Chinese
Shinkansen
Hari ini kita mulai jauh lebih pagi dari biasanya. Pukul 06:00 kita
sudah berkumpul di lobby hotel dengan peralatan lengkap, stamina prima, perut
penuh dan siap berangkat. Karena, hari ini kita akan menuju Tianjin menggunakan
fast train. Begitulah rencananya. Tapi kenyataan tak selalu berjalan beriringan
dengan apa yang direncanakan. Hingga jam menunjukkan pukul 07:00, kita masih di
halaman parkir Novotel Beijing Peace. Belum semua anggota kontingen berkumpul,
ada beberapa orang yang sedikit terlambat datang. Beberapa menit kemudian, kita
baru lengkap dan tergesa-gesa menuju stasiun kereta. Syukur, kita sampai tepat
pada waktunya. Tepat beberapa menit sebelum kereta berangkat, kita sudah di
stasiun. Dan perjalanan dimulai.
| Beijing Tianjin Railway Express dengan kecepatan di atas 350 km/jam bisa menempuh jarak Jakarta - Surabaya hanya dalam 2 jam 14 menit! |
Kereta cepat ini tak banyak berbeda dengan kereta cepat di manapun.
Kabarnya, kecepatan maksimalnya mencapai 350 km/h. Sebelumnya, saya pikir
sistem kerjanya sama seperti shinkansen di Jepang. Ternyata ada perbedaan
mendasar dalam prinsip kerja mesinnya. Shinkansen dijalankan oleh listrik
tegangan tinggi yang dialirkan di roda dan relnya hingga kedua logam tersebut
berubah menjadi superkonduktor yang saling bertolak. Jadi, dalam kecepatannya,
sesungguhnya secara literal, shinkansen tidak menyentuh tanah. Kereta ini
berbeda. Ini hanya kereta listrik biasa yang digerakkan dengan mesin ekstra
smooth dan kuat dibantu dengan desain ergonomis ala aerodinamika hingga mampu
bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan.
Beijing dan Tianjin adalah dua kota terbesar di China bagian utara
yang dipisahkan jarak sejauh 140 km dari pusat kota masing-masing. Sebelumnya,
dua kota ini bisa ditempuh dengan kereta api biasa selama sekitar 70 menit
perjalanan. Sekarang, kita bisa menempuh perjanan yang sama hanya dalam 30
menit dengan Beijing – Tianjin Intercity Railways. Saat diluncurkan pada
agustus 2008, bahkan kereta ini menjadi kereta konvensional tercepat di dunia.
Dalam perjalanannya, kereta ini berhenti di lima stasiun saja.
Dimulai di Beijing selatan, pemberhentian pertama adalah stasiun Yizhuang, lalu
kereta berhenti di stasiun Yongle, selanjutnya berhenti di stasiun Wuqing sebelum
akirnya sampai di pemberhentian terakir di Tianjin. Kereta ini adalah terobosan
yang penting bagi seluruh rakyat China. Hanya dengan tiket seharga 50 Yuan,
siapapun kini bisa bepergian dari Tianjin ke Beijing atapun sebaliknya hanya
dalam 30 menit perjalanan. Tawaran yang menarik bukan?
Cen-Cen,
Tianjin’s Girl
Sampai di stasiun Tianjin, kami disambut Cen-cen, seorang gadis
asli Tianjin kenalan teman kami Sherry. Berpenampilan layaknya anak muda China
di ujung musim gugur, Cen-cen mengenakan boots kulit tinggi menutup sebagian
blue jeans yang dipakainya. Rambutnya dipotong pendek sejengkal. Gadis inilah
yang akan memandu kami selama mengeksplorasi kota ini. salam kenal Cencen,
semoga hari ini menyenangkan. Karena aku jamin, kau tak akan melupakan hari ini
seumur hidupmu, maka buatlah akupun begitu!
| Gadis China yang bersahaja. |
Cen-cen adalah gadis Cina seutuhnya. Umurnya baru menginjak dua
puluh lima tahun dan sedang dalam giat-giatnya membangun masa depan. Selain di
waktu senggang ia mencari rizki tambahan dengan menjadi tour guide, waktu
regulernya ia gunakan untuk menjadi model majalah merangkap sebagai salah satu
art designernya. Gadis ini bersahaja. Hanya bersama ibu dan dua orang adiknya,
Cen-cen belum akan menikah sebelum adiknya lulus perguruan tinggi. Harusnya,
gadis dengan daya juang sekaliber Cen-cen ini tak akan kesulitan mencari
pasangan. Profilenya adalah impian kebanyakan lelaki. Apalagi, ditambah kenyataan
bahwa di China jumlah perempuan cenderung lebih sedikit dari lelakinya. Tapi
Cen-cen memilih fokus membiayai keluarganya sementara ini.
Segera saja, dalam beberapa menit bersama, kami bisa langsung
akrab. Tanpa canggung, dia ceritakan kisah-kisah hidupnya kepadaku. Walaupun
tabir bahasa diantara kami terlalu tebal untuk saling memahami, tapi komunikasi
tidak melulu soal kata-kata. Dia hanya berbahasa Mandarin, bahasa yang saya
hanya bisa sebatas berucap xie xie, ni hao, tai gui, zao an atau percakapan
pendek lainnya. Dan kita hanya menertawakan diri masing-masing ketika mencoba
memaksakan saling berkomunikasi dalam bahasa masing-masing. Tawanya riang dan
ringan saja. Tawa bidadari.
Europe
Made In China
Ada pepatah yang mengatakan: “God make the universe, the rest is
made in China”. Rasa-rasanya, pepatah tersebut terlalu arogan. Tapi kesan
arogansi itu akan menguap seketika saat kamu mulai mengeksplorasi Tianjin.
Bukan hanya segala macam produk tiruan merk-merk terkenal dunia yang dibuat
China, bahkan dunia ini pun dibuatkan tiruannya!
| London Eye wanna be. Salah satu sudut Kota Tianjin |
Dibawah petunjuk Cen-cen, kami mulai perjalanan kami dengan
menjenguk kanal-kanal ala Amsterdam. Standard kebersihan sungai ekstra tinggi
dipadu arsitektur mutakir bergaya klasik, kanal-kanal ini akan membuatmu
kesulitan membedakannya dari Amsterdam. Hanya patung-patung Barongsai di setiap
gapura saja yang menjadikannya terasa China. Di sepanjang kanal ini juga
dibangun jembatan-jembatan dengan desain futuristic hingga klasik.
Pindah beberapa blok, kami masuk satu kompleks bangunan bertajuk
“Italian Style”. Dan percayalah, mereka tak berbohong ketika menggelarinya
miniatur Italia. Jika selama ini saya hanya bisa mengetahui, untuk kemudian
dibayangkan, bagaimana Italia dari deskripsi penulis, dari gambar-gambar dan
film yang kebetulan mengambil latar di negeri tersebut, kini seakan saya bisa
bermain-main, berlarian, bersantai-ria di proyeksi-proyeksi bayangan saya
tentang Italia.
Di bagian yang lain, nampak Big Ben dan London’s Eye berdiri tegak
menjulang. Dengan ukuran dan detail arsitektur yang sangat identik, saya hanya
bisa mendesah pelan “syukurlah, Buckingham Palace dan Queen Elizabeth tidak
masuk dalam ‘must copy list’-nya China. Bisa jadi apa nanti dunia ini?!”. di
Tianjin, saya pun bisa berjumpa salah satu komposer terbaik sepanjang sejarah,
Ludwig Von Beethoven. Dia duduk gagah kontemplatif di sisi paling depan sebuah
taman. Wajahnya murung, mungkin sedang prihatin pada kualitas musik-musik saat
ini. komposer legendaris yang ternyata lemah pendengaran ini, merasakan
musiknya dengan nurani di dimensi idea setelah diterima frekuensi + amplitudo
getar senarnya dengan lidah. Malangnya, dewa irama ini tak diijinkan menikmati
asiknya menangkap suara.
The
Chinese Dream
| God make Universe, the rest is Made In China! |
Simpulan serampangan saya
dari pengamatan selama ini, mimpi China adalah ingin mengatakan kepada dunia
bahwa harga bukanlah segalanya. Nilai uang hanyalah hasil konsensus bersama
antar manusia yang tentu saja bisa diubah demi kemaslahatan manusia. Berusaha
mengejar mimpi tersebut, salah satu ikhtiar China adalah menciptakan
produk-produk dengan kualitas tak jauh berbeda dari produk negara lain tapi
jauh lebih murah. Tentu saja, hal ini juga akan berakibat buruk pada peta pasar
sasaran produk negara lain tersebut, terutama perusahaan produsennya. Selain
itu, China juga memproduksi barang-barang imitasi berbagai merek ternama dunia.
Saya jadi ingat cerita Bapak Atase Pendidikan KBRI Beijing mengenai
sahabatnya yang pengusaha kompor. Suatu saat sahabatnya ini mengunjungi China
dan minta diantarkan ke kota sentra Industri China. Beliau pun bersedia
mengantarkan sahabatnya itu. Keduanya mengunjungi pabrik produsen kompor di
sentra industri tersebut dan melihat-lihat. Sang pengusaha bertanya kepada
pengelola pabrik “Kompor merek apa dan spesifikasi yang bagaimana yang mampu
diproduksi pabrik ini pak?” dijawab sang pengelola yang kemudian diterjemahkan
bapak Atase “Merek apa saja dengan spesifikasi seperti apapun kami bisa
produksi di sini. Anda ingin yang seperti apa? Tinggal pesan saja, urusan
harga, anda tahu standard kami berapa”. Mendengar jawaban ini keduanya kaget
dan kagum nyaris tak percaya. Hal ini mencerminkan sejauh mana keahlian
industri China dalam hal imitasi produk.
Untuk barang semacam itu dalam hal busana dan aksesori, Tianjin’s
Walk Street inilah surganya. Seluasnya area walk street ini, di kana kiri jalan
hanya terlihat brand-brand papan atas dunia. Desain toko yang elegan membuat
toko produk imitasi ini terkesan sangat “world classy”. Jauh dari konotasi
negatif kata “imitasi”. Secara kualitas, rasanya hanya orang-orang yang memang
expert di bidang ini yang bisa membedakan produk imitasi China ini dari produk
aslinya. Secara harga? Tentu saja setiap orang bisa membedakannya!
Semuanya baik-baik saja
hingga tiba waktu berpisah. Aku masih mau berlama-lama di Eropa Mini ini,
bersama Cen-cen. Aku masih ingin tertawa bersamanya dalam
ke-saling-tidak-mengerti-an. Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini
senantiasa luput. Terimakasih untuk hari ini Cen-cen. Selamat, kau berhasil
membuatku membekukan kenangan hari ini dalam bingkai keabadian. Aku tak akan
pernah melupakanmu.[bali]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar