Wajah-wajah Indonesia
Sejak pemilu 2004, di kancah perpolitikan nasional mulai populer
istilah “politik pencitraan”. Entah siapa yang pertama kali menggunakan terma
tersebut, yang pasti, terma itu mengandung arti yang sangat buruk. Politik
pencitraan diartikan perpolitikan yang sekadar pemanis wajah dengan senyum
mempesona tetapi dibelakang layar menyimpan luka membusuk bernanah-nanah.
Memang, analisis sedalam apapun sah-sah saja selama memiliki argumentasi yang
kuat dan berdasarkan fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi,
bukankah naif jika mengasumsikan bahwa politik itu bukan melulu soal
pencitraan?
![]() |
| Karikatur tentang Citra Politik |
Kedua, analisis ini selalu berusaha menempatkan status quo
sebagai pihak yang selalu diuntungkan, dianggap menumpang nama atas kerja-kerja
yang dilakukan pihak lain, biasanya pihak oposisi. Padahal, dengan menggunakan
terma ini saja sebetulnya sudah merupakan jenis pencitraan lain. Sang analis
ingin mengatakan bahwa sesungguhnya, pihak oposisilah yang berkerja sedangkan
pihak status quo yang dianggap mendapatkan buah-buah manis hasil kerja
mereka.
Yang naif, banyak orang di negeri kita yang menganggap perncitraan
itu adalah hal negatif. Padahal, seperti yang dituliskan Francis Fukuyama,
faktor paling penting dalam bisnis adalah kepercayaan. Sedangkan kepercayaan
lahir dari citra orang lain dalam mempersepsikan diri kita. Begitu juga dengan
perusahaan, institusi dan negara. Negara yang tak mampu mengelola citranya dengan
baik di mata dunia tak akan mendapatkan nilai baik pula. Buktinya seperti apa
yang saya dengar hari ini, mari saksikan bersama.
Switzerlands
View
Pagi itu rombongan sarapan lebih siang dari biasanya. Jadwal kita
sedikit longgar. Akirnya, suapan terakir untuk sarapan pagi ini kumasukkan ke
mulut. Ada sepasang Eropa paruh baya yang mengajakku bercengkerama. Sambil
menunggu rekananku menyelesaikan makannya, saya fokus meladeni obrolannya.
Namanya Hans Woodtli, seorang pengusaha alat-alat kesehatan dari
Switzerland. Karena dia seorang bussinessman, banyak hal-hal spesifik yang dia
ketahui. Dia memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai konstelasi ekonomi
politik dunia. Dia juga banyak menyimpan perbendaharaan pengetahuan spesifik
mengenai asia tenggara. Dia kenal Soekarno, juga Soeharto.
Pembicaraan kita berubah serius ketika saya bertanya “Sir, have you
ever visited my country Indonesia?”. Jawabnya panjang dan mencengangkan. Dia
tak pernah mengunjungi negeriku Indonesia dan tak pernah tertarik untuk mengunjunginya.
Dalam pandangannya, negeri kami adalah negeri yang berbahaya, terutama kaum
muslimnya. Dia mempertanyakan, kenapa umat Islam Indonesia suka sekali saling
melukai, saling menyakiti bahkan saling membunuh. Kenapa tidak bisa hidup dalam
damai saja? Bukankah hidup saling menjalin cinta saling menebar kasih itu jauh lebih
indah? Tanyanya.
Tuan Hans mengajak saya berefleksi, lihatlah negeri kami, katanya.
Kami punya militer yang kuat tapi kami tak pernah sekalipun menggunakannya.
Kamu tahu, negara kami adalah negara teraman di dunia. Berbeda pendapat boleh
saja, justru itu sehat bagi perkembangan peradaban. Pertentangan pendirian itu
sah saja, justru itu baik bagi kekuatan masyarakat. Yang penting, jangan sampai
semuanya itu dijadikan alasan untuk menyakiti orang lain. Apalagi sampai
membunuh! Jangan sampai terjadi. Jujur saja, dadaku sesak, hatiku bergetar!
China
to The Roof Top
| Beijing – Shanghai High Speed Railways membelah peradaban, menghubungkan dua kota terpenting China |
Pasangan Tuan dan Nyonya Woodtli baru tiba di Beijing malam tadi.
Mereka datang dari Shanghai menggunakan kereta cepat Beijing – Shanghai High
Speed Railways. Dan Tuan Hans terpesona dengan kereta itu. Jarak Shanghai –
Beijing yang sejauh 1.268 (sekitar jarak Jakarta – Surabaya – Jakarta) bisa
ditempuh hanya dalam 4 jam 48 menit. Kenyamanan pelayanan kereta merupakan
pesona lainnya. Mulai dari stabilitas kendaraan yang bahkan jauh di atas
standard pesawat terbang hingga kenyamanan tempat duduk nya yang sangat
memanjakan penumpang. Kereta ini adalah terobosan sensasional sistem
transportasi darat. Saya iseng bertanya, bagaimana pendapat Tuan Woodtli jika
kereta tersebut dibandingkan dengan Trans Euro yang menghubungkan negeri-negeri
Eropa. Jawabannya mengejutkan saya. Menurutnya, jika dibandingkan Beijing –
Shanghai High Speed Railways Trans Euro seperti berasal dari zaman seratus
tahun lebih tua. Bukan main!
| Fasilitas yang bisa dinikmati setiap penumpang Beijing – Shanghai High Speed Railways |
Tuan Woodtli menceritakan bagaimana dalam perjalanan daratnya
menuju Beijing dia sangat terpesona akan China. Beliau mengisahkan detail bahwa
dalam perjalanan itu beliau melewati tak kurang dari dua puluh lima pusat kota
yang tak kalah maju dengan Shanghai dan Beijing. Dia berujar dalam hati, “yes!
China is going to The Roof Top of The World!”. Saya jadi ingat pernyataan
ambisius seorang ekonom India “Jika kamu ingin melihat masa lalu umat manusia,
pergilah ke Eropa. Karena benar, masa lalu kita di sana. Tapi jika kamu ingin
melihat masa depan umat manusia, maka pergilah ke Asia!”. Seakan sedikit demi
sedikit saya menemukan pembenaran-pembenaran pernyataan ambisiusnya itu.
Amsterdam's
View
Percakapan mempesona itu membuat saya kembali ingat percakapan
beberapa kali dengan orang China berkewarganegaraan Indonesia yang selama ini
tinggal di Amsterdam. Saya berjumpa dengannya ketika dia dan anak perempuannya
sedang menuggu kedatangan suaminya di lobi hotel. Hari sudah malam waktu itu, mencoba
untuk ramah, saya tertarik untuk menyapa dalam Inggris, dia menyambutnya tak
kalah ramah. Dari pembicaraan kami, ternyata dia sudah memperhatikan saya dan
rombongan sejak sepagi tadi saat kami keluar hotel mengenakan jas A 1 lengkap
dengan atributnya. Ke-Indonesia-an dalam dirinya bangkit!
Menarik mengikuti perpektif pemikirannya tentang Indonesia. Saya
merasakan ada kejenuhan yang dalam akan kondisi negerinya hingga ia sekeluarga
jarang sekali pulang ke tanah air. Di saat yang sama, saya juga merasakan
kecintaan yang jauh lebih berakar mendalam dari kejenuhan-kejenuhan permukaan
itu. “Kenapa sih orang-orang di Indonesia suka sekali korupsi?” tanyanya di
sela perbincangan.
Dia bertanya padaku tentang pendapatku mengenai Beijing. Tentu saja
itu merupakan pertanyaan yang paling aku tunggu-tunggu selama ini. Kujawab
dengan nada bangga, kagum dan tentu saja, bahagia. Di ujung jawabanku atas
pertanyaannya, dia berkata pelan penuh ratap “sayang yah Indonesia kita tak
sebaik negara lain. Politiknya itu loh! Ko susah sekali percaya sama orang di
negeri kita. Si anu baik, ternyata korupsi. Si itu terlihat bersih, ternyata
biangnya korupsi. Ribet!”. Aku sadar, hal ini merupakan autokritik yang harus
direspon positif olehku yang menjadi bagian dari Indonesia. Sekali lagi, hatiku
tergetar.
Beijing’s
View
Hari itu juga saya berjumpa dengan salah satu tenaga pengajar di
Universitas Negeri Jakarta yang sedang menempuh pendidikan Doktoral bidang
Manajemen Sains dan Teknologi Beijing University of Science and Technology
dengan beasiswa penuh dari pemerintah China. Nama lengkapnya Vivian Karim
Ladesi. Pria kelahiran Bau-bau sulawesi tenggara ini sudah setahun setengah
tinggal di Beijing untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Sebagai
mahasiswa Indonesia yang tinggal di negara semaju China, Pak Vivian juga
memiliki persepsi menarik tentang Indonesia hari ini.
Baginya, politik non-blok yang dijalankan Indonesia hanyalah di
bibir saja. Kenyataannya, mungkin Indonesia sudah layak dijadikan negara bagian
ke 51 dari United States of America. Hanya letak geografis saja yang membuatnya
menjadi tak mungkin. Artinya, negeri kita memang dalam skala tertentu sangat
dikendalikan oleh Negeri Paman Sam itu. Dan menurut Pak Vivian, itu tidak
sehat. Untuk benar-benar menjadi suatu negara yang berdaulat, tak boleh ada
satu pun negara lain yang memiliki pengaruh sebesar itu terhadap kebijakan
negara. Untuk itu, Indonesia butuh kekuatan penyeimbang tenaga Super Power
tersebut. Dan baginya, dari mana lagi kita bisa mendapatkan kekuatan pengimbang
itu kalau bukan dari China?
Dia juga menguatarakan mengapa akirnya dia memilih China sebagai
negara tempatnya berkuliah dibanding Jepang atau Australia. Baginya, ekonomi dunia
masa depan akan sangat ditentukan oleh China. Untuk menyebarkan pengaruhnya ke
seluruh dunia, China pasti membutuhkan tenaga-tenaga ahli yang telah dididik
secara China dan menguasai bahasa mereka dengan baik serta memahami budayanya
dengan anggun.
Notes
from Subway Tour
| Peta Beijing Subway System |
Selepas mengantar Pak Vivian ke kampusnya, saya kembali menuju
hotel menggunakan subway. Subway di Beijing bisa dinikmati kapanpun dengan
tujuan rute manapun hanya dengan membayar 2 Yuan saja. Apalagi jika membayar
menggunakan kartu transportasi, penumpang cukup membayar seharga 1,4 Yuan saja
untuk sekali perjalanan. Subway ini gila! Rata-rata harian penumpangnya
mencapai 97 ribu orang. Bahkan dalam puncak keramaian bisa mencapai 110 ribu
orang lebih dalam sehari. Dengan 262 stasiun pemberhentian, Beijing Subway
System ini menjadi darah bagi kehidupan masyarakat Beijing. Kadang, di satu
stasiun, lintasan kereta harus bertumpuk sebanyak hingga 7 lapis lintasan! Jika
satu lintasan setinggi 4 meter dan tebal batas antar lintasan adalah 1 meter,
maka galian untuk subway ini setidaknya 35 meter di bawah tanah! Bagaimana suplay
oksigennya? Bagaimana proses pembangunannya? Bagaimana perawatannya! Bagaimana menangani
air tanahny? Gila!
Menikmati kerapihan sistem tranportasi di Beijing, saya terus
bertanya dalam hati “Berapa ratus tahun dibutuhkan Jakarta untuk menjadi seperti
Beijing hari ini?”. Dan jantungku berdetak lebih cepat, dadaku menjadi lebih
sesak, getaran hatiku semakin menjadi-jadi. Aku bergumam pelan. “aku yang harus
mewujudkannya!”. [bali]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar