Categories

Kamis, 22 Desember 2011

Surat dari Anakmu.



Aku seorang pecinta wanita. Mungkin, maksud hatiku menggambarkan perasaanku kepada wanita dengan kata “cinta” tak sama dengan pemaknaan “cinta” pada umumnya. Namun, seperti kata Levinas, terkadang, bahasa tak mampu menampung makna yang coba dikomunikasikan manusia. Tak apalah, hanya kata itu yang paling tepat mewakili rasaku pada mahluk indah itu: wanita, aku cinta!.
Jika kucermati, kecintaanku pada wanita tumbuh subur semenjak masa awal kehidupanku. Yah, wanita pertama yang kudengar degup jantungnya, yang sembilan bulan lebih darahku dan darahnya mengalir bercampuran, yang selama masa itu aku banyak menginterfensi kinerja hormonalnya, menyumpil dalam perutnya dan ahirnya mengoyak lubang kehidupannya adalah wanita penyebabnya. Kasihnya yang tak berpura-pura terinstal kuat dalam memoriku dan menjadikan perspektifku pada setiap wanita adalah indah. Yah, dialah wanita pertama itu, yang semejak otakku dapat merekam kejadian dan menangkap komunikasi kupanggil Mimi. Sebagaimana Maksim Gorky memprakarsai revolusi sastra realisme sosialis dengan novel berjudul The Mother sebagai masterpiece, novel ini jugalah yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer yang dianggap bapak sastra realisme sosialis di negeri ini, akupun menulis essay pribadi ini dengan judul “Surat untuk Mimi”. Karena bagiku, Mimi setingkat The Mother bagi Gorky dan setingkat dengan Ibunda bagi Pram. Dia pandai menginspirasi.
Surat untuk Mimi.
Mimi, ini aku. Seonggok daging yang 19 tahun lalu kau keluarkan dari rahimmu. Ini aku, yang kata orang adalah anakmu. Masih ingatkah kau saat jantung kita berdetak beriringan? Atau ketika tubuhku menuntut nutrisi lebih dan engkau tergopoh-gopog, termuntah-muntah dibuatnya? Ahh, nakalnya aku. Tapi karena itu kau ingat kan Mi? Ketika aku mulai membesar diperut kuat itu, kau kesusahan segalanya. Aku mengganggumu di setiap detik masa itu, tapi kau pertahankan aku hidup kan Mi? dan ahirnya Kau lahirkan aku ke dunia ini dengan pilihan sederhana: antara hidup dan mati. Sebegitu besarkah cintamu padaku hingga rela mati Kau untukku?
Itulah Kau Mi. Wanita yang begitu dalam rasa cintanya kepadaku hinga bahkan hiduppun rela kau pertaruhkan demi aku. Kau memang selalu begitu. Selalu begitu. Dan akan selamanya begitu. Juga aku. Begitu.
Solat, ngaji dan belajar.
Engkau keras mendidik kami. Tuntutanmu jelas: jangan sekalipun tinggalkan solat, mengaji adalah kunci kebahagiaan dan ilmu dalam belajar adalah pintunya. Ketiganya Kau suapkan padaku. Pahit Mi, bodohnya aku tak mau mengecap yang pahit, padahal dari pahitlah manis dinikmati.
Kau tak segan memainkan tanganmu. Mencubit dan menjewer adalah senjata utamamu kau awali amukanmu dengan mimic baja itu. Kau lanjutkan dengan gelegar kata-katamu yang bersahaja itu. Engkau, bahkan dulu aku lebih takut padamu daripada setan dan malaikat penjaga neraka sekalipun. Aku takut sepanjang hidupku hanya akan membuatmu berteriak, kecewa dan marah. Aku takut kau tak bahagia. Aku takut Mi, dan Kau tahu, hanya Engkau yang mampu menghapus takutku.
Solat, ngaji dan belajarpun menjadi prioritas utama hidupku. Solat seperti sejatinya solat. Kegiatan transcendental yang didalamnya ada komunikasi kosmis antara hamba dengan Tuhannya. Ngaji, karena hikmah ada di sana. Ngaji adalah ngaji. Kegiatan tak pernah selesai mencari kebenaran dan hikmah. Terahir, belajar. Belajar karena menusia diciptakan memang untuk belajar. Belajar kepada daun, kepada buku, kepada angin, dan belajar pada diri sendiri. Lalu belajar kepada Sang Yang Maha Tak Belajar. Kau tanamkan itu dalam-dalam hingga melekat kuat dalam hatiku.
Hujan dan nyanyian.
Bagiku, selamanya hujan adalah peristiwa magis. Seperti Andrea yang mendapat ilham untuk Laskar Pelangi ketika menyaksikan Bu Muslimah dalam Hujan, akupun merasakan keterikatan dengan hujan. Hujan pernah membuatku begitu takutnya hingga Mimi begitu nyaman bagiku.
Biasanya, Mimi mengumpulkan anak-anaknya ketika hujan turun lebat di luar. Mengatasi dingin kami menggerombol dalam dekapannya. Kami saling berrebut, bercengkrama untuk mendapatkan posisi paling strategis darimu. Dan aku, adalah pihak yang harus selalu mengalah.
Dalam riuhnya suara tetes-tetes deras air hujan, kau menyanyi untuk kami. Suaramu indah berwarna-warni. Nyanyianmu adalah inspirasi. Nyanyianmu adalah hujan. Hujan adalah nyanyianmu. Nyanyianmu adalah bukti kasihmu pada anakmu. Yah, hujan adalah bukti kau menyayangi kami.
Seperti hujan yang selalu basah, kasihmu akan selalu tercurah.
Keringan dan air mata itu.
Menghidupi keluarga adalah cerita lain tentang dirimu. Aku tahu kau lahir sebagai putrid terahir seorang keluarga kaya. Walaupun hidupmu dekat dengan sawah, namun bukan itu tempatmu yang sebenarnya. Kau dididik untuk menjadi komandan dapur dan pendidik anak handal layaknya putrid jawa umumnya dididik. Jikapun ke sawah tugasmu hanyalah mengantar makanan dan mengomandani buruh-buruh bayaran penggarap sawahmu. Tapi demi mencukupi kebutuhan kami, kau sendiri berkubang dengan sawah. Keringatmu bercampur lumpur. Campuran itulah makanan kami. Campuran itulah inspirasi cinta kami, anak-anakmu. Kau didik kami dengan keringat Mi, maka wajarlah jika kami tak takut berkeringat.
Juga keringat, juga air mata. Keras tanganmu kontras dengan pribadimu. Entah berapa kali Kau menangis dalam sehari. Begitu sering mata itu kau cuci, entah bagaimana bersihnya mata yang sering Kau cuci itu. Setidaknya, setiap pagi menjelang subuh kau cuci mata itu sepenuh hati.
Mimi, engkau akan abadi. Dalam hatiku. Kau didik kami dengan kenyataan dan harapan. Jujur fondasinya, keahlian ujung tombaknya dan semangat pantang menyerah larasnya.
Mimi, tak pernah kau katakana cinta dan saying pada kami. Tak pernah kau peluk kami. Ucapan sejenis “selamat hari ibu” atau “selamat ulang tahun” terasa hambar dan asing dalam tradisi kami. Karena Kau tak didik kami dengan itu.
Kami tahu, cinta dan sayangmu terlalu dalam, tak mampu diwakilkan dengan kedua kata itu sehingga kau tak pernah mengatakannya.
Kami tahu, doa dan harapmu untuk kami terlalu banyak dan tak terrangkum dalam kata selamat-selamat atau semacamnya.
Kami tahu, kasihmu terlalu hangat untuk hanya diwakilkan dengan sebuah pelukan makanya kau tak pernah peluk kami.
Kami tahu, maka kamipun begitu.
Salam, Bali. Semoga tercatat sebagai anakmu. Mimi, kau, selamanya, wanita itu adalah kau. Takkan tergantikan!.
Ini Mimi dalam gaun kebesarannya lengkap dengan senjata pusakanya.
Beliau sedang merayakan Panen Raya.
Ah, sampai kapanpun tak ada yang bisa melebihimu dalam hal kecantikan Mi,
apalagi ketulusan!
Tiada duanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar