Categories

Rabu, 12 Maret 2014

Indonesia Kita di Mata Dunia


Wajah-wajah Indonesia
Sejak pemilu 2004, di kancah perpolitikan nasional mulai populer istilah “politik pencitraan”. Entah siapa yang pertama kali menggunakan terma tersebut, yang pasti, terma itu mengandung arti yang sangat buruk. Politik pencitraan diartikan perpolitikan yang sekadar pemanis wajah dengan senyum mempesona tetapi dibelakang layar menyimpan luka membusuk bernanah-nanah. Memang, analisis sedalam apapun sah-sah saja selama memiliki argumentasi yang kuat dan berdasarkan fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi, bukankah naif jika mengasumsikan bahwa politik itu bukan melulu soal pencitraan?
Karikatur tentang Citra Politik
Pemakaian terma semacam itu untuk mengkritik status quo rasanya banyak mengandung contradictio interminis. Pertama, sejak kemunculannya, politik selalu tentang bagaimana seorang tokoh merebut kepercayaan masyarakat yang diwakilinya. Untuk merebut kepercayaannya, satu-satunya jalan adalah mencitrakan kepada mereka bahwa dialah yang layak memangku amanat mewakili mereka untuk mengambil keputusan untuk kebijakan bersama. Jadi, politik akan selalu terkait erat dengan pencitraan.
Kedua, analisis ini selalu berusaha menempatkan status quo sebagai pihak yang selalu diuntungkan, dianggap menumpang nama atas kerja-kerja yang dilakukan pihak lain, biasanya pihak oposisi. Padahal, dengan menggunakan terma ini saja sebetulnya sudah merupakan jenis pencitraan lain. Sang analis ingin mengatakan bahwa sesungguhnya, pihak oposisilah yang berkerja sedangkan pihak status quo yang dianggap mendapatkan buah-buah manis hasil kerja mereka.
Yang naif, banyak orang di negeri kita yang menganggap perncitraan itu adalah hal negatif. Padahal, seperti yang dituliskan Francis Fukuyama, faktor paling penting dalam bisnis adalah kepercayaan. Sedangkan kepercayaan lahir dari citra orang lain dalam mempersepsikan diri kita. Begitu juga dengan perusahaan, institusi dan negara. Negara yang tak mampu mengelola citranya dengan baik di mata dunia tak akan mendapatkan nilai baik pula. Buktinya seperti apa yang saya dengar hari ini, mari saksikan bersama.
Switzerlands View
Pagi itu rombongan sarapan lebih siang dari biasanya. Jadwal kita sedikit longgar. Akirnya, suapan terakir untuk sarapan pagi ini kumasukkan ke mulut. Ada sepasang Eropa paruh baya yang mengajakku bercengkerama. Sambil menunggu rekananku menyelesaikan makannya, saya fokus meladeni obrolannya.
Namanya Hans Woodtli, seorang pengusaha alat-alat kesehatan dari Switzerland. Karena dia seorang bussinessman, banyak hal-hal spesifik yang dia ketahui. Dia memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai konstelasi ekonomi politik dunia. Dia juga banyak menyimpan perbendaharaan pengetahuan spesifik mengenai asia tenggara. Dia kenal Soekarno, juga Soeharto.
Pembicaraan kita berubah serius ketika saya bertanya “Sir, have you ever visited my country Indonesia?”. Jawabnya panjang dan mencengangkan. Dia tak pernah mengunjungi negeriku Indonesia dan tak pernah tertarik untuk mengunjunginya. Dalam pandangannya, negeri kami adalah negeri yang berbahaya, terutama kaum muslimnya. Dia mempertanyakan, kenapa umat Islam Indonesia suka sekali saling melukai, saling menyakiti bahkan saling membunuh. Kenapa tidak bisa hidup dalam damai saja? Bukankah hidup saling menjalin cinta saling menebar kasih itu jauh lebih indah? Tanyanya.
Tuan Hans mengajak saya berefleksi, lihatlah negeri kami, katanya. Kami punya militer yang kuat tapi kami tak pernah sekalipun menggunakannya. Kamu tahu, negara kami adalah negara teraman di dunia. Berbeda pendapat boleh saja, justru itu sehat bagi perkembangan peradaban. Pertentangan pendirian itu sah saja, justru itu baik bagi kekuatan masyarakat. Yang penting, jangan sampai semuanya itu dijadikan alasan untuk menyakiti orang lain. Apalagi sampai membunuh! Jangan sampai terjadi. Jujur saja, dadaku sesak, hatiku bergetar!
China to The Roof Top
Beijing – Shanghai High Speed Railways membelah peradaban, menghubungkan dua kota terpenting China
Pasangan Tuan dan Nyonya Woodtli baru tiba di Beijing malam tadi. Mereka datang dari Shanghai menggunakan kereta cepat Beijing – Shanghai High Speed Railways. Dan Tuan Hans terpesona dengan kereta itu. Jarak Shanghai – Beijing yang sejauh 1.268 (sekitar jarak Jakarta – Surabaya – Jakarta) bisa ditempuh hanya dalam 4 jam 48 menit. Kenyamanan pelayanan kereta merupakan pesona lainnya. Mulai dari stabilitas kendaraan yang bahkan jauh di atas standard pesawat terbang hingga kenyamanan tempat duduk nya yang sangat memanjakan penumpang. Kereta ini adalah terobosan sensasional sistem transportasi darat. Saya iseng bertanya, bagaimana pendapat Tuan Woodtli jika kereta tersebut dibandingkan dengan Trans Euro yang menghubungkan negeri-negeri Eropa. Jawabannya mengejutkan saya. Menurutnya, jika dibandingkan Beijing – Shanghai High Speed Railways Trans Euro seperti berasal dari zaman seratus tahun lebih tua. Bukan main!
Fasilitas yang bisa dinikmati setiap penumpang Beijing – Shanghai High Speed Railways
Tuan Woodtli menceritakan bagaimana dalam perjalanan daratnya menuju Beijing dia sangat terpesona akan China. Beliau mengisahkan detail bahwa dalam perjalanan itu beliau melewati tak kurang dari dua puluh lima pusat kota yang tak kalah maju dengan Shanghai dan Beijing. Dia berujar dalam hati, “yes! China is going to The Roof Top of The World!”. Saya jadi ingat pernyataan ambisius seorang ekonom India “Jika kamu ingin melihat masa lalu umat manusia, pergilah ke Eropa. Karena benar, masa lalu kita di sana. Tapi jika kamu ingin melihat masa depan umat manusia, maka pergilah ke Asia!”. Seakan sedikit demi sedikit saya menemukan pembenaran-pembenaran pernyataan ambisiusnya itu.
Amsterdam's View
Percakapan mempesona itu membuat saya kembali ingat percakapan beberapa kali dengan orang China berkewarganegaraan Indonesia yang selama ini tinggal di Amsterdam. Saya berjumpa dengannya ketika dia dan anak perempuannya sedang menuggu kedatangan suaminya di lobi hotel. Hari sudah malam waktu itu, mencoba untuk ramah, saya tertarik untuk menyapa dalam Inggris, dia menyambutnya tak kalah ramah. Dari pembicaraan kami, ternyata dia sudah memperhatikan saya dan rombongan sejak sepagi tadi saat kami keluar hotel mengenakan jas A 1 lengkap dengan atributnya. Ke-Indonesia-an dalam dirinya bangkit!
Menarik mengikuti perpektif pemikirannya tentang Indonesia. Saya merasakan ada kejenuhan yang dalam akan kondisi negerinya hingga ia sekeluarga jarang sekali pulang ke tanah air. Di saat yang sama, saya juga merasakan kecintaan yang jauh lebih berakar mendalam dari kejenuhan-kejenuhan permukaan itu. “Kenapa sih orang-orang di Indonesia suka sekali korupsi?” tanyanya di sela perbincangan.
Dia bertanya padaku tentang pendapatku mengenai Beijing. Tentu saja itu merupakan pertanyaan yang paling aku tunggu-tunggu selama ini. Kujawab dengan nada bangga, kagum dan tentu saja, bahagia. Di ujung jawabanku atas pertanyaannya, dia berkata pelan penuh ratap “sayang yah Indonesia kita tak sebaik negara lain. Politiknya itu loh! Ko susah sekali percaya sama orang di negeri kita. Si anu baik, ternyata korupsi. Si itu terlihat bersih, ternyata biangnya korupsi. Ribet!”. Aku sadar, hal ini merupakan autokritik yang harus direspon positif olehku yang menjadi bagian dari Indonesia. Sekali lagi, hatiku tergetar.
Beijing’s View
Hari itu juga saya berjumpa dengan salah satu tenaga pengajar di Universitas Negeri Jakarta yang sedang menempuh pendidikan Doktoral bidang Manajemen Sains dan Teknologi Beijing University of Science and Technology dengan beasiswa penuh dari pemerintah China. Nama lengkapnya Vivian Karim Ladesi. Pria kelahiran Bau-bau sulawesi tenggara ini sudah setahun setengah tinggal di Beijing untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Sebagai mahasiswa Indonesia yang tinggal di negara semaju China, Pak Vivian juga memiliki persepsi menarik tentang Indonesia hari ini.
Baginya, politik non-blok yang dijalankan Indonesia hanyalah di bibir saja. Kenyataannya, mungkin Indonesia sudah layak dijadikan negara bagian ke 51 dari United States of America. Hanya letak geografis saja yang membuatnya menjadi tak mungkin. Artinya, negeri kita memang dalam skala tertentu sangat dikendalikan oleh Negeri Paman Sam itu. Dan menurut Pak Vivian, itu tidak sehat. Untuk benar-benar menjadi suatu negara yang berdaulat, tak boleh ada satu pun negara lain yang memiliki pengaruh sebesar itu terhadap kebijakan negara. Untuk itu, Indonesia butuh kekuatan penyeimbang tenaga Super Power tersebut. Dan baginya, dari mana lagi kita bisa mendapatkan kekuatan pengimbang itu kalau bukan dari China?
Dia juga menguatarakan mengapa akirnya dia memilih China sebagai negara tempatnya berkuliah dibanding Jepang atau Australia. Baginya, ekonomi dunia masa depan akan sangat ditentukan oleh China. Untuk menyebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia, China pasti membutuhkan tenaga-tenaga ahli yang telah dididik secara China dan menguasai bahasa mereka dengan baik serta memahami budayanya dengan anggun.
Notes from Subway Tour
Peta Beijing Subway System
Selepas mengantar Pak Vivian ke kampusnya, saya kembali menuju hotel menggunakan subway. Subway di Beijing bisa dinikmati kapanpun dengan tujuan rute manapun hanya dengan membayar 2 Yuan saja. Apalagi jika membayar menggunakan kartu transportasi, penumpang cukup membayar seharga 1,4 Yuan saja untuk sekali perjalanan. Subway ini gila! Rata-rata harian penumpangnya mencapai 97 ribu orang. Bahkan dalam puncak keramaian bisa mencapai 110 ribu orang lebih dalam sehari. Dengan 262 stasiun pemberhentian, Beijing Subway System ini menjadi darah bagi kehidupan masyarakat Beijing. Kadang, di satu stasiun, lintasan kereta harus bertumpuk sebanyak hingga 7 lapis lintasan! Jika satu lintasan setinggi 4 meter dan tebal batas antar lintasan adalah 1 meter, maka galian untuk subway ini setidaknya 35 meter di bawah tanah! Bagaimana suplay oksigennya? Bagaimana proses pembangunannya? Bagaimana perawatannya! Bagaimana menangani air tanahny? Gila!
Menikmati kerapihan sistem tranportasi di Beijing, saya terus bertanya dalam hati “Berapa ratus tahun dibutuhkan Jakarta untuk menjadi seperti Beijing hari ini?”. Dan jantungku berdetak lebih cepat, dadaku menjadi lebih sesak, getaran hatiku semakin menjadi-jadi. Aku bergumam pelan. “aku yang harus mewujudkannya!”. [bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar