Categories

Rabu, 12 Maret 2014

Diaspora Yang Rindu Tanah Air-nya



PERMIT
Sejarah kita. Salah satu perupanya adalah putera Minang bernama Mohamad Hatta. Seorang pemuda cemerlang. Dialah satu dari sedikit manusia pribumi yang mendapat kesempatan berharga untuk mengecap manis ilmu pengetahuan tapi sanggup tak terlena pada manis itu. Ia ingin saudara sebangsanya juga merasakan yang manis-manis itu. Dalam geraknya, ia mengubah arah sebuah organisasi yang berimbas kuat pada pergerakan kemerdekaan nasional.
Adalah Mohamad Hatta yang mengubah Indische Verenigin sebuah organisasi elitis para pemuka negeri yang dianakemaskan Belanda menjadi organisasi perjuangan sarat muatan Ideologis. Adalah Mohamad Hatta yang mengubah namanya dari Indische Verenigin menjadi Indonesische Verenigin dan lebih radikal lagi diubahnya menjadi Perhimpunan Indonesia. Dari Perhimpunan Indonesia inilah benih-benih kebangsaan indonesia pertama kali dengan gencar disemai dan dipropagndakan sebagai satu gerakan emansipasi. Gerakan inilah embrio awal perjuangan mahasiswa indonesia di luar negeri. Di era modern kini, hampir di setiap negara maju didirikan organisasi pelajar dengan muatan perjuangan yang kurang lebih sama.

Tak terkecuali di China, kita memiliki PERMIT atau Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Tiongkok atau juga dikenal dengan sebutan PPI Tiongkok. Perjuangan di era modern tentu saja berbeda dengan di era Hatta. Walaupun misinya sama, memperbaiki Indonesia, tapi dimensi sentuhannya pasti berbeda. Untuk menjelaskan semua itu, pagi ini kami menggelar pertemuan dengan kawan-kawan PERMIT.
PERMIT Beijing di salah satu kegiatannya
Menjawab tantangan dan kebutuhan manusia sekarang, arah gerakan PERMIT lebih kepada professional development dan social care movement. Mereka sering mengadakan short course bisnis atau ekonomi menghadirkan pembicara-pembicara nasional berkaliber dunia, social visit ke panti-panti jompo sekitar Beijing, penggalangan dana peduli bencana dan sebagainya. Mereka juga memiliki kegiatan rutin tahunan untuk mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia, terutama China.
Diagram Indonesia Diaspora dari Globalindnesianvoice.com
Asumsi saya, siapapun warga negara Indonesia atau keturunan Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri berarti dia memiliki sumber daya yang lebih dari rata-rata. Atau setidaknya, dia memiliki pengalaman bergaul dengan berbagai bangsa yang budaya dan karakternya jauh berbeda dengan budaya dan karakter ibu mereka. Ini adalah potensi yang besar untuk kemajuan bangsa. Bagaimana jika dengan kapasitas keilmuan, keahlian, pengalaman, semangat emansipatoris dan jejaringnya, orang-orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia ini digerakkan untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik? Saya merinding!
Jika menyimak sejarah kebangkitan bangsa-bangsa “Dunia Ketiga” soal bagaimana perantau ini sukses mengangkat derajat kehidupan bangsanya, kita bisa banyak mengambil pelajaran dari dua saudara tua kita: India dan China. Sebagai salah satu pewaris peradaban tertua di dunia, bangsa China sudah mulai berlayar menjelajahi dunia sejak penghuni Eropa masih tinggal di goa-goa. Karakter perantau ini sudah begitu kuat terinstal dalam gen orang-orang China. Sekarang, “Chinatown” ada di setiap kota besar di seluruh dunia! Bukan hanya merantau, orang-orang China terkenal sebagai perantau handal. Di tempat barunya, mereka sering memiliki pengaruh yang tidak kecil. Bahkan mereka bisa mendirikan sebuah negara di ujung selat malaka: Singapura.
India memang bukan bangsa yang secara genetik menyimpan sifat-sifat perantau, tetapi dinamika sosio-ekonomi-politik di negaranya pada awal abad 20 membuat banyak orang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya demi kehidupan yang lebih baik. Memang tak se-massive China, tapi orang-orang India juga memiliki pengaruh yang tak kalah kuat di Inggris, Amerika, Kanada dan Malaysia. Banyak dari mereka yang menjadi orang berpengaruh di perantauannya masing-masing.
Para perantau ini memang menjadi warga negara setempat, tetapi ikatan genetik dan emosional dengan tanah air nya tak lenyap begitu saja. Mereka kembali ke tanah air masing-masing dengan caranya masing-masing membawa oleh-oleh masing-masing. Mereka mengirimkan modal investasi, jaringan dagang, teknologi, sistem pendidikan, ide-ide dan semangat kemajuan. Mereka menjadi aktor penting kemajuan bangsanya.
Dan seharusnya kita bisa seperti mereka. Tidak, bahkan seharusnya kita bisa lebih baik dari mereka!
Berburu Beasiswa
Ada dua kemungkinan jalan bagi seseorang yang kuliah di luar negeri. Pertama dia dari keluarga kaya raya dan kedua, dia mendapatkan beasiswa. Seturut dengan misinya menebar pengaruh seluas-luasnya kepada dunia, pemerintah China membuka kesempatan luas bagi mahasiswa dari penjuru dunia untuk menimba ilmu di China. Banyak jenis beasiswa yang ditawarkan pemerintah China. Yang paling banyak adalah full scholarship dan study scholarship. Full scholarship akan memberi penerima beasiswanya paket lengkap. Selain digratiskan biaya studi dan segala keperluan penunjang studi, penerima beasiswa juga disediakan asrama khusus mahasiswa internasional dan uang saku sebesar kisaran 2.000 – 3.000 Yuan per bulan. Betapa menggiurkan bukan?
Untuk itu, berburu beasiswa ke negeri asing merupakan satu kewajiban bagi saya. sampai jumpa masa depan, aku akan menaklukkanmu![bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar