Categories

Jumat, 01 November 2013

Menginjak Tanah Tiongkok

Tentang Revolusi, Feng Shui dan Kapitalisasi
 Dalam kontestasi ideologi besar dunia, komunisme dianggap sudah berakir dan kapitalisme dinobatkan sebagai “The Last Man Standing” yang mengakiri sejarah. Sejak tesis ini dikemukakan Francis Fukuyama, seorang pemikir cemerlang Amerika, pada 1994, banyak pakar lain yang meng-iya-kan nya. Perkembangan berikutnya adalah fakta-fakta besar yang krusial, semakin mendukung keabsahan tesis ini. Hingga pada akir dekade 90an, China mulai membuka jati dirinya, muncul sebagai satu kekuatan ekonomi besar dunia. Kekuatan ekonomi China mulai menunjukkan taringnya dan semakin menguat, merubah konstelasi ekonomi-politik dunia. Ledakan ekonomi China sebagai salah satu negara komunis seakan berteriak lantang: hancurnya Uni Soviet bukanlah akir dari komunisme.
Yang paling menarik dari komunisme ala China adalah, kinerja perekonomianya didesain di atas prinsip-prinsip pasar bebas khas kapitalisme. Bermodalkan sejarah panjang yang membangun apa yang disebut Dr, Carl Jung sebagai “collective unconsciousness” tentang konstruksi pemikiran mengenai diri dan hubungannya dengan dunia, China seakan menyuguhkan komposisi menarik antara dua ideologi yang selalu saling berseberangan ini. China mengawinkan solidaritas komunisme dengan kemajuan ekonomi berbasiskan pasar bebas ala kapitalisme.
Adalah Fengshui, sebuah konsep kebijaksanaan bangsa China yang diwariskan sepanjang sejarah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kunci utama kebijaksanaan ini adalah keseimbangan untuk kebahagiaan. Sejak masa awal kerajaan-kerajaan manusia, China adalah peradabaan yang dekat dengan konsep keseimbangan. Keseimbangan antara Yang (energi positif, maskulin) dengan Ying (energi negatif, feminin). Dengan cara yang sama, China menyeimbangkan Komunismenya dengan Kapitalisme ekonomi dunia.
The Appetizer
Minggu dini hari (19/10/2013) adalah malam bulan purnama penuh. Aku menikmatinya dari jendela kabin Singapore Airlines di ketinggian 18.725 mdpl. Langit masih gelap saat pramugari membagikan sarapan pagi itu. Aku mulai sarapan saat bulan masih terang dan menyelesaikannya saat fajar mulai terbit benderang. Hanya dalam beberapa menit, pesawat akan mendarat di Beijing International Airport.

Pagi itu, suhu udara relatif hangat, ada di posisi 12˚C saat kami tiba di bandara. Bandara inipun baru mulai menggeliat memulai aktifitasnya sebagai satu dari yang tersibuk di dunia. Sambil menikmati kemegahan Beijing International Airport, rombongan perlahan bergerak menuju Bus. Dalam perjalanan menuju bus, terlihat beberapa spanduk selamat datang raksasa dalam berbagai bahasa dunia. Tampaknya pemerintah Beijing menginsafi bahwa kotanya adalah salah satu destinasi utama wisatawan dunia di asia timur.
Setiba di bus, kami harus tertahan beberapa jam karena akutnya budaya terlambat di masyarakat kita. Dalam kekesalan harus menunggu, ada hal yang menarik perhatian kami. Beberapa meter dari tempat dimana bus kami diparkir, ada perbincangan sengit antara seorang gadis muda, pria separuh baya dan petugas polisi lalu lintas. Dari interpretasiku berdasarkan gesture tubuh, konteks situasi, raut wajah, blocking dan tata lansekap di sekitar mereka, dapat kusimpulkan begini: si wanita muda baru keluar dari bandara dan segera menghentikan taksi, pria separuh baya adalah sopir taksi yang terpaksa berhenti di daerah dilarang berhenti karena si wanita muda dan petugas adalah polisi lalu lintas yang kebetulan sedang berada tak jauh dari tempat kejadian. Karena sudah tugasnya, sang polantas menindak pelanggaran tersebut.
Sekadar informasi, pemerintah Beijing berusaha mengendalikan jumlah pengguna mobil di kotanya dengan mempersulit pengeluaran izin kepemilikan mobil hingga sesusah-susahnya. Efeknya, jika seorang pemilik mobil meninggal dunia, maka warisan paling bernilai bukanlah mobilnya, melainkan izin kepemilikan mobilnya yang dilambangkan dengan nomor polisi. Polemik ini terkadang bisa memicu pertengkaran antar anggota keluarga!
Bagi si sopir taksi, penindakan penilangan atas dirinya akan sangat merugikan. Selain sangat merugikan secara materil, juga sangat merugikan secara administratif kepemilikan mobil. Menghindari hal itu, sopir taksi berwajah sukar itu mengiba, mencoba menawarkan “pakta perdamaian” dengan sang petugas. Sesuatu yang sudah bisa kita tebak akirnya jika terjadi di Indonesia. Tapi di Beijing, peristiwa tersebut memiliki akir yang tak sama. Sang petugas menolak pakta tersebut. Seakan sudah seteguh iman para pejuang bangsa, sang petugas tak mempan dirayu, tak gentar diancam dan tak tertarik digoda. Teguh pada aturan, si sopir separuh baya itu pun ditilang.
Lunch Chronicles
Tour siang itu kita mulai dengan menggelar makan siang di restauran tradisional China. Nuansa merah-hijau-emas dan aroma dupa china khas memenuhi udara restaurant. Restaurant tradisional china memiliki beberapa aspek yang tak bisa digantikan restaurant yang lain, yaitu menu dan suasana. Sebagai restaurant tradisional, menu tempat ini tentu saja merangkum segala masakan china sepanjang sejarah. Dan sebagaimana masakan china umumnya, semua menu itu adalah menu standard suguhan kaisar. Sebagai restaurant tradisional, ruangan, peralatan makan, detail dekorasi pastinya didesain sedemikian rupa agar membuat costumer merasa menjadi Kaisar Tiongkok. Satu kesalahan fatal dari restaurant ini adalah, mereka tak belajar bekerja dengan prinsip costumer oriented. Bagi mereka, tanggung jawab mereka hanya memenuhi perut pelanggan dengan masakan enak tanpa peduli kalau tingkah pelayannya menghancurkan mood makan pelanggan. Hal yang sangat berbeda rasanya dengan standard hospitality dalam pelayanan modern.
Rewinding History


Selepas makan siang, eksplorasi China yang sebenarnya barulah dimulai. Destinasi utama: China National Museum, Tiananment Square, Mao’s Masoleum dan The Forbidden City. Mendengar destinasinya, segera saja terbayang dalam benak saya bahwa rombongan akan diajak menyaksikan China tepat dari pusat memorinya. Kita akan menyaksikan masa lalu sambil mengenang masa depan. Sejarawan mengatakan bahwa sejarah diputar kembali di museum. Dan China National Museum membuktikan ucapan sejarawan tersebut bukanlah isapan jempol belaka.
Jika China adalah pusat dunia, maka Beijing adalah pusat dari pusat dunia. Jika Beijing adalah pusat dari pusat dunia, maka saya tak tahu, ungkapan apa yang tepat untuk menyebut Tiananment Square. Menjadi alun-alun kota terbesar di dunia, Tiananment Square mengambil tempat 44 hektar tepat di jantung kota Beijing. Jika kamu ada di Tiananment Square dan kamu menghadap Forbidden City, maka China National Museum tepat di sebelah kananmu dan di sebelah kirimu adalah Gedung Parlemen China.
Sejak dibangun pada awal abad 15, masa kejayaan dinasti Ming, kompleks Tiananment Square menjadi pusat pergerakan sosio-ekonomi-politik seantero tanah Tiongkok. Pada masa dinasti, Forbidden City adalah istana kekaisaran yang selalu digunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan Tiongkok. Sejarah modern China pun tak bisa dilepaskan dari kompleks tersebut. Boxer Rebellion yang menandai pergulatan awal China dengan modernisasi berpusat di sana, Proklamasi kemerdekaan People’s Republic of China oleh Chairman Mao digelar di sana, hingga Tiananment Massacre 1989 pun berpusat di sana.

Menginjak petak-petak Tiananment Square, benakku melayang bergabung dengan puluhan ribu demonstran yang berhadapan dengan tank militer demi memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini. Jantungku semakin cepat berdetak, dadaku sesak, nafasku tergesa diburu sensasi emosi. Bergabung dengan demonstran, semangatku membara dibakar orasi-orasi perlawanan dari Kuerkaixi, Wang Dan juga Chai Ling. Terutama Chai Ling, keberaniannya menyentil kesadaran terdalamku, menggugat nuraniku, menghakimi keacuhanku, menertawakan kepengecutanku. Dadaku semakin sesak, hatiku berteriak: FREEDOM! Dan aku tersadar, kembali pada kenyataan, peluru, pemukul dan Tank-tank tentara Republik yang keluar sebagai balasan. Hasilnya, sampai hari ini kebebasan adalah kemewahan yang janggal di China.
Acessing Chinese Memory
Memasuki China National Museum adalah perjalanan multidimensi lainnya. Di sini, selain sebagai etalase jalur memahami sejarah bangsanya, museum adalah kelas indoktrinasi lain selain barak militer. Atau saya salah, di sini, segala-galanya adalah media idoktrinasi, terutama barak militer, sekolah, media massa dan museum.
Secara keseluruhan, museum ini adalah salah satu museum terbaik dunia. Sebagaimana kita tahu, China adalah salah satu peradaban manusia tertua dan satu-satunya yang sampai saat ini masih mewarisi kejayaan masa lalunya. Bukan hal ganjil jika Museum Nasional China memiliki koleksi lengkap tentang perkembangan peradaban manusia. Sederhananya, jika kamu ingin memahami perkembangan peradaban manusia, salah satu tempat yang harus kamu kunjungi adalah China National Museum. Tempat ini adalah surga bagi para penyimak sejarah.
Selain sebagai salah satu sumber utama studi perkembangan peradaban manusia, museum ini sangat kental dengan indoktrinasi Partai Komunis China. Kesan pertama yang timbul ketika kau memasuki museum adalah betapa China sangat mendewakan Mao Tse Dong. Sebagai founding father negaranya, Mao diagungkan dan dijadikan role model generasi China berikutnya. Sebagaimana indoktrinasi lainnya, proses ini tak pernah fair. Museum ini sangat penuh nuansa kejayaan Mao, tapi alpa sama sekali terhadap hal-hal negatif mengenai dirinya, apalagi mengenai sisi negatif Partai Komunis China, jangan pernah berharap! Di museum ini, bahkan ada satu ruangan besar yang dijadikan galeri khusus Mao. Memuat segala sesuatu tentang Mao mulai kelahirannya hingga akir hayatnya.
Revolusi yang Hinggap di Pasar
Iya bahwa komunisme adalah ideologi negara di China. Partai Komunis China adalah partai terbesar, untuk tidak menyebut satu-satunya, di Republik ini. Yang menarik, sejak dirintis Deng Xiao Ping, China bergerak ke “kanan” secara progresif. Ekonomi China bukan lagi ekonomi tersentralisasi kaku ala komunisme Soviet, China tumbuh menjadi Negara Komunis kuat dengan sistem ekonomi yang sangat kapitalis. Dalam ungkapan sederhanyanya, sejauh apapun revolusi terbang, hinggapnya di pasar juga.
Dengan sistem ekonomi kapitalistisnya, kini China menjadi satu-satunya kekuatan yang dipandang banyak orang mampu menandingi, bahkan mungkin menggantikan Amerika sebagai “core nation” dalam konstelasi ekonomi-politik bangsa-bangsa di dunia.
Jika disebut sistem ekonomi China itu sangat kapitalis, akan salah alamat kalau kamu membayangkan kapitalisme yang berlaku sebagaimana kapitalisme Amerika. China tetap negara komunis hingga ke darah daging dan sum-sum tulangnya. Alat produksi tetap dimiliki negara dan dikelola oleh badan-badan usaha milik negara. Yang membuat sistem Ekonomi China layak diidentikkan dengan kapitalisme adalah tata kelolanya. Badan Usaha Milik Negara di China dikelola sebagaimana pengelolaan perusahaan private. Hanya saja, semua keputusan strategis diharuskan mengikuti petunjuk Negara. Dengan keahlian unik untuk menyeimbangkan segala sesuatu, mampukah akirnya bangsa China mendamaikan Marx, Adam Smith, Hayek dan Keynes? Mari kita amati. [bali]

6 komentar:

  1. wah keren . . . oia report aku buat humas kurang lebih spt d blog aku ini putriagustinalikes.blogspot.com tp agak lebih ilmiah aja.hehe

    BalasHapus
  2. awesome...awwwwaw bgus banget bang

    BalasHapus
  3. Gerry salut dehhh buat bali...
    Kau membuatku seolah ada tepat di sampingmu saat itu..

    BalasHapus
  4. ka put: siap, langsung TKP..
    Alfan: ah, you can do it much better bro.. :)
    Ka MJ: seolah kak? kamu memang selalu tepat di sampingku kapan pun, dimanpun..

    BalasHapus
  5. oalahh, maksudnyaa ternyata china dibangun oleh oba mao tohh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, ilike your term so much! "ObaMao" it's quite smart, Na!

      Hapus