The Tai Chi Master
| Salah satu adegan Tai Chi di ketinggian Gunung Wudang dalam film Karate Kid |
Matahari belum muncul. Beijing masih tampak malu-malu berselimut
kabut dari jendela kamar Novotel Beijing Peace lantai tiga belas ini. Sepagi
itu, saya harus segera menuju lobby, berkumpul dengan beberapa teman. Pagi ini
kita ada janji mengikuti latihan Tai Chi di balkon lantai 9 gedung 2. Ini
adalah fasilitas tambahan yang disediakan Novotel Beijing Peace bagi para
pelanggannya. Fasilitas ini hanya disediakan hari selasa hingga hari jum’at jam
6 pagi. Dan jam 6 pagi di beijing itu, gelap masih pekat menyelimuti. Segera
kami bergegas diantar ke balkon lantai 9 gedung 2 hotel untuk berlatih Tai Chi.
Senang.
Girang kami lenyap menghilang. Udara pagi Beijing menggigit sum-sum
tulang ketika pintu balkon dibuka. Udara dingin itu segera saja menguasai
metabolisme tubuh. Tulang bergemeletak, otot menggigil mencoba menghangatkan
diri. Jadilah kami, organisme tropis yang tak berdaya ditiup udara pagi
Beijing. Kami meringkuk ciut. Berrr..., kami kedinginan. Tapi, sekali layar
terkembang, surut kita berpantang. Kami tetap mengikuti sesi latihan Tai Chi
ini dalam dingin yang membungkus tulang.
Pada dasarnya, Tai Chi adalah tentang harmoni. Bagaimana hidup
dalam harmoni, bagaimana menciptakan harmoni dan bagaimana menjaga harmoni
tersebut. Segalanya diatur dalam satu kendali, pikiran. Harmoni gerak tubuh
dimaksudkan untuk mempermudah pencapaian harmoni pikiran. Harmoni pikiran
inilah yang nantinya memiliki efek mengharmonikan irama gerak tubuh dari skala
nano yang tak kasat mata hingga keseluruhan tubuh. Bagaimanapun, tubuh kita
tersusun atas sel-sel yang tersusun dari atom-atom. Dan tak ada di dunia ini
atom yang tidak memiliki muatan. Secara fisika, pikiran yang harmoni akan
menimbulkan harmonisasi aliran muatan-muatan dalam setiap atom penyusun tubuh
hingga metabolisme tubuh bisa bekerja sebagaimana dia didesain untuk bekerja.
Bagi seorang Master Tai Chi, segala sesuatu itu tergantung seberapa
kuat pikiran manusia. Rasa adalah imajinasi, proyeksi pikiran manusia terhadap
rangsangan tertentu. Dingin hanyalah ilusi untuk mengatakan kepada pikiran kita
bahwa kalor di sekitar tubuh kita kurang dan keadaan seperti ini akan
membahayakan kelangsungan hidup kita sebagai organisme. Begitu juga dengan
rasa-rasa yang lain. Hanya ilusi. Wilayah kerja Tai Chi lah untuk mengatur
mana-mana keadaan alami yang harus dikendalikan dan mana yang dibiarkan.
Seorang Tai Chi Master tak akan kedinginan di udara se-ekstrim ini.
dengan pikirannya, dia juga mampu mengendalikan efek fisik dari benda-benda.
Misalkan, di mampu memanipulasi tubuhnya menjadi sekeras besi. Di bawah
bimbingan beliau kami sedikit berlatih Tai Chi. Dan memang, sangat
menyenangkan. Tapi tetap saja, dingin!
Visiting
Heaven
Selepas berlatih Tai Chi, kami menuju Tample of Heaven, bangunan
yang dinobatkan sebagai bangunan terindah di Beijing. Bersama Forbidden City
dan Great Wall, Temple of Heaven inilah simbol tourism kota Beijing. Ketiganya
merepresentasikan tiga unsur penting sebuah kerajaan: Politik, Militer dan
Ketuhanan. Jika ketiganya digunakan bersinergi untuk membangun ekonomi kuat
agar kemakmuran rakyat terbangun, maka tak ada negeri lain bisa lebih baik dari
negeri tersebut.
Hari itu kompleks Temple of Heaven sangat ramai. Orang orang
memadati taman-taman sekitar kuil. Ada dari mereka yang bercengkerama hangat,
ada yang bernyanyi bersama, ada yang bersenam atau menari ceria, ada yang
bermain kartu, bermain mahyong dan permainan-permainan khas China lainnya. Ada
juga dari mereka yang menyulam wol bersama, membuat syal, membuat topi hingga
membuat sweater. Aktifitas mereka menjadi gambaran awal keceriaan kehidupan
surgawi. Yah, tak lain, inilah surga!
Setiap orang yang saya temui di sana menampakan raut ceria. Mereka
beraktifitas apapun karena suka. Tak ada sedikitpun tanda petunjuk ada yang
dipaksa. Walaupun sebagian besar mereka telah termakan usia, nampak jelas pada
garis-garis wajahnya, mereka bahagia. Gembira. Ceria. Suka.
Performance
Menyaksikan kebagahagiaan semacam itu, kami tergugah untuk ikut
larut di dalamnya. Kami juga ingin ambil bagian mencicipi kebahagian semacam
itu. Kami juga ingin menjadi bahan bakar api kebahagiaan yang membakar semangat
hidup semua orang di sini. Kami juga ingin menjadi hangat, dihangatkan dan
menghangatkan. Kami ingin menampilkan cheers, nyanyian dan tarian yang telah
sebulan kami latih sebelum diberangkatkan. Kami ingin mengobarkan api
kebahagiaan ini dengan warna keindonesiaan. Kami mempersembahkan.
Ada sekumpulan orang yang sedang menyanyi bersama, kami datangi
mereka. Kami bicara pada pembawa acaranya mengenai rencana kami. Dan mereka
menyambutnya girang. Seperti menyambut saudara muda yang berpisah sekian tahun
baru kali ini kembali dipertemukan, mereka membuat kami canggung dengan
sambutan. Mereka mempersilahkan.
Kami memulainya dengan
menyanyikan lagu Mo Li Hua. Perlahan, dengan cerianya, mereka mengikuti kami
menyanyi. Bisa saya bayangkan, betapa bahagianya mereka menyaksikan sekelompok
orang asing menyanyikan lagu legendaris mereka. Lalu dilanjutkan dengan nandak
siri kuning dan nandak ondel-ondel. Sukses saja kami berhasil membuat grup itu
larut dalam sensasi bahagia. Kami mencair dan larut dalam satu ikatan, ikatan
kasih dan persaudaraan.
Between
Man and God
| Keagungan Temple of Heaven |
Temple of Heaven adalah bangunan pemujaan kepada Yang Maha Kuasa tertua
di Beijing. Situs awalnya tercatat dibangun sekitar dua ribu tahun sebelum
masehi. Seiring dengan perkembangan peradaban China, Temple of Heaven ikut
berkembang dari masa ke masa semakin baik dan semakin baik. Dari generasi ke
generasi, dari satu dinasti ke dinasti, Temple of Heaven selalu dijadikan
tempat peribadatan suci kekaisaran.
Orang China percaya bahwa mereka adalah keturunan Raja Langit, raja
dari segala raja yang merajai kerajaan dunia. Mereka percaya, kaisar China
adalah keturunan Raja Langit yang dikirim untuk memerintah di Bumi. Bagi
kaisar, Temple of Heaven adalah representasi pemujaan sembah kepada leluhur
mereka di langit. Setiap tahun, kaisar menempuh perjalanan sembah kebaktian
dari Forbidden City menuju Temple of Heaven.
Perjalanan ini dilakukan dengan “Jalan Sembah”. Kaisar berjalan
kaki dan setiap dua langkah perjalanan, dia menyungkur sembah sujud. Begitu
seterusnya sepanjang perjalanan. Dua langkah berjalan dan sekali menyungkur
sujud.
Jarak Forbidden City ke Temple of Heaven sendiri bisa ditempuh
selama tiga jam perjalanan jika ditempuh dengan lari. Jika dengan jalan sembah
yang memang butuh penghayatan lebih, mungkin bisa memakan empat kali lipat
waktu tempuh. Kaisar melakukan Jalan Sembah ini sebagai bukti pengabdiannya kepada
leluhur. Bagi seorang lelaki, pembuktian menempati posisi sakral. Termasuk
pembuktian pengabdian kepada Tuhan, jelas menempati posisi sakral.
Beijing
Silk Road
| Tampak depan gedung Beijing Silk Road |
Dan jika ingin menyaksikan geliat gerak The Chinese Dream yang
sesungguhnya, kamu harus mengunjungi Beijing Silk Road. Tampilannya persis
sebagaimana supermarket pada umumnya. Satu sentra belanja yang menyediakan
berbagai komoditas, terutama dari industri garment dan elektronik. Yang sedikit
berbeda, di Beijing Silk Road kamu bisa temukan segala macam brand ternama
dunia dengan harga seperempat dari harga reguler.
Contohnya, saya membeli sepatu trekking merek Jeep seharga 250
Yuan. Sepatu Jeep yang persis sama original asli keluaran label biasa
dipasarkan seharga 900 Yuan. Dengan efektifitas tenaga kerja, China bisa
memproduksi barang dengan kualitas tak jauh berbeda dengan harga produksi yang
nyaris tidak mungkin. Begitulah Chinese Dream. China ingin memadati seluruh
penjuru dunia dengan barang-barang murah, mencoba menjadi antitesis dari sistem
ekonomi yang sangat liberal. China ingin membangun suatu sistem ekonomi dimana
akumulasi modal tak bisa berjalan dengan masif. Suatu sistem ekonomi dimana “Pemodal”
tak bisa begitu saja menindas “Pekerja”. Baiklah, let’s see! [bali]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar