Categories

Rabu, 12 Maret 2014

The Chinese Dreams




Chinese Shinkansen

Hari ini kita mulai jauh lebih pagi dari biasanya. Pukul 06:00 kita sudah berkumpul di lobby hotel dengan peralatan lengkap, stamina prima, perut penuh dan siap berangkat. Karena, hari ini kita akan menuju Tianjin menggunakan fast train. Begitulah rencananya. Tapi kenyataan tak selalu berjalan beriringan dengan apa yang direncanakan. Hingga jam menunjukkan pukul 07:00, kita masih di halaman parkir Novotel Beijing Peace. Belum semua anggota kontingen berkumpul, ada beberapa orang yang sedikit terlambat datang. Beberapa menit kemudian, kita baru lengkap dan tergesa-gesa menuju stasiun kereta. Syukur, kita sampai tepat pada waktunya. Tepat beberapa menit sebelum kereta berangkat, kita sudah di stasiun. Dan perjalanan dimulai.

Beijing Tianjin Railway Express dengan kecepatan di atas 350 km/jam bisa menempuh jarak Jakarta - Surabaya hanya dalam 2 jam 14 menit!
          Kereta cepat ini tak banyak berbeda dengan kereta cepat di manapun. Kabarnya, kecepatan maksimalnya mencapai 350 km/h. Sebelumnya, saya pikir sistem kerjanya sama seperti shinkansen di Jepang. Ternyata ada perbedaan mendasar dalam prinsip kerja mesinnya. Shinkansen dijalankan oleh listrik tegangan tinggi yang dialirkan di roda dan relnya hingga kedua logam tersebut berubah menjadi superkonduktor yang saling bertolak. Jadi, dalam kecepatannya, sesungguhnya secara literal, shinkansen tidak menyentuh tanah. Kereta ini berbeda. Ini hanya kereta listrik biasa yang digerakkan dengan mesin ekstra smooth dan kuat dibantu dengan desain ergonomis ala aerodinamika hingga mampu bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan.

Beijing dan Tianjin adalah dua kota terbesar di China bagian utara yang dipisahkan jarak sejauh 140 km dari pusat kota masing-masing. Sebelumnya, dua kota ini bisa ditempuh dengan kereta api biasa selama sekitar 70 menit perjalanan. Sekarang, kita bisa menempuh perjanan yang sama hanya dalam 30 menit dengan Beijing – Tianjin Intercity Railways. Saat diluncurkan pada agustus 2008, bahkan kereta ini menjadi kereta konvensional tercepat di dunia.

Dalam perjalanannya, kereta ini berhenti di lima stasiun saja. Dimulai di Beijing selatan, pemberhentian pertama adalah stasiun Yizhuang, lalu kereta berhenti di stasiun Yongle, selanjutnya berhenti di stasiun Wuqing sebelum akirnya sampai di pemberhentian terakir di Tianjin. Kereta ini adalah terobosan yang penting bagi seluruh rakyat China. Hanya dengan tiket seharga 50 Yuan, siapapun kini bisa bepergian dari Tianjin ke Beijing atapun sebaliknya hanya dalam 30 menit perjalanan. Tawaran yang menarik bukan?

Cen-Cen, Tianjin’s Girl

Sampai di stasiun Tianjin, kami disambut Cen-cen, seorang gadis asli Tianjin kenalan teman kami Sherry. Berpenampilan layaknya anak muda China di ujung musim gugur, Cen-cen mengenakan boots kulit tinggi menutup sebagian blue jeans yang dipakainya. Rambutnya dipotong pendek sejengkal. Gadis inilah yang akan memandu kami selama mengeksplorasi kota ini. salam kenal Cencen, semoga hari ini menyenangkan. Karena aku jamin, kau tak akan melupakan hari ini seumur hidupmu, maka buatlah akupun begitu!
Gadis China yang bersahaja.
Cen-cen adalah gadis Cina seutuhnya. Umurnya baru menginjak dua puluh lima tahun dan sedang dalam giat-giatnya membangun masa depan. Selain di waktu senggang ia mencari rizki tambahan dengan menjadi tour guide, waktu regulernya ia gunakan untuk menjadi model majalah merangkap sebagai salah satu art designernya. Gadis ini bersahaja. Hanya bersama ibu dan dua orang adiknya, Cen-cen belum akan menikah sebelum adiknya lulus perguruan tinggi. Harusnya, gadis dengan daya juang sekaliber Cen-cen ini tak akan kesulitan mencari pasangan. Profilenya adalah impian kebanyakan lelaki. Apalagi, ditambah kenyataan bahwa di China jumlah perempuan cenderung lebih sedikit dari lelakinya. Tapi Cen-cen memilih fokus membiayai keluarganya sementara ini.

Segera saja, dalam beberapa menit bersama, kami bisa langsung akrab. Tanpa canggung, dia ceritakan kisah-kisah hidupnya kepadaku. Walaupun tabir bahasa diantara kami terlalu tebal untuk saling memahami, tapi komunikasi tidak melulu soal kata-kata. Dia hanya berbahasa Mandarin, bahasa yang saya hanya bisa sebatas berucap xie xie, ni hao, tai gui, zao an atau percakapan pendek lainnya. Dan kita hanya menertawakan diri masing-masing ketika mencoba memaksakan saling berkomunikasi dalam bahasa masing-masing. Tawanya riang dan ringan saja. Tawa bidadari.

Europe Made In China

Ada pepatah yang mengatakan: “God make the universe, the rest is made in China”. Rasa-rasanya, pepatah tersebut terlalu arogan. Tapi kesan arogansi itu akan menguap seketika saat kamu mulai mengeksplorasi Tianjin. Bukan hanya segala macam produk tiruan merk-merk terkenal dunia yang dibuat China, bahkan dunia ini pun dibuatkan tiruannya!

London Eye wanna be. Salah satu sudut Kota Tianjin
Dibawah petunjuk Cen-cen, kami mulai perjalanan kami dengan menjenguk kanal-kanal ala Amsterdam. Standard kebersihan sungai ekstra tinggi dipadu arsitektur mutakir bergaya klasik, kanal-kanal ini akan membuatmu kesulitan membedakannya dari Amsterdam. Hanya patung-patung Barongsai di setiap gapura saja yang menjadikannya terasa China. Di sepanjang kanal ini juga dibangun jembatan-jembatan dengan desain futuristic hingga klasik.

Pindah beberapa blok, kami masuk satu kompleks bangunan bertajuk “Italian Style”. Dan percayalah, mereka tak berbohong ketika menggelarinya miniatur Italia. Jika selama ini saya hanya bisa mengetahui, untuk kemudian dibayangkan, bagaimana Italia dari deskripsi penulis, dari gambar-gambar dan film yang kebetulan mengambil latar di negeri tersebut, kini seakan saya bisa bermain-main, berlarian, bersantai-ria di proyeksi-proyeksi bayangan saya tentang Italia.

Di bagian yang lain, nampak Big Ben dan London’s Eye berdiri tegak menjulang. Dengan ukuran dan detail arsitektur yang sangat identik, saya hanya bisa mendesah pelan “syukurlah, Buckingham Palace dan Queen Elizabeth tidak masuk dalam ‘must copy list’-nya China. Bisa jadi apa nanti dunia ini?!”. di Tianjin, saya pun bisa berjumpa salah satu komposer terbaik sepanjang sejarah, Ludwig Von Beethoven. Dia duduk gagah kontemplatif di sisi paling depan sebuah taman. Wajahnya murung, mungkin sedang prihatin pada kualitas musik-musik saat ini. komposer legendaris yang ternyata lemah pendengaran ini, merasakan musiknya dengan nurani di dimensi idea setelah diterima frekuensi + amplitudo getar senarnya dengan lidah. Malangnya, dewa irama ini tak diijinkan menikmati asiknya menangkap suara.

The Chinese Dream

God make Universe, the rest is Made In China!
 Simpulan serampangan saya dari pengamatan selama ini, mimpi China adalah ingin mengatakan kepada dunia bahwa harga bukanlah segalanya. Nilai uang hanyalah hasil konsensus bersama antar manusia yang tentu saja bisa diubah demi kemaslahatan manusia. Berusaha mengejar mimpi tersebut, salah satu ikhtiar China adalah menciptakan produk-produk dengan kualitas tak jauh berbeda dari produk negara lain tapi jauh lebih murah. Tentu saja, hal ini juga akan berakibat buruk pada peta pasar sasaran produk negara lain tersebut, terutama perusahaan produsennya. Selain itu, China juga memproduksi barang-barang imitasi berbagai merek ternama dunia.

Saya jadi ingat cerita Bapak Atase Pendidikan KBRI Beijing mengenai sahabatnya yang pengusaha kompor. Suatu saat sahabatnya ini mengunjungi China dan minta diantarkan ke kota sentra Industri China. Beliau pun bersedia mengantarkan sahabatnya itu. Keduanya mengunjungi pabrik produsen kompor di sentra industri tersebut dan melihat-lihat. Sang pengusaha bertanya kepada pengelola pabrik “Kompor merek apa dan spesifikasi yang bagaimana yang mampu diproduksi pabrik ini pak?” dijawab sang pengelola yang kemudian diterjemahkan bapak Atase “Merek apa saja dengan spesifikasi seperti apapun kami bisa produksi di sini. Anda ingin yang seperti apa? Tinggal pesan saja, urusan harga, anda tahu standard kami berapa”. Mendengar jawaban ini keduanya kaget dan kagum nyaris tak percaya. Hal ini mencerminkan sejauh mana keahlian industri China dalam hal imitasi produk.

Untuk barang semacam itu dalam hal busana dan aksesori, Tianjin’s Walk Street inilah surganya. Seluasnya area walk street ini, di kana kiri jalan hanya terlihat brand-brand papan atas dunia. Desain toko yang elegan membuat toko produk imitasi ini terkesan sangat “world classy”. Jauh dari konotasi negatif kata “imitasi”. Secara kualitas, rasanya hanya orang-orang yang memang expert di bidang ini yang bisa membedakan produk imitasi China ini dari produk aslinya. Secara harga? Tentu saja setiap orang bisa membedakannya!

 Semuanya baik-baik saja hingga tiba waktu berpisah. Aku masih mau berlama-lama di Eropa Mini ini, bersama Cen-cen. Aku masih ingin tertawa bersamanya dalam ke-saling-tidak-mengerti-an. Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput. Terimakasih untuk hari ini Cen-cen. Selamat, kau berhasil membuatku membekukan kenangan hari ini dalam bingkai keabadian. Aku tak akan pernah melupakanmu.[bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar