Categories

Senin, 27 Juni 2011

Mereka Yang Terahir Tersenyum



“Satu-satunya kebebasan yang layak disebut demikian adalah kebebasan mengejar kebaikan kita sendiri dengan cara kita sendiri selama kita tidak mencoba mengambil kebebasan orang lain untuk mengejar kebaikan merekan, atau menghalangi upaya mereka memperolehnya.”
John Stuart Mill
Dalam pertikaian zaman semacam ini, perlu kiranya kita sedikit memprediksikan, atau setidaknya mengasumsikan, siapa yang akan tersenyum di ahir bagian. Dalam konteks ini, bapak ekonomi klasik asal Inggris, Adam Smith mengemukakan bahwa:
Usaha natural setiap individu untuk memperbaiki kondisinya sendiri, apabila dia bisa berjuang keras dalam kebebasan dan keamanan, pada prinsipnya begitu dahsyat. Hingga dengan itu saja, tanpa bantuan apapun, bukan hanya sanggup membawa masyarakat menuju kekayaan dan kemakmuran tetapi juga mengatasi seribu satu penghalang tetek-bengek yang sering kali dibuat oleh kebodohan hukum-hukum manusia untuk mengekang perjuangannya itu.Walaupun dampak penghalang-penghalang itu biasanya kalau bukan menghalangi kebebasannya, tentu mengurangi keamananya.[1]
Pada dasarnya, manusia diciptakan dengan kemampuan yang jauh lebih dari cukup untuk sekedar bertahan hidup. Dengan begitu, sudah fitrahnya manusia untuk hidup mandiri dan berhubungan dengan manusia lain karena disatukan oleh kepentingan. Dalam ilustrasi yang lebih sederhana, Smith mengungkapkan bahwa bukanlah dari kemurahan hati si penjual daging, minuman atau roti kita mengaharapkan makan malam kta, melainkan dari perhatian mereka terhadap kepentingan mereka sendiri.[2]
Artinya adalah bahwa yang akan tegak berdiri seusai pergumulan sengit ini adalah keterbukaan, kesetaraan, dan kebebasan. Hal ini akan tetap dituntut manusia karena memang begitulah fitrahnya manusia. Menginginkan kebebasan, mengehendaki keterbukaan dan mengutuk ketidaksetaraan.
Hal-hal diatas akan terwujud bukan tanpa pengorbanan besar. Pergumulan yang harus dilalui sebelum terwujud adalah pergumulan tentang bagaimana seharusnya kita hidup berdampingan sebagai manusia dengan manusia lainnya dan dengan alam disekitarnya.
Jika masa ini telah terjelang, orang-orang yang akan ikut tersenyum bersama zaman adalah mereka, para manusia dengan kepribadian utuh yang kuat dan mandiri, memperlakukan manusia lain sebagaimana dirinya ingin diperlakukan oleh manusia lain dan penuh dengan semangat toleransi. Manusia-manusia ini akan hidup bahagia di dunia dengan penguasaan akan ilmu pemngetahuan dan teknologi sebagai penopang hidupnya, semangat kesetaraan, kebebasan dan toleransi kental terasa dalam kehidupan social masyarakatnya dan demokrasi sebagai kristalisasi penyaluran kepentingannya.
Yang perlu dibangun sebetulnya adalah aturan yang membebaskan manusia untuk bergerak dengan batasan yaitu: kebebasan orang lain. Nigel Ashford[3] contohnya. Ia percaya bahwa bahwa sejatinya, manusia memiliki potensi membentuk Spontanous Order atau ketertiban spontan, yaitu bahwa evolusi institusi-institusi manusia memungkinkan individu-individu melayani orang lain, bahkan walaupun motif mereka sesungguhnya hanyalah untuk kepentingan pribadi. Gagasan ini berevolusi dengan hal-hal yang memungkinkan umat manusia berkembang dan makmur, pelan-pelan diterima oleh komunitas dan teruji oleh waktu.
Sekarang, dapat kita rasakan manfaat besar dari diciptakannya inovasi teknologi tanpa harus kita tahu apakah motif inovasi tersebut adalah untuk membantu kita atau tidak. Cotohnya, orang yang bergelut di bidang produksi energy listrik. Cukup dengan niatan untuk meningkatkan taraf hidup pribadi, pekerjaannya akan membantu ratusan bahkan ribuan pengguna listrik. Semuanya terjadi secara spontan. Inilah spontaneous order.
Atau secara tegas Ulil abshar Abdala mengatakan dalam pengantar buku Liberalisme bahwa kemajuan – kemajuan penting dalam peradaban modern jelas dicapai untuk sebagian besar melalui aransemen kelembagaan sosial-ekonomi-politik yang didasarkan pada filsafat liberal.[4]
Tak dapat kita pungkiri juga kenyataan sejarah yang telah begitu jelas memberitahu kita bahwa ide liberalism-lah yang menjadi ibu kandung kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia paling besar dipengaruhi oleh terbitnya kaum terpelajar pribumi sebagai eksponen dari Polithiek Ethiek yang dijalankan Belanda. Ide elaksanaan Polithiek Ethiek inilah anak kandung dari kemenangan partai liberal di parlemen belanda kala itu.[5]
“Hanya kerja bebas dapat tingkatkan harga dan nilai manusia. Kerja bebas akan mengembalikan pada mereka ilmu dan pengetahuan yang sudah terlalu lama terlupakan. Terdesak oleh perintah dan perintah dan perintah dari mereka yang belum tentu tahu”
(Marie Van Zegellen,
wartawati belanda yang memperjuangkan liberalism untuk pribumi insonesia)

[1] Adam Smith, An Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth of Nations, Oxford: Clarendon Press, buku IV, bab 5.
[2] Ibid.
[3]Nigel Ashford,2001,Principles for a free society, Jarl Hjalmarson Foundation, hal:119.
[4] Detmar Doering, Liberalisme, Freedom Institute – Friedrich Naumann Stiftung, Jakarta: 2010, hal: vii
[5] Lihat: Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Pulau Buru.

Menangkap Dinamika Zaman



Tidak ada pengganti bagi pengetahuan yang akurat. Jadi, ketahuilah dirimu sendiri, ketahuilah bisnismu, dan ketahuilah orang-orangmu.
Lee Lacoca (mantan CEO Chrysler)
Menurut Karl Mannheim[1] pengetahuan sebagai produk pemikiran seorang atau sekelompok orang dapat diteliti secara ilmiah dengan menggambarkan relasi antara pengetahuan dan kondisi sosial yang ada.Teori ini merupakan teori yang dapat diinveriskan. Dengan kata lain, kita juga bisa mengetahui keadaan sosial suatu zaman dengan merelasikannya dengan buah-buah pikiran tokoh zamannya.
Hal ini mutlak berlaku karena bagaimanapun, setiap pemikir dan pelaku kehidupan adalah anak kandung zamannya.Konstruksi sosial dan konsumsi intelektualnyalah yang ahirnya membentuk bangunan pemikirannya.Seperti kata Marx tentang teori materialism sejarahnya bahwa keadaan sosial seseoranglah yang menentukan identitas dirinya.[2]
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa keadaan suatu zaman bagaikan dua sisi mata uang dengan produk-produk intelektual para pemikirnya serta kejadian-kejadian besar yang terjadi pada zaman tersebut.Untuk itu, sebelum kita berbicara tentang zaman kita, alangkah baiknya jika memulainya dengan merujuk pada pandangan-pandangan terkemuka para intelektual yang dikemukakan pada zaman kita ini.selain merujuk pada pandangan-pandangan intelektual yang tentu saja berada dalam tataran ide, kita juga perlu memandang zaman melalui peristiwa-peristiwa besar yang terjadi secara actual, obyektif dan komprehensif.
a. Dari Google dampai WikiLeaks.
Jika kita membicarakan mesin pencari yang satu ini, tentunya akan sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Situs ini adalah mesin pencari data otomatis di internet. Hamper semua manusia di dunia yang menggunakan internet pernah memakai jasanya. Peranannya begitu terasa dalam berbagai segi kehidupan.Tak terkecuali dalam dunia akademis.
Dalam dunia intelektual, situs ini memiliki andil besar dalam pembangunan dunia secara keseluruhan.Data-data penopang pembangunan tersedia disana, walaupun tak lengkap, namun cukup membantu.Mari kita lihat bagaimana dulu Negara-negara colonial bisa begitu lama menekan pribumi jajahannya. Pribumi sami’na wa ato’na kepada para penjajah karena penjajah berkuasa memerintahkan meriam, senapan dan bom untuk membunuh. Sesuatu yang mustahil dan di luar adat manusia bagi pribumi.
Fenomena ini terjadi karena begitu terbatasnya akses pribumi akan informasi dan ilmu pengetahuan mutakhir. Mari bayangkan jika dulu, saat akan menyerang Batavia, Sultan Agung sudah bisa menggunakan internet dengan Google-nya. Bahkan jika seluruh Netherland datang ke Indonesia-pun, tak akan menyebabkan kerusakan berarti bagi kekokohan nusantara.
Setelah google, satu hal fenomenal lagi disuguhkan dunia maya ke dunia nyata.Tentunya kita masih ingat bagaimana kawat-kawat diplomatik Amerika disadap William Assange lewat WikiLeaks-nya untuk kemudian dibocorkan satu-persatu kepada dunia.Hal yang sangat revolusioner. Dalam skala besar, bahkan hal ini akan dapat menimbulkan berbagai macam perubahan revolusioner dinamika perpolitikan dunia. WikiLeaks memberitahu kita bahwa keterbukaan selalu lebih baik.
Tanggapan dari berbagai kalangan-pun otomatis mengalir, membanjir. Bahkan seorang politikus partai demokratik Norwegia, Snorre Valen, mencalonkan Julian Assange sebagai kandidat penerima nobel perdamaian. Valen menganggap kontribusi WikiLeaks sangat besar bagi perdamaian dunia, khususnya dalam kebebasan menyampaikan pendapat.“Dengan mengungkap informasi tentang korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan perang, WikiLeaks adalah pejuang alami untuk Nobel perdamaian”.[3]
Fenomena internet ini semakin menegaskan bahwa di era informasi seperti sekarang, bahkan tembok adalah mata-mata. Mata-mata yang memberitahukan keadaan kita kepada dunia, juga memberitahukan keadaan dunia kepada kita.
b. Dunia dalam Ekonomi.
Senin, 13 juni 2011, harian seputer Indonesia memuat artikel yang cukup mengejutkan di halaman pertama “Asia Jadi Pusat Dunia Baru”.Cukup menantang dan menggelitik memang. Karena bagaimanapun, asia adalah dunia ke-tiga yang baru beberapa decade saja menemukan identitasnya kembali.
Memang banyak kalangan meyakini bahwa asia akan menjadi pusat ekonomi dunia dalam beberapa waktu ke depan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat serta ketersediaan sumber daya membuat asia semakin berperan penting dalam tataran global. Dalamlaporan berjudul “Asia 2050: Realizing The Asia Century” yang terbit bulan lalu, Asian Development Bank memprediksi asia akan menyumbang 51% produksi global pada 2050.
Dalam World Economic Forum East Asia yang digelar tanggal 12 – 13 juni di Jakarta, Presiden Yudhoyono mengungkapkan kepercayaannya bahwa sekarang adalah masa bagi asia untuk menjadi pusat new globalism. Namun, untuk mencapai hal itu, negar-negara asia harus melakukan sejumlah langkah. Pertama, asia harus menjadi solusi untuk menyelesaikan Global Unbalaces. Kedua, asia harus mampu mengantisipasi dan menyelesaikan tekanan yang terus meningkat, terutama menyangklut ketersediaan komositas pangan, energy serta air. Ketiga, asia harus melakukan semua upaya untuk menjadi pusat inovasi global. Keempat, asia perlu menempatkan generasi muda sebagai sumber daya manusia yang sedang tumbuh dan memegang kunci di masa depan. Kelima, asia harus melestarikan serta membangun keberagaman, sebuah nilai yang menjadi kekayaan asia.[4]
Fakta-fakta diatas menunjukkan kepada kita satu hal mendasar. Yaitu bahwa sudah bukan masanya lagi suatu bangsa ataupun suatu kawasan menguasai bangsa atau kawasan lain. Siapapun yang mampu menundukkan ilmu pengetahuan dengan inovasi, teknologi dan kretifitas, dialah pemenangnya.
c. Timur Tengah Bergetar.
Belakangan, akrab di telinga kita bahwa di sebuah kawasan sekitar mediterania, laut merah dan laut tengah sedang terjadi regangan kehidupan yang lain. Timur Tengah bergetar.
Setelah presiden Tunisia Zine el-Abidine ben Ali ahirnya jatuh di tangan Revolusi Melati yang mengatasnamakan rakyat, giliran Mubarrak harus merelakan kursi pemerintahan Mesir dibawah Revolusi Tweeps. Kekuasaan dictator bersenjatakan Tank dan pesawat tempur tak berdaya dihadapkan dengan hasrat kuat untuk menemukan kebebasan dan kesetaraan.Berikutnya, giliran Libya, Oman, Suriah, Yaman dan negeri-negeri sejenis mendapat luapan hasrat rakyat untuk bebas dari segala macam ketertutupan.[5]
Selama ini, kawasan Timur Tengah dikenal sebagai kawasan paling sulit ditembus demokrasi. Dua gelombang besar demokrasi (decade 1940an – pasca Perang Dunia II dan 1990an pasca berahirnya perang dingin) tak meninggalkan bekas berarti di dawasan ini. Kawasan Timur Tengah tetap menjadi kawasan yang kental akan nuansa dominasi satu kaum akan kaum lainnya. Nuansa kediktaturan berdalih agama.
Kini, berangkat dari keterbukaan informasi yang tak terkendali, kalangan intelektual timur tengah mulai bergerak mengatasi kegerahan yang telah mengendap-menahun. Mereka bangkit dari tidur panjang dan mulai menuntut keadilan, kesetaraan dan kebebasan. Dan ahirnya, akses akan informasi merombak seluruh tatanan masyarakat.

[1] Karl Mannheim, 1936, Ideology and Utopia: An Introduction to the Sociology of Knowledge, New York:Harvest Book, hlm 265
[2] Lebih jelasnya, lihat: Peta Pemikiran Karl Marx, Yogyakarta: LKIS.
[3] Tempo, 13 Februari 2011, hal 96
[4]Seputar Indonesia, 13 juni 2011.
[5] Tempo, 13 februari 2011, hal.99

Zaman Kita dan Para Pemerannya



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, zaman adalah jangka waktu yg panjang atau pendek yg menandai sesuatu; masa. Seperti yang telah kita ketahui bahwa si abad 21 ini, zaman kita, adalah zaman globalisasi. Zaman dimana proses transformasi terjadi dalam setiap aspek kehidupan menuju kesatuan sebagai masyarakat dunia. Proses transformasi ini tak gratis tentunya. Banyak konsekuensi negative yang akan dihadapi sebaga baying-bayang dari tujuannya.
Seperti kata Scztompka, memahami transformasi tak akan lengkap jika tidak membandingkan sejarah masa kini dengan sejarah masa lalu. Apa yang ada sekarang ini akan biasa saja dan di-lumrah-kan. Untuk itulah kita memerlukan mengomparasikan keadaan-keadaan terkini dengan keadaan zaman-zaman sebelumnya.Dalam bahasa R.A. Kartini, kita harus membandingkan antar “regangan kehidupan” yang terjadi dari masa ke masa.[1]
Secara garis besar, panulis mengelompokkan regangan-regangan kehidupan dalam sebuah periosiasi.Periodisasi ini dibuat untuk menyederhanakan gagasan utama sebuah zaman.Periodisasi ini disandarkan pada pernyataan Ibnu Khaldundalam Mukaddimah-nya bahwa dalam suatu peradaban ada empat fase.Yaitu, fase pembangun, fase pengisi, fase penikmat dan fase penghancur.
Pada dasarnya, bukan ingin memposisikan semangat zaman sebagai sesuatu yang hidup dan mati.Namun semata-mata ingin menggunakan pisau analisis Ibnu Rusyd untuk menjaring arah utama (Main Stream) suatu zaman untuk kemudian diletakkan dalam periodisasi-periodisasi semangat zaman.
Dengan pisau analisa ini, kita akan melihat sejarah dunia sesuai isu-isu sentral dunia. Sebuah zaman akan diperiodesasi berdasarkan pada empat fase itu. Mulai dari proses kemunculannya, proses pengisiannya, masa setelah masa kejayaan dan ahirnya, masa dimana dunia mulai menginduk pada arah yang lain, yang lebih maju dan meninggalkan zaman itu dalam indah kenangan.
Periodisasi ini akan dimulai dari zaman paling awal yang mampu terrekam sejarah manusia. Dengan berbagai pertimbangan,
a) Zaman Pra Sejarah.
Setiap peradaban yang mengenal tulisan, pernah tak mengenalnya.Artinya, masa awal geliat kehidupan manusia adalah kehidupan tanpa tulisan. Tulisan memang tak menjadi sesuatu yang penting bagi manusia saat itu karena tak ada satupun dari mereka yang berfikir bahwa setiap peradaban harus dituliskan. Bahkan untuk mempertahankan eksistensi hidup merekapun mereka harus bertarung menantang maut itu sendiri.
Adanya saman ini diketahui dari peninggalan-peninggalan pra sejarah. Peninggalan-peninggalan berupa artefak-artefak dan fosil-fosil menggambarkan dengan begitu kuat apa saja yang terjadi di zaman ini. fosil dan artefak ini ditemukan di hamper semua belahan dunia. Hingga dapat dipastikan bahwa zaman ini pernah merata di seluruh permukaan dunia.
Dari fosil yang ditemukan dapat kita ketahui bahwa peranan kekuatan fisik sangat vital dalam menopang kehidupannya.Dari artefak yang ditinggalkan, kita tahu bahwa di zaman ini, kehidupan manusia sangat monoton, sebatas berburu dan meramu.Walau begitu, di zaman ini kehidupan manusia sangat spiritual.Mereka sangat mengagungkan kekuatan supranatural yang jauh lebih kuasa disbanding kekuatannya.
b) Zaman Monarki.
Zaman monarki adalah evlusi kemasyarakatan tahap selanjutnya. Manusia-manusia pra sejarah mulai memikirkan bahwa kehidupan individual seperti yang mereka jalani tidaklah ideal dan sangat rentan akan kepunahan. Dari kesadaran inilah kemudian mereka sepakat membentuk satuan kelompok-kelompok atau satuan masyarakat dengan nilai-nilai yang dijunjung bersama yang mengikat mereka dan memposisikan lembaga tertentu sebagai pengatur kehidupan mereka.
Pada masa-masa ini, kehidupan manusia sudah begitu kompleks.Hubungan internasional baik yang positif maupun yang negative mulai terjadi.Semua hubungan internasional mengatasnamakan kerajaan. Zaman ini memandang bahwa adanya segelintir orang yang dilahirkan lengkap dengan status “pemerintah” dan sebagian yang lain lengkap dengan status “yang harus diperintah”. Dalam bahasa yang lebih jelas, ada yang dilahirkan dengan “otoritas menindas” dan ada yang dilahirkan dengan “nasib
c) Zaman Agama.
Zaman agama ditandai kemunculannya ketika peran agama dalam kehidupan manusia mulai mendominasi.Dominasi agama terjadi di setiap sector kehidupan. Kehidupan ekonomi, kehidupan politik, kehidupan sosial semuanya berlandaskan pada satu hal ini: Agama.
Di zaman ini, agama adalah factor penentu posisi sosial, antara kawan atau lawan. Ketika kita sama, seiapapun kamu, kita adalah saudara. Juga ketika kita berbeda, siapapun kamu, kita berbeda dan akan terus tersekat batas sebelum kau jadi salah satu dari kami. Factor agama adalah factor yang paling determinan dalah segala sendi kehidupan manusia.
Zaman ini meninggalkan ambiguitas tersendiri yang hingga saat ini madih menjadi misteri besar yang menunggu untuk dipecahkan.Di satu sisi, zaman inilah yang mengajarkan untuk hidup damai, saling menghormati, dan menjanjikan kebahagiaan abadi. Namun disisi lain, zaman ini adalah zaman yang paling banyak melahirkan peperangan. Entah terjadi penyimpangan pemaknaan ataupun tidak, yang pasti adalah bahwa agama menjadi alas an utama bagi seorang pembunuh untuk membunuh.
Zaman ini mulai menemui titik nadirnya sejak terbitnya zaman aufklarung (renaissance atau enlightment). Dimotori ilmu pengetahuan yang ternyata banyak bertentangan dengan paradigma agama akan berbagai hal, masa ini menjadi regangan kehidupan yang baru.
d) Zaman Kolonisasi.
Seperti telah dijelaskan pada pendahuluan bahwa zaman kolonisasi lahir akibat terputusnya jalur pedagangan di timur tengah serta keserakahan kapitalisme.Sejak ditemukannya mesin yang bisa meerintah mendung menggerakkan besi untuk bekerja mengabdi pada manusia, mulai bermitosislah pekerjaan dengan modal.
Saat produksi melimpah dan tingkat keuntungan merosot, kapitalisme membutuhkan pasar baru untuk produknya.Inilah hal utama yang menerbitkan kolonisasi.Dimana dengan modal sekecil-kecilnya, bisa menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya persis seperti yang dikatakan Adam Smith.
Memasuki zaman ini, factor agama tak lagi se-determinan seperi zaman sebelumnya.Di zaman ini, yang menentukan benar atau salah adalah modal dan keuntungan sebagai anak kandungnya.Tak ada pertemanan abadi dan permusuhan abadi.Selama bisa melindungi modal dan menghasilkan keuntungan, kita kawan.Jika tidak, mohon maaf.Posisi agama hanyalah sebagai kembang tidur.
Di zaman ini, manusia ditempatkan pada posisi yang sangat tak manusiawi.Kemakmuran tak terdistribusi secara baik dan menghasilkan kesenjangan sosial yang begitu kentara.Jurang pemisah pemilik modal dengan pekerja sangatlah jauh untuk bisa disebut setara.Apalagi antara penjajah dengan jajahannya, bagaikan anak tuhan dengan hambanya.
e) Zaman Kesetaraan.
Zaman kesetaraan lahir sebagai kritik tajam bagi zaman-zaman sebelumnya.Zaman ini adalah zaman dimana manusia ditempatkan sebagaimana seharusnya mereka ditempatkan, dan dipandang sebagaimana mereka harusnya dipandang. Manusia adalah mahluk yang sangat saling berdbeda satu sama lainnya namun sama dalam hal menginginkan kebahagiaan.
Ide-ide kesetaraan sebetulnya sudah muncul sejak adanya penindasan itu sendiri sebagai bayangannya.Terhitung sekitar 4500 tahun yang lalu, bangsa medopotamia telah mencatatkannya dalam sebuah prasasti.[2]Seiring semakin absolutnya hegemoni ide-ide diskriminasi, baik yang bermotif kerajaan maupun yang bermotif agama, ide mengenai kesetaraan semakin terpuruk bahkan nyaris hilang dari catatan sejarah ditelan mentah-mentah keserakahan.
Ide kedetaraan mulai menemukan bentuknya kembali pasca revolusi perancis.Revolusi perancis hadir dengan cita-cita luhur, memperjuangkan ide-ide kesetaraan.[3] Dengan semboyan yang tak asing bagi kita, “ Kebebasan, Kesetaraan, & Persaudaraan”, revolusi perancis segera saja menjadi percikan api yang membakar semangat umat manusia untuk menjelang kebebasannya sendiri dengan kesetaraan yang menyeluruh.
Efeknya, terjangkit penyekit “Semangat Totalitas” di kalangan terpelajar di dunia ke-tiga. Dari sinilah kemudian peta perpolitikan dunia berubah drastis.Negara-negara colonial tak lagi bisa menunggangi Negara inangnya. Negara jajahan menuntut kebebasannya dan meneriakkan prinsip kesetaraan kepada dunia.
Prinsip kesetaraan begitu kuat terasa dalam kehidupan saat ini.namun, tak sedikit orang yang baginya kesetaraan dan kebebasan hanyalah sebuah mimpi. Untuk itu, regangan kehidupan selanjutnya adalah bagaimana membuat dunia dikuasai kebebasan dan kesetaraan agar manusia mutlak menjadi manusia seutuhnya.

[1] Pramoedya Ananta Toer, 1984, Jejak Langkah, Jakarta: Hasta Mitra, bab 4
[2] Nirwan Arsuka, 2010, Prinsip – Prinsip Masyarakat Merdeka, Jakarta: Freedom Institute, pengantar.
[3] Lihat: Edmund Burke, 1968, Reflections on The Revolution in France, London: Penguin.