Categories

Senin, 27 Juni 2011

Menangkap Dinamika Zaman



Tidak ada pengganti bagi pengetahuan yang akurat. Jadi, ketahuilah dirimu sendiri, ketahuilah bisnismu, dan ketahuilah orang-orangmu.
Lee Lacoca (mantan CEO Chrysler)
Menurut Karl Mannheim[1] pengetahuan sebagai produk pemikiran seorang atau sekelompok orang dapat diteliti secara ilmiah dengan menggambarkan relasi antara pengetahuan dan kondisi sosial yang ada.Teori ini merupakan teori yang dapat diinveriskan. Dengan kata lain, kita juga bisa mengetahui keadaan sosial suatu zaman dengan merelasikannya dengan buah-buah pikiran tokoh zamannya.
Hal ini mutlak berlaku karena bagaimanapun, setiap pemikir dan pelaku kehidupan adalah anak kandung zamannya.Konstruksi sosial dan konsumsi intelektualnyalah yang ahirnya membentuk bangunan pemikirannya.Seperti kata Marx tentang teori materialism sejarahnya bahwa keadaan sosial seseoranglah yang menentukan identitas dirinya.[2]
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa keadaan suatu zaman bagaikan dua sisi mata uang dengan produk-produk intelektual para pemikirnya serta kejadian-kejadian besar yang terjadi pada zaman tersebut.Untuk itu, sebelum kita berbicara tentang zaman kita, alangkah baiknya jika memulainya dengan merujuk pada pandangan-pandangan terkemuka para intelektual yang dikemukakan pada zaman kita ini.selain merujuk pada pandangan-pandangan intelektual yang tentu saja berada dalam tataran ide, kita juga perlu memandang zaman melalui peristiwa-peristiwa besar yang terjadi secara actual, obyektif dan komprehensif.
a. Dari Google dampai WikiLeaks.
Jika kita membicarakan mesin pencari yang satu ini, tentunya akan sangat erat dengan kehidupan kita sehari-hari. Situs ini adalah mesin pencari data otomatis di internet. Hamper semua manusia di dunia yang menggunakan internet pernah memakai jasanya. Peranannya begitu terasa dalam berbagai segi kehidupan.Tak terkecuali dalam dunia akademis.
Dalam dunia intelektual, situs ini memiliki andil besar dalam pembangunan dunia secara keseluruhan.Data-data penopang pembangunan tersedia disana, walaupun tak lengkap, namun cukup membantu.Mari kita lihat bagaimana dulu Negara-negara colonial bisa begitu lama menekan pribumi jajahannya. Pribumi sami’na wa ato’na kepada para penjajah karena penjajah berkuasa memerintahkan meriam, senapan dan bom untuk membunuh. Sesuatu yang mustahil dan di luar adat manusia bagi pribumi.
Fenomena ini terjadi karena begitu terbatasnya akses pribumi akan informasi dan ilmu pengetahuan mutakhir. Mari bayangkan jika dulu, saat akan menyerang Batavia, Sultan Agung sudah bisa menggunakan internet dengan Google-nya. Bahkan jika seluruh Netherland datang ke Indonesia-pun, tak akan menyebabkan kerusakan berarti bagi kekokohan nusantara.
Setelah google, satu hal fenomenal lagi disuguhkan dunia maya ke dunia nyata.Tentunya kita masih ingat bagaimana kawat-kawat diplomatik Amerika disadap William Assange lewat WikiLeaks-nya untuk kemudian dibocorkan satu-persatu kepada dunia.Hal yang sangat revolusioner. Dalam skala besar, bahkan hal ini akan dapat menimbulkan berbagai macam perubahan revolusioner dinamika perpolitikan dunia. WikiLeaks memberitahu kita bahwa keterbukaan selalu lebih baik.
Tanggapan dari berbagai kalangan-pun otomatis mengalir, membanjir. Bahkan seorang politikus partai demokratik Norwegia, Snorre Valen, mencalonkan Julian Assange sebagai kandidat penerima nobel perdamaian. Valen menganggap kontribusi WikiLeaks sangat besar bagi perdamaian dunia, khususnya dalam kebebasan menyampaikan pendapat.“Dengan mengungkap informasi tentang korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan perang, WikiLeaks adalah pejuang alami untuk Nobel perdamaian”.[3]
Fenomena internet ini semakin menegaskan bahwa di era informasi seperti sekarang, bahkan tembok adalah mata-mata. Mata-mata yang memberitahukan keadaan kita kepada dunia, juga memberitahukan keadaan dunia kepada kita.
b. Dunia dalam Ekonomi.
Senin, 13 juni 2011, harian seputer Indonesia memuat artikel yang cukup mengejutkan di halaman pertama “Asia Jadi Pusat Dunia Baru”.Cukup menantang dan menggelitik memang. Karena bagaimanapun, asia adalah dunia ke-tiga yang baru beberapa decade saja menemukan identitasnya kembali.
Memang banyak kalangan meyakini bahwa asia akan menjadi pusat ekonomi dunia dalam beberapa waktu ke depan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat serta ketersediaan sumber daya membuat asia semakin berperan penting dalam tataran global. Dalamlaporan berjudul “Asia 2050: Realizing The Asia Century” yang terbit bulan lalu, Asian Development Bank memprediksi asia akan menyumbang 51% produksi global pada 2050.
Dalam World Economic Forum East Asia yang digelar tanggal 12 – 13 juni di Jakarta, Presiden Yudhoyono mengungkapkan kepercayaannya bahwa sekarang adalah masa bagi asia untuk menjadi pusat new globalism. Namun, untuk mencapai hal itu, negar-negara asia harus melakukan sejumlah langkah. Pertama, asia harus menjadi solusi untuk menyelesaikan Global Unbalaces. Kedua, asia harus mampu mengantisipasi dan menyelesaikan tekanan yang terus meningkat, terutama menyangklut ketersediaan komositas pangan, energy serta air. Ketiga, asia harus melakukan semua upaya untuk menjadi pusat inovasi global. Keempat, asia perlu menempatkan generasi muda sebagai sumber daya manusia yang sedang tumbuh dan memegang kunci di masa depan. Kelima, asia harus melestarikan serta membangun keberagaman, sebuah nilai yang menjadi kekayaan asia.[4]
Fakta-fakta diatas menunjukkan kepada kita satu hal mendasar. Yaitu bahwa sudah bukan masanya lagi suatu bangsa ataupun suatu kawasan menguasai bangsa atau kawasan lain. Siapapun yang mampu menundukkan ilmu pengetahuan dengan inovasi, teknologi dan kretifitas, dialah pemenangnya.
c. Timur Tengah Bergetar.
Belakangan, akrab di telinga kita bahwa di sebuah kawasan sekitar mediterania, laut merah dan laut tengah sedang terjadi regangan kehidupan yang lain. Timur Tengah bergetar.
Setelah presiden Tunisia Zine el-Abidine ben Ali ahirnya jatuh di tangan Revolusi Melati yang mengatasnamakan rakyat, giliran Mubarrak harus merelakan kursi pemerintahan Mesir dibawah Revolusi Tweeps. Kekuasaan dictator bersenjatakan Tank dan pesawat tempur tak berdaya dihadapkan dengan hasrat kuat untuk menemukan kebebasan dan kesetaraan.Berikutnya, giliran Libya, Oman, Suriah, Yaman dan negeri-negeri sejenis mendapat luapan hasrat rakyat untuk bebas dari segala macam ketertutupan.[5]
Selama ini, kawasan Timur Tengah dikenal sebagai kawasan paling sulit ditembus demokrasi. Dua gelombang besar demokrasi (decade 1940an – pasca Perang Dunia II dan 1990an pasca berahirnya perang dingin) tak meninggalkan bekas berarti di dawasan ini. Kawasan Timur Tengah tetap menjadi kawasan yang kental akan nuansa dominasi satu kaum akan kaum lainnya. Nuansa kediktaturan berdalih agama.
Kini, berangkat dari keterbukaan informasi yang tak terkendali, kalangan intelektual timur tengah mulai bergerak mengatasi kegerahan yang telah mengendap-menahun. Mereka bangkit dari tidur panjang dan mulai menuntut keadilan, kesetaraan dan kebebasan. Dan ahirnya, akses akan informasi merombak seluruh tatanan masyarakat.

[1] Karl Mannheim, 1936, Ideology and Utopia: An Introduction to the Sociology of Knowledge, New York:Harvest Book, hlm 265
[2] Lebih jelasnya, lihat: Peta Pemikiran Karl Marx, Yogyakarta: LKIS.
[3] Tempo, 13 Februari 2011, hal 96
[4]Seputar Indonesia, 13 juni 2011.
[5] Tempo, 13 februari 2011, hal.99

Zaman Kita dan Para Pemerannya



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, zaman adalah jangka waktu yg panjang atau pendek yg menandai sesuatu; masa. Seperti yang telah kita ketahui bahwa si abad 21 ini, zaman kita, adalah zaman globalisasi. Zaman dimana proses transformasi terjadi dalam setiap aspek kehidupan menuju kesatuan sebagai masyarakat dunia. Proses transformasi ini tak gratis tentunya. Banyak konsekuensi negative yang akan dihadapi sebaga baying-bayang dari tujuannya.
Seperti kata Scztompka, memahami transformasi tak akan lengkap jika tidak membandingkan sejarah masa kini dengan sejarah masa lalu. Apa yang ada sekarang ini akan biasa saja dan di-lumrah-kan. Untuk itulah kita memerlukan mengomparasikan keadaan-keadaan terkini dengan keadaan zaman-zaman sebelumnya.Dalam bahasa R.A. Kartini, kita harus membandingkan antar “regangan kehidupan” yang terjadi dari masa ke masa.[1]
Secara garis besar, panulis mengelompokkan regangan-regangan kehidupan dalam sebuah periosiasi.Periodisasi ini dibuat untuk menyederhanakan gagasan utama sebuah zaman.Periodisasi ini disandarkan pada pernyataan Ibnu Khaldundalam Mukaddimah-nya bahwa dalam suatu peradaban ada empat fase.Yaitu, fase pembangun, fase pengisi, fase penikmat dan fase penghancur.
Pada dasarnya, bukan ingin memposisikan semangat zaman sebagai sesuatu yang hidup dan mati.Namun semata-mata ingin menggunakan pisau analisis Ibnu Rusyd untuk menjaring arah utama (Main Stream) suatu zaman untuk kemudian diletakkan dalam periodisasi-periodisasi semangat zaman.
Dengan pisau analisa ini, kita akan melihat sejarah dunia sesuai isu-isu sentral dunia. Sebuah zaman akan diperiodesasi berdasarkan pada empat fase itu. Mulai dari proses kemunculannya, proses pengisiannya, masa setelah masa kejayaan dan ahirnya, masa dimana dunia mulai menginduk pada arah yang lain, yang lebih maju dan meninggalkan zaman itu dalam indah kenangan.
Periodisasi ini akan dimulai dari zaman paling awal yang mampu terrekam sejarah manusia. Dengan berbagai pertimbangan,
a) Zaman Pra Sejarah.
Setiap peradaban yang mengenal tulisan, pernah tak mengenalnya.Artinya, masa awal geliat kehidupan manusia adalah kehidupan tanpa tulisan. Tulisan memang tak menjadi sesuatu yang penting bagi manusia saat itu karena tak ada satupun dari mereka yang berfikir bahwa setiap peradaban harus dituliskan. Bahkan untuk mempertahankan eksistensi hidup merekapun mereka harus bertarung menantang maut itu sendiri.
Adanya saman ini diketahui dari peninggalan-peninggalan pra sejarah. Peninggalan-peninggalan berupa artefak-artefak dan fosil-fosil menggambarkan dengan begitu kuat apa saja yang terjadi di zaman ini. fosil dan artefak ini ditemukan di hamper semua belahan dunia. Hingga dapat dipastikan bahwa zaman ini pernah merata di seluruh permukaan dunia.
Dari fosil yang ditemukan dapat kita ketahui bahwa peranan kekuatan fisik sangat vital dalam menopang kehidupannya.Dari artefak yang ditinggalkan, kita tahu bahwa di zaman ini, kehidupan manusia sangat monoton, sebatas berburu dan meramu.Walau begitu, di zaman ini kehidupan manusia sangat spiritual.Mereka sangat mengagungkan kekuatan supranatural yang jauh lebih kuasa disbanding kekuatannya.
b) Zaman Monarki.
Zaman monarki adalah evlusi kemasyarakatan tahap selanjutnya. Manusia-manusia pra sejarah mulai memikirkan bahwa kehidupan individual seperti yang mereka jalani tidaklah ideal dan sangat rentan akan kepunahan. Dari kesadaran inilah kemudian mereka sepakat membentuk satuan kelompok-kelompok atau satuan masyarakat dengan nilai-nilai yang dijunjung bersama yang mengikat mereka dan memposisikan lembaga tertentu sebagai pengatur kehidupan mereka.
Pada masa-masa ini, kehidupan manusia sudah begitu kompleks.Hubungan internasional baik yang positif maupun yang negative mulai terjadi.Semua hubungan internasional mengatasnamakan kerajaan. Zaman ini memandang bahwa adanya segelintir orang yang dilahirkan lengkap dengan status “pemerintah” dan sebagian yang lain lengkap dengan status “yang harus diperintah”. Dalam bahasa yang lebih jelas, ada yang dilahirkan dengan “otoritas menindas” dan ada yang dilahirkan dengan “nasib
c) Zaman Agama.
Zaman agama ditandai kemunculannya ketika peran agama dalam kehidupan manusia mulai mendominasi.Dominasi agama terjadi di setiap sector kehidupan. Kehidupan ekonomi, kehidupan politik, kehidupan sosial semuanya berlandaskan pada satu hal ini: Agama.
Di zaman ini, agama adalah factor penentu posisi sosial, antara kawan atau lawan. Ketika kita sama, seiapapun kamu, kita adalah saudara. Juga ketika kita berbeda, siapapun kamu, kita berbeda dan akan terus tersekat batas sebelum kau jadi salah satu dari kami. Factor agama adalah factor yang paling determinan dalah segala sendi kehidupan manusia.
Zaman ini meninggalkan ambiguitas tersendiri yang hingga saat ini madih menjadi misteri besar yang menunggu untuk dipecahkan.Di satu sisi, zaman inilah yang mengajarkan untuk hidup damai, saling menghormati, dan menjanjikan kebahagiaan abadi. Namun disisi lain, zaman ini adalah zaman yang paling banyak melahirkan peperangan. Entah terjadi penyimpangan pemaknaan ataupun tidak, yang pasti adalah bahwa agama menjadi alas an utama bagi seorang pembunuh untuk membunuh.
Zaman ini mulai menemui titik nadirnya sejak terbitnya zaman aufklarung (renaissance atau enlightment). Dimotori ilmu pengetahuan yang ternyata banyak bertentangan dengan paradigma agama akan berbagai hal, masa ini menjadi regangan kehidupan yang baru.
d) Zaman Kolonisasi.
Seperti telah dijelaskan pada pendahuluan bahwa zaman kolonisasi lahir akibat terputusnya jalur pedagangan di timur tengah serta keserakahan kapitalisme.Sejak ditemukannya mesin yang bisa meerintah mendung menggerakkan besi untuk bekerja mengabdi pada manusia, mulai bermitosislah pekerjaan dengan modal.
Saat produksi melimpah dan tingkat keuntungan merosot, kapitalisme membutuhkan pasar baru untuk produknya.Inilah hal utama yang menerbitkan kolonisasi.Dimana dengan modal sekecil-kecilnya, bisa menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya persis seperti yang dikatakan Adam Smith.
Memasuki zaman ini, factor agama tak lagi se-determinan seperi zaman sebelumnya.Di zaman ini, yang menentukan benar atau salah adalah modal dan keuntungan sebagai anak kandungnya.Tak ada pertemanan abadi dan permusuhan abadi.Selama bisa melindungi modal dan menghasilkan keuntungan, kita kawan.Jika tidak, mohon maaf.Posisi agama hanyalah sebagai kembang tidur.
Di zaman ini, manusia ditempatkan pada posisi yang sangat tak manusiawi.Kemakmuran tak terdistribusi secara baik dan menghasilkan kesenjangan sosial yang begitu kentara.Jurang pemisah pemilik modal dengan pekerja sangatlah jauh untuk bisa disebut setara.Apalagi antara penjajah dengan jajahannya, bagaikan anak tuhan dengan hambanya.
e) Zaman Kesetaraan.
Zaman kesetaraan lahir sebagai kritik tajam bagi zaman-zaman sebelumnya.Zaman ini adalah zaman dimana manusia ditempatkan sebagaimana seharusnya mereka ditempatkan, dan dipandang sebagaimana mereka harusnya dipandang. Manusia adalah mahluk yang sangat saling berdbeda satu sama lainnya namun sama dalam hal menginginkan kebahagiaan.
Ide-ide kesetaraan sebetulnya sudah muncul sejak adanya penindasan itu sendiri sebagai bayangannya.Terhitung sekitar 4500 tahun yang lalu, bangsa medopotamia telah mencatatkannya dalam sebuah prasasti.[2]Seiring semakin absolutnya hegemoni ide-ide diskriminasi, baik yang bermotif kerajaan maupun yang bermotif agama, ide mengenai kesetaraan semakin terpuruk bahkan nyaris hilang dari catatan sejarah ditelan mentah-mentah keserakahan.
Ide kedetaraan mulai menemukan bentuknya kembali pasca revolusi perancis.Revolusi perancis hadir dengan cita-cita luhur, memperjuangkan ide-ide kesetaraan.[3] Dengan semboyan yang tak asing bagi kita, “ Kebebasan, Kesetaraan, & Persaudaraan”, revolusi perancis segera saja menjadi percikan api yang membakar semangat umat manusia untuk menjelang kebebasannya sendiri dengan kesetaraan yang menyeluruh.
Efeknya, terjangkit penyekit “Semangat Totalitas” di kalangan terpelajar di dunia ke-tiga. Dari sinilah kemudian peta perpolitikan dunia berubah drastis.Negara-negara colonial tak lagi bisa menunggangi Negara inangnya. Negara jajahan menuntut kebebasannya dan meneriakkan prinsip kesetaraan kepada dunia.
Prinsip kesetaraan begitu kuat terasa dalam kehidupan saat ini.namun, tak sedikit orang yang baginya kesetaraan dan kebebasan hanyalah sebuah mimpi. Untuk itu, regangan kehidupan selanjutnya adalah bagaimana membuat dunia dikuasai kebebasan dan kesetaraan agar manusia mutlak menjadi manusia seutuhnya.

[1] Pramoedya Ananta Toer, 1984, Jejak Langkah, Jakarta: Hasta Mitra, bab 4
[2] Nirwan Arsuka, 2010, Prinsip – Prinsip Masyarakat Merdeka, Jakarta: Freedom Institute, pengantar.
[3] Lihat: Edmund Burke, 1968, Reflections on The Revolution in France, London: Penguin.

Zaman Ini dan Manusianya




Lahirnya kepribadian juga merupakan ciri utama dari senyawanya zaman dan manusianya (Ir.H. Van Kollewijn)
Globalisasi: sebuah transformasi multidimensi.
Globalisasi. Jika ditilik secara gramatikal, kata ini memang merupakan pendatang baru dalam perbendaharaan bahasa dunia.Sejak kemunculannya, kata globalisasi langsung saja mendapatkan perhatian besar dari masyarakat dunia, masyarakat global.Dalam dunia sekarang ini, kita hidup ditengah masyarakat yang semakin menyatu.Kata globalisasi tak sekedar isapan jempol belaka.Sejak kemunculannya pada dekade 1990an, kata globalisasi semakin terasa efeknya dalam kehidupan kita. Dipicu dari begitu mudahnya akses akan informasi, batas-batas negara terasa semakin menipis, Anthony Giddens menyebutnya dengan memudarnya sekat-sekat peradaban. Tak berlebihan memang karena bagaimanapun, sedikit demi sedikit penghuni bumi akan membentuk sebuah kesatuan dalam bingkai masyarakat dunia. Kesatuan yang saling bergantung satu sama lainnya. Sebuah kesatuan lingkungan dan kesatuan kemasyarakatan hingga segi kehidupan yang paling personal sekalipun.
Buktinya, mari kita lihat saja ketika amerika dilanda krisis moneter tahun1997, berbagai negara di penjuru duniapun turut tergoncang perekonomiannya, terutama negara kita: indonesia. Hingga pada masa itu, indonesia dilanda krisis yang betul-betul krisis . Keadaan krisis ekonomi yang berdampak pada semua dimensi kehidupan turut pula mengguncang dimensi politik yang puncaknya meletus pada tahun 1998 sebagai suatu revolusi perpolitikan indonesia.Bisa dikatakan bahwa globalisasi merombak kehidupan bermasyarakat hingga sisi-sisi pendalaman zaman.
Sebetulnya, benih-benih globalisasi sudah muncul sejak kemunculan peradaban itu sendiri.Terjalin hubungan saling pengaruh-mempengaruhi antar peradaban-peradaban tersebut.kita bisa lihat bagaimana umat islam awal meminta bantuan kaum theis di Yastrib dengan melintasi batas-batas kenegaraan. Hal inilah yang menyemai benih-benih peradaban islam yang kemudian turut serta mewarnai dunia.
Atau kita lihat bagaimana pergolakan politik di timur tengah ahirnya menghempaskan islam ke daratan nusantara kita ini. Bertolak dari hegemoni Dinasti Umayyah yang berhasil menggulingkan Khalifah Ali bin Abi Thalib pemahaman keislaman mulai terurai menjadi beberapa aliran besar. Determinasi kaum pengikut bani Umayyah terhadap bani ‘Alawiyyin demakin terasa dalam setiap sector kehidupan ummat.Hal ini kemudian menerbitkan ide untuk menemukan kehidupan yang lebih baik bagi kaum ‘Alawiyyin dengan berlayar dan mengembara. Inilah asal mula tumbuhnya benihislam di bumi nusantara yang hingga saat ini menjadi Negara dengan penduduk beragama islam terbanyak di dunia[1]. Hal ini membuktikan bahwa kejadian di suatu tempat begitu besar pengaruhnya terhadap tempat lain.
Hal ini juga akan terasa kebenarannya ketika kita sadari bahwa kemenangan islam atas kota Konstantinopel yang kemudian menimbulkan hubungan negative antara timur tengah dengan barat sebagai perantara hubungan barat dengan asia timur kemudian menyebabkan dilakukannya penjelajahan-penjelajahan oleh bangsa-bangsa barat. Penjelajahan-penjalahan inilah yang kemudian membawa Amerigo Vespucci menginjakkan kaki orang eropa pertama di tanah Dunia baru: Amerika. Penjelajahan ini pula yang menyebabkan bangsa kita terkungkung selama hampir empat abad dibawah kaki kolonisasi belanda.
Apalagi kalau kita lihat bagaimana penterjemahan buku-buku Yunani kuno ke dalam bahasa Arab menerbitkan kemajuan pesat di tubuh peradaban islam. Juga bagaimana kemajuan peradaban islam ahirnya mengahiri, secara tak langsung, The Dark Age yang menyembunyikan bangsa eropa dibawah doktrin-doktri gereja. Semua itu terjadi karena satu hal, globalisasi.
Dalam perkembangan mutakhirnya, globalisasi semakin bersenyawa dengan kehidupan kita, manusia sebagai mahluk sosial yang selalu akan berinteraksi satu sama lainnya. Seperti kata Anthony Giddens bahwa sekat-sekat peradaban mulai memudar dan merangkak menuju kesatuan sebagai satu masyarakat, masyarakat dunia.
Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal. Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung di semua aspek kehidupan.Cakupan saling ketergantungan ini benar-benar mengglobal.[2] Selanjutnya, Sztompka menyatakan bahwa:
Kedalaman perubahan yang terjadi hanya dapat dipahami lebih baik jika kita membandingkan dua kasus yang berbeda: sejarah masa lalu dengan sejarah masa kini. Masyarakat masa lalu mencerminkan unit-unit sosial yang terisolasi, pluralistis, diversifikasi Negara-bangsa. Terdapat system ekonomi autarki yang berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dan berbagai jenis kultur pribumi yang melestarikan identitas khas mereka sendiri sering tak saling dapat memahami dan tak dapat dibandingkan.[3]
Hal ini memberitahu kita secara jelas bahwa terajadi transformasi multidimensi dalam globalisai. Dengan menimbulkan pola hubungan baru dalam bermasyarakat, globalisasi juga menuntut akan kemampuan-kemampuan baru yang sesuai untuk diterapkan dalam berkehidupan di era ini. seperti yang dikemukakan sztompka, selalu akan ada mekanisme mempertahankan identitas diri dalam pergulatannya dengan proses globalisasi.
Ada tiga analisis klasik mengenai kemunculan globalisasi, yaitu teori imperialisme, teori ketergantungan dan teori system dunia.Teori imperialisme (Oleh J.A. Hobson – 1902, Bukharin – 1929, dan Lennin 1939) mengasumsi bahwa globalisasi adalah eksponen dari tahap akhir evolusi kapitalisme.Ketika produksi melimpah dan tingkat keuntungan merosot, kapitalisme harus melakukan tindakan bertahan.Pernjajahan adalah solusi sebagai strategi kapitalisme untuk mempertahankan diri dari kehancuran yang segera terjadi. Penjajahan menjawab tiga tuntutan ekonomi penting: mendapatkan tenaga kerja murah, mendapatkan bahan mentah murah dan membuka pasar baru untuk produksi yang berlimpah. Menurut teori ini, kapitalisme-lah induk awal dari global.[4]
Teori ketergantungan dikemukakan oleh F. Cordoso dan E. Faletto.Mereka menyatakan bahwa masalah utamanya adalah keterbatasan otonomi teknologi dan perkembangan sector barang modal.Akumulasi, perluasan dan pembentukkan capital local memerlukan dan tergantung pada pelengkap dari luar dirinya.Kapitalis local harus mencemplung kedalam kontak kapitalisme internasional.Hal inilah bibit-bibit globalisasi.[5]
Teori system dunia adalah teori globalisasi yang dikemukakan Immanuel wallerstein[6].Ia membandingkan dengan tiga tahap utama perkembangan sejarah. Pertama adalah sistem mini, unit-unit ekonominya relative kecil, memenuhi kebutuhan sendiri dengan pembagian kerja internal menyeluruh dan dengan kerangka cultural tunggal.Tahap berikutnya adalah tahap kekaisaran dunia, kesatuan ekonominya jauh lenih besar dan menyeluruh, menggabungkan sejumlah besar system mini sebelumnya.Tahap terahir adalah tahap ekonomi dunia yang muncul awal abad 16.Ketika itu, kapitalisme muncul sebagai system ekonomi yang doiminan.Peran pasar sangat determinan menyebabkan terjadinya perdagangan bebas.Demikianlah kapitalisme yang memiliki potensi ekspansi yang sangat besar juga menghasilkan globalisasi sebagai anak kandung.
Dalam hal ini, Cak Nur berpendapat dalam Islam Doktrin dan Peradaban, bahwa:
“Dengan tibanya Zaman Teknik (demikian beliau menyebut zaman modern) itu maka umat manusia tidak lagi dihadapkan kepada persoalan kultural sendiri secara terpisah dan berkembang secara otonomi dengan yang lain, tetapi terdorong menuju kepada masyarakat jagad (global) yang terdiri dari berbagai bangsa yang erat berhubungan satu sama lain.”[7]
Dari manapun datangnya, globalisasi bukan merupakan momok berbahaya yang harus selalu dicegah terjadinya dengan menutup diri dari dunia luar, dengan mengasingkan komunitasnya hingga menjadi benar-benar orisinil namun ditinggalkan zaman seperti kaum baduy di pedalaman banten. Globalisasi adalah masa baru yang harus dijelang dengan gagah berani sebagai manusia islam Indonesia seutuhnya.
Mencari Bentuk Ideal
Berbekal pemahaman bahwa globalisasi merupakan suatu keniscayaan yang harus dinikmati dan diisi sesuai dengan identitas kemanusiaan kita. Diisi dengan semangat islam keindonesiaan. Dalam aktualisasinya, hal ini menemukan sebuah dualisme identitas. Apakah nantinya kita akan terbawa arus dan tanpa sadar telah menjadi salah satu dari mereka, ataukah pilihan kedua, teguh dengan pendirian identitas hingga menjadi masyarakat terisolir dan tertinggal. Pilihan terbaik tentunya pilihan ketiga.Pilihan untuk terus mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan identitas dirinya.
Untuk mengikuti perkembangan zaman dengan tetap mempertahankan nilai-nilai identitas diri tentunya jauh lebih sulit dari pilihan pertama ataupun pilihan kedua. Pilihan ketiga ini membutuhkan usaha lebih untuk merumuskan apa identitas kita yang sesungguhnya, sebatas mana kita dapat mengikuti perkembangan zaman, dan bagaimana menemukan titik persesuaian antara identitas kita dengan zaman yang terus berkembang ini.


[1] Adien jauharudin, 2008, Ahlussunnah wal Jama’ah: Manhajul Harokah, Jakarta: Perhimpunan masyarakat Pesantren Indonesia, hlm: iii
[2] Piotr Sztompka, 1993, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada media Group, hlm: 101
[3]Ibid, hal 102.
[4] Ibid, hal: 104
[5] Ibid, hal:105
[6] Ibid, hal: 107
[7] Nurcholish Madjid, 2000, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, hal : 452

Social Shock Theraphy


Jika sebuah materi mengalami penurunan yang signifikan dan sustainable, maka cara terbaik untuk membuatnya naik adalah dibenturkan sekeras-kerasnya ke bidang datar agar memantul dengan kekuatan penuh ke atas.
(Anonym)
Hukum Fisika Bicara
Begitulah kiranya fisika memberitahu kita tentang bagaimana caranya mengembalikan performa sesuatu yang sedang menukik tajam dan tenggelam menikmati tukikan performanya. Tentunya, hal semacam ini akan berakibat sangat signifikan. Selain memenuhi target utama, menaikkan performa, hal ini juga akan menghadirkan berbagai macam efek samping yang tak bisa begitu saja diabaikan. Setidaknya, jika materi tersebut memang rapuh dan memiliki daya elastisitas tak cukup, bukan kenaikan performa yang didapat, justru materi itu akan hancur menemui ketiadaannya.
Untuk itu, perlakuan semacam ini sangat berisiko dan akan menimbulkan efek samping yang kompleks. Namun, perlakuan ini adalah satu-satunya cara untuk bisa meningkatkan performa materi secara signifikan dengan waktu yang relative singkat dan usaha yang tak begitu berat. Titik pokoknya adalah adanya keberanian menanggung risiko terburuk. Itu saja.
Fakta Aktual
Saat sekarang ini, kehidupan manusia sangat kental dengan budaya-budaya hedonis dan pragmatis. Tak hanya di bidang akademik, hal itu juga berdampak negative terhadap eksistensi aktivitas organisasi-organisasi kemahasiswaan. Mindstream yang terbangun begitu kuat bahwa hidup itu sangat sederhana, kamu cukup memikirkan bagaimana kamu bisa bahagia. Padahal, sudah jelas bahwa sebagai kaum elit bangsa, mahasiswa memikul tanggung jawab penuh sebagai garda depan pembangunan bangsa. Sederhananya, kehidupan akademik menjadi wajib dikuasai dengan tingkat penguasaan sedalam-dalamnya serta tingkat pengembangan seluas-luasnya. Namun, harus kita sadari bahwa keahlian akademik saja sama sekali tak cukup untuk memenuhi kriteria pokok seorang “pembangun bangsa”. Keahlian akademik akan lengkap jika diselaraskan dengan keahlian dan pengalaman dalam begorganisasi, karena selain harus memiliki kualitas diri yang tangguh, seorang pembangun juga dituntut untuk bisa bekerjasama dengan para pembangun lainnya dalam mewujudkan mimpinya: kemakmuran bangsa.
Fakta tersebut dalam pengaruhnya terhadap kehidupan organisasi. Selain berpengaruh besar dalam hal kuantitas yang semakin menurun, fakta ini juga mempengaruhi kualitas mereka yang tetap setia berorganisasi.
Fisika, Fakta dan Aku
Organisasi yang disebut-sebut di awal tak terkecuali adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Organisasi yang didirikan pada 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane dan kawan-kawan di STI Jogjakarta ini berkembang pesat dari masa ke masa. Organisasi ini berdiri sebagai respon sosial mahasiswa islam terhadap dinamika politik negeri ini. Selain sebagai cerminan kristalisasi tekad para pendirinya yang merasa perlu mengorganisasikan mahasiswa islam dalam suatu wadah yang professional, hmi juga lahir sebagai bentuk nyata kecintaan para pendirinya kepada bangsanya yang kala itu masih sangat rentan dan rapuh kedaulatannya.
Dalam perkembangan selanjuutnya, ahirnya HMI berhasil menjadi organisasi besar dan eksis hingga sekarang. Termasuk di Universitas Negeri Jakarta dan ahirnya saya bergabung di dalamnya. Dengan kesatuan visi yang mendalam, ahirnya penulis melebur bersama HMI dalam hal mengabdi pada Kebenaran Mutlak.
Setelah meleburkan diri bersama, tentunya mata penulis bukan mata penulis yang sama seperti yang sebelum melebur. Dalam memandang segala sesuatu, penulis mendapatkan pengaruh “pandangan HMI” yang terasa begitu determinan dan dominative. Termasuk dalam memandang HMI itu sendiri. Keadaan HMI saat ini sangat jauh dari pernyataan Jendral Besar Soedirman bahwa HMI selain Himpunan Mahasiswa Islam juga merupakan Harapan Masyarakat Indonesia. Jika melihat kenyataannya sekarang (terutama di lingkungan UNJ dan cabang Jakarta Raya), pernyataan Sang Jendral akan terasa utopis dan sangat mengada-ada.
Menyadari drinya berada di dalam lingkaran ke-jumud-an tersebut, penulis memikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan jiwa HMI yang tentu saja pernyataan Sang Jendral bukan tak berdasar. Dalam kontemplasinya, penulis memikirkan berbagai alternative solusi dan ahirnya melihat hukum fisika yang dikemukakan di muka. Lalu, mulailah hari-hari penulis untuk memikirkan dan merencanakan Hidden Agenda tersebut dengan perencanaan yang elit dan sangat sistematis. Rencana besar itu adalah menggagal-totalkan sesuatu yang sangat fundamental di HMI: Basic Training. Dan untuk menggagalkan sebuah training, yang paling sederhana adalah meniadakan peserta. Sederhana, namun mematikan!.
Dalam realisasinya, rencana besar ini tentunya akan memakan banyak korban. Namun bagi penulis, inilah jalan terbaik untuk mengembalikan performa HMI sebagaimana mengembalikan performa suatu materi yang menurun secara sistenatis. Sederhananya, rencana ini akan menjadi Shock Theraphy yang sangat berharga bagi kader HMI, mulai dari tingkatan kepanitiaan LK itu sendiri, pengurus Komisariat. Pengurus Koordinator Komisariat, hingga pada tingkatan Cabang. Dengan Shock Theraphy ini, diharapkan mereka akan membuka mata dan menyadari bahwa tradisi yang terbangun di lingkungan HMI Cabang ini sangat jauh dari ideal dan mulai merenungkan jalan keluarnya.
Sejak memutuskan untuk merealisasikan gagasan ini, penulis betul-betul menyadari bahwa akan banyak orang yang kecewa dan kecewa itu pahit. Namun, bagi penulis, ini adalah satu-satunya solusi untuk keluar dari lingkaran setan ini. Untuk pihak-pihak yang akan dikorbankan, penulis sangat memohon maaf yang sedalam-dalamnya namun pengorbananmu akan berbuah manis kawan!.
Ahirnya, kesendirian adalah hal yang fundamental dalam misi rahasia ini. Cukup ada di kepala penulis dan cukup penulis yang mengetahui betapa mengecewakan itu jauh lebih pahit dari kecewa itu sendiri.
Walaupun berat dan pahit, namun sekali layar terkembang, surut kita berpantang.
YAKUSA!!!

Balada Islam dan Indonesia



Jika kita ingin membicarakan tentang islam secara keseluruhan, maka wajib bagi kita untuk membicarakan indonesia. Sebaliknya, ketika kita berbicara tentang indonesia, tak bisa dianggap lengkap kalau belum membahas islam. Karena bagaimanapun, indonesia telah menjadi bagian tersendiri dari islam dan islampun telah sedikit banyak menurunkan nilai – nilai genetiknya terhadap indonesia. Keduanya bagai dua sisi mata uang. Berbeda, namun tak terpisahkan. Karena bahkan sebelum indonesia lahirpun islam telah lama tumbuh dan berkembang di tanah kelahiran indonesia: Nusantara.