Categories

Selasa, 12 November 2013

Cakar - Cakar Naga

The Opening
Selasa 22 Oktober 2013 adalah hari spesial bagi semua anggota kontingen. Kenapa? Karena, di hari inilah International Youth Organization Forum dan Beijing Sister City Youth Camp akan dibuka. Hari yang ditunggu semua orang.
Sejalan dengan pernyataan Bapak Atase Pendidikan KBRI Beijing, China sedang dalam mega proyek untuk mengesankan dirinya sebagai pemimpin baru dunia. Dalam berusaha mewujudkan itu, pemerintah China dari tingkat pusat hingga tingkat akar rumput ikut ambil bagian. Salah satunya adalah International Youth Organization Forum yang digelar Beijing Youth Federation dan Beijing Sister City Youth Camp yang digelar pemerintah kota Beijing.
Tahun ini, kedua kegiatan tersebut dijalankan beriringan dalam satu waktu, satu tempat dan satu rangkaian acara. Pembukaannya sendiri dihelat di salah satu universitas terbaik China, Peking University. Dihadiri 36 Sister City termasuk Shanghai, Hongkong dan Macau, dari 22 Negara, forum pembukaan dilangsungkan dalam dua bahasa: mandarin dan inggris. mengundang pemuda-pemuda dari berbagai negara, makin jelaslah cakar-cakar tajam Naga raksasa ini sedang berusaha mencengkeram seisi dunia.
Speechs
Pidato adalah salah satu media efektif untuk mempengaruhi orang. Kekuatan rapat barisan Nazi Jerman menghadapi perang dunia II salah satunya adalah karena keahlian Adolf Hitler dalam berpidato. Perjuangan kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia rasanya tak akan pernah bisa dilepaskan dari keahlian berpidato Bung Karno. Begitu juga dengan para pemimpin besar lainnya. Dalam pidato ada keluasan wawasan. Dalam pidato ada kecerdasan memilih diksi. Dalam pidato ada ketajaman analisis. Dalam pidato ada kepekaan perasaan. Dalam pidato ada keahlian mengambil hati. Dalam pidato ada penegasan visi. Karena itu, pidato juga dapat dijadikan media penilaian untuk mengukur kapasitas diri seseorang.
Dalam pembukaan tersebut, ada tiga pidato dengan karakter identik. Yaitu pidato dari ketua pelaksana kegiatan, pidato dari ketua Beijing Youth Federation dan pidato dari Wakil Gubernur Beijing. Karena penyampaian mereka dalam bahasa yang belum saya pahami, saya hanya bisa simak pidato mereka dari alat penerjemah yang disediakan panitia. Dari keterbatasan silang bahasa sejauh itu, poin utama yang mereka sampaikan memang sejalan dengan tesis Bapak Atase. Ketiganya menyampaikan, tentu dengan gaya masing-masing, bahwa China ingin mengambil bagian besar  berkontribusi dalam pembangunan dunia menuju yang lebih baik. China ingin meyakinkan dunia bahwa mereka sudah siap menjadi jenderal memimpin garda depan perkembangan umat manusia.
Satu buah pidato lagi disampaikan dalam sesi pertama itu, sungguh sebuah komposisi yang janggal. Dan lebih janggal lagi karena satu pidato tersebut disampaikan oleh pembina grup kontingen Virginia. Lebih janggal lagi karena pembawa acara mempersilahkannya bicara sebagai kontingen States of Virginia tanpa menyinggung sedikitpun kenyataan bahwa Virginia adalah satu negara bagian dari United States of America. Ini menarik perhatian saya karena hubungan antara Virginia dan Washington memiliki sejarah kelam tersendiri. Era kepemimpinan Abraham Lincoln, Washington DC adalah pusat pemerintahan pro pengakuan kaum Afrika-Amerika sebagai warga negara yang setara di mata negara, bukan lagi sebagai budak. Sedangkan Virginia adalah pusat pemerintahan yang menentang hal tersebut. Perbedaan pendapat ini melahirkan perang sipil Amerika, tercatat sebagai perang sipil paling mengerikan sepanjang sejarah Negeri itu. Ya, Lincoln mengahiri perang sipil dengan kejayaan besar dan perbudakan pun dihapuskan. Tapi, semudah itukah luka disembuhkan? Tidakah terlalu ajaib untuk disebut sebuah kebetulan jika hal ini dilakukan di Beijing, Ibukota satu-satunya negara yang kini hari ini dianggap mampu menyaingin atau bahkan menggantikan hegemoni AS?
Setelah dipotong untuk coffee break, forum dilanjutkan dengan beberapa presentasi dari perwakilan beberapa kota sister city dan non government organization kelas dunia. Isu-isu utama yang dikembangkan adalah mengenai kerusakan lingkungan kita, usaha kita sejauh ini untuk menyelesaikannya dan bagaimana civil society bisa berpengaruh besar dalam usaha-usaha menanggulanginya. Sesi ini ditutup dengan presentasi dari Fauzana Fidya Rizky sebagai perwakilan kontingen Indonesia berbagi mengenai wajah pemuda Jakarta dan apa yang telah, sedang dan akan mereka berikan kepada dunia.

Perspectives
Dalam sela kegiatan, kami menyempatkan mewawancara beberapa mahasiswa Beijing. Ada 6 orang yang sempat saya wawancara hari itu, Amy, Leo, Collin, Frank, Rambo, dan Keyli.
Perspective 1; Amy – Self Employee
Gadis yang duduk di tingkat 4 Peking University jurusan Farmasi ini memiliki nama lengkap Xiao Yue Amy. Kami mewawancarainya ketika dia sedang menjaga stand promosi Medical Departement Peking University. Kami mewawancarainya seusi topik penelitian kami, yaitu perpektif anak muda Beijing mengenai entrepreneur. Berikut simpulan-simpulan hasil wawancara kami.
Sebenarnya, Amy tertarik untuk membangun bisnis sendiri. Dia berkeinginan untuk membangun bisnis yang sesuai dengan jurusan yang ia tekuni, yakni kesehatan. Baginya, bisnis yang sangat realistis adalah skill-based bussiness. Seperti salah seorang mahasiswa China yang memiliki search engine terpopuler di China, baidu.com. Search engine yang dibangun perusahaan ini bahkan jauh lebih dikenal dari Google, Bing atau Yahoo di China.
Menurut Amy, membangun bisnis baru bukanlah perkara yang mudah. Tak banyak orang yang mau bersusah payah membangun bisnisnya sendiri. Jikapun ada temannya yang memiliki bisnis pribadi, tak lebih dari sekadar mengajar privat atau bekerja paruh waktu.
Perspective 2; Keyli – Rural Empowerment
Jika ada orang yang sama sekali tidak tertarik menjadi entrepreneur, Keyli lah salah satunya. Baginya, masa depannya sudah terencana dengan baik dan pasti. Selepas studi kedokteran di Peking University, dia akan pulang ke kampungnya di Xinjiang untuk menjadi dokter desa. Dia hanya ingin kembali ke masyarakatnya, mengabdikan dirinya di sana.
Perpective 3; Leo, Frank & Collin – High Quality Employee
Ketiganya diwawancara di waktu dan tempat yang sama. Leo adalah mahasiswa sejarah, Collin mahasiswa kedokteran dan Frank adalah mahasiswa bisnis Rusia. Walaupun dari tiga jurusan yang sama, ketiganya memiliki perspektif yang identik terhadap youth entrepreneurship. Mereka jauh lebih tertarik menekuni bidang masing-masing dengan serius dan total agar menjadi ahli di bidangnya. Setelah itu, membangun karir sebagai dosen sejarah, sebagai dokter spesialis dan sebagai analis bisnis.
Menurut mereka, membangun bisnis itu sangat sulit. Kesulitannya sangat kompleks dan multidimensi. Dimulai dari kesulitan memunculkan ide, lalu kesulitan mendapatkan modal, ditambah kesulitan menjaga profit. Apalagi dengan kondisi politik di China, kesulitannya semakin parah. Teman-teman mereka pun jarang yang berkeinginan untuk membangun bisnis mereka sendiri, hanya sebagian kecil saja diantaranya.
Perspective 4; Rambo – Technopreneur
Ibarat sebuah ummat yang menunggu kedatangan sang juru selamat, akirnya Rambo lah yang menjadi Man of The Day riset kami kali ini. profilenya tepat seperti apa yang kami inginkan. Nama aslinya Sun Qiang Li. Mahasiswa tingkat 4 jurusan desain permesinan di Noth China University. Mimpinya setelah ia selesaikan studinya nanti adalah membangun kerajaan bisnisnya sendiri berbasiskan pada keahliannya dibidang desain permesinan. Jadi, fokus dia untuk saat ini adalah menguasai sedalam-dalamnya segala hal mengenai desain permesinan sambil menumpuk pengetahuan yang akan menunjang bisnisnya nanti dan membuka mata-telinga seluas-luasnya membaca peluang bisnis.
Indonesian Chinese or Chinese Indonesian?
Hal lain yang juga menarik perhatian saya adalah pertemuan dengan beberapa dari sekitar 13.000 mahasiswa Indonesia yang belajar di Negeri Tiongkok. Yonathan dari Serpong, Anita dari Surabaya dan Natasya dari Yogyakarta. Ketiganya saya temui di Peking University. Yang menarik, ketiganya teedengar dan terasa “sangat indonesia” tapi terlihat “sangat tionghoa”. Jadi, apa mereka adalah orang indonesia yang tinggal di China untuk belajar di negeri orang, atau mereka adalah orang China yang lama merentau ke Indonesia dan sekarang memiliki kesempatan untuk kembali ke tanah-air mereka? Siapa tahu kan??..
Kenapa menarik bagi saya? Sejujurnya, karena hal ini pernah mengundang perdebatan sengit antara para pendiri bangsa menjelang kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini, mereka memperdebatkan siapa saja yang berhak menyandang predikat sebagai warga negara indonesia. Satu pendapat mengatakan “siapapun yang merupakan keturunan ras asli penduduk nusantara”. Pendapat lain mendefinisikannya dengan “mereka yang memiliki darah asli penduduk tanah nusantara”. Akirnya, pendapat yang diterima adalah definisi bahwa yang memiliki hak sebagai warga negara republik Indonesia adalah “dia yang ada di wilayah republik ketika proklamasi dilaksanakan dan dia yang memiliki darah ras asli penghuni wilayah republik dan tidak menolak menerima satu identitas kewarganegaraan sebagai warga Republik Indonesia”.
Masalah lain muncul ketika empat tahun berikutnya Mao Tze Dong memproklamasikan kemerdekaan People’s Republic of China dan mendefinisikan warga negara China adalah mereka yang memiliki darah tionghoa dimanapun dia berada. Artinya, banyak sekali orang China di Indonesia yang secara otomatis memiliki dua identitas kewarganegaraan.
What A Great Sites: The Great Wall
Jengis Khan dan Kubilai Khan adalah dua nama Mongol yang paling dikenal dunia. Kedua dikenal dunia sebagai penakluk daratan. Berkat jasa keduanya, Mongolia mencapai masa kejayaannya. Mongolia menaklukkan hampir seluruh wilayah Asia. Mulai dinasti Abbasiyah di Asia Barat hingga kerajaan langit, Tiongkok di Asia Timur.
Pernah ditaklukkan Mongolia, sebuah kerajaan yang dianggap bar-bar dan tak beradab waktu itu, membuat pemimpin China berikutnya menempatkan pertahanan militer dari serangan bangsa Mongol sebagai prioritas utama. Dari berbagai usulan strategi perang, dipilihlah pembangunan benteng pertahanan sebagai usulan yang disetujui Kaisar. Pembangunan pun dimulai..
Berdiri di titik tertinggi Great Wall adalah satu kenikmatan tersendiri. Sampai saat ini, The Great Wall masih menyandang predikat sebagai bangunan militer terbesar dan paling ambisius di dunia. Dari puncaknya, seakan kau bisa saksikan pergerakan seluruh dunia seperti kau melihat piring-piring hidangan di meja makan.
Wangfujing Street
Dimanapun letaknya, setiap kota di dunia ini pasti memiliki sentra belanja murah. Apalagi kota pariwisata seperti Beijing, Wangfujing street hadir sebagai salah satunya dan yang terbesar diantaranya. Di sini, berbagai macam produk dari berbagai kelas konsumen ditawarkan. Mulai pakaian-pakaian bermerk dunia seperti ZARA, Prada Milano dan sebagainya hingga kalajengking goreng, kecoa goreng dan chinese street food lainnya.
Oleh-oleh khas Beijing murah pun di Wangfujing inilah pusatnya. Kamu bisa mendapatkan barang-barang spesifik khas china dengan harga yang relatif lebih murah dari toko manapun di Beijing. [bali]

2 komentar: