Tentang Revolusi, Feng Shui dan Kapitalisasi
Dalam kontestasi
ideologi besar dunia, komunisme dianggap sudah berakir dan kapitalisme
dinobatkan sebagai “The Last Man Standing” yang mengakiri sejarah. Sejak tesis
ini dikemukakan Francis Fukuyama, seorang pemikir cemerlang Amerika, pada 1994,
banyak pakar lain yang meng-iya-kan nya. Perkembangan berikutnya adalah
fakta-fakta besar yang krusial, semakin mendukung keabsahan tesis ini. Hingga
pada akir dekade 90an, China mulai membuka jati dirinya, muncul sebagai satu
kekuatan ekonomi besar dunia. Kekuatan ekonomi China mulai menunjukkan
taringnya dan semakin menguat, merubah konstelasi ekonomi-politik dunia.
Ledakan ekonomi China sebagai salah satu negara komunis seakan berteriak
lantang: hancurnya Uni Soviet bukanlah akir dari komunisme.
Yang paling
menarik dari komunisme ala China adalah, kinerja perekonomianya didesain di
atas prinsip-prinsip pasar bebas khas kapitalisme. Bermodalkan sejarah panjang
yang membangun apa yang disebut Dr, Carl Jung sebagai “collective
unconsciousness” tentang konstruksi pemikiran mengenai diri dan hubungannya
dengan dunia, China seakan menyuguhkan komposisi menarik antara dua ideologi
yang selalu saling berseberangan ini. China mengawinkan solidaritas komunisme
dengan kemajuan ekonomi berbasiskan pasar bebas ala kapitalisme.
Adalah Fengshui,
sebuah konsep kebijaksanaan bangsa China yang diwariskan sepanjang sejarah dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Kunci utama kebijaksanaan ini adalah
keseimbangan untuk kebahagiaan. Sejak masa awal kerajaan-kerajaan manusia,
China adalah peradabaan yang dekat dengan konsep keseimbangan. Keseimbangan
antara Yang (energi positif, maskulin) dengan Ying (energi negatif, feminin). Dengan cara yang sama, China menyeimbangkan Komunismenya dengan Kapitalisme ekonomi dunia.
The Appetizer
Minggu dini
hari (19/10/2013) adalah malam bulan purnama penuh. Aku menikmatinya dari
jendela kabin Singapore Airlines di ketinggian 18.725 mdpl. Langit masih gelap
saat pramugari membagikan sarapan pagi itu. Aku mulai sarapan saat bulan masih
terang dan menyelesaikannya saat fajar mulai terbit benderang. Hanya dalam
beberapa menit, pesawat akan mendarat di Beijing International Airport.
Pagi itu,
suhu udara relatif hangat, ada di posisi 12˚C saat kami tiba di bandara.
Bandara inipun baru mulai menggeliat memulai aktifitasnya sebagai satu dari
yang tersibuk di dunia. Sambil menikmati kemegahan Beijing International
Airport, rombongan perlahan bergerak menuju Bus. Dalam perjalanan menuju bus,
terlihat beberapa spanduk selamat datang raksasa dalam berbagai bahasa dunia.
Tampaknya pemerintah Beijing menginsafi bahwa kotanya adalah salah satu
destinasi utama wisatawan dunia di asia timur.
Setiba di
bus, kami harus tertahan beberapa jam karena akutnya budaya terlambat di
masyarakat kita. Dalam kekesalan harus menunggu, ada hal yang menarik perhatian
kami. Beberapa meter dari tempat dimana bus kami diparkir, ada perbincangan
sengit antara seorang gadis muda, pria separuh baya dan petugas polisi lalu
lintas. Dari interpretasiku berdasarkan gesture tubuh, konteks situasi, raut
wajah, blocking dan tata lansekap di sekitar mereka, dapat kusimpulkan begini:
si wanita muda baru keluar dari bandara dan segera menghentikan taksi, pria
separuh baya adalah sopir taksi yang terpaksa berhenti di daerah dilarang
berhenti karena si wanita muda dan petugas adalah polisi lalu lintas yang
kebetulan sedang berada tak jauh dari tempat kejadian. Karena sudah tugasnya, sang polantas menindak pelanggaran tersebut.
Sekadar
informasi, pemerintah Beijing berusaha mengendalikan jumlah pengguna mobil di
kotanya dengan mempersulit pengeluaran izin kepemilikan mobil hingga
sesusah-susahnya. Efeknya, jika seorang pemilik mobil meninggal dunia, maka
warisan paling bernilai bukanlah mobilnya, melainkan izin kepemilikan mobilnya yang dilambangkan dengan nomor polisi. Polemik ini terkadang bisa
memicu pertengkaran antar anggota keluarga!
Bagi si
sopir taksi, penindakan penilangan atas dirinya akan sangat merugikan. Selain
sangat merugikan secara materil, juga sangat merugikan secara administratif
kepemilikan mobil. Menghindari hal itu, sopir taksi berwajah sukar itu mengiba,
mencoba menawarkan “pakta perdamaian” dengan sang petugas. Sesuatu yang sudah
bisa kita tebak akirnya jika terjadi di Indonesia. Tapi di Beijing, peristiwa
tersebut memiliki akir yang tak sama. Sang petugas menolak pakta tersebut.
Seakan sudah seteguh iman para pejuang bangsa, sang petugas tak mempan dirayu,
tak gentar diancam dan tak tertarik digoda. Teguh pada aturan, si sopir separuh
baya itu pun ditilang.
Lunch Chronicles
Tour siang
itu kita mulai dengan menggelar makan siang di restauran tradisional China. Nuansa merah-hijau-emas dan aroma dupa china khas memenuhi udara
restaurant. Restaurant tradisional china memiliki beberapa aspek yang tak bisa
digantikan restaurant yang lain, yaitu menu dan suasana. Sebagai restaurant
tradisional, menu tempat ini tentu saja merangkum segala masakan china
sepanjang sejarah. Dan sebagaimana masakan china umumnya, semua menu itu adalah
menu standard suguhan kaisar. Sebagai restaurant tradisional, ruangan,
peralatan makan, detail dekorasi pastinya didesain sedemikian rupa agar membuat
costumer merasa menjadi Kaisar Tiongkok. Satu
kesalahan fatal dari restaurant ini adalah, mereka tak belajar bekerja dengan
prinsip costumer oriented. Bagi mereka, tanggung jawab mereka
hanya memenuhi perut pelanggan dengan masakan enak tanpa peduli kalau tingkah
pelayannya menghancurkan mood makan pelanggan. Hal yang sangat berbeda
rasanya dengan standard hospitality dalam pelayanan modern.
Rewinding History
Selepas
makan siang, eksplorasi China yang sebenarnya barulah dimulai. Destinasi utama:
China National Museum, Tiananment Square, Mao’s Masoleum dan The Forbidden City. Mendengar
destinasinya, segera saja terbayang dalam benak saya bahwa rombongan akan
diajak menyaksikan China tepat dari pusat memorinya. Kita akan menyaksikan masa
lalu sambil mengenang masa depan. Sejarawan mengatakan bahwa sejarah diputar kembali di museum. Dan
China National Museum membuktikan ucapan sejarawan tersebut bukanlah isapan
jempol belaka.
Jika China adalah pusat dunia, maka Beijing adalah pusat dari pusat
dunia. Jika Beijing adalah pusat dari pusat dunia, maka saya tak tahu, ungkapan
apa yang tepat untuk menyebut Tiananment Square. Menjadi alun-alun kota
terbesar di dunia, Tiananment Square mengambil tempat 44 hektar tepat di
jantung kota Beijing. Jika kamu ada di Tiananment Square dan kamu menghadap
Forbidden City, maka China National Museum tepat di sebelah kananmu dan di sebelah
kirimu adalah Gedung Parlemen China.
Sejak dibangun pada awal abad 15, masa kejayaan dinasti Ming,
kompleks Tiananment Square menjadi pusat pergerakan sosio-ekonomi-politik
seantero tanah Tiongkok. Pada masa dinasti, Forbidden City adalah istana
kekaisaran yang selalu digunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan Tiongkok. Sejarah
modern China pun tak bisa dilepaskan dari kompleks tersebut. Boxer Rebellion
yang menandai pergulatan awal China dengan modernisasi berpusat di sana,
Proklamasi kemerdekaan People’s Republic of China oleh Chairman Mao digelar di
sana, hingga Tiananment Massacre 1989 pun berpusat di sana.
Menginjak petak-petak Tiananment Square, benakku melayang bergabung
dengan puluhan ribu demonstran yang berhadapan dengan tank militer demi
memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini. Jantungku semakin cepat berdetak,
dadaku sesak, nafasku tergesa diburu sensasi emosi. Bergabung dengan
demonstran, semangatku membara dibakar orasi-orasi perlawanan dari Kuerkaixi,
Wang Dan juga Chai Ling. Terutama Chai Ling, keberaniannya menyentil kesadaran
terdalamku, menggugat nuraniku, menghakimi keacuhanku, menertawakan
kepengecutanku. Dadaku semakin sesak, hatiku berteriak: FREEDOM! Dan aku
tersadar, kembali pada kenyataan, peluru, pemukul dan Tank-tank tentara
Republik yang keluar sebagai balasan. Hasilnya, sampai hari ini kebebasan
adalah kemewahan yang janggal di China.
Acessing Chinese Memory
Memasuki China National Museum adalah perjalanan multidimensi
lainnya. Di sini, selain sebagai etalase jalur memahami sejarah bangsanya,
museum adalah kelas indoktrinasi lain selain barak militer. Atau saya salah, di
sini, segala-galanya adalah media idoktrinasi, terutama barak militer, sekolah,
media massa dan museum.
Secara keseluruhan, museum ini adalah salah satu museum terbaik
dunia. Sebagaimana kita tahu, China adalah salah satu peradaban manusia tertua
dan satu-satunya yang sampai saat ini masih mewarisi kejayaan masa lalunya.
Bukan hal ganjil jika Museum Nasional China memiliki koleksi lengkap tentang
perkembangan peradaban manusia. Sederhananya, jika kamu ingin memahami
perkembangan peradaban manusia, salah satu tempat yang harus kamu kunjungi
adalah China National Museum. Tempat ini adalah surga bagi para penyimak
sejarah.
Selain sebagai salah satu sumber utama studi perkembangan peradaban
manusia, museum ini sangat kental dengan indoktrinasi Partai Komunis China.
Kesan pertama yang timbul ketika kau memasuki museum adalah betapa China sangat
mendewakan Mao Tse Dong. Sebagai founding father negaranya, Mao diagungkan dan
dijadikan role model generasi China berikutnya. Sebagaimana indoktrinasi
lainnya, proses ini tak pernah fair. Museum ini sangat penuh nuansa kejayaan
Mao, tapi alpa sama sekali terhadap hal-hal negatif mengenai dirinya, apalagi
mengenai sisi negatif Partai Komunis China, jangan pernah berharap! Di museum
ini, bahkan ada satu ruangan besar yang dijadikan galeri khusus Mao. Memuat
segala sesuatu tentang Mao mulai kelahirannya hingga akir hayatnya.
Revolusi yang Hinggap di Pasar
Iya bahwa komunisme adalah ideologi negara di China. Partai Komunis
China adalah partai terbesar, untuk tidak menyebut satu-satunya, di Republik
ini. Yang menarik, sejak dirintis Deng Xiao Ping, China bergerak ke “kanan”
secara progresif. Ekonomi China bukan lagi ekonomi tersentralisasi kaku ala
komunisme Soviet, China tumbuh menjadi Negara Komunis kuat dengan sistem
ekonomi yang sangat kapitalis. Dalam ungkapan sederhanyanya, sejauh apapun
revolusi terbang, hinggapnya di pasar juga.
Dengan sistem ekonomi kapitalistisnya, kini China menjadi
satu-satunya kekuatan yang dipandang banyak orang mampu menandingi, bahkan
mungkin menggantikan Amerika sebagai “core nation” dalam konstelasi
ekonomi-politik bangsa-bangsa di dunia.
Jika disebut sistem ekonomi China itu sangat kapitalis, akan salah
alamat kalau kamu membayangkan kapitalisme yang berlaku sebagaimana kapitalisme
Amerika. China tetap negara komunis hingga ke darah daging dan sum-sum
tulangnya. Alat produksi tetap dimiliki negara dan dikelola oleh badan-badan
usaha milik negara. Yang membuat sistem Ekonomi China layak diidentikkan dengan
kapitalisme adalah tata kelolanya. Badan Usaha Milik Negara di China dikelola
sebagaimana pengelolaan perusahaan private. Hanya saja, semua keputusan
strategis diharuskan mengikuti petunjuk Negara. Dengan keahlian unik untuk
menyeimbangkan segala sesuatu, mampukah akirnya bangsa China mendamaikan Marx, Adam Smith,
Hayek dan Keynes? Mari kita amati. [bali]




wah keren . . . oia report aku buat humas kurang lebih spt d blog aku ini putriagustinalikes.blogspot.com tp agak lebih ilmiah aja.hehe
BalasHapusawesome...awwwwaw bgus banget bang
BalasHapusGerry salut dehhh buat bali...
BalasHapusKau membuatku seolah ada tepat di sampingmu saat itu..
ka put: siap, langsung TKP..
BalasHapusAlfan: ah, you can do it much better bro.. :)
Ka MJ: seolah kak? kamu memang selalu tepat di sampingku kapan pun, dimanpun..
oalahh, maksudnyaa ternyata china dibangun oleh oba mao tohh..
BalasHapushaha, ilike your term so much! "ObaMao" it's quite smart, Na!
Hapus