Categories

Sabtu, 09 November 2013

Anatomi China

Menyambangi KBRI Beijing


Senin pagi adalah jenis festival tersendiri di Beijing, saya menyebutnya Festival Kabut Kebangkitan. Semua orang keluar rumah memulai aktifitasnya. Di Beijing, merupakan fenomena yang janggal jika udara pagi tak berkabut. Orang-orang berdesakan di halte-halte bus, saling mendekat untuk lebih menghangatkan diri. Kami membaur dengan warga kota yang mulai sibuk memadati jalanan dan hanya menyaksikannya dari balik jendela bus. Kami menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Di Beijing, ada dua kompleks kedutaan negara sahabat. Bersama kedutaan besar Australia, Afrika Selatan, Uzbekistan dan banyak negara lainnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia - Beijing untuk China dan Mongolia terletak di kompleks jalan Dongzhimei Dajian. Setiba di KBRI Beijing, rombongan disambut ramah oleh Ibu Dyah Retno Anggraeni, sekretaris bidang sosial budaya dan Bapak Chairun Anwar sebagai atase pendidikan KBRI Beijing. Segera saja, kami memulai jamuan hangat silaturahim kami dengan KBRI Beijing.
Forum dibuka dengan perkenalan masing-masing peserta forum. Dimulai dengan Bapak atase pendidikan dan tim dari kedutaan, dilanjutkan dengan tim dinas olahraga dan pemuda DKI Jakarta, lalu tim pengawas dari Departemen Dalam Negeri dan ditutup dengan perkenalan setiap peserta Jakarta Sister City – Beijing 2013. Setelah itu, dialog interaktif antara kami digelar dengan manis dan hangat.
Kontingen Jakarta Sister City Beijing disambut Atase Pendidikan di KBRI Beijing
Dalam dialog, ada beberapa hal yang saya garis bawahi. Pertama, paparan mendetail mengenai peta ekonomi China. Menurut keterangan beliau, setiap provinsi di China memiliki spesialisasi ekonomi tersendiri. Beijing adalah pusat segala kegiatan finansial seluruh daratan China, Shanghai adalah pusat pabrik-pabrik berlisensi merek luar negeri, Zho Zhang dan Zhiang Shu adalah kota pusat industri mesin berat seperti mobil dan perkapalan serta kota Yi Wu yang menjadi pusat produksi barang perlengkapan sehari-hari serta barang-barang retail. Mengikuti spesialisasi di setiap kota yang sangat terkonsentrasi secara integral, perkembangan entrepreneurship pun bergerak ke arah yang sama. Selain sektor-sektor sekunder seperti kebutuhan dasar masyarakat serta pariwisata dan segala komoditas pengikutnya, entrepreneurship yang masif terjadi selalu sejalan dengan spesialisasi setiap provinsi.
Kedua, ambisi China untuk mengesankan kepada dunia bahwa kemajuan negerinya layak diperhitungkan secara serius. Karena tujuan ini, pemerintah China membuka kesempatan beasiswa lebar-lebar bagi mahasiswa berprestasi yang ingin memperdalam keahliannya di China. Penerima beasiswa di China diperlakukan dengan sangat istimewa. Tak hanya dibiayai kebutuhan studinya, mereka juga difasilitasi tempat tinggal dan diberikan uang saku untuk biaya hidup. Selain itu, pemerintah China juga sangat masif menggelar kegiatan-kegiatan berskala internasional di negerinya. Hal ini membuat Beijing sebagai Ibu Kota Negara menjadi salah satu kota tersibuk di dunia.
Ketiga, mengenai wajah pelajar China dan pelajar indonesia di China. Beliau menyatakan jumlah pelajar China adalah sekitar 350 juta jiwa. Bahkan jauh lebih besar dari jumlah seluruh penduduk indonesia! Pelajar-pelajar China memiliki standard belajar di atas rata-rata pelajar dunia. Dalam 24 jam sehari, sekitar 10 jam diantaradnya digunakan untuk belajar. Sistem pendidikan di China mewajibkan setiap siswa untuk mengikuti pendidikan militer setiap naik jenjang pendidikan. Dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama diharuskan masuk barak militer selama satu bulan. Begitu juga lulusan sekolah menegah pertama jika ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya dan begitu selanjutnya. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan kuat-kuat ideologi komunisme China kepada generasi China masa depan.
Sementara pelajar indonesia di China berjumlah sekitar 13.000 dan tersebar di seluruh China, menekuni berbagai bidang studi atau keahlian. Secara keseluruhan, para pelajar ini dikoordinasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok. PPI Tiongkok dibantu oleh badan koordinasi setiap kawasan yang disebut PERMIT, Persatuan Mahasiswa dan Pelajar Tiongkok. Ada satu program menarik yang dilaksanakan KBRI Beijing. Mereka mengadakan Entrepreneur Internship Incubator sebagai usaha menggelorakan semangat entrepreneurial anak bangsa.
Program ini ditujukan kepada mahasiswa indonesia di China yang akan segera lulus dari institusi tempatnya belajar. Pelajar-pelajar terpilih dimukimkan di satu kawasan di China yang memang sangat dinamis kehidupan entrepreneurshipnya. Dalam internship, mereka dididik untuk membangun bisnis mereka sendiri, membangun jaringan bisnisnya sendiri, merencanakan keuntungan bisnisnya sendiri agar pasca program, para pesertanya mampu dan mau turut membangun dan mengembangkan entrepreneurship di negerinya sendiri.
Selepas diskusi panjang, pertemuan ditutup dengan penampilan tarian tradisional betawi oleh tim Jakarta Sister City – Beijing 2013. Sekitar pukul 13.30 waktu setempat, rombongan meninggalkan kompleks KBRI Beijing setelah beramah tamah. Perjanana dilanjutkan.
Tujuan kami berikutnya adalah Beijing Youth and Sport Center. Jika dinas olah raga dan pemuda DKI Jakarta memiliki SMA Ragunan sebagai pusat inkubasi atlet, maka yang kami kunjungi adalah tempat serupa di Beijing. Sebagai catatan, dikabarkan mahasiswa Indonesia yang lama tinggal di sini, di seluruh penjuru Beijing tak pernah ditemukan anak jalanan. Anak-anak yang berpotensi menjadi demikian segera dimasukan negara ke intansi-intansi pendidikan yang menjadi pusat inkubator berbagai bidang. Salah satunya adalah bidang olah raga.
Selain dididik ideologi negara secara komprehensif, dalam jiwa terdalam mereka juga ditanamkan rasa cinta kepada negerinya dengan begitu dalam. Sehingga, rasa tersebut bisa tumbuh berkembang menjadi hasrat tak kenal lelah untuk berjuang mengharumkan nama bangsanya. Hal itu kental terlihat dalam pengamatan saya terhadap sikap latihan atlet-atlet dalam inkubator ini. Tampak bagiku, setiap detik latihan mereka adalah detik yang menentukan akankah bangsa mereka berjaya atau bangsa mereka terpuruk tak berdaya. Nyaris kebal dari kelelahan.
Selepas kunjungan ke Beijing Youth and Sport Center, kami mengunjungi danau Hoi Hai. Danau Hoi Hai di malam hari selalu menjadi pasar malam. Tak hanya wisatawan lokal, banyak wisatawan mancanegara yang juga turut memadati danau. Di sekitar danau, ratusan warung menjajakan berbagai macam barang dalam berbagai tingkatan harga. Keramaian itu sama sekali tidak kita lewatkan begitu saja. Segera kami gelar street performance. Latihan mati-matian kami selama sebulan sebelum program terbayar lunas sudah. Keramaian tak beraturan di sekitar danau, tiba-tiba memusat, berkerumun berebut ingin menyaksikan performance kami. Tepuk tangan meriah dan teriakan-teriakan salut penonton menjadi klimaks penampilan kami malam itu. Kami mempromosikan negeri kami, terutama Jakarta di negeri orang. Begini ternyata rasanya menjadi duta bangsa di negeri tetangga, dada sesak dan mata berkaca-kaca. [bali]

2 komentar:

  1. Mampir ya banggg (akbar pathur)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sering-sering ajah bro, maaf kalo sambutan tuan rumah kurang ramah.. :)

      Hapus