Categories

Rabu, 12 Maret 2014

Olimpiade Beijing & Inkarnasi Empat Musim

Beijing’s Toilets and The Olympic Games 2008
Sejauh catatan sejarah umat manusia, ada beberapa peradaban manusia tertua. Peradaban paling maju dunia pada masa sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Masa itu, tak banyak masyarakat manusia yang berhasil membangun kehidupan dengan tradisi agung dan pencapaian-pencapaian gilang-gemilang. Salah satu di antaranya dalah peradaban Yunani Kuno.
Peradaban ini terbagi atas beberapa Negara-Kota yang memiliki tradisi dan pencapaian agung masing-masing. Dari Athena yang terkenal dengan perkembangan filsafat serta ilmu pengetahuan paling maju hingga Sparta yang termashur dengan keberanian dan keahlian perang para prajuritnya. Antar Negara-Kota ini tidak selalu hidup dalam damai dan harmonis. Peperangan sering terjadi di antara mereka dengan berbagai motif. Hingga ada satu masa di wilayah tersebut dimana kerajaan-kota di wilayah tersebut menghentikan segala macam perang dan pertikaian untuk berbondong-bondong menuju Gunung Olympus. Di gunung ini, mereka menggelar berbagai perlombaan ketangkasan tubuh. Mulai dari bela diri, ilmu pedang, lomba lari, pacuan kereta kuda, panahan dan sebagainya. Selain sebagai bentuk pemujaan mereka pada Sang Dewa Tertinggi, Zeus, dan sebagai pusat kontrol ketangkasan prajurit perang, gelaran di Olympiade juga merupakan ladang diplomasi antar negara-kota. Dalam Olympiade ini kesepakatan damai antar negara-kota yang berkonflik dicapai, dalam olympiade ini ada kesepakatan dagang billateral dan multilateral antar negara-kota, dalam Olympiade ini ditandatangani perdagangan apa antara siapa dengan siapa, dalam Olympiade ini terjadi pertukaran informasi, pertukaran ilmu, pertukaran pengetahuan, pertukaran budaya dan pertukaran komoditas antar negara-kota. Olympiade menjadi sumber kemslahatan masyarakat Yunani waktu itu, Olympiade menjadi katalis kemajuan peradaban.

Ujung kejayaan Yunani adalah awal kejayaan Romawi. Pemegang estafet puncak peradaban harus berganti. Kekaisaran romawi yang masa itu sudah menganut nasrani kental mulai mempropagandakan untuk menghancurkan segala macam sisa-sisa paganisme, termasuk pemujaan Zeus di Gunung Olympus. Ujung abad ke 4 Masehi, kekaisaran Romawi melarang Olympiade. Dan sejak dilarang, Olympiade tidak pernah dilaksanakan. Hingga era modern datang dan pemegang estafet puncak peradaban berganti lagi, barulah pada 1896 olympiade kembali digelar. Dan hingga saat ini, olympiade rutin dilaksanakan setiap empat tahun sekali dengan format dan peserta yang disesuaikan dalam konteks masyarakat modern.
Di era modern, olympiade digelar berpindah-pindah dari satu kota ke kota berikutnya di seluruh dunia. Format ini dimaksudkan agar tujuan esensial olympiade lebih tercapai dalam konteks masyarakat modern seperti sekarang ini. Pada tahun 2008, Beijing mendapat giliran sebagai kota penyelenggara gelaran tersebut. Persiapan pun digalakkan.
Kontingen Indonesia untuk Jakarta Sister City - Beijing 2013 berpose di depan Bird Nest, salah satu fasilitas olahraga yang dibangun pemerintah China khusus untuk menyambut Olimpade Beijing 2008.












Pemerintah China dan pemerintah Kota Beijing bukan diam saja menghadapi gelaran tersebut tentunya. Segala macam persiapan dilaksanakan. Dibangunlah berbagai fasilitas olahraga lengkap dan di atas standard internasional dalam bangunan-bangunan ajaib berarsitektur surgawi, pembenahan fasilitas-fasilitas umum. Selain pembenahan hard-ware, pemerintah setempat juga menyentuh sisi manusia dari warganya. Pemerintah mereka tahu bahwa beberapa kebiasaan warganya tak akan cocok dengan kebudayaan dunia modern, terutama etika makan dan toilet. Etika makan orang China memiliki standard yang jauh berbeda dengan etika Eropa, yang bagaimanapun, telah menjadi etika dominan masyarakat modern. Solusinya, pemerintah mendirikan berbagai macam hotel dan restoran bergaya barat mulai yang paling ‘junk’ hongga yang paling ‘lux’.
Soal toilet, akan terjadi banyak masalah jika dibiarkan begitu saja. Masyarakat China menganggap sudah sewajarnyalah jika toilet tempat manusia membuang sisa-sisa pencernaan itu kotor dan bau. Kenyataannya, memang toilet di China terkenal dengan kotor dan baunya yang sangat tidak bersahabat. Paradigma masyarakat semacam inilah salah satu objek gerapan pemerintah untuk memantaskan diri sebagai tuan rumah dunia dalam Olympiade selain memperbaiki fasilitas umum. Jika hari ini toilet di China masih beraroma tak bersahabat, percayalah, sebelum Olympiade 2008 digelar, keadaannya jauh lebih mengerikan!
Begitulah perubahan besar dalam tata kota dan tata pikir masyarakat China akibat olympiade 2008. Selain mendatangkan keuntungan finansial yang tidak sedikit, mempunyai kesempatan emas untuk menunjukkan kebesarannya di mata dunia, memiliki panggung super megah untuk menunjukkan keagungan budayanya, olympiade 2008 juga memangkas “jarak peradaban” antara masyarakat China dan masyarakat dunia dari belahan bumi manapun. Itu semua saya saksikan dalam pengamatan saya saat mengunjungi Bird Nest, salah satu bangunan ajaib ekstra menkjubkan yang memang khusus dibangun sebagai pusat kegiatan Olympiade Beijing 2008.
Cina Glodok?
Selepas makan siang tak jauh dari Olympic Sites, kami berjalan lambat menyusuri pedagang-pedangang oleh-oleh. Telingaku dikagetkan seseorang yang dengan janggal menyapa “apa kabar? Mau beli apa?” dalam aksen china yang kental. Antara kaget, kagum dan geli karena aksennya memang lucu, kami membalasnya, bercakap dengannya. Tak disangka, bahasa indonesianya lancar walaupun dengan akses china yang kental. Sekarang, saya tahu kenapa di pentas komedi kita dialek melayu orang china selalu dihadirkan.
Dia mengajak kami mendatangi tokonya. Tokonya memang khusus menyediakan pernak-pernik khas mandarin yang biasa dibeli turis Beijing sebagai buah tangan. Mulai dari T shirt, Cheung Sam, tas, jaket, pulpen, gantungan kunci, handycraft, giok hingga kopernya pun disediakan di tokonya. Yang lebih menakjubkan, pembayaran di toko ini bisa dilakukan dengan tiga mata uang! Kamu bisa membayar dengan Yuan, dengan dollar Singapura ataupun dengan Rupiah. Ternyata, pasarnya memang asia tenggara, khususnya Singapura, Malaysia, Brunei dan Indonesia. Dia sering berdagang ke empat negara tersebut, dan saya menyebutnya Cina Glodok. Bukan bermaksud olok-olok, hanya sebagai kategorisasi sosiologis bagi warga dan ras asli China dengan melayu yang sedemikian lancar dan sedemikian menggelikan. Mungkin, ada juga sanak-saudaranya yang memang ber-migrasi ke Glodok? Sayang, saya tak sempat menayakannya!
The Palace of Summer
Sebagai kota yang secara geografis terkategorikan memiliki kondisi iklim subtropis, Beijing mengalami empat musim dalam setiap tahunnya. Setiap musim tentu saja memiliki keindahanya tersendiri. Menyaksikan bagaimana salju menutupi hamparan bumi tentu saja indah dan sangat khas musim dingin. Lalu menyaksikan detail bagaimana kehidupan muncul dari kematian. Bagaimana dari tanah tertimbun salju yang beku mulai bermunculan tunas-tunas rerumputan atau bunga-bungaan. Atau, bagaimana pohon-pohon yang tampak mati gersang kembali bangun dari hibernasi musim dinginnya dengan menumbuhkan tunas-tunas daun dari sekujur tubbuhnya. Bagaimana kehidupan dimulai saat pergantian musim dingin menuju musim panas, itulah musim semi.
Musim panas menyuguhkan keindahan bentuk lainnya. Dimana kehanyatan cinta dan kebahagiaan merekah bersama bunga-bunga yang bermekaran dimana-mana. Musim panas adalah festival kehidupan. Semua mahluk yang hidup merayakannya. Bunga-bunga bermekaran dalam berbagai spektrum warna. Mereka saling memamerkan keindahannya masing-masing dengan percaya diri dan bangga kepada dunia. Di antara semua itu, Meihua tampil sebagai primadona. Kuntum-kuntum merah jambu tumbuh lebat di batang-batang kayu pohnnya. Semarak! Semua itu pun masih disuguhi bagaimana mesranya tabur gugur dedaunan kala musim gugur datang. Merah, kuning, oranye dan emas menjadi spektrum terkuat mewarnai lukis semesta Beijing. Dan semua keindahan itulah yang ingin selalu disaksikan Kaisar-kaisar China. Karenanya, mereka membangun istana ini, Summer Palace.

Di depan Pintu gerbang Summer Palace, Beijing
Pulau di Tengah Danau. Jika Pulau ini dianggap tubuh Kura-kura Raksasa, maka Jembatan di belakang Biru adalah lehernya dan kuil di ujungnya adalah kepalanya.
Matahari musim panas adalah hal yang mahal di Beijing. Apalagi jika menikmatinya di taman tepi danau bersama orang-orang yang kamu cintai. Fantasi seperti itulah yang membuat Kaisar membangun taman ini. Taman ini merupakan sebuah kompleks bangunan yang sangat indah dengan sebuah danau tepat berada di depannya. Kaisar hanya menggunakannya untuk menikmati keindahan musim panas bersama orang-orang terdekatnya. Danau di depannya menjadi umber kehidupan suasana kompleks. Tepi-tepinya tertata rapi dengan pohon-pohon berdaun runcing panjang yang melambai-lambai disapa angin. Di tengahnya, sebuah pulau batu menyerupai Kura-kura raksasa menyempurnakan suasana. Dalam mitologi Tiongkok, Kura-kura melambangkan kebijaksanaan dan kejayaan yang abadi.
Summer Palace tampak dari salah satu sudut di tepian danau.
Biru Nitis Anjanie dan kawan-kawan berjalan menyusuri Lorong Seribu Tahun di Summer Palace. Lorong ini adalah selasar terpanjang di dunia.









Berpose dengan bangunan utama Summer Palace sebagai background-nya.
Interiornya adalah kesenian tingkat tinggi. Berbagai ornamen dipasang di setiap sisi bangunan dengan harmonis. Mulai dari dinding-dinding, tiang-tiang, atap, gerbang bahkan lantai dihias ala Fengshui Tiongkok yang tak toleran pada kesalahan sekecil apapun dalam detail. Merah, biru, hijau dan emas mendominasi seluruh istana. Sebutan istana untuk kompleks ini lebih tepat dimaknai sebagai taman kenegaraan daripada sebagaimana umumnya makna istana. Taman ini tepat sekali dinikmati di musim panas karena keindahan alamnya. Inilah, The Glory of The Palace of Summer: Summer Palace.
Menatap Summer Palace dari Danau Hijau.
Chung Yi – The Legend of Kungfu
Salah satu scene dalam pertunjukan di Red Theatre.
Selesai mengeksplorasi Summer Palace tibalah waktunya bagi kami untuk menyaksikan satu sajian atraktif lain di Beijing: Red Thetre. Mereka mengklaim pertujnjukan mereka adalah “the best kungfu performanfe in the world” . Tentu saja, saya meragukannya. Dan saya harus menelan keraguan itu bulat-bulat setelah pertunjukan dimulai. Sungguh, menakjubkan! Aku ternganga dan hanya mampu menelan ludah.
Dibuka dengan beberapa koreografi atraktif, pertunjukan itu mampu merebut hati siapapun dalam beberapa puluh detik saja. Berikutnya, adegan menyentuh tentang bagaimana Chun Yi harus berpisah dengan Ibunya tersayang untuk belajar Zen dan Kungfu di biara Shaolin. Adegan ini dimainkan secara teatrikal dengan tarian-tarian padat-rasa hingga siapapun yang menontonnya, selama masih memiliki nurani, pasti akan tersentuh perasaan terdalamnya.
Pentas ini menceritakan Chun Yi, sang bocah yang dititipkan Ibunya di biara Shaolin untuk belajar Zen dan Kungfu. Karena kecerdasan dan ketangkasannya, segera saja Chun Yi menjadi sentra perhatian Kepala Shaolin. Chun Yi menjadi murid utamanya. Dia mendidik Chun Yi dengan sepenuh jiwa hingga Chun Yi tumbuh menjadi pria dewasa yang cerdas dan tangkas. Dalam meditasi, Chun Yi ternyata gagal melewati ujian terakirnya: mengalahkan hasrat alami diri sendiri. Chun Yi tergoda oleh bayangan bidadari dalam kepalanya dan mencari pelampiasan hasrat-hasrat alaminya yang tentu saja membuat meditasinya gagal.
Kegagalan tersebut membuat Kepala Biara kecewa, marah dan akirnya memutuskan mengusir Chun Yi dari biara. Chun Yi yang menyesali perbuatannya memohon ampun tapi tidak merubah apapun. Chun Yi pun pergi meninggalkan biara untuk belajar lagi. Dalam perjalanannya, akirnya Chun Yi mampu mengendalikan dorongan-dorongan alaminya. Bahkan Chun Yi mampu memanipulasi keadaan-keadaan alami dengan kekuatan pikirannya. Chun Yi mampu memanipulasi tubuhnya jadi sekeras logam berkat latihannya dalam meditasi. Pikiran yang kuat mengendalikan keadaan alamiah.
Red Theatre, the best Kung Fu performace in the World!
Berbekal kekuatan pikirannya, Chun Yi kembali ke biara untuk memohon maaf. Dia melewati segala rintangan yang disediakan kepala biara untuk menguji kesungguhannya. Ahirnya, Kepala Biara kembali mererima Chun Yi sebagai muridnya lalu menobatkannya sebagai penggantinya sebelum dia meninggal dunia. Adegan ditutup dengan reproses. Kepala biara berreinkarnasi menjadi seorang anak yang kemudian menjadi murid Chun Yi, sang Kepala Biara yang baru. Dan begitulah kehidupan ini berjalan, beriringan, bergantian lestari dalam hidup dan mati. Inkarnasi. Kosong adalah isi, isi adalah kosong.
Sesungguhnya, cerita ini pernah difilmkan dengan indah oleh sutradara kelas dunia asal Korea, Kim Ki Duk. Mengambil latar yang sangat indah, Kim Ki Duk mempresentasikan pandangan Budhisme atau Zen mengenai dunia. Bagaimana dunia ini menjadi seimbang, bagaimana dunia berproses, saling berganti, saling menghidupi, saling mematikan dan yang paling berharga dari semuanya adalah kesadaran. Kesadaran akan keterbatasan kita hingga kita menghargai sekecil apapun hal yang kita temui di dunia.[bali]

2 komentar: