The Opening
Selasa 22 Oktober 2013 adalah hari spesial bagi semua anggota kontingen. Kenapa? Karena,
di hari inilah International Youth Organization Forum dan Beijing Sister City
Youth Camp akan dibuka. Hari yang ditunggu semua orang.
Sejalan dengan pernyataan Bapak Atase
Pendidikan KBRI Beijing, China sedang dalam mega proyek untuk mengesankan
dirinya sebagai pemimpin baru dunia. Dalam berusaha mewujudkan itu, pemerintah
China dari tingkat pusat hingga tingkat akar rumput ikut ambil bagian. Salah
satunya adalah International Youth Organization Forum yang digelar Beijing
Youth Federation dan Beijing Sister City Youth Camp yang digelar pemerintah
kota Beijing.
Tahun ini, kedua kegiatan tersebut
dijalankan beriringan dalam satu waktu, satu tempat dan satu rangkaian acara.
Pembukaannya sendiri dihelat di salah satu universitas terbaik China, Peking
University. Dihadiri 36 Sister City termasuk Shanghai, Hongkong dan Macau, dari
22 Negara, forum pembukaan dilangsungkan dalam dua bahasa: mandarin dan
inggris. mengundang pemuda-pemuda dari berbagai negara, makin jelaslah cakar-cakar tajam Naga raksasa ini sedang berusaha mencengkeram seisi dunia.
Speechs
Pidato adalah salah satu media efektif
untuk mempengaruhi orang. Kekuatan rapat barisan Nazi Jerman menghadapi perang
dunia II salah satunya adalah karena keahlian Adolf Hitler dalam berpidato.
Perjuangan kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia
rasanya tak akan pernah bisa dilepaskan dari keahlian berpidato Bung Karno.
Begitu juga dengan para pemimpin besar lainnya. Dalam pidato ada keluasan
wawasan. Dalam pidato ada kecerdasan memilih diksi. Dalam pidato ada ketajaman
analisis. Dalam pidato ada kepekaan perasaan. Dalam pidato ada keahlian
mengambil hati. Dalam pidato ada penegasan visi. Karena itu, pidato juga dapat
dijadikan media penilaian untuk mengukur kapasitas diri seseorang.
Dalam pembukaan tersebut, ada tiga pidato
dengan karakter identik. Yaitu pidato dari ketua pelaksana kegiatan, pidato
dari ketua Beijing Youth Federation dan pidato dari Wakil Gubernur Beijing. Karena
penyampaian mereka dalam bahasa yang belum saya pahami, saya hanya bisa simak
pidato mereka dari alat penerjemah yang disediakan panitia. Dari keterbatasan
silang bahasa sejauh itu, poin utama yang mereka sampaikan memang sejalan
dengan tesis Bapak Atase. Ketiganya menyampaikan, tentu dengan gaya
masing-masing, bahwa China ingin mengambil bagian besar berkontribusi dalam pembangunan dunia menuju
yang lebih baik. China ingin meyakinkan dunia bahwa mereka sudah siap menjadi
jenderal memimpin garda depan perkembangan umat manusia.
Satu buah pidato lagi disampaikan dalam
sesi pertama itu, sungguh sebuah komposisi yang janggal. Dan lebih janggal lagi
karena satu pidato tersebut disampaikan oleh pembina grup kontingen Virginia.
Lebih janggal lagi karena pembawa acara mempersilahkannya bicara sebagai
kontingen States of Virginia tanpa menyinggung sedikitpun kenyataan bahwa
Virginia adalah satu negara bagian dari United States of America. Ini menarik
perhatian saya karena hubungan antara Virginia dan Washington memiliki sejarah
kelam tersendiri. Era kepemimpinan Abraham Lincoln, Washington DC adalah pusat
pemerintahan pro pengakuan kaum Afrika-Amerika sebagai warga negara yang setara
di mata negara, bukan lagi sebagai budak. Sedangkan Virginia adalah pusat pemerintahan
yang menentang hal tersebut. Perbedaan pendapat ini melahirkan perang sipil
Amerika, tercatat sebagai perang sipil paling mengerikan sepanjang sejarah
Negeri itu. Ya, Lincoln mengahiri perang sipil dengan kejayaan besar dan
perbudakan pun dihapuskan. Tapi, semudah itukah luka disembuhkan? Tidakah
terlalu ajaib untuk disebut sebuah kebetulan jika hal ini dilakukan di Beijing,
Ibukota satu-satunya negara yang kini hari ini dianggap mampu menyaingin atau
bahkan menggantikan hegemoni AS?
Setelah dipotong untuk coffee break, forum
dilanjutkan dengan beberapa presentasi dari perwakilan beberapa kota sister
city dan non government organization kelas dunia. Isu-isu utama yang
dikembangkan adalah mengenai kerusakan lingkungan kita, usaha kita sejauh ini
untuk menyelesaikannya dan bagaimana civil society bisa berpengaruh besar dalam
usaha-usaha menanggulanginya. Sesi ini ditutup dengan presentasi dari Fauzana
Fidya Rizky sebagai perwakilan kontingen Indonesia berbagi mengenai wajah
pemuda Jakarta dan apa yang telah, sedang dan akan mereka berikan kepada dunia.
Perspectives
Dalam sela kegiatan, kami menyempatkan
mewawancara beberapa mahasiswa Beijing. Ada 6 orang yang sempat saya wawancara
hari itu, Amy, Leo, Collin, Frank, Rambo, dan Keyli.
Perspective 1; Amy – Self Employee
Gadis yang duduk di tingkat 4 Peking
University jurusan Farmasi ini memiliki nama lengkap Xiao Yue Amy. Kami
mewawancarainya ketika dia sedang menjaga stand promosi Medical Departement Peking
University. Kami mewawancarainya seusi topik penelitian kami, yaitu perpektif
anak muda Beijing mengenai entrepreneur. Berikut simpulan-simpulan hasil
wawancara kami.
Sebenarnya, Amy tertarik untuk membangun bisnis sendiri. Dia
berkeinginan untuk membangun bisnis yang sesuai dengan jurusan yang ia tekuni,
yakni kesehatan. Baginya, bisnis yang sangat realistis adalah skill-based
bussiness. Seperti salah seorang mahasiswa China yang memiliki search engine
terpopuler di China, baidu.com. Search engine yang dibangun perusahaan ini
bahkan jauh lebih dikenal dari Google, Bing atau Yahoo di China.
Menurut Amy, membangun bisnis baru bukanlah perkara yang mudah. Tak
banyak orang yang mau bersusah payah membangun bisnisnya sendiri. Jikapun ada
temannya yang memiliki bisnis pribadi, tak lebih dari sekadar mengajar privat
atau bekerja paruh waktu.
Perspective 2; Keyli – Rural Empowerment
Jika ada orang yang sama sekali tidak tertarik menjadi
entrepreneur, Keyli lah salah satunya. Baginya, masa depannya sudah terencana
dengan baik dan pasti. Selepas studi kedokteran di Peking University, dia akan
pulang ke kampungnya di Xinjiang untuk menjadi dokter desa. Dia hanya ingin
kembali ke masyarakatnya, mengabdikan dirinya di sana.
Perpective 3; Leo, Frank & Collin –
High Quality Employee
Ketiganya diwawancara di waktu dan tempat yang sama. Leo adalah
mahasiswa sejarah, Collin mahasiswa kedokteran dan Frank adalah mahasiswa
bisnis Rusia. Walaupun dari tiga jurusan yang sama, ketiganya memiliki
perspektif yang identik terhadap youth entrepreneurship. Mereka jauh lebih
tertarik menekuni bidang masing-masing dengan serius dan total agar menjadi
ahli di bidangnya. Setelah itu, membangun karir sebagai dosen sejarah, sebagai
dokter spesialis dan sebagai analis bisnis.
Menurut mereka, membangun bisnis itu sangat sulit. Kesulitannya
sangat kompleks dan multidimensi. Dimulai dari kesulitan memunculkan ide, lalu
kesulitan mendapatkan modal, ditambah kesulitan menjaga profit. Apalagi dengan
kondisi politik di China, kesulitannya semakin parah. Teman-teman mereka pun
jarang yang berkeinginan untuk membangun bisnis mereka sendiri, hanya sebagian
kecil saja diantaranya.
Perspective 4; Rambo – Technopreneur
Ibarat sebuah ummat yang menunggu kedatangan sang juru selamat,
akirnya Rambo lah yang menjadi Man of The Day riset kami kali ini. profilenya
tepat seperti apa yang kami inginkan. Nama aslinya Sun Qiang Li. Mahasiswa
tingkat 4 jurusan desain permesinan di Noth China University. Mimpinya setelah
ia selesaikan studinya nanti adalah membangun kerajaan bisnisnya sendiri
berbasiskan pada keahliannya dibidang desain permesinan. Jadi, fokus dia untuk
saat ini adalah menguasai sedalam-dalamnya segala hal mengenai desain
permesinan sambil menumpuk pengetahuan yang akan menunjang bisnisnya nanti dan
membuka mata-telinga seluas-luasnya membaca peluang bisnis.
Indonesian Chinese or Chinese Indonesian?
Hal lain yang juga menarik perhatian saya
adalah pertemuan dengan beberapa dari sekitar 13.000 mahasiswa Indonesia yang
belajar di Negeri Tiongkok. Yonathan dari Serpong, Anita dari Surabaya dan
Natasya dari Yogyakarta. Ketiganya saya temui di Peking University. Yang
menarik, ketiganya teedengar dan terasa “sangat indonesia” tapi terlihat
“sangat tionghoa”. Jadi, apa mereka adalah orang indonesia yang tinggal di
China untuk belajar di negeri orang, atau mereka adalah orang China yang lama
merentau ke Indonesia dan sekarang memiliki kesempatan untuk kembali ke
tanah-air mereka? Siapa tahu kan??..
Kenapa menarik bagi saya? Sejujurnya, karena
hal ini pernah mengundang perdebatan sengit antara para pendiri bangsa
menjelang kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini, mereka memperdebatkan siapa
saja yang berhak menyandang predikat sebagai warga negara indonesia. Satu
pendapat mengatakan “siapapun yang merupakan keturunan ras asli penduduk
nusantara”. Pendapat lain mendefinisikannya dengan “mereka yang memiliki darah
asli penduduk tanah nusantara”. Akirnya, pendapat yang diterima adalah definisi
bahwa yang memiliki hak sebagai warga negara republik Indonesia adalah “dia
yang ada di wilayah republik ketika proklamasi dilaksanakan dan dia yang
memiliki darah ras asli penghuni wilayah republik dan tidak menolak menerima
satu identitas kewarganegaraan sebagai warga Republik Indonesia”.
Masalah lain muncul ketika empat tahun
berikutnya Mao Tze Dong memproklamasikan kemerdekaan People’s Republic of China
dan mendefinisikan warga negara China adalah mereka yang memiliki darah
tionghoa dimanapun dia berada. Artinya, banyak sekali orang China di Indonesia
yang secara otomatis memiliki dua identitas kewarganegaraan.
What A Great Sites: The Great Wall
Jengis Khan dan Kubilai Khan adalah dua
nama Mongol yang paling dikenal dunia. Kedua dikenal dunia sebagai penakluk
daratan. Berkat jasa keduanya, Mongolia mencapai masa kejayaannya. Mongolia
menaklukkan hampir seluruh wilayah Asia. Mulai dinasti Abbasiyah di Asia Barat
hingga kerajaan langit, Tiongkok di Asia Timur.
Pernah ditaklukkan Mongolia, sebuah
kerajaan yang dianggap bar-bar dan tak beradab waktu itu, membuat pemimpin
China berikutnya menempatkan pertahanan militer dari serangan bangsa Mongol
sebagai prioritas utama. Dari berbagai usulan strategi perang, dipilihlah
pembangunan benteng pertahanan sebagai usulan yang disetujui Kaisar.
Pembangunan pun dimulai..
Berdiri di titik tertinggi Great Wall adalah
satu kenikmatan tersendiri. Sampai saat ini, The Great Wall masih menyandang
predikat sebagai bangunan militer terbesar dan paling ambisius di dunia. Dari
puncaknya, seakan kau bisa saksikan pergerakan seluruh dunia seperti kau
melihat piring-piring hidangan di meja makan.
Wangfujing Street
Dimanapun letaknya, setiap kota di dunia
ini pasti memiliki sentra belanja murah. Apalagi kota pariwisata seperti
Beijing, Wangfujing street hadir sebagai salah satunya dan yang terbesar
diantaranya. Di sini, berbagai macam produk dari berbagai kelas konsumen
ditawarkan. Mulai pakaian-pakaian bermerk dunia seperti ZARA, Prada Milano dan
sebagainya hingga kalajengking goreng, kecoa goreng dan chinese street food
lainnya.
Oleh-oleh khas Beijing murah pun di
Wangfujing inilah pusatnya. Kamu bisa mendapatkan barang-barang spesifik khas
china dengan harga yang relatif lebih murah dari toko manapun di Beijing.
[bali]



Nice writing, tetap menulis aja untuk latihan :D
BalasHapushehe, siyap kak! :)
BalasHapus