Menyambangi KBRI Beijing
Senin pagi adalah jenis festival tersendiri di Beijing, saya
menyebutnya Festival Kabut Kebangkitan. Semua orang keluar rumah memulai
aktifitasnya. Di Beijing, merupakan fenomena yang janggal jika udara pagi tak
berkabut. Orang-orang berdesakan di halte-halte bus, saling mendekat untuk
lebih menghangatkan diri. Kami membaur dengan warga kota yang mulai sibuk
memadati jalanan dan hanya menyaksikannya dari balik jendela bus. Kami menuju
Kedutaan Besar Republik Indonesia.
Di Beijing, ada dua kompleks kedutaan negara sahabat. Bersama
kedutaan besar Australia, Afrika Selatan, Uzbekistan dan banyak negara lainnya,
Kedutaan Besar Republik Indonesia - Beijing untuk China dan Mongolia terletak
di kompleks jalan Dongzhimei Dajian. Setiba di KBRI Beijing, rombongan disambut
ramah oleh Ibu Dyah Retno Anggraeni, sekretaris bidang sosial budaya dan Bapak
Chairun Anwar sebagai atase pendidikan KBRI Beijing. Segera saja, kami memulai
jamuan hangat silaturahim kami dengan KBRI Beijing.
Forum dibuka dengan perkenalan masing-masing peserta forum. Dimulai
dengan Bapak atase pendidikan dan tim dari kedutaan, dilanjutkan dengan tim
dinas olahraga dan pemuda DKI Jakarta, lalu tim pengawas dari Departemen Dalam
Negeri dan ditutup dengan perkenalan setiap peserta Jakarta Sister City –
Beijing 2013. Setelah itu, dialog interaktif antara kami digelar dengan manis
dan hangat.
| Kontingen Jakarta Sister City Beijing disambut Atase Pendidikan di KBRI Beijing |
Dalam dialog, ada beberapa hal yang saya garis bawahi. Pertama,
paparan mendetail mengenai peta ekonomi China. Menurut keterangan beliau,
setiap provinsi di China memiliki spesialisasi ekonomi tersendiri. Beijing
adalah pusat segala kegiatan finansial seluruh daratan China, Shanghai adalah
pusat pabrik-pabrik berlisensi merek luar negeri, Zho Zhang dan Zhiang Shu
adalah kota pusat industri mesin berat seperti mobil dan perkapalan serta kota
Yi Wu yang menjadi pusat produksi barang perlengkapan sehari-hari serta
barang-barang retail. Mengikuti spesialisasi di setiap kota yang sangat
terkonsentrasi secara integral, perkembangan entrepreneurship pun bergerak ke
arah yang sama. Selain sektor-sektor sekunder seperti kebutuhan dasar
masyarakat serta pariwisata dan segala komoditas pengikutnya, entrepreneurship
yang masif terjadi selalu sejalan dengan spesialisasi setiap provinsi.
Kedua, ambisi China untuk mengesankan kepada dunia bahwa kemajuan
negerinya layak diperhitungkan secara serius. Karena tujuan ini, pemerintah
China membuka kesempatan beasiswa lebar-lebar bagi mahasiswa berprestasi yang
ingin memperdalam keahliannya di China. Penerima beasiswa di China diperlakukan
dengan sangat istimewa. Tak hanya dibiayai kebutuhan studinya, mereka juga
difasilitasi tempat tinggal dan diberikan uang saku untuk biaya hidup. Selain
itu, pemerintah China juga sangat masif menggelar kegiatan-kegiatan berskala
internasional di negerinya. Hal ini membuat Beijing sebagai Ibu Kota Negara
menjadi salah satu kota tersibuk di dunia.
Ketiga, mengenai wajah pelajar China dan pelajar indonesia di
China. Beliau menyatakan jumlah pelajar China adalah sekitar 350 juta jiwa.
Bahkan jauh lebih besar dari jumlah seluruh penduduk indonesia! Pelajar-pelajar
China memiliki standard belajar di atas rata-rata pelajar dunia. Dalam 24 jam
sehari, sekitar 10 jam diantaradnya digunakan untuk belajar. Sistem pendidikan
di China mewajibkan setiap siswa untuk mengikuti pendidikan militer setiap naik
jenjang pendidikan. Dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama diharuskan
masuk barak militer selama satu bulan. Begitu juga lulusan sekolah menegah
pertama jika ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya dan begitu selanjutnya.
Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan kuat-kuat ideologi komunisme China kepada
generasi China masa depan.
Sementara pelajar indonesia di China berjumlah sekitar 13.000 dan
tersebar di seluruh China, menekuni berbagai bidang studi atau keahlian. Secara
keseluruhan, para pelajar ini dikoordinasikan oleh Perhimpunan Pelajar
Indonesia Tiongkok. PPI Tiongkok dibantu oleh badan koordinasi setiap kawasan
yang disebut PERMIT, Persatuan Mahasiswa dan Pelajar Tiongkok. Ada satu program
menarik yang dilaksanakan KBRI Beijing. Mereka mengadakan Entrepreneur
Internship Incubator sebagai usaha menggelorakan semangat entrepreneurial anak
bangsa.
Program ini ditujukan kepada mahasiswa indonesia di China yang akan
segera lulus dari institusi tempatnya belajar. Pelajar-pelajar terpilih
dimukimkan di satu kawasan di China yang memang sangat dinamis kehidupan
entrepreneurshipnya. Dalam internship, mereka dididik untuk membangun bisnis
mereka sendiri, membangun jaringan bisnisnya sendiri, merencanakan keuntungan
bisnisnya sendiri agar pasca program, para pesertanya mampu dan mau turut
membangun dan mengembangkan entrepreneurship di negerinya sendiri.
Selepas diskusi panjang, pertemuan ditutup dengan penampilan tarian
tradisional betawi oleh tim Jakarta Sister City – Beijing 2013. Sekitar pukul
13.30 waktu setempat, rombongan meninggalkan kompleks KBRI Beijing setelah
beramah tamah. Perjanana dilanjutkan.
Tujuan kami berikutnya adalah Beijing Youth and Sport Center. Jika
dinas olah raga dan pemuda DKI Jakarta memiliki SMA Ragunan sebagai pusat
inkubasi atlet, maka yang kami kunjungi adalah tempat serupa di Beijing.
Sebagai catatan, dikabarkan mahasiswa Indonesia yang lama tinggal di sini, di
seluruh penjuru Beijing tak pernah ditemukan anak jalanan. Anak-anak yang
berpotensi menjadi demikian segera dimasukan negara ke intansi-intansi
pendidikan yang menjadi pusat inkubator berbagai bidang. Salah satunya adalah
bidang olah raga.
Selain dididik ideologi negara secara komprehensif, dalam jiwa
terdalam mereka juga ditanamkan rasa cinta kepada negerinya dengan begitu
dalam. Sehingga, rasa tersebut bisa tumbuh berkembang menjadi hasrat tak kenal
lelah untuk berjuang mengharumkan nama bangsanya. Hal itu kental terlihat dalam
pengamatan saya terhadap sikap latihan atlet-atlet dalam inkubator ini. Tampak
bagiku, setiap detik latihan mereka adalah detik yang menentukan akankah bangsa
mereka berjaya atau bangsa mereka terpuruk tak berdaya. Nyaris kebal dari
kelelahan.
Selepas kunjungan ke Beijing Youth and Sport Center, kami
mengunjungi danau Hoi Hai. Danau Hoi Hai di malam hari selalu menjadi pasar
malam. Tak hanya wisatawan lokal, banyak wisatawan mancanegara yang juga turut
memadati danau. Di sekitar danau, ratusan warung menjajakan berbagai macam
barang dalam berbagai tingkatan harga. Keramaian itu sama sekali tidak kita
lewatkan begitu saja. Segera kami gelar street performance. Latihan
mati-matian kami selama sebulan sebelum program terbayar lunas sudah. Keramaian
tak beraturan di sekitar danau, tiba-tiba memusat, berkerumun berebut ingin
menyaksikan performance kami. Tepuk tangan meriah dan teriakan-teriakan salut
penonton menjadi klimaks penampilan kami malam itu. Kami mempromosikan negeri kami,
terutama Jakarta di negeri orang. Begini ternyata rasanya menjadi duta bangsa
di negeri tetangga, dada sesak dan mata berkaca-kaca. [bali]


Mampir ya banggg (akbar pathur)
BalasHapussering-sering ajah bro, maaf kalo sambutan tuan rumah kurang ramah.. :)
Hapus