Categories

Senin, 13 Februari 2012

Kepingan Puzzle Evolusi

Biarkan Evolusi yang menjelaskan.
Dunia ini indah. Dia teratur dalam ketakteraturannya. Dunia. Satu kata yang merangkum segalanya. Terlalu banyak manusia yang menganggap dunia ini fana, lalu rela menutup mata dan telinga demi “dunia” lain yang eternal di ahirat sana. Bagi mereka, hidup sudah punya skenarionya sendiri yang harus diselesaikan dengan monoton sesuai garis-garis suratan. Banyak juga yang menyederhanakan dengan cara lain. Bagi golongan ini, merekalah alasan mengapa dunia ini ada, mereka menganggap diri sendiri sebagai Raison de Eter eksistensi dunia. Dunia dianggap sebagai paket lengkap yang diperuntukkan khusus guna mereka memuaskan hasrat-hasrat takterbatas mereka. Lalu, dengan naïf, mereka menganggap, merekalah manusia yang hidup sepenuh-penuhnya hidup. Ah, betapa malangnya mereka yang memandang dunia begitu sederhana. MALANG!


Add caption

Tak tahukah mereka bahwa dalam kata “dunia” yang mereka sederhanakan itu terdapat laut, bumi,langit dan angkasa yang memiliki bahasanya sendiri? Tak tahukah mereka bahwa dalam kata “dunia” yang mereka sederhanakan itu jutaan species bergerak hidup dan menorehkan ceritanya sendiri? Tak tahukan mereka bahwa dalam kata “dunia” yang mereka sederhanakan itu trilyun-an mahluk berbagai ukuran, mulai dari skala yocto (10-24) yang dihadapannya, nano-pun menjelma menjadi rasaksa super besar, hingga skala yotta (1024) yang dihadapannya, skala tera-pun menjadi kuman kecil miksroskopik? Tak tahukan mereka bahwa dalam kata “dunia” yang mereka sederhanakan itu Matahari yang mereka agungkan itu tak nampak jika disandingkan dengan bintang antares? juga tak tahukan mereka bahwa dalam kata “dunia” yang mereka sederhanakan itu berbagai spesies bakteri hidup memenuhi biosfer, terhirup bersama udara dan terminum bersama air? Tak tahukah mereka bahwa mahluk-mahluk itu selalu berinteraksi dalam mekanismenya sendiri-sendiri? tahukan mereka bahwa dalam kata “dunia” yang mereka sederhanakan itu ribuan jenis gelombang tak henti-hentinya ber-radiasi? Jutaan jenis energy ter-transformasi? Milyaran jenis unsure dan senyawa berreaksi? Tak tahukah mereka bahwa setiap sel otak manusia terus berusaha menjelaskan semua itu dengan formulasi-formulasi ilmiahnya lalu timbullah kebudayaan dan peradaban mereka? Ah, tetu saja mereka tak tahu! Mereka tak pernah mau tahu!
 Yang mereka tahu hanya diam, damai tertidur dalam simulacrum lalu menghardik sana-sini, menyalahkan ini-itu, mengutuk kana-kiri tanpa mau tahu ternyata dirinya yang tersesat. Mereka memeluk utopia dengan sadar, namun mengatakan bahwa itu nyata. Mereka, eskapis tulen!
Pernahkah mereka bertanya “mengapa sebagian kode-kode dalam DNA manusia juga ada dalam DNA simpanse, bahkan dalam DNA kadal air, bahkan ada dalam DNA pohon ganja sekalipun?” mereka tergagap-gagap menjawabnya, lalu seperti biasanya, mereka kaum eskapis, akan menyerahkan jawabannya lewat jalur spiritual: mitos, agama, tahayul, animisme-dinamisme, atau bentuk lain seperti apatisme. Tak heran Marx bilang kalau agama itu candu. Jalan pintas pelarian manusia ketika berhadapan dengan keterbatasan dirinya.
Mereka tak tahu kalau tiga milyar tahun yang lalu, bumi tempat mereka membangun rumah, pabrik dan tempat ibadah ini diselimuti gas metana dan karbon sebagai udara yang tak memungkinkan satupun organism di muka bumi saat ini hidup. kemudian, bumi mengirimkan temperature tinggi ke atmosfer, udara panas itu terus naik, bertemu dengan udara dingin di ketinggian, atom-atom udara bermuatan electron dan proton itupun bercumbu, lalu langit menirimkan kasihnya ke bumi dalam bentuk petir. BLAR! Petir menggelegar di kolong langit. Daya listriknya menjadi katalis sekaligus pemantik reaksi metana, karbon dan unsur-unsur lain dalam atmosfer menjadi: protein, asam amino. Inilah awal lembaran baru bagi bumi, abiogenesis. Gugus-gugus protein inilah yang kemudian mengorganisasikan diri, lalu lahir kehidupan pertama di bumi: bakteri.
Mereka juga tak tahu kalau dari sekian banyak bakteri penduduk pertama bumi, salah satunya menghasilkan oksigen, gas polutan mematikan bagi eksistensi kehidupan biosfer saat itu. Saat polusi oksigen mencapai titik paling parah, dimulailah lembaran berikutnya bagi bumi, ketika bakteri-bakteri itu ber-evolusi terus menerus sampai menjadi mahluk yang sekarang ini ada. Biarkan evolusi yang menjelaskan.
Evolusi >< Koevolusi --> Rectoverso.
Evolusi adalah sebuah teori puzzle yang maha besar. Charles Darwin bukan Nabi yang mengajarkan ajaran-ajarannya secara komprehensif, dia hanya penemu satu puzzle dari milyaran lain yang belum ditemukan.

Seperti kisah transformasi bakteri-bakteri, mereka tak saling berkompetisi untuk bertahan hidup seperti yang dikatakan Darwin, tapi mereka bekerjasama untuk mengubah konteks, inilah Koevolusi. Berawal dari aktivitas Cyanobacteria yang tak berhenti memenuhi atmosfer bumi dengan oksigen, bakteri-bakteri tersebut menghadapinya dengan dua sikap. Sebagian mereka  masuk ke tanah demi menghindari gas racun, sebagian lainnya bekerjasama, menciptakan mutasi-mutasi mengembangkan kemampuan bernafas menggunakan oksigen.
Mutasi-mutasi bakteri tersebut lalu menghasilkan bakteri bernukleus pertama, selanjutnya, menghasilkan mitokondria yang juga menjadi bagian tubuh kita yang permanen. Khidupanpun terus berkembang sesuai konteks yang ada,mereka beradaptasi dengan mutasi-mutasi, mereka berkembang dalam ekosistem. Maka evolusi dan koevolusi bukanlah dua hal yang saling mendekonstruksi, keduanya justru saling merekonstruksi. Saling melengkapi. Keduanya adalah rectoverso.
Lalu, untuk apa mereka berjuang bertahan hidup dengan mutasi-mutasi itu? Apa kepentingan mereka? Apa dinamisator yang membuat mereka terus-menerus, membandel dan ngotot ingin terus hidup? Apa yang mereka dapatkan dari hidup? Di sinilah singgasana Gen yang maha kuasa.
Yang maha kuasa: Gen.
Yah, benar, semua evolusi dan koevolusi itu digerakkan oleh gen dan kepentingannya. Dia yang bertanggungjawab atas semua mutasi-mutasi mahluk hidup. Dialah pemegang kendali survival of the fittest. Dia yang menyematkan pada sel-sel terkecil setiap mahluk hidup untuk terus berreproduksi, bermutasi, berkembang dan membangun dunia. Kepentingannya pun hanya satu: beranak-pina, berkembang biak, bermutasi mencari bentuk idealnya.
Dia menjadikan setiap mahluk hidup, mulai dari yang paling sederhana, mahluk bersel satu hingga yang paling kompleks, multicelluler seperti manusia bertebaran di biosfer dengan dua kepentingan: bertahan hidup dan berreproduksi. Keduanyapun sekedar kepentingan semu yang ditunggangi kepentingan Gen. Oh Gen yang maha kuasa atas segala. Dia menjelaskan mengapa kita enggan kesakitan dan selalu mencari kenikmatan. Satu kepentingannya adalah penjelasan esensial dari cinta, sayang, alturisme itu, persahabatan itu, bahkan pembantaian itu dan penghancuran itu.
Wahai Gen yang maha kuasa, terbakarlah kau dalam api kuasamu![bali]

3 komentar:

  1. Hahaha...., deskripsi ngayal ttg dunia mahahidup yg luar biasa kompleks dan rumit ini?! Itu tidak lebih masuk akal dari cerita mengacak mur, baut, tuas dan papan sebuah perangkat sederhana dlm panci presto sepanjang semiliar tahun untuk mendapatkan sebuah perkakas sederhana yg bernama perangkap tikus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, abang melupakan skala. Dalam evolusi, skala yang bekerja dimulai dari skala yocto, nano dkk. Jika ditarik ke skala ini, dunia akan tampak jauh berbeda. Tak ada yang padat, tak ada yang pasif. Cerita abang tentang perangkap tikus itu komparasi gegabah yang terpaku pada pemahaman "keseharian". Memang butuh usaha lebih dari "keseharian" untuk memahami sains.

      Hapus
    2. Jadi, pertanyaan mahabesar sains adalah: Apakah semua kerumitan yg kasatmata maupun tidak—di alam sekitar & jagad raya nan luas itu—terjadi secara kebetulan alias dgn sendirinya, ataukah memang ada perancangan ahli dan kecerdasan supernatural di balik semua itu, yg kita kenal sebagai TUHAN ?

      Hapus