Categories

Selasa, 28 Februari 2012

Meeting Prof. R. William Liddle, Ph. D.


My Metromini-distance Heaven
Selama hidup di Jakarta, banyak sekali tempat-tempat favoritku. Kebanyakan adalah situs-situs bersejarah panjang, berdimensi luas dan memiliki ke-khas-annya sendiri. Salah satunya adalah Freedom Institute Public Library.
Perpustakaan tak terlalu besar yang terletak persis di samping Wisma Proklamasi, kompleks tugu proklamasi, Jakarta Pusat. Sebuah perpustakaan umum dengan koleksi terlengkap seputar liberalitas politik dan ekonomi di Jakarta. Perpustakaan ini juga tergolong lengkap untuk ilmu-ilmu social lainnya. Dengan fasilitas wi-fi dan smoking dan eating room, sempurnalah perpustakaan ini disebut surga. Apalagi ditambah kawasannya yang tertata rapi dengan konsep minimalis dilengkapi taman asri yang hijau, dipastikan semua penggila ilmu akan menyukainya.

Makna Beningnya Ketulusan



Tulus. Ikhlas. Tanpa pretensi
Bening, seperti udara pagi di gunung
Menenangkan dia yang haus, memuaskan dia yang gelisah
Halus berarak membasahi yang kering, menumbuhkan yang hidup
Bergerak penuh arti, berjuang tanpa maksud
Hilang dalam kepastian


Jika ada kata paling mewah dalam dunia linguistik manusia, itulah kata tulus. Sebagai kata, mungkin tak asing dalam kehidupan harian kita, tapi benarkah makna yang diwakilkan kata tulus sudah meresapi kehidupan kita? Aku tak tahu.

Di Sekitar Inferioritas Umat Islam


Mungkin ucapan Nabi 14 abad yang lalu sedang terbukti. Umat Islam telah mencapai suatu keadaan dimana jumlahnya sangat banyak namun mereka bagaikan buih di tepi laut. Hanya muncul menyertai ombak untuk menunjukkan bahwa ombak itu kuat lalu hilang tak berbekas. Umat islam mengagumkan secara kuantitas namun tergagap-gagap ketika diminta membuktikan kualitasnya. Umat islam memenuhi permukaan bumi ini dengan terus beranak-pinak di atasnya tanpa mampu banyak memberi kontribusi berarti untuk menyumbang pada lingkungan dan kemanusiaan.

Menyikapi Pluralitas dengan Pluralism


“Pluralitas OK, pluralism NO!”
Kurang lebih seperti itulah jargon yang sering dikumandangkan ustadz-ustadz meyoritas umat muslim Indonesia. Mereka cenderung menerima pluralitas, entah karena terpaksa atau tidak, sebagai kenyataan yang ada bahwa kita hidup dalam satuan masyarakat yang berlatarbelakang budaya sangat berragam. Hal ini “dianggap” menjadi rahmat dari Tuhan agar manusia saling mengenal.
Berbeda dengan pluralitas, pluralism sang saudara kembar ‘agak’ kurang beruntung. Dia cenderung di-anaktiri-kan. Pluralisme dianggap konsep ngelantur yang membuka kemungknan pembenaran bagi Sang Lain, The Others atau Al Akhor. Pluralism diapandang menyalahi doktrin islam bahwa satu-satunya jalan keselamatan hanyalah Islam. Untuk itu Pluralisme dikutuk, dihujat, diasingkan, dinajiskan hingga mendengarnyapun mereka enggan.

Senin, 13 Februari 2012

20 Refleksi dan Restorasi

Setelah 20 tahun hidup, tumbuh dan berkembang.


Waktu memang begitu relative. Aku cenderung setuju dengan yang dijelaskan Ruben pada pasangannya, Dhimas, dalam novel Dee yang pertama terbit --> SUPERNOVA: KSATRIA, PUTRI & BINTANG JATUH, waktu memiliki tiga perspektif pemahaman.
Yang pertama, waktu  mekanis. Waktu dalam perspektif ini ditempatkan sebagai besaran tertentu yang dipahami dalam satuan-satuan mekanis. Detik-detik itu, menit yang disusun enam puluh kali detik, jam, hari, minggu, bulan tahun, windu, decade, abad, millennium , semuanya hanya bagian dari sistem kalender yang tak Cuma satu di dunia. Itu semua hanyalah satuan-satuan yang digunakan manusia untuk mencoba memahami waktu.

Gen: Maha Kuasa dan Terlaknat.

Kuasa Gen.
Kehidupan ini lahir, tumbuh, berkembang, memuncak lalu meredup dan mati. Begitu juga dengan manusia. Dia terlahir, tumbuh, berkembang, memerintah alam dan mati. Segala pencapaian peradaban manusia adalah akumulasi darisegala yang dilakukan seluruh manusia ketika berada dalam fase “memerintah alam” sebelum dia mati. Dalam fase itu, manusia bebas mempersepsikan alam sesuai pemahamannya. Borobudur dibangun oleh tiga generasi pemerintahan Wangsa Syailendra, ajaran Budha lahir ketika Sidharta Gautama mulai mempertanyakan esensi kehidupan, Islam lahir setelah Muhammad merefleksikan kehidupan dan mencari tatanan masyarakat ideal, konsepsi dasar fisika-pun lahir ketika Isaac Newton menggugat sebab dari segala kejadian, begitu juga dengan jutaan ide yang mampu merubah dunia. Semuanya merupakan akumulasi pencapaian manusia ketiaka berada dalam fase “memerintah alam”
Manusia menemukan konsepsi spiritual ketika berangkat mencari kedamaian sejati, manusia menemukan konsepsi ilmu pengetahuan ketika berangkat mencari kepastian alam. Bahkan yang paling ilmiah terkadang sangat spiritualistis dan yang sangat spiritualistis terkadang begitu ilmiah. Keduanya berpilin menciptakan peradaban manusia.

Kepingan Puzzle Evolusi

Biarkan Evolusi yang menjelaskan.
Dunia ini indah. Dia teratur dalam ketakteraturannya. Dunia. Satu kata yang merangkum segalanya. Terlalu banyak manusia yang menganggap dunia ini fana, lalu rela menutup mata dan telinga demi “dunia” lain yang eternal di ahirat sana. Bagi mereka, hidup sudah punya skenarionya sendiri yang harus diselesaikan dengan monoton sesuai garis-garis suratan. Banyak juga yang menyederhanakan dengan cara lain. Bagi golongan ini, merekalah alasan mengapa dunia ini ada, mereka menganggap diri sendiri sebagai Raison de Eter eksistensi dunia. Dunia dianggap sebagai paket lengkap yang diperuntukkan khusus guna mereka memuaskan hasrat-hasrat takterbatas mereka. Lalu, dengan naïf, mereka menganggap, merekalah manusia yang hidup sepenuh-penuhnya hidup. Ah, betapa malangnya mereka yang memandang dunia begitu sederhana. MALANG!