Categories

Rabu, 12 Maret 2014

Tai Chi, Economy and God in China


The Tai Chi Master
Salah satu adegan Tai Chi di ketinggian Gunung Wudang dalam film Karate Kid

Matahari belum muncul. Beijing masih tampak malu-malu berselimut kabut dari jendela kamar Novotel Beijing Peace lantai tiga belas ini. Sepagi itu, saya harus segera menuju lobby, berkumpul dengan beberapa teman. Pagi ini kita ada janji mengikuti latihan Tai Chi di balkon lantai 9 gedung 2. Ini adalah fasilitas tambahan yang disediakan Novotel Beijing Peace bagi para pelanggannya. Fasilitas ini hanya disediakan hari selasa hingga hari jum’at jam 6 pagi. Dan jam 6 pagi di beijing itu, gelap masih pekat menyelimuti. Segera kami bergegas diantar ke balkon lantai 9 gedung 2 hotel untuk berlatih Tai Chi. Senang.

Girang kami lenyap menghilang. Udara pagi Beijing menggigit sum-sum tulang ketika pintu balkon dibuka. Udara dingin itu segera saja menguasai metabolisme tubuh. Tulang bergemeletak, otot menggigil mencoba menghangatkan diri. Jadilah kami, organisme tropis yang tak berdaya ditiup udara pagi Beijing. Kami meringkuk ciut. Berrr..., kami kedinginan. Tapi, sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Kami tetap mengikuti sesi latihan Tai Chi ini dalam dingin yang membungkus tulang.
Pada dasarnya, Tai Chi adalah tentang harmoni. Bagaimana hidup dalam harmoni, bagaimana menciptakan harmoni dan bagaimana menjaga harmoni tersebut. Segalanya diatur dalam satu kendali, pikiran. Harmoni gerak tubuh dimaksudkan untuk mempermudah pencapaian harmoni pikiran. Harmoni pikiran inilah yang nantinya memiliki efek mengharmonikan irama gerak tubuh dari skala nano yang tak kasat mata hingga keseluruhan tubuh. Bagaimanapun, tubuh kita tersusun atas sel-sel yang tersusun dari atom-atom. Dan tak ada di dunia ini atom yang tidak memiliki muatan. Secara fisika, pikiran yang harmoni akan menimbulkan harmonisasi aliran muatan-muatan dalam setiap atom penyusun tubuh hingga metabolisme tubuh bisa bekerja sebagaimana dia didesain untuk bekerja.
Bagi seorang Master Tai Chi, segala sesuatu itu tergantung seberapa kuat pikiran manusia. Rasa adalah imajinasi, proyeksi pikiran manusia terhadap rangsangan tertentu. Dingin hanyalah ilusi untuk mengatakan kepada pikiran kita bahwa kalor di sekitar tubuh kita kurang dan keadaan seperti ini akan membahayakan kelangsungan hidup kita sebagai organisme. Begitu juga dengan rasa-rasa yang lain. Hanya ilusi. Wilayah kerja Tai Chi lah untuk mengatur mana-mana keadaan alami yang harus dikendalikan dan mana yang dibiarkan.
Seorang Tai Chi Master tak akan kedinginan di udara se-ekstrim ini. dengan pikirannya, dia juga mampu mengendalikan efek fisik dari benda-benda. Misalkan, di mampu memanipulasi tubuhnya menjadi sekeras besi. Di bawah bimbingan beliau kami sedikit berlatih Tai Chi. Dan memang, sangat menyenangkan. Tapi tetap saja, dingin!
Visiting Heaven
Selepas berlatih Tai Chi, kami menuju Tample of Heaven, bangunan yang dinobatkan sebagai bangunan terindah di Beijing. Bersama Forbidden City dan Great Wall, Temple of Heaven inilah simbol tourism kota Beijing. Ketiganya merepresentasikan tiga unsur penting sebuah kerajaan: Politik, Militer dan Ketuhanan. Jika ketiganya digunakan bersinergi untuk membangun ekonomi kuat agar kemakmuran rakyat terbangun, maka tak ada negeri lain bisa lebih baik dari negeri tersebut.
Hari itu kompleks Temple of Heaven sangat ramai. Orang orang memadati taman-taman sekitar kuil. Ada dari mereka yang bercengkerama hangat, ada yang bernyanyi bersama, ada yang bersenam atau menari ceria, ada yang bermain kartu, bermain mahyong dan permainan-permainan khas China lainnya. Ada juga dari mereka yang menyulam wol bersama, membuat syal, membuat topi hingga membuat sweater. Aktifitas mereka menjadi gambaran awal keceriaan kehidupan surgawi. Yah, tak lain, inilah surga!
Setiap orang yang saya temui di sana menampakan raut ceria. Mereka beraktifitas apapun karena suka. Tak ada sedikitpun tanda petunjuk ada yang dipaksa. Walaupun sebagian besar mereka telah termakan usia, nampak jelas pada garis-garis wajahnya, mereka bahagia. Gembira. Ceria. Suka.
Performance
Menyaksikan kebagahagiaan semacam itu, kami tergugah untuk ikut larut di dalamnya. Kami juga ingin ambil bagian mencicipi kebahagian semacam itu. Kami juga ingin menjadi bahan bakar api kebahagiaan yang membakar semangat hidup semua orang di sini. Kami juga ingin menjadi hangat, dihangatkan dan menghangatkan. Kami ingin menampilkan cheers, nyanyian dan tarian yang telah sebulan kami latih sebelum diberangkatkan. Kami ingin mengobarkan api kebahagiaan ini dengan warna keindonesiaan. Kami mempersembahkan.
Ada sekumpulan orang yang sedang menyanyi bersama, kami datangi mereka. Kami bicara pada pembawa acaranya mengenai rencana kami. Dan mereka menyambutnya girang. Seperti menyambut saudara muda yang berpisah sekian tahun baru kali ini kembali dipertemukan, mereka membuat kami canggung dengan sambutan. Mereka mempersilahkan.
 Kami memulainya dengan menyanyikan lagu Mo Li Hua. Perlahan, dengan cerianya, mereka mengikuti kami menyanyi. Bisa saya bayangkan, betapa bahagianya mereka menyaksikan sekelompok orang asing menyanyikan lagu legendaris mereka. Lalu dilanjutkan dengan nandak siri kuning dan nandak ondel-ondel. Sukses saja kami berhasil membuat grup itu larut dalam sensasi bahagia. Kami mencair dan larut dalam satu ikatan, ikatan kasih dan persaudaraan.
Between Man and God
Keagungan Temple of Heaven
Temple of Heaven adalah bangunan pemujaan kepada Yang Maha Kuasa tertua di Beijing. Situs awalnya tercatat dibangun sekitar dua ribu tahun sebelum masehi. Seiring dengan perkembangan peradaban China, Temple of Heaven ikut berkembang dari masa ke masa semakin baik dan semakin baik. Dari generasi ke generasi, dari satu dinasti ke dinasti, Temple of Heaven selalu dijadikan tempat peribadatan suci kekaisaran.
Orang China percaya bahwa mereka adalah keturunan Raja Langit, raja dari segala raja yang merajai kerajaan dunia. Mereka percaya, kaisar China adalah keturunan Raja Langit yang dikirim untuk memerintah di Bumi. Bagi kaisar, Temple of Heaven adalah representasi pemujaan sembah kepada leluhur mereka di langit. Setiap tahun, kaisar menempuh perjalanan sembah kebaktian dari Forbidden City menuju Temple of Heaven.
Perjalanan ini dilakukan dengan “Jalan Sembah”. Kaisar berjalan kaki dan setiap dua langkah perjalanan, dia menyungkur sembah sujud. Begitu seterusnya sepanjang perjalanan. Dua langkah berjalan dan sekali menyungkur sujud.
Jarak Forbidden City ke Temple of Heaven sendiri bisa ditempuh selama tiga jam perjalanan jika ditempuh dengan lari. Jika dengan jalan sembah yang memang butuh penghayatan lebih, mungkin bisa memakan empat kali lipat waktu tempuh. Kaisar melakukan Jalan Sembah ini sebagai bukti pengabdiannya kepada leluhur. Bagi seorang lelaki, pembuktian menempati posisi sakral. Termasuk pembuktian pengabdian kepada Tuhan, jelas menempati posisi sakral.
Beijing Silk Road
Tampak depan gedung Beijing Silk Road
Dan jika ingin menyaksikan geliat gerak The Chinese Dream yang sesungguhnya, kamu harus mengunjungi Beijing Silk Road. Tampilannya persis sebagaimana supermarket pada umumnya. Satu sentra belanja yang menyediakan berbagai komoditas, terutama dari industri garment dan elektronik. Yang sedikit berbeda, di Beijing Silk Road kamu bisa temukan segala macam brand ternama dunia dengan harga seperempat dari harga reguler.
Contohnya, saya membeli sepatu trekking merek Jeep seharga 250 Yuan. Sepatu Jeep yang persis sama original asli keluaran label biasa dipasarkan seharga 900 Yuan. Dengan efektifitas tenaga kerja, China bisa memproduksi barang dengan kualitas tak jauh berbeda dengan harga produksi yang nyaris tidak mungkin. Begitulah Chinese Dream. China ingin memadati seluruh penjuru dunia dengan barang-barang murah, mencoba menjadi antitesis dari sistem ekonomi yang sangat liberal. China ingin membangun suatu sistem ekonomi dimana akumulasi modal tak bisa berjalan dengan masif. Suatu sistem ekonomi dimana “Pemodal” tak bisa begitu saja menindas “Pekerja”. Baiklah, let’s see! [bali]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar