PERMIT
Sejarah kita. Salah satu perupanya adalah putera Minang bernama
Mohamad Hatta. Seorang pemuda cemerlang. Dialah satu dari sedikit manusia
pribumi yang mendapat kesempatan berharga untuk mengecap manis ilmu pengetahuan
tapi sanggup tak terlena pada manis itu. Ia ingin saudara sebangsanya juga
merasakan yang manis-manis itu. Dalam geraknya, ia mengubah arah sebuah
organisasi yang berimbas kuat pada pergerakan kemerdekaan nasional.
Adalah Mohamad Hatta yang mengubah Indische Verenigin sebuah
organisasi elitis para pemuka negeri yang dianakemaskan Belanda menjadi
organisasi perjuangan sarat muatan Ideologis. Adalah Mohamad Hatta yang
mengubah namanya dari Indische Verenigin menjadi Indonesische Verenigin dan
lebih radikal lagi diubahnya menjadi Perhimpunan Indonesia. Dari Perhimpunan
Indonesia inilah benih-benih kebangsaan indonesia pertama kali dengan gencar
disemai dan dipropagndakan sebagai satu gerakan emansipasi. Gerakan inilah
embrio awal perjuangan mahasiswa indonesia di luar negeri. Di era modern kini,
hampir di setiap negara maju didirikan organisasi pelajar dengan muatan
perjuangan yang kurang lebih sama.
Tak terkecuali di China, kita memiliki PERMIT atau Perhimpunan Pelajar
dan Mahasiswa Indonesia Tiongkok atau juga dikenal dengan sebutan PPI Tiongkok.
Perjuangan di era modern tentu saja berbeda dengan di era Hatta. Walaupun
misinya sama, memperbaiki Indonesia, tapi dimensi sentuhannya pasti berbeda.
Untuk menjelaskan semua itu, pagi ini kami menggelar pertemuan dengan
kawan-kawan PERMIT.
| PERMIT Beijing di salah satu kegiatannya |
Menjawab tantangan dan kebutuhan manusia sekarang, arah gerakan
PERMIT lebih kepada professional development dan social care movement. Mereka
sering mengadakan short course bisnis atau ekonomi menghadirkan pembicara-pembicara
nasional berkaliber dunia, social visit ke panti-panti jompo sekitar Beijing,
penggalangan dana peduli bencana dan sebagainya. Mereka juga memiliki kegiatan
rutin tahunan untuk mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia, terutama
China.
| Diagram Indonesia Diaspora dari Globalindnesianvoice.com |
Asumsi saya, siapapun warga negara Indonesia atau keturunan Indonesia
yang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri berarti dia memiliki sumber daya
yang lebih dari rata-rata. Atau setidaknya, dia memiliki pengalaman bergaul
dengan berbagai bangsa yang budaya dan karakternya jauh berbeda dengan budaya
dan karakter ibu mereka. Ini adalah potensi yang besar untuk kemajuan bangsa. Bagaimana
jika dengan kapasitas keilmuan, keahlian, pengalaman, semangat emansipatoris
dan jejaringnya, orang-orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia ini
digerakkan untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik? Saya merinding!
Jika menyimak sejarah kebangkitan bangsa-bangsa “Dunia Ketiga” soal
bagaimana perantau ini sukses mengangkat derajat kehidupan bangsanya, kita bisa
banyak mengambil pelajaran dari dua saudara tua kita: India dan China. Sebagai salah
satu pewaris peradaban tertua di dunia, bangsa China sudah mulai berlayar menjelajahi
dunia sejak penghuni Eropa masih tinggal di goa-goa. Karakter perantau ini
sudah begitu kuat terinstal dalam gen orang-orang China. Sekarang, “Chinatown”
ada di setiap kota besar di seluruh dunia! Bukan hanya merantau, orang-orang
China terkenal sebagai perantau handal. Di tempat barunya, mereka sering
memiliki pengaruh yang tidak kecil. Bahkan mereka bisa mendirikan sebuah negara
di ujung selat malaka: Singapura.
India memang bukan bangsa yang secara genetik menyimpan sifat-sifat
perantau, tetapi dinamika sosio-ekonomi-politik di negaranya pada awal abad 20
membuat banyak orang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya demi
kehidupan yang lebih baik. Memang tak se-massive
China, tapi orang-orang India juga memiliki pengaruh yang tak kalah kuat di
Inggris, Amerika, Kanada dan Malaysia. Banyak dari mereka yang menjadi orang
berpengaruh di perantauannya masing-masing.
Para perantau ini memang menjadi warga negara setempat, tetapi
ikatan genetik dan emosional dengan tanah air nya tak lenyap begitu saja. Mereka
kembali ke tanah air masing-masing dengan caranya masing-masing membawa
oleh-oleh masing-masing. Mereka mengirimkan modal investasi, jaringan dagang,
teknologi, sistem pendidikan, ide-ide dan semangat kemajuan. Mereka menjadi
aktor penting kemajuan bangsanya.
Dan seharusnya kita bisa seperti mereka. Tidak, bahkan seharusnya
kita bisa lebih baik dari mereka!
Berburu
Beasiswa
Ada dua kemungkinan jalan bagi seseorang yang kuliah di luar
negeri. Pertama dia dari keluarga kaya raya dan kedua, dia mendapatkan
beasiswa. Seturut dengan misinya menebar pengaruh seluas-luasnya kepada dunia,
pemerintah China membuka kesempatan luas bagi mahasiswa dari penjuru dunia
untuk menimba ilmu di China. Banyak jenis beasiswa yang ditawarkan pemerintah
China. Yang paling banyak adalah full scholarship dan study scholarship. Full
scholarship akan memberi penerima beasiswanya paket lengkap. Selain digratiskan
biaya studi dan segala keperluan penunjang studi, penerima beasiswa juga
disediakan asrama khusus mahasiswa internasional dan uang saku sebesar kisaran
2.000 – 3.000 Yuan per bulan. Betapa menggiurkan bukan?
Untuk itu, berburu beasiswa ke negeri asing merupakan satu
kewajiban bagi saya. sampai jumpa masa depan, aku akan menaklukkanmu![bali]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar