Ia ajak anaknya menyelami getirnya realitas dengan optimis, ia ajari anaknya bagaimana caranya hidup, ia ajari anaknya terbang. Suatu hari anaknya memukul teman sepermainanya sampai menangis dan mengadu pada abangnya. Dia dihajar abang temanya itu dan ia mengadu pada ibunya menuntut pembelaan. Setelah mendengarkan aduan anaknya, “Plak!” ia menampar anaknya, lalu ia berujar “Nak, sejahat apapun dunia, jika kau benar, sejarah juga yang akan mengangkat derajatmu di atas dunia. Sekuat apapun mereka, lawan jika kau memang benar! Tapi, jangan pernah mencoba jika kau memang salah”. Merekapun melanjutkan hidup tanpa kecup kening dan kata sayang, mengalir seperti biasa. Kecupanya adalah getirnya realitas, kata sayangnya adalah optimism tak terbatas.
Seperti itu jugalah posisi Negara terhadap rakyatnya. Seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya begitu dalam dan harus mendidik anaknya mengenai realitas kehidupan. Jika Negara memilih proteksionisme seperti Ibu Ani, maka anaknya akan terbiasa disuapi dan akan tergagap menghadapi sedikit gangguan ketika sang ibu milai lemah. Berbeda jika memilih seperti Ibu Mufidah yang mengajari anaknya sejujurnya tentang realitas. Memang si anak akan mengecap pahit getir tepat di hadapan mukanya yang tentu juda akan menyayat hati untuk menyaksikannya, namun begitulah kemandirian dan kemajuan didapatkan. Si anak tak akan gagap lagi menghadapi dunia walaupun tanpa ibunya menemani di sampingnya.
Bagaimana bisa mengajarkan kemandirian tanpa meninggalkannya berusaha sendiri?
Penghancuran sistematis.
Dengan berat hati saya katakan, pemerintahan Negara kita direpresentasikan Ibu Ani dalam cerita tersebut. Berdasarkan rasa sayang yang tiada tertandingi dalamnya, pemerintah negeri ini mendidik rakyatnya dengan subsidi di mana-mana. Karena budaya konsumtif dan mental cengeng rakyatnya, Negara menyuapinya dengan subsidi BBM. Bagaimana negeri ini nisa berdiri di atas kaki sendiri kalau rakyat dan pemerintahnya sudah cukup  nyaman dengan hangatnya menutup diri dari kenyataan?. Kebijakan subsidi ini, menurut saya, adalah penghancuran sistematis suatu peradaban. 

Pertama, bahaya laten proteksionisme. Proteksionisme melindungi objek dengan membuat objek tak melihat kenyataan. Karena takut kepada setan, seorang proteksionis akan menutup matanya. Bagaimana bisa seorang sopir yang takut pada kecepatan harus tetap menjalankan mobilnya walaupun dengan mata tertutup?. Dalam skala kebijakan ekonomi, proteksionisme menutup mata rakyat dari kenyataan pahit. Negara membuat rakyat merasa bahwa dunia jauh dari krisis, sumber daya bisa begitu saja didapatkan dengan mudah, padahal sebenarnya, keadaan sudah sampai pada titik tergenting dimana kehancuran siap menerjang kapan saja.
Dalam dunia pasar, kebijakan semacam ini menutup mata para pengusaha, para investor, para innovator dan para pekerja pasar lainnya dari hukum kestabilan permintaan dan penawaran. Akibatnya, pengusaha tak mampu menganalisis dengan benar mengenai komoditas apa yang permintaannya sedang naik karena dihalangi subsidi. Karena kesalahan analisis pasar, mereka salah mengambil keputusan, merugi dan bangkrut. Investor juga tak mampu menganalisis dengan benar karena harus juga memperhitungkan subsidi Negara. Subsidi membuat persaingan tak sehat dalam dunia usaha. Karena dunia usaha terhambat, maka inovasipun terhambat karena motor utama inovasi adalah keuntungan.
Kedua, efek “Kaca Pecah”. Frederic Bastiat, seorang ekonom Prancis abad 19 pernah menulis essay berjudul the broken window fallacy. Dalam essay itu, diceritakan seorang anak melempar kaca jendela toko milik ayahnya hingga pecah. Ahirnya, sang ayah terpaksa memanggil tukang kaca dan membayarnya Rp. 100.000 dengan uang yang tadinya akan ia gunakan untuk membelikan anaknya itu sepatu baru. Dari perspektif industry, kita katakana industry kaca mendapatkan Rp. 100.000. itu yang terlihat. Tapi yang tidak terlihat, industry sepatu kehilangan Rp. 100.000. dengan begitu, pecah ataupun tidak, kaca tidak member nilai tambah pada perekonomian keseluruhan. Tapi juga tidak mengurangi. Bensrkah begiru?
Bastiat menjelaskan, ada sesuatu yang lain yang terjadi di rumah tangga si pemilik toko. Jika kaca itu tidak pecah, ia akan bisa menikamti sepasang sepatu baru dan jendela berkaca. Jika kaca pecah, ia kehilangan kesempatan membeli sepatu baru, sementara kepuasannya akan jendela berkaca tidak berkurang atau bertambah. Inilah Opportunity Cost. Dalam kasus lain, orang Aceh yang bekerja di Jakarta memilih pesawat sebagai alat transportasinya dari pada bus padahal harga tiket pesawat berkali-kali lipat dari bus. Opportunity Cost menggunakan bus jauh lebih besar. Jika naik bus, ia akan kehilangan hari-harinya untuk mencari nafkah atau untuk berkumpul dengan keluarga karena perjalan darat Jakarta-aceh memakan waktu berhari-hari. Itulah solusi yang ditawarkan pesawat.
Dikaitkan dengan subsidi BBM tahun ini yang mencapai angka 160 trilyun, kebodohan kebijakan ini akan sangat terlihat. Subsidi BBM adalah biaya yang keluar untuk mengganti “kaca yang pecah”. Bayangkan kalau dana sebesar itu digunakan untuk membangun infrastruktur distribusi, atau dijadikan dana pengembangan teknologi tepat guna, atau dipakai untuk menyemai benih-benih unggul pendidikan Negara kita. Rasanya, bersaing dengan China ataupun Amerikapun negeri kita ini sangat mampu.
Ketiga, penghancuran lingkungan. Hatta Rajassa, menko perokonomian kita menyatakan kalau total subsidi Negara untuk BBM tahun 2011 mencapai angka 42 kiloliter. Lagi-lagi: angka yang fantastis!. Selama ini, BBM yang digunakan menghasilkan CO2 yang merupakan actor utama green house gases (GSG) penyebab global warming. Jadi, kebijakan subsidi BBM yang memacu konsumerisme tak terkendali terhadap BBM yang juga berdampak pada meledaknya produksi CO2 ke atmosfir bumi, nolehlah rasanya disalahkan jika efek global warming semakin membakar bumi.

Selain itu, subsidi juga membatasi ruang tumbuh biofuel. Biofuel yang harganya berkisar tak jauh dari Rp. 8.500/l harus bersaing secara tak sehat dengan BBM bersubsidi yang hanya Rp. 4.500/l. biofuel akan mampu berkembang jika peresaingannya sehat. Tanpa subsidi, harga BBm premium ada di kisaran Rp. 7.500. Maka, kenijakan subsidi BBM selain memicu ledakan produksi CO2, juga menghalangi perkembangan alternative solusinya. Sekali tepuk, dua lalat mati.
Jalan lain.
Mencabut subsidi tentu saja sangat berisiko. Apalagi, dampak politiknya akan sangat negative bagi pemerintah. Namun, pemerintah harus berani melangkah demi kebaikan jangka panjang. Sebagaimana Ibu Mufidah meratap menyaksikan anaknya menangis menahan perih, namun tetap mebiarkannya belajar untuk mandiri. Karena kemandirian tak mungkin didapatkan tanpa membiarkannya belajar sendiri. Pembangunan ekonomi ekologis bukan saja sudah sangat ilmiah, namun juga sangat harus untuk diterapkan mulai sekarang. Memang, memulai sesuatu yang baru jauh lebih berat daripada melanjutkan kebiasaan lama. Apalagi untuk hal seperti ini. Tapi, tetap harus ada orang yang cukup memiliki keberanian untuk melakukannya. Demi kemajuan bangsa, demi kemakmuran bersama.

Menarik untuk mengutip pendapat Eintein seperti yang dikutip Lee (2007). Suatu saat Albert Einstein ditanya seorang jurnalis:
“Why can’t we get rid of the nuclear war threat?”
“Because politics is more complicated and difficult than physics,” was his answer.
Yah, senada dengan pernyataan Einstein, kenyataan yang begitu jelas di depan mata harus berhadapan dengan realitas yang tak mendukungnya. Namun, perubahan kea rah yang lebih baik harus selalu diupayakan. Hidup manusia memanglah proses tiada ahir, dari inovasi ke inovasi, hari perbaikan ke perbaikan, dan kita harus terus belajar. Karena belajar adalah tugas pribadi, dan tugas nasional.[bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar